
..."Nah, bagaimana kalau aku buktikan. Apakah aku ini asli atau bukan?"....
POV: Author
Seas masih tertawa kecil sembari mengusap ujung belatinya. Sesekali matanya menatap ke arah Valeria yang sudah berlumuran darah, tapi justru masih berdiri tegak di belakangnya.
"Hei ... kupikir lebih baik kau jangan ikut campur dulu," ucap Seas dengan ekspresi kasihan. Valeria langsung menatap Seas tidak terima, sudah jelas bahwa Valeria hanya mau ikut bertarung.
"Aku tidak ingin kau mengambil semua kesenangan sendiri!" balas Valeria ketus.
"Apa? Sini kau!" Seas langsung menyentil dahi Valeria.
BRUK!
Tidak sampai 5 detik, perempuan itu sudah jatuh terduduk di tanah. Seas hanya menghela nafasnya melihat sikap keras kepala Valeria.
"Kalau kau tidak terluka parah, mana mungkin aku melarangmu ikut campur," ucap Seas serius. Valeria hanya diam dan cemberut, perempuan itu sungguh tahan dengan rasa sakit. Padahal hampir sekujur tubuhnya terluka dengan kulit yang sobek atau mengelupas.
"Nah kau duduk diam saja di sin-," belum sempat Seas menyelesaikan kalimatnya. Dua buah pisau melesat ke arahnya.
DUAR!
TRANG!
Pisau itu menyebabkan ledakan yang cukup besar, bahkan Valeria sampai terguling beberapa meter ke belakang. Dan di tengah kepulan asap itu, ada Seas yang berdiri kokoh. Kedua tangannya menangkap dua buah pisau itu dengan tangan kosong.
"Sepertinya kau mahir dalam melempar pisau ya?" tanya Seas pada Revan. Begitu ditatap oleh Seas, nyali Revan langsung menciut. Mata ungu Seas begitu mengintimidasi.
TRANGG!
Belum selesai sampai di situ, Evan memainkan rantai panjangnya. Dengan sedikit teknik, dia membuat rantai itu mengelilingi Seas, bersiap untuk melilitnya.
"Kau banyak omong ya? Biasanya orang yang banyak omong itu akan mati lebih dulu," ucap Evan penuh kesombongan. Seas yang mendengar perkataan Evan hanya diam dan tersenyum, beberapa detik sebelum rantai itu melilit Seas.
Seas menghilang.
[Teknik bayangan nomor 3: Langkah Bayangan.]
FUUT!
__ADS_1
Seas langsung berada di belakang Evan. Dengan kedua belati milik Revan yang berada di tangannya, Seas menargetkan leher Evan. Seperti halnya musuh yang pertama kali bertarung dengan Seas, mereka semua terkejut dengan pembukaan pertarungan ini.
"Yang kau bawa itu pisauku. Jangan harap kau bisa mengendalikannya," ucap Revan dari kejauhan. Setelah Revan mengucapkan hal itu, tiba-tiba Seas tertarik ke atas. Ternyata belati itu masih berada di bawah kendali Revan.
"Kalau aku membantingmu dari ketinggian ini, kau akan mati kan?" tanya Revan dengan ekspresi yang dingin. Seas ikut memelototi Revan, saat dia mulai merasakan bahwa belati itu terjun ke bawah. Seas langsung melepaskannya.
TRANGG!
"Di udara, apa yang bisa kau lakukan?" Lagi-lagi Evan berulah, dia melemparkan ujung rantainya ke langit, tepat ke arah Seas.
"[Teknik gravitasi nomor 5: Cincin Saturnus.]".
Evan menggunakan teknik lainnya, seperti nama yang dia ucapkan. Rantainya berputar mengelilingi Seas dengan kecepatan yang sangat tinggi. Kalau ada manusia yang menyentuhnya, bisa dipastikan dagingnya akan langsung terkoyak.
"Woah ... sial. Kalian punya teknik yang cukup kejam ya?" ucap Seas kesal. Di atas udara ini, tidak ada yang bisa Seas lakukan. Dia belum menguasai teknik apapun untuk berpindah dalam keadaan udara kosong. Matanya langsung menoleh ke arah Valeria berada.
DEG.
"Kemana Valeria?" gumam Seas saat melihat bahwa Valeria menghilang.
"Hihihihi."
PRANGG! TANG TANG TANG!
Tiba-tiba rantai yang hendak memotong Seas itu jadi tidak teratur, rantainya saling memotong diri mereka sendiri. Evan yang tidak tau apa yang terjadi, hanya menatap dan panik.
"Apa?! Kenapa?!" kesal Evan saat melihat rantainya terpotong-potong. Sementara itu, Seas juga baru sadar bahwa ada belati miliknya yang ikut melayang di udara. Padahal tadi dia terpaksa melepaskan belatinya untuk menangkap pisau Revan.
"Ini ... teknik istimewa milik Valeria?" gumam Seas lagi. Mata ungu Seas akhirnya bisa menemukan di mana Valeria berada, dia berada tepat di belakang Revan.
"Dor."
DOR!
Valeria tanpa ragu menembakkan pistolnya ke kepala Revan. Adik kembar itu langsung jatuh dengan kepala yang berdarah-darah. Sementara Evan yang masih shock atas kejadian tidak terduga ini, hanya bisa bergetar ketakutan saat menatap Valeria.
Valeria yang sadar saat ditatap oleh Evan, langsung membalasnya dengan senyuman. Dia memberi jempol pada Evan, lalu menggoreskan ujung jempolnya ke leher. Isyarat bahwa Evan akan mati.
SRASH!
__ADS_1
Pluk.
Detik berikutnya, kepala Evan sudah jatuh di aspal.
"Wow, kau cepat juga!" ucap Valeria memuji Seas. Sambil mencari dimana amplopnya tadi, Seas hanya bergumam untuk menanggapi ucapan Valeria.
"Aku sudah menemukannya, ayo kembali," ucap Seas sambil mengangkat amplop yang berlumuran darah. Valeria mengendikkan bahunya lalu berjalan ke arah Seas.
"Apa-apaan teknikmu tadi? Itu sangat keren!" Seas begitu antusias saat melihat teknik Valeria tadi. Sementara Valeria sendiri malah cemberut.
"Keren? Aku malah tidak suka teknik itu. Padahal aku berharap tidak perlu menggunakannya," jelas Valeria dengan wajah yang kesal. Seas langsung menatap Valeria dengan sorot mata yang bertanya-tanya.
"Itu adalah teknik istimewa kan? Padahal itu sangat keren!" puji Seas lagi. Tapi Valeria masih tetap cemberut.
"Apa kau tau apa syarat penggunaannya? Itu yang membuatku tidak menyukai teknik tadi," ucap Valeria lagi.
"Memangnya apa syaratnya?" tanya Seas.
"Pertama, para musuh harus menganggapku sebagai eksistensi yang tidak berarti. Lalu yang kedua, aku harus bisa bergerak leluasa. Dan yang ketiga, aku tidak boleh masuk ke dalam sudut pandang musuh." Valeria memberi tau ketiga syaratnya pada Seas. Tapi Seas masih bingung kenapa Valeria tidak menyukai teknik itu.
"Kenapa kau tidak suka? Padahal menurutku itu teknik yang hebat kok," ucap Seas lagi.
"Aku baru bisa menggunakan teknik itu berkat kau, kehadiranmu membuat eksistensiku terhapus sepenuhnya. Karena itu, teknik ini tidak cocok digunakan di dalam pertempuran dengan aku yang sebagai pusatnya. Kau tau kan aku suka jadi pusat perhatian?" jelas Valeria dengan ekspresi lelahnya. Kini Seas sepenuhnya paham kenapa Valeria benci teknik ini. Karena jika dia menggunakan teknik ini, artinya dia sudah tidak memiliki kehadiran yang membuat musuh terancam.
Dalam arti lainnya, musuh sudah menganggapnya tidak berguna atau bahkan dianggap sudah mati.
"Yahh, padahal tadi aku ingin menggunakan teknik baruku," ucap Seas tiba-tiba. Valeria langsung menatap Seas dengan spontan.
"Kau punya teknik baru lagi?" tanya Valeria tidak percaya. Seas mengangguk pelan, dia mendekatkan wajahnya ke arah Valeria lalu berbisik.
"Sebenarnya aku punya setidaknya 11 teknik. Karena di dalam buku itu, ada 11 bab yang berbeda," ucap Seas lagi. Valeria langsung shock, menatap Seas tidak percaya. Padahal dengan tiga teknik yang Seas kuasai sekarang, dia sudah jadi sekuat ini. Dan sekarang malah ada 11, entah monster apa yang akan lahir nanti.
..."Oiya, ngomong-ngomong ... Sky bagaimana?"....
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!
Halo guys, seperti biasa ... novel ini bakal update 2 hari sekali ya guys! Karena beberapa bulan ini kei sibuk banget:) Mohon maaf banget! Tapi nanti kei bakal siapin buat crazy update juga kok!
__ADS_1