Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Di pengeboran minyak! (2)


__ADS_3

Kenapa aku hanya ketemu psikopat saja?


***


POV: Author


WHUNG!


TRAANGG!


Gergaji mesin itu menancap di pipa besi, Sky dan Valeria menghindar ke arah yang berlawanan. "Hm? Kalian cepat juga ya?" ucap gadis kecil itu. Valeria dan Sky kembali bersembunyi, mereka tidak menunjukkan keberadaan mereka. Si gadis mulai berjalan maju, hendak mengambil gergajinya.


Apakah mereka pekerja pengeboran ini? Kenapa rasanya ... aku bukan melawan orang amatir ya? batin si gadis.


Cklik.


"Orang bilang, anak kecil kalau nakal itu harus dipukul. Tapi aku maunya menembakmu." Dari belakang, Valeria muncul sambil mengarahkan pistol ke kepala gadis itu. Dia langsung terdiam, matanya melirik ke kiri dan kanan, lalu melihat ke arah kakinya.


Tck, siapa mereka? Haruskah aku lawan? Tapi aku belum mendapat perintah, batin si gadis.


"Katakan, siapa kau? Kenapa kau membunuh orang-orang yang bekerja di sini? Atas perintah siapa?" Sky muncul dari samping kotak kayu yang besar, dia menutup kepalanya, hanya membiarkan mata kuningnya yang terlihat dari kegelapan. Gadis itu mengerutkan kening. "Kenapa aku harus memberitahu kalian? Kalau kalian tak segera membunuhku, temanku akan segera datang loh," ucap si gadis.


"Haha, jangan khawatir. Teman kami juga akan segera datang." Valeria menjawab dari belakang.


Jadi dia berkelompok? batin Valeria.


Mereka membawa teman lagi? batin si gadis.


Gadis itu kemudian tersenyum. Dia sedikit menundukkan kepalanya untuk sesaat. "Hahaha! Sepertinya kalian bukan orang biasa!" ucapnya dengan suara yang keras. Valeria dan Sky masih menatap gadis itu dengan tajam.


"Baguslah, akhirnya ada hiburan."


Klinting!


Suara ini lagi, batin Valeria.


CRASH!


CRAATT!


"Akh!" Valeria kaget, tiba-tiba punggungnya terasa seperti ditebas oleh sebilah pedang. Untuk sesaat Valeria mengalihkan pandangannya, berusaha untuk melihat ke arah belakang.


"Aku ada di depanmu loh, kenapa malah menoleh ke belakang?" Tepat setelah Valeria menoleh, gadis itu melompat hingga tingginya sejajar dengan Valeria, tangan kanannya terkepal kuat. Saat dia hendak menghantamkan tinjunya, Sky lebih dulu menendang si gadis.


BUAGH!


SRAAKK!


Gadis itu terdorong beberapa meter ke samping, namun dia bisa mendarat dengan baik. "... Jangan lupa kalau lawanmu ada 2. Kau pikir aku akan diam saja melihatmu hendak menghajar temanku?" ucap Sky dingin.


"... Hm~ begitu ya? Tapi, meskipun kalian menyerangku bersamaan, aku akan tetap menang."


Klinting.


CRAATT!


CRAAATT!


Hal yang sama kembali terulang, tanpa angin tanpa gerakan, lengan Valeria dan Sky langsung tersayat. Darah segar menetes, membiarkan jubah hitam mereka menyerap cairan manusia itu. Sky terdiam, kedua matanya melihat ke arah lengan yang kini terluka.


"Ha ... hahaha! Kau sombong hanya karena kau punya satu trik? Sepertinya aku jadi tertarik bermain denganmu." Sky melangkahkan kakinya maju.


"Tapi permainan ini tidak akan berakhir hanya dengan terluka. Setidaknya aku ingin nyawamu," ucap Sky serius.


SRAK!

__ADS_1


Sky melepaskan jubah hitamnya, menampilkan sosoknya yang masih memakai jas laboratorium putih. "Val, kau bisa pergi lebih dulu. Aku yang akan mengatasinya." Sky berkata tanpa menoleh ke arah Valeria. Rekannya itu tampak agak enggan, namun segera dia melihat keseriusan Sky saat ini.


Mungkin ini adalah saat yang baik untuk pelepas stress baginya, batin Valeria. "Aku paham."


Syut.


Valeria menghilang dari sisi Sky.


"Mau kemana kau?"


Klinting.


Gadis itu mengincar Valeria yang hendak kabur.


"Apa yang kau lakukan?"


Prang!


CLIIINGG!


Sky memecahkan sebuah botol kuning kecil. Segera setelah botol itu pecah, sebuah cahaya terang tercipta. Membuat seluruh ruangan ini terlihat jelas. Kini trik gadis itu terungkap.


"Kau beruntung hanya karena gelap. Dasar pengendali boneka sialan."


Cklik.


DOR!


PRAAKKK!


Berkat ramuan milik Sky, Valeria bisa melihat jelas boneka kecil yang memegang pisau. Boneka itu memiliki lonceng yang terikat di lehernya, sosoknya terlihat cukup menyeramkan. Dalam satu tembakan, Valeria berhasil melubangi kepala boneka itu.


Pruk!


Boneka itu terjatuh dengan kepala yang pecah. Setelah itu cahaya yang dibuat oleh Sky juga mulai menghilang. Sosok Valeria kembali hilang.


"... Kalian dari Underworld School, ya?" Suara gadis itu serak. Sky agak terkejut, namun dia segera tenang.


"... Menurutmu?" tanya Sky ganti.


"Underworld School ... aku tak akan pernah memaafkan kalian! Aku akan mencabik semuanya! Aku bersumpah atas namaku! Natalia Vanrench!"


SRAAKKK!


Gadis itu melempar beberapa bola-bola hitam ke segala arah. Sky menutup wajahnya, berjaga-jaga bahwa itu adalah bom.


Namun pemikiran itu salah.


Bola itu bukanlah bom, namun sebuah alat penyimpanan boneka.


BOOM!


Puluhan bola hitam itu meledak, memunculkan boneka serupa yang sangat banyak. Sky terdiam menatap semua boneka itu.


Dia bilang, namanya Natalia Vanrench? Apa maksudnya salah satu pengkhianat Underworld School dulu? batin Sky.


.


.


.


Sementara itu di sisi Agen C.


Dia sudah berhasil masuk ke dalam pengeboran lewat celah bor yang mengarah ke laut. Seperti ruangan tempat Sky dan Valeria sebelumnya, ruangan ini juga sama gelapnya.

__ADS_1


"... Sudah kuduga, memang ada yang aneh," gumam agen C pelan. Dia segera melompat dari tempatnya, lalu menuju ke sisi tembok. Sebagai agen tingkat atas dan agen mata-mata, C sudah pasti dibekali dengan kemampuan penyembunyian diri yang sempurna.


Berjalan tanpa suara, serta menetralkan detak jantung hingga ke bunyi yang paling pelan. Kemampuan agen mata-mata adalah yang terbaik dalam hal ini.


Setelah berjalan sebentar, C berhenti. Dia melihat seseorang yang sedang duduk di atas pipa besar. Tudung ungu gelap yang menutupi wajahnya, serta kegelapan yang membuatnya semakin sulit dilihat, membuat C kesulitan untuk mengenalinya.


Siapa dia? batin C. Agen itu kemudian memilih untuk diam dan memperhatikan.


Tririririring!


Sebuah dering telepon berbunyi. Sepertinya itu adalah milik orang itu. C melihatnya mengangkat ponsel.


Aku harus mendengarkannya, batin C.


[Teknik mata-mata: penajaman indra.]


C berkonsentrasi, dia mengerahkan semua berkat indranya ke telinga.


"..."


"Kami sudah menyelesaikan misinya, sudah tidak ada satupun orang yang hidup di pengeboran ini."


"..."


"Jangan khawatir, kami tidak meninggalkan jejak saat ke sini dan melaksanakan eksekusi. Mereka baru akan mengetahui bahwa pengeboran ini mati beberapa hari kemudian."


"..."


"Sesuai rencana anda tuan, dengan begini pasokan minyak akan berkurang, dan kita akan punya akses untuk melubangi ekonomi negara."


"..."


"Baik, sesuai perintah anda."


Tuut.


Telepon itu dimatikan. C kembali membuka matanya, dia masih menatap pria yang tampaknya tak sadar dia kini diawasi. C mulai menggerakkan tangan kanannya, dia mengarahkan gelang hitamnya ke arah pria itu.


"[Teknik gelang angin: nomor 4, panah angin.]"


WHUUNGG!


DUAANGG!


Sebuah peluru angin berkecepatan tinggi langsung melesat, angin itu mengenai pipa dan pria yang tengah duduk di atasnya. Bunyi keras yang dihasilkan adalah karena pipa besi yang dibengkokkan paksa.


Bruk!


Pria tadi jatuh ke bawah, sedangkan pipa yang dia duduki kini peyot parah. Barulah saat itu C muncul dari persembunyian, lalu mendekati tubuh pria yang terbaring tak sadarkan diri.


"... Dia tidak terlalu hebat. Mungkin hanya setara dengan Seas," ucap C lalu dia berjongkok. Tangannya membuka tudung pria itu.


"..."


Sosok pria muda dengan rambut hitam dan kulit kuning langsat. Dahinya tampak mengalirkan darah segar. "Gawat, aku tidak berniat membunuhnya. Tapi sepertinya aku memukulnya terlalu keras," gumam C seraya mengusap darah di dahi pria itu. Kemudian C mengeluarkan sebuah selotip kecil, dengan selotip itu C mengikat kedua tangan dan kakinya.


Tentu saja itu bukanlah selotip biasa. Itu adalah alat baru yang dikembangkan oleh kelas mata-mata untuk memudahkan misi, misalnya seperti sekarang ini. Selotip itu tidak akan bisa lepas dengan mudah, bahkan pisau saja belum tentu bisa memotong selotipnya.


Setelah itu C menggendong pria itu di bahunya, hendak menyimpannya terlebih dahulu.


DUUAARR!


GRRRRKKK!


Namun sebuah ledakan keras muncul, membuat pengeboran ini rasanya seperti terkena gempa. C langsung menoleh ke arah sana, melihat seberkas cahaya api yang terang, menjulur sampai langit.

__ADS_1


"... Kalau segila ini, biasanya Seas."


TBC.


__ADS_2