Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Hilangnya Surat!


__ADS_3

..."Aku tidur dimana?"...


POV: Seas


Aku menghela nafas kecil lalu menatap Valeria. Tanganku menunjuk beberapa kamar di depan kami.


"Kau bebas tidur dimanapun, asal jangan di kamarku dan Sky. Lagipula di asrama ini hanya ada kami berdua," ucapku pada Valeria. Dia mengangguk lalu berjalan pergi. Aku dan Sky juga langsung kembali ke kamar kami.


Klik!


Aku mematikan lampu kamarku, sebelum menutup mata, aku memastikan dimana aku menyimpan amplop itu lagi.


Yap! Bagus, sudah aman!


Setelah itu aku menutup mata dengan tenang.


***


POV: Valeria


Sial ... aku tidak bisa tidur. Sudah hampir 3 jam aku hanya berbaring dan menutup mata. Tapi aku tidak bisa tidur. Sky dan Seas malah tertidur nyenyak, kenapa ya? Padahal aku biasanya bisa tidur dimanapun, tapi kenapa aku tidak bisa tidur di sini?


Psssh!


Deg.


Apa ini? Apa ada gas yang bocor? Tapi darimana ini berasal?


Srak!


Aku bangun dari tempat tidurku, dengan cepat aku langsung membuka jendela kamarku. Aku menengok ke arah kamar lain dari luar jendela, dan ternyata seluruh kamar ini mengeluarkan gas yang sama.


"Gawat!" ucapku lalu segera pergi ke loker di kamar ini. Kuharap aku bisa menemukan sebuah masker.


Srak! Srak srak!


"Ada!" ucapku senang setelah menemukan satu masker berwarna hitam. Aku segera memakai masker itu, tak lupa menguncir rambutku agar tidak mengganggu pandangan.


Setelah itu aku langsung berlari keluar lewat jendela, beruntung ini adalah lantai satu.


PRANG!


Bersamaan dengan aku yang keluar, aku melihat ada anak lain. Dia keluar dari sebuah ruangan ... sambil membawa sebuah amplop.


Deg!


Jangan-jangan itu adalah kamar Seas?! Dan amplop yang anak itu bawa ... adalah surat kami?!


Sial! Aku tidak bisa melepaskannya!


***

__ADS_1


POV: Sky


Hm? Bau apa ini? Gas kimia?


Apakah ada botol yang bocor di kamarku?


...


Tidak, ini adalah hasil campuran dari beberapa senyawa kimia. Dari baunya ... ini menyebabkan orang tidur pulas ... hingga kami mati?


Berani juga dia.


Aku segera bangun dan mulai mengambil 5 botol obat yang kusediakan sebelumnya. Ini adalah obat mujarab yang kubuat sebelumnya, tidak akan cukup waktu untuk membuat penawar yang sesuai. Dan obat ini, bisa menahan reaksi racun ini dalam waktu 5 jam.


Glek glek.


Aku meminum salah satu dari 5 botol obat itu. 4 sisanya aku masukkan ke dalam jas hitam panjangku untuk kuberikan pada Seas dan Valeria. Aku langsung keluar dari kamar, dan mendapati bahwa gas ini sudah menyebar ke seluruh asrama.


Gas hijau yang menyebalkan ini, aku akan mencari darimana asalnya. Tapi aku harus membangunkan Seas lebih dulu. Aku langsung berlari kecil ke arah kamar Seas.


Tok tok tok!


"Seas! Buka pintunya!" teriakku dari luar kamar. Tapi tidak ada jawaban, aku langsung menepuk dahiku dengan keras. Sudah pasti dia kena efek dari gas ini, bagaimana mungkin dia masih bangun.


BRAK! BRAK!


Aku mendobrak pintu kamar Seas beberapa kali. Hingga akhirnya pintunya berhasil terbuka. Dan benar saja, Seas masih tertidur lelap. Dengan jendela yang pecah.


...


OH IYA, KAN DIA KENA GAS! ARGHHH GIMANA DONG?! PASTI AMPLOPNYA DIAMBIL ORANG ITU!


"SEAS! CEPAT BANGUN!" Aku mengguncang tubuh Seas beberapa kali. Saat dia sudah setengah sadar, aku langsung mendudukkan dirinya. Tanganku mengambil salah satu obat penawar sementara yang aku bawa tadi, dan meminumkannya pada Seas.


"Telan Seas! Kau tidak mau jika aku harus menggunakan mulut, kan?!" teriakku panik. Seas menelan obatnya secara perlahan, hingga seluruh obat ini akhirnya tertelan semua. Karena Seas sudah terlanjur terkena dampak gasnya cukup lama, efek obat yang kubuat akan bekerja dalam 10 menit lagi.


Sebelum itu, aku harus mencari orang yang bermasalah dengan kami.


"Kalau kau sudah sadar, cepat bangun dan cari orang yang mengambil amplop kita. Kau harus mendapatkannya, aku akan mengurus gas sialan ini," ucapku sambil menatap Seas yang masih menutup mata. Setelah itu aku kembali membaringkan Seas, dan berjalan keluar dari kamarnya.


***


POV: Valeria


Aku masih terus berlari, mengejar sesosok bayangan pria dengan pakaian serba hitam di depanku. Mungkin dia sudah menyadari keberadaanku, karena dia sama sekali tidak berhenti berlari sejak keluar dari kamar Seas.


Cklik.


Aku mengeluarkan pistol dari sampingku dan mulai membidik kaki pria itu.


"Kau harus tau kapan harus berhenti, sialan!" ucapku kesal.

__ADS_1


DOR!


TANG!


Dia menggunakan sebilah pedang yang cukup pendek. Pedang itu lurus dan hanya memiliki satu sisi tajam, ukurannya adalah setengah dari ukuran pedang normal. Kalau tidak salah namanya adalah pedang Wakizachi.



"Kau gigih juga ya? Valeria Regan," ucapnya dengan nada yang dingin. Aku tidak bisa menebak penampilannya, yang bisa kulihat hanya rambut pendek coklat serta mata hijau emerald miliknya. Dia berhenti berlari lalu melompat ke atas.


Dia berdiri di atas sebuah balkon dari lantai 4. Menatapku dengan mata hijaunya yang menyala terang itu.


"Hah, kau tau apa yang paling kubenci? Orang yang menatapku dengan tatapan merendahkan sepertimu," ucapku geram lalu mengeluarkan dua buah pistol. Dia juga langsung melepas masker hitamnya, kini aku bisa melihat dengan jelas wajahnya.


"Namaku Revan, senang bertemu denganmu, Valeria sang Giant Weapon Master," ucapnya sambil mengusap pedang kecilnya dengan lembut, seringaiannya penuh dengan hawa nafsu.


Nafsu membunuh yang luar biasa.


"Wah~ aku tidak tau aku juga punya sebutan. Bahkan namaku juga terkenal, tapi ... kau siapa ya? Aku bahkan tidak tau namamu," ucapku sambil menutup mulut dengan tangan. Sudah lama aku tidak berbicara dengan nada provokasi seperti ini, rasanya jadi rindu ya.


"... Sepertinya aku baru saja bilang namaku, tapi kau sudah lupa?" ucapnya dengan tatapan yang datar. Aku membalas pertanyaannya hanya dengan tawa.


"Kita mulai saja yuk? Tanganku sudah gatal ingin menembakimu," ucapku dengan senyum lebar.


Cklik.


DOR DOR DOR DOR DOR!


Aku menembak secara brutal ke arahnya. Revan berlarian diantara gedung-gedung tinggi, seperti terbang di atasnya.


Cling.


ZRASH!


Aku terdiam mematung, sebuah pisau terlempar ke wajahku. Dan pisau itu berhasil melukai wajahku.


"Teknik gravitasi nomor 4: manipulasi metal."


Pria itu berdiri di atas gedung tinggi. Dengan pisau yang melayang-layang di sekitarnya. Bukan hanya kontrol tekniknya yang hebat, tapi dia bahkan bisa mengontrol lebih dari 15 pisau.


Pisau itu pasti mempunyai teknologi medan magnet. Dan dengan efek pembalik, medan magnet itu membuat pisau itu melayang. Kalau begitu, teknik gravitasi yang dia kuasai, adalah teknik yang menyamakan sinkronisasi magnet sekitar dengan dirinya.


Jadi dia bisa mengontrol seluruh pisau itu sesuai dengan kemauannya.


Hebat. Aku tidak tau berapa lama dia mendalami hal ini.


Ini membuatku semakin jadi bersemangat!


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!

__ADS_1


Sampai jumpa lusa!


__ADS_2