Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Kelemahan Seas??!


__ADS_3

POV: Seas


Dua hari setelah aku menerima pil halusinasi itu, ada beberapa hal yang kusadari. Obat ini tidak punya bau ataupun rasa, menghirupnya sama saja dengan menghirup udara. Hal ini membuatku berpikir beberapa kali tentang kejadian yang menimpa kami ...


Bagaimana jika seandainya semua yang kulihat hanyalah halusinasi? Bagaimana jika pesta yang meriah itu hanyalah sebuah khayalan kami? Semakin memikirkannya membuatku semakin bingung.


Siapa yang mereka incar? Benarkah aku? Atau mungkin Sky? Atau jangan-jangan Valeria? Atau juga Underworld School? Tapi ... jika menyerang Underworld School, bukankah akan sia-sia jika mereka menyerang kami? Tujuan mereka masih tidak jelas di mataku. Semuanya masih abu-abu, aku tidak melihat titik putih dan titik hitam dimanapun.


Jika mereka memang mengincarku ... bukankah seharusnya mereka tidak perlu membagi perhatiannya pada Sky serta Valeria? Tidak ... dan lebih dari ini. Aku tidak percaya bahwa Underworld School semudah itu untuk dibobol keamanannya. Ini bisa dilihat bahwa Underworld School juga punya agen dengan peringkat tinggi seperti Ghost.


Lalu bagaimana bisa mereka menerobos masuk? Tak peduli berapa lama aku berpikir, aku hanya memiliki satu tebakan saja.


Di Underworld School ada pengkhianat.


Tok tok tok!


"ASTAGA!" Aku terkejut setengah mati saat mendengar suara jendela yang diketuk.


"Cie yang melamun, kau sedang memikirkan apa? Apakah kau putus dengan Venom? Eh iya, kenapa putus? Pacaran saja belum, xixixi~." Ternyata dia adalah X yang sedang sangat longgar untuk mengganggu waktu istirahat orang. Ya, aku sangat bersyukur karena akhirnya mendapatkan asrama baru. Jadi aku bisa memindahkan barang-barang Sky serta Valeria ke sini, walaupun mereka berdua masih berada di pusat perawatan.


Dan sebenarnya tadi aku sedang melamun di depan jendela, tapi tiba-tiba X muncul lalu membuat kupingku panas.


"Kalau kau punya waktu longgar, lebih baik kau cari orang lain saja untuk diganggu!" ucapku kesal pada X. Pria itu tertawa kecil lalu membuka jendelaku dari luar. Dia melompat masuk ke dalam kamarku dan seenaknya tiduran di kasur.


"Ini sangat langka melihatmu yang sedang penuh pikiran seperti sekarang. Apa ada yang menganggu di otakmu?" tanya X dengan senyuman jahilnya. Aku menghela nafas menyerah dengan kelakukan X, lalu memilih untuk duduk di kursi yang ada di depan meja di kamarku.


"Hanya beberapa pikiran sederhana, ya ... mungkin sederhana ... tapi ini cukup membuatku bingung." Aku menjawab tanpa melihat ke arah X, karena sekarang aku sedang tidak mood untuk meladeni kejahilannya, pikiranku sungguh sedang kalut sekarang.

__ADS_1


"Hmmm~ benarkah? Apa ini ada hubungannya dengan temanmu? Atau ... ada hubungannya dengan kemampuanmu?" tanya X lagi. Berkat perkataan X, kini aku jadi teringat satu hal lagi yang merepotkan.


Aku harus mencari tau alasan kenapa teknikku tidak bekerja dengan baik saat bertarung kemarin. Padahal selama ini teknikku tidak pernah bisa ditebak, meskipun bisa ditahan, tapi aku tidak pernah tertangkap.


Aku tidak percaya bahwa alasannya hanya karena dia pembunuh ranking atas.


"... Dua-duanya sih. Tapi aku lebih penasaran ... kenapa kau mudah sekali menebak pikiranku?!" tanyaku bingung sambil menunjuk hidung X. Pria itu menyeringai sambil menatapku remeh.


"Karena kau terlalu mudah dibaca, Seas. Aku bisa membacanya seperti membaca majalah harian," jawab X sambil menutup mata dan meregangkan otot tubuhnya di atas kasur.


"Apa? Padahal aku cukup yakin dengan poker face wajahku ... yah, walaupun tidak benar-benar tanpa ekspresi, bukankah seharusnya pikiranku cukup sulit ditebak?" tanyaku dengan nada yang bingung pada X, bukannya menjawab langsung tapi dia malah tertawa dulu.


Rasanya ingin kutendang saja kepalanya.


"Kau memang lumayan ahli menyembunyikan ekspresi wajahmu. Tapi bahasa tubuhmu mengatakan segalanya. Kau pikir kenapa aku bisa langsung menebak apa yang pikirkan saat ini?


Mungkin yang X katakan memang benar, mungkin saja aku sudah tenggelam terlalu jauh pada dunia ini. Tapi ... ini pertama kalinya aku punya teman seperti Sky dan Valeria. Bahkan di kehidupan normalku dahulu, aku tidak pernah merasa sedekat ini dengan mereka.


Tapi ... TUNGGU, KENAPA X TAU TENTANG TEKNIKKU YANG TIDAK BEKERJA?!


"HEI! BAGAIMANA KAU BISA TAU BAHWA AKU PUNYA MASALAH DI TEKNIKKU?!" tanyaku spontan. X melirikku sambil tersenyum jahil, lagi!


"Menurutmu?" Dengan jijiknya X malah mengedipkan mata kanannya.


Apakah boleh aku menusuknya pakai garpu?


"Bercanda bercanda ahahaha! Ekspresimu sangat memuaskan! Hahhh, aku sangat bahagia bisa menjahilimu." X menghela nafasnya lega.

__ADS_1


"AKU YANG GREGETAN KAU JAHILI TERUS DARITADI ARGHHH!" Aku berteriak frustasi sambil menggaruk rambutku kasar.


"Haha! Tenanglah, jadi begini ... Seas, aku yakin kau belum pernah bertarung di medan yang terang bukan? Karena selama ini kau hanya bertarung di tempat yang gelap saja. Apa dugaanku benar?" Pertanyaan X langsung memberiku sebuah firasat buruk, rasanya aku jadi tahu kenapa teknik ini tidak bekerja.


"Ya ... dugaanmu benar ... ini ... pertama kalinya aku menggunakan teknik di tempat yang terang," jawabku dengan nada yang lemah. X tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, dia segera bangun dari kasur lalu berjalan mendekatiku.


"Aku yakin kau sudah menduganya. Salah satu kelemahan dari teknik yang kau gunakan sekarang adalah ini, teknikmu tidak bekerja di tempat yang terang."


Bagaikan tersambar petir di siang hari, fakta ini langsung menusuk tepat di hatiku. Walaupun aku sudah menduganya, tapi aku tidak mau mengakui bahwa aku punya kelemahan.


"Apakah ... apakah ada cara untuk mengatasinya?" tanyaku dengan nada yang ragu pada X. Pria itu langsung terkejut, matanya menatapku dengan sorot mata kekecewaan.


"Aku minta maaf ... tapi aku tidak bisa membantumu kali ini. Bukan karena aku tidak mau ... tapi aku sungguh-sungguh tidak tau bagaimana cara mengatasi kelemahan ini.


Seni yang kau kuasai itu salah satu seni terlarang tingkat tinggi, yang bahkan hanya segelintir orang di dunia yang paham, dan lebih sedikit lagi yang bisa memakainya.


Maaf Seas. Kau harus menemukan cara mengatasi kelemahanmu sendiri." X menepuk pucuk kepalaku dengan pelan dan lembut, tanpa menatap matanya aku juga tau bahwa dia juga merasa kecewa dan tidak berguna.


"Tidak apa-apa X! Terimakasih sudah membuatku menyadari kelemahanku! Aku akan berusaha sebisaku!" Aku segera mendongak dan tersenyum pada pria yang membuatku merasa punya kakak ini.


X tersenyum lembut, lalu dia kembali membuka jendela.


"Jangan terlalu dipikirkan. Jawabannya akan ketemu pelan-pelan. Bersemangatlah!" Setelah mengucapkan itu, X melompat keluar lewat jendela, dan menghilang bersama dengan angin.


Aku masih duduk di depan jendela, sambil sesekali tersenyum menatap langit gelap tanpa cahaya ini.


TBC.

__ADS_1


Jangan lupa likenya ya guys!


__ADS_2