Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Ruo VS Ruga dan Nibi!


__ADS_3

ZRAAASHH!


CRAT!


"Sial!"


POV: Author


"Agh ..." Remi yang hilang keseimbangan, langsung terjatuh dari atas pohon. Cedrik yang melihat rekannya jatuh dan terluka parah itu, langsung mendorong boneka si depannya dan ikut meluncur ke bawah.


Dari atas pohon, Nibi dan boneka milik Ruga menatap kedua musuhnya yang jatuh bersama. "Ayo, Ruga. Kita langsung serbu ke pusatnya," ucap Nibi lalu langsung melompat menuju ke arah kristal tim merah. Boneka Ruga juga kembali ke pemiliknya, baru setelah itu Ruga ikut bergerak maju.


Nibi dan Ruga langsung melaju lurus ke arah lokasi kristal tim merah. Tidak butuh waktu lama sampai mereka akhirnya melihat batu merah jernih yang besar dengan seorang laki-laki yang melipat lengannya di depan dada.


Rambut merah yang tidak ditata dan tatapan matanya yang tajam, dia adalah Ruo, penjaga kristal dari tim merah.


"Oh, kalian akhirnya sampai," ucap Ruo sambil meluruskan kedua tangannya dan mulai melakukan pemanasan.


"Maaf tapi, kami akan memenangkan ini dengan cepat," ucap Nibi sambil mengeluarkan dua cakar besi di kedua tangannya. Ruga juga sudah menurunkan bonekanya dan bersiap untuk bertarung.


Krek kretek.


Ruo melakukan pemanasan leher sambil menatap kedua anak di depannya bergantian. "Aku juga maaf, tapi kami yang akan memenangkan giliran ini," ucap Ruo percaya diri. Nibi menaikkan sebelah alisnya dan menatap Ruo heran.


"Anggotamu yang tidak terluka hanya tinggal kau dan Cedrik, kau pikir bisa menang 2 lawan 3?" tanya Nibi dengan senyuman miring, dia meremehkan Ruo.


Ruo ganti melakukan pemanasan di kedua tangannya secara bergantian. "Em em em, kau salah. Justru kalian yang masuk perangkap kami," ucap Ruo sambil tersenyum jahil.


"Jangan bercanda! Aku yakin Nibi sudah melukai punggung anak perempuan itu dengan cukup dalam!" Ruga berkata dengan sedikit kesal. Ruo kemudian mengangguk lalu dia ganti pemanasan kaki.


"Aku tidak bercanda kok, lihat ke belakang kalian." Setelah mendengar ucapan Ruo, Nibi dan Ruga langsung menoleh ke belakang. Apa yang mereka lihat langsung membuat mereka terdiam.


Jalan kembali ke kristal biru telah diblokir oleh tumbuhan raksasa.


"Kalian bisa sampai ke sini, tapi kalian tidak akan bisa pulang ke lokasi asal kalian," ucap Ruo sambil meregangkan jari-jarinya. Ruo tersenyum hingga menampilkan gigi taringnya.


"Lalu? Kau sangat percaya diri sekali ya melawan kami?!" ucap Nibi sambil menatap tajam Ruo.


"Ya. Aku akan menang melawan kalian," ucap Ruo yakin. Ruo kemudian menyingkap lengan panjangnya dan melepaskan sebuah benda aneh berwarna hitam di sana. Tak lupa dia juga melepaskan benda hitam itu di kedua kakinya.


"Apa itu?" tanya Sky sambil menatap layar.


"Beban," jawab Seas.


DUAR!


Begitu Ruo melemparkan benda hitam itu, muncul bunyi yang sangat keras hingga mirip seperti ledakan. Nibi dan Ruga yang melihat langsung di depan mata, mereka merasakan perasaan yang aneh sekarang.


"Nah, setelah aku melepaskan beban 80kg itu, rasanya badanku sedikit lebih ringan. Kalau begini, sepertinya sudah cukup untuk melawan kalian," ucap Ruo dengan senyuman iblisnya.

__ADS_1


"Meskipun begitu! Kau pikir timmu juga bisa menang melawan Ned?!" teriak Nibi pada Ruo.


Ruo memiringkan kepalanya sambil tetap menatap Nibi. "Bisa. Berbeda dengan tim kalian yang hanya mengandalkan satu otak. Tim kami mengandalkan tiga otak," jawab Ruo sambil berjongkok dan menundukkan kepalanya.


"Yak, sudah cukup bicaranya. Ayo mulai saja."


DUAR!


WHUSS!!


Ruo melesat maju bagaikan angin. Nibi yang tidak siap dengan serangan mendadak, hanya bisa terdiam saat melihat tinju Ruo yang sudah ada di depannya.


"[Teknik pengontrol mayat: nomor 0, benang kontrol.]"


SRAT!


Boneka Ruga dengan sigap langsung bisa berada di depan Nibi, dan memasang badan untuknya. Melihat boneka yang menyeramkan di depannya, Ruo hanya cuek dan siap melayangkan tinjunya.


"Oy, boneka jelekmu akan hancur loh," peringat Ruo sambil bersiap.


"Tidak akan!" jawab Ruga yakin.


"[Teknik naga merah: nomor 1, straight.]"


WHUSH!


KRANGGG! KRATAK KRATAK!


"Sudah kuperingatkan loh? Aku tidak membual," ucap Ruo dingin sambil melirik ke arah Ruga yang shock sekarang.


"Lawanmu ada 2!


[Teknik kucing biru: nomor 1, triple X.]"


SRAT!


TRANGG!


Nibi yang melihat adanya celah karena Ruo melihat Ruga, berpikir bahwa ini adalah kesempatan yang bagus agar bisa melumpuhkan Ruo.


Namun dia salah.


Jangankan melumpuhkan Ruo, justru kedua cakarnya kini ditahan dengan tangan kosong oleh Ruo.


"Mus-mustahil! KENAPA TANGANMU LEBIH KERAS DARI BESI?!" teriak Nibi dengan sorot mata yang putus asa. Ruo tersenyum lalu dengan tangan kirinya, dia menahan kedua cakar itu seperti meremas kapas.


Karena kedua senjata sudah tertahan dan jarinya tersangkut di cakarnya, Nibi jadi tidak bisa menghindar. Ruo sudah mengepalkan tangannya dan bersiap meninju lagi.


"Tidak perlu teknik, kalau untuk membuatmu pingsan saja, satu tinjuku sudah cukup," ucap Ruo.

__ADS_1


BUAGH!


Bruk.


Wajah Nibi langsung memuncratkan darah hingga membasahi punggung jari Ruo. Kini Ruo melepaskan senjata Nibi, dan ganti menatap Ruga.


"Ka-kau! Selama ini kau menahan diri?!" Ruga mundur ke belakang seiring dengan langkah Ruo yang maju ke arahnya.


"Orang bodoh macam apa yang menggunakan semua kartu AS mereka di awal?" ucap Ruo sambil mengepalkan tinjunya lagi.


"Meskipun kau berhasil mengalahkan kami, kau pikir rekanmu bisa mengalahkan Ned?!" Ruga kini sudah terpojok, punggungnya sudah menyentuh batang pohon dan dia tidak bisa mundur lagi.


"Bisa kok, mereka bahkan belum menggunakan kartu AS mereka," ucap Ruo lagi sambil tersenyum lebar. Ruo mengangkat tinjunya dan langsung menghantam Ruga tepat di hidung.


BUAGH!


Bruk.


Ruga langsung tergeletak tak berdaya dengan hidung yang patah. Setelah itu Ruo berjalan untuk mengambil beban yang dia buang tadi. Dia memakai lagi beban itu dan menatap ke arah kamera.


"Seas, Van. Aku akan menunggu kalian di ujian ke 7. Aku tidak sabar untuk membuktikan siapa yang terkuat di antara kita." Ruo tersenyum miring di depan kamera, yang membuat seluruh ruangan yang menonton hening.


Sebuah pernyataan kompetisi langsung dari rookie nomor 3!


Van tertawa kecil sambil membenarkan rambut kuningnya. Sedangkan Seas tersenyum simpul sambil menatap layar.


"Wah, kita tidak boleh diam saja dong kalau diremehkan begini. Ayo kita buat pertunjukan yang menarik juga nanti," ucap Seas sambil menatap Sky, lalu ganti menatap Valeria. Sky dan Valeria menganggukkan kepala mereka sambil tersenyum.


Kini mereka bertiga kembali menatap layar.


Kali ini, adalah pertarungan antara Remi dan Cedrik, melawan Ned.


Harus kuakui strategi Tim Ruo sangat bagus. Menyimpan kartu AS dan menggunakannya di saat yang tepat. Memisahkan area ujian menjadi 2 bagian dengan blokade tumbuhan. Dan pengalihan isu dengan berpura-pura kalah.


Dilihat dari segi manapun, strategi mereka memang nekat tapi jika berhasil ...


Maka musuh akan langsung kalah,- batin Seas.


Di layar lebar itu, kini ditampilkan Remi dan Cedrik yang tengah melawan Ned dengan jaring-jaringnya.


"... Sepertinya kami kalah taktik ya?" gumam Ned sambil mengontrol jaringnya untuk melindungi kristal biru di belakangnya. Remi mengeluarkan senjatanya yang merupakan sebuah palu kecil.


"Hei! Bagaimana mungkin luka dalam itu bisa langsung sembuh?!" ucap Valeria pada Sky saat melihat punggung Remi yang tampak baik-baik saja.


"Remi sudah menguasai formula seribu kehidupan. Dengan satu botol ramuan itu, luka separah apapun, asal tidak kehilangan anggota bagian tubuh, masih bisa disembuhkan," ucap Sky sambil menatap palu yang dipakai oleh Remi.


"Bukankah Remi dari jurusan obat dan racun?? Kenapa dia pakai palu?" tanya Seas ganti. Karena sebagai murid dari jurusan obat dan racun, bukankah akan lebih mudah dengan senjata tajam untuk menuangkan racun ke dalam tubuh musuh?


"Remi ... punya sebuah julukan di kelas kami," ucap Sky sambil menatap gadis dengan konde kecil berwarna coklat milik Remi.

__ADS_1


"Namanya, dokter ahli fraktura. Sang dokter patah tulang."


TBC.


__ADS_2