
...~Memangnya di dunia kelabu ini, ada yang benar dan salah?~...
...***...
Tunggu, jika ada hak khusus, tidak mungkin ini hanya diberikan untuk orang pertama saja. Apakah ada angka khusus? Atau ketentuan khusus juga?
Harusnya ada, tapi apa ya?
***
POV: Seas
"Hei ayolah ... sampai kapan kalian mau kejar-kejaran?" tanyaku sambil melihat Sky dan Valeria yang tak lelah-lelahnya saling tembak menembak. Kalau ini peluru mainan sepertinya aku tidak akan masalah, bayangkan kalian main polisi-polisian dan pakai peluru asli.
Salah dikit bolong tuh kepala.
Aku akhirnya hanya bisa kembali diam dan melihat aksi aneh kedua temanku itu. Sudah sekitar 2 jam kami meninggalkan Death Garden, dan memilih untuk bersantai di sebuah kebun kosong sekitar sini. Walaupun aku yakin bahwa Rabbit masih ada di Death Garden, tapi kami sudah tidak berniat untuk mengejarnya lebih jauh.
Alasannya? Semakin berusaha pada awal ujian, maka akan semakin sulit di akhir ujian nanti. Tipe ujian di Underworld School itu adalah tipe ujian yang semakin sulit di akhir. Jadi lebih baik kalau kita tidak perlu terlalu berusaha di awal, agar saat ujian akhir nanti, kita masih punya tenaga dan kartu rahasia.
DUAR!
WHUSS!
Aku merasakan sebuah angin kencang yang membuat rambut berantakan, dengan tatapan malas, aku menoleh ke asal angin tersebut. Ada banyak debu yang berterbangan dan menutupi pandangan, dari balik bayangan debu tadi, samar-samar aku melihat seseorang yang sedang berlarian.
Ahh, seseorang sudah menemukan Rabbit juga. Sepertinya mereka cukup cerdas. Ledakan yang mereka hasilkan juga skalanya cukup besar.
"[Teknik petir: nomor 1, telapak medan listrik.]"
Hah? Teknik ini ... milik gadis yang waktu itu, bukan?
BZZZT!
ZZZRRRRRRTTTTTT!!!
Gadis dengan mata merah dan rambut kuning itu menyentuh tanah yang dingin ini dengan telapak tangan kanannya. Dalam hitungan detik, sebuah medan listrik dengan jangkauan 20 meter mulai terbentuk. Segala sesuatu yang ada di atas tanah langsung terkena sengatannya.
Aku segera berdiri untuk lanjut menatap pertarungan seru mereka, seperti Valeria dan Sky juga mulai memperhatikan gadis tadi.
Seni petir ya? Sepertinya aku tau bagaimana cara kerjanya. Seni petir ini dimulai dengan saraf otot dan jantung sebagai pemompa utamanya. Dan yang kedua, setiap manusia pasti memiliki listrik di dalam tubuhnya, tak peduli banyak atau sedikit. Seni petir yang gadis itu gunakan, adalah seni yang memperkuat otot saraf dan jantung dan mengubah mereka menjadi penghantar listrik yang super bagus.
Karena itu, medan listrik ini tercipta saat gadis tadi mengeluarkan listrik dari tubuhnya dan menabrakkannya ke media yang tidak sesuai dengan elemennya.
Haha, aku bisa meniru teknik ini.
Referensi yang bagus.
Aku terkekeh pelan dan lanjut melihat pertarungan seru ini. Gadis itu dengan lihainya menjebak Rabbit dalam medan listrik yang dia buat. Aku jadi tahu bahwa agen tingkat atas sekalipun, tidak akan bisa menghindari serangan yang tidak diperhitungkan. Rabbit yang masih ada dalam jangkauan medan listrik, mulai tersengat dan terdiam untuk beberapa detik.
Dalam beberapa detik itu, gadis tadi langsung berlari, begitu juga dengan kedua temannya yang ikut berlari untuk menghampiri Rabbit.
Memang sih, kalau punya kemampuan untuk menghentikan gerakan lawan, maka itu akan sangat menguntungkan. Jadi tidak ada alasan bagi mereka menyia-nyiakan potensi mereka.
__ADS_1
Hah tunggu, sejak kapan Rabbit membawa ranting kayu yang mungil itu?
Aku memicingkan mataku, untuk melihat dengan jelas apa yang Rabbit bawa. Tapi itu memang benar-benar hanya ranting kayu sederhana. Lalu kenapa Rabbit membawa benda seperti itu?
Aku masih bertanya-tanya kenapa Rabbit membawa ranting kayu, tapi aku juga semakin tidak paham.
Kemampuan Rabbit apa ya? Apakah ada hubungannya dengan kelinci? Kalau kelinci, bukannya mereka ahli melompat dan menendang? Karena kaki Rabbit sekarang masih mati rasa akibat sengatan listrik, jadi mustahil dia bisa melompat. Lalu dia akan menendang gadis itu? Bukankah itu sama saja dengan menyentuhnya?
Whur!
Aku terdiam, menatap Rabbit yang dengan entengnya melemparkan ranting kayu itu ke atas. Sambil menunggu ranting itu turun, Rabbit bersiap untuk melancarkan tendangan lurus.
"Teknik? Aku tidak membutuhkannya jika hanya melawan lalat seperti kalian."
WHUS.
DUAKKK!
WHURRRSSSSSS!
Rabbit menendang ranting kecil itu ke arah rekan gadis tadi. Aku masih melongo menatapnya, semuanya terasa lambat, bahkan detik saat ranting kayu yang sangat rapuh itu, kini menembus perut rekan dari gadis tadi.
ZRASSHH!
"AAAAAAAA!" Dia berteriak sambil memegang perutnya yang terus mengeluarkan darah. Gadis dengan teknik petir itu mulai sedikit bimbang, medan listrik yang dia keluarkan sudah mencapai batasnya, kini Rabbit sudah sepenuhnya bebas.
"Hm hm~ selamat mencoba lagi lain kali~."
Whus.
"Aaaaa," rintih temannya yang terluka.
Aku melirik ke arah Sky dan Valeria, tapi mereka segera menjawab sinyalku dengan gelengan kepala. Aku yakin mereka mengatakan 'tidak usah ikut campur urusan mereka', yah, itulah yang mereka maksud.
"Baiklah, ayo kita pergi," bisikku pelan pada Sky. Anak itu segera menganggukkan kepala, lalu menyentuh lengan Valeria pelan.
"Ayo," bisiknya pada Valeria.
Setelah itu, kami pergi dalam diam, meninggalkan gadis dengan seni petir tadi yang masih sibuk memberi pertolongan pertama.
Tidak ada kebaikan yang bisa kuberikan padanya. Karena yang kami punya hanyalah hutang atas sebuah nyawa.
***
Setelah pulang dari tempat itu, kami segera kembali ke asrama dan memilih untuk beristirahat bersama di ruang tamu. Sangat membosankan, tidak ada alat elektronik untuk menayangkan hiburan.
Sebenarnya yang isinya adalah 'Tata Cara menjadi Pembunuh Yang Baik' tapi isinya malah menunjukkan korban mutilasi. Sungguh membuat orang tidak mood makan.
"Tadi kau taruh mana kertasnya?" tanya Sky tiba-tiba. Aku yang memang kebetulan berada di tengah-tengah Sky dan Valeria, jadi hanya bisa diam dan melirik ke kiri dan kanan.
"Kertasnya? Kutaruh di tempat yang aman, dan sudah kupastikan tidak ada bom di antara lapisan kertasnya," jawabku dengan nada yang bosan. Valeria tiba-tiba berdiri dan mulai berjalan ke arah kamarnya.
"Ada apa?" tanyaku cukup lantang.
__ADS_1
"Tunggu sebentar," jawabnya dari kejauhan.
Setelah itu, aku kembali menghadap ke depan dan memilih untuk melamun.
"Eh ngomong-ngomong, bom yang waktu itu aku kembangkan sudah jadi, apa kau lihat?" tanya Sky tiba-tiba lagi. Aku jadi ingat bahwa dulu Sky membuat sebuah bom darah yang hanya akan meledak pada orang tertentu sesuai dengan darah tersebut.
"Benarkah? Aku mau melihatnya," jawabku pelan. Sky mengangguk dan tersenyum senang, dia lalu merogoh saku celana panjangnya dan mulai mengeluarkan sesuatu.
"Ta da!" Sky mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk bulat dengan jarum setebal 3 sentimeter di salah satu ujungnya. Ukuran benda itu kurang lebih 6 sentimeter kalau dihitung bersama dengan jarumnya.
"Hooo, bentuknya lebih unik dari yang kukira, bagaimana cara kerjanya sekarang?" tanyaku sambil mengambil benda di tangan Sky dengan lembut.
"Jadi benda ini kunamakan blood bomb! Karena, bom ini hanya akan meledak dengan tipe darah yang sama!" ucap Sky dengan antusias.
Berarti jarum ini berguna untuk mengambil darah lawan dan memasukkannya ke dalam bulatan di pangkal jarumnya ya?
"Tunggu, bukankah artinya bom ini tidak bisa langsung digunakan?" tanyaku pada Sky. Dia mengangguk dan menusukkan bomnya ke tubuhnya sendiri.
"Jika bola ini sudah berubah menjadi warna merah, maka bola ini akan meledak. Ya jadi, ini sama seperti bom waktu," jelas Sky sambil menunjukkan warna bola di pangkal jarum yang perlahan menjadi merah. Sky segera berdiri dan membuka jendela, lalu melemparkannya ke arah luar.
DUARR!
Sebuah ledakan yang cukup besar tercipta, radius ledakan itu adalah 3 meter. Semua yang ada di depan radius itu langsung hangus menjadi abu.
"Nah karena senjata ini masih baru, dan belum pernah digunakan dalam pertempuran yang sesungguhnya, jadi aku belum tau kekurangan apa yang akan muncul. Aku akan memberimu 10 buah, coba kau gunakan dalam pertarungan," ucap Sky sambil melemparkan asal 10 bom ke arahku. Aku menangkap bomnya satu persatu dan aku masukkan ke dalam saku.
Tak lama kemudian, Valeria muncul dengan sekarung senjata api.
BRUK!
"Kenapa ... kau mengeluarkan semua senjatamu?" tanya Sky sambil menatap barang-barang Valeria yang berjatuhan, mulai dari pistol, granat, dan jenis senjata tersembunyi lainnya.
"Oh? Aku hanya berpikiran, mungkin lebih baik aku menyimpan Belmere untuk sementara waktu, dan memilih untuk menggunakan senjata lainnya. Karena itu, aku akan memperbaiki dan membersihkan senjataku yang lainnya," ucap Valeria sambil menunjukkan sebuah pistol dengan pisau yang tertanam di bagian ujung pistolnya.
"Oh? Jadi ini senjata yang kau otak-atik ya?" tanyaku saat mengangkat sebuah belati dengan dua buah lubang peluru di tiap tepinya.
"Tepat sekali! Kau juga boleh mengambil senjata yang cocok denganmu, aku tidak keberatan, aku juga tidak bisa menggunakan semuanya di saat yang bersamaan," ucap Valeria acuh. Dia kemudian mulai membersihkan noda darah dan juga membongkar beberapa bagian dari senjatanya.
Aku mengambil sebuah pedang yang tidak cukup panjang tapi juga tidak pendek, pedang ini memiliki bentuk lurus, berkebalikan dengan dagger. Jika dagger cocok digunakan untuk bagian tepinya, maka pedang ini lebih cocok digunakan bagian ujungnya.
Dengan porsinya yang lurus, maka ayunannya akan lebih cepat karena besi yang digunakan lebih ringan, tapi juga ... lebih cepat patah.
Yah tidak masalah, aku hanya akan menggunakan pedang ini disaat terdesak.
"Oh iya, ngomong-ngomong ... apa kau sudah tau kemana Rabbit selanjutnya? Seas?" tanya Sky sambil memegang sebuah cambuk bewarna ungu tua. Aku terdiam sejenak dan mengingat isi peta beracun tadi.
"Hm ... aku tau sih, tapi ... sepertinya akan cukup sulit untuk kita menyentuhnya di medan itu," ucapku dengan nada yang agak ragu.
"Dimana?"
"Tepi pantai beracun."
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa likenya ya guys!