Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Cukup, Seas.


__ADS_3

"Cukup, Seas."


POV: Author


Valeria memukul tengkuk Seas dengan lengan snipernya. Seas langsung tersungkur ke depan, dan tidak sadarkan diri. Suasana itu hening untuk beberapa saat, bahkan Nick sendiri juga ikut bingung tentang apa yang terjadi.


Mata hitam Nick bertatapan dengan mata coklat Valeria.


"Nah paman, lebih baik paman segera lari. Sudah beruntung kami membuat teman kami ini pingsan, coba kalau tidak. Putus leher paman nanti," ucap Valeria sambil menjulurkan lidahnya. Sky mengangguk setuju lalu hendak membopong tubuh Seas.


"Aduh kasihan sekali, wajah tampannya jadi terluka," gumam Sky sambil melihat wajah Seas yang penuh darah. Sky menyeka pelan darah yang hendak menetes dari dagu Seas, lalu segera berjalan menjauh dari medan peperangan.


Kling.


"Setelah membunuh kedua rekanku, kalian pikir kalian bisa kabur dengan selamat?".


Valeria menghela nafasnya dengan lelah, lalu berbalik dan menatap wajah Nick yang marah. Valeria menaruh snipernya di punggung lalu mengambil kuncit rambut yang ada di pergelangan tangannya.


"Lalu? Kau mau apa?" tanya Valeria sambil menguncir kuda rambut coklat merahnya. Sky malah acuh tak acuh dengan kehadiran Nick, lalu tetap berjalan pergi untuk memberi pertolongan pertama pada luka Seas.


"Aku baru bisa tenang jika kau berikan anak bernama Seas itu padaku," ucap Nick sambil mengacungkan pedangnya ke arah Valeria. Melihat ujung lancip yang diarah ke wajahnya, Valeria malah menahan tawa hingga pipinya menggembung.


"Ppftt! HAHAHAHAHAHAHAHA!" Tawa Valeria lepas hingga membuat tanah kosong ini bergema. Valeria berusaha menghentikan tertawanya sambil melirik ke arah belakang.


Ohh, Sky sudah masuk ke dalam gedung ya? Berarti ... sepertinya aman jika aku menggunakan teknik itu tanpa ketauan,-batin Valeria.

__ADS_1


"Sepertinya otakmu ikut tidak beres ya? Kau bahkan bisa tertawa di saat seperti ini. Jujur saja, tanpa temanmu tadi, kau bahkan hanya sampah yang tidak berguna," ucap Nick dengan tatapan yang dingin ke arah Valeria. Tapi hal itu hanya dibalas dengan anggukan, Valeria lalu menekan tombol kecil di snipernya.


Clik clik krek.


Sniper Valeria kini berubah menjadi sebuah shotgun yang memiliki 7 lubang besar.


"Sampah ya? Sudah sejak lama aku tidak mendengar hinaan itu. Hmmm, terakhir kali yang mengataiku sampah adalah kakakku sendiri, ternyata rasanya tidak terlalu buruk dikatai oleh paman," ucap Valeria sambil mengusap shotgunnya dengan lembut. Setelah beberapa saat, Valeria langsung mendongak untuk menatap langit yang gelap ini.


"Kalau dipikir-pikir, sepertinya aku tidak jadi bertarung saja deh," gumam Valeria dengan ekspresi kecewa. Nick menatap Valeria dengan ekspresi bingung, tapi dia segera menepis rasa bingungnya itu.


"Apa maksud-," ucapan Nick terpotong, karena tiba-tiba dia merasakan hawa yang mengerikan.


"Selamat datang, para agen tingkat atas." Valeria merentang kedua tangannya. Dari dalam kegelapan, muncul sekitar 8 orang agen tingkat atas, diantara mereka, ada Venom serta X, yang ikut datang untuk mengatasi keributan yang terjadi.


"Sepertinya pengawasan kami terlalu lengah ya? Sampai membiarkan tikus sepertimu bisa menyelinap masuk dengan mudah," ucap salah satu agen tingkat atas, dengan codename ghost. Tidak ada yang tahu dia adalah pria atau wanita, karena dia selalu menggunakan topeng bahkan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya. Di balik jubahnya itu, masih ada zirah yang terbuat dari kulit baja yang dibuat seperti kaos. Bahkan ada pengubah suara di dalam topengnya.


Fyuushhh.


Angin berhembus pelan, memberikan kesan dingin dan suram di tengah kerumunan agen tingkat atas. Venom mulai mengeluarkan senjata kipasnya. Warna hijau gelap yang mengilap, serta gagang hitam dan permata di tengahnya, dan ukuran ular cobra berhiaskan mawar di tengah kipas.


"Jadi, kau mau menyerahkan diri, atau harus kami buat 'menyerahkan diri'?" tanya Venom dingin. Nick hanya tersenyum kecut saat menatap mata merah keruh milik Venom.


"Aku tidak mau keduanya." Nick mengeluarkan pedangnya, lalu mengayunkannya.


JREB.

__ADS_1


"Aku tidak mau ... informasinya terbongkar." Nick menusuk jantungnya sendiri dengan pedang di tangannya. Semua agen kelas atas terdiam di tempat itu, mereka hanya diam dan mengamati Nick yang mulai tumbang.


"Yah~ kita kehilangan jejak lagi~ harusnya langsung kita bius saja tadi~ pekerjaanku jadi bertambah kan~ dasar Venom!" ucap X kesal sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Para agen codename hanya tertawa sekilas, lalu mereka mulai pergi, begitu juga Venom yang hanya memberikan ekspresi datar.


"Itu kan memang tugasmu sebagai agen mata-mata," ucap Venom sesaat sebelum menghilang di kegelapan. X hanya menghela nafas lelah sambil memutar bola matanya.


Agen mata-mata memang punya tugas khusus sebagai penggali informasi. Berbeda dengan agen codename yang berperan sebagai eksekutor, maka agen mata-mata adalah orang yang berperan dalam perencanaan.


Tugas mereka adalah menyusup dan mengambil informasi, mereka bukanlah orang yang bertarung di lini depan dalam perang, tapi hanya sebagai support sistem. Tapi jika dalam hal penyusupan, mereka sudah maju lebih ke depan daripada lini depan.


"Yak! Ayo kita ambil mayatnya dan bawa ke laboratorium. Bahkan jasad teman-temannya juga! Oiya, pastikan kepala mereka juga!" ucap X lalu melompat ke arah jasad Nick. Agen mata-mata lain tampak bingung karena X terlihat sangat tenang di kondisi ini.


"Hey ... harusnya mereka mungkin setingkat dengan agen tingkat atas bukan? Siapa yang membunuh mereka sebelum kita sampai ke sini?" tanya salah satu agen mata-mata dengan kode GT.


"Apa kalian tidak tau Seas Veldaveol?" tanya X sambil mengedipkan sebelah matanya. Agen GT langsung terdiam begitu mendengar nama Veldaveol. Dalam sejarah Underworld School, nama Veldaveol adalah salah satu nama yang mencetak sejarah di sini.


"Jadi marganya Veldaveol ya? Pantas saja ... tapi aku sedikit tidak menyangka dia bisa sejauh ini. Bukankah artinya kalian sudah bisa mengangkatnya sebagai agen tingkat atas?" tanya agen GT lagi sambil mengambil kepala Lus di tanah.


"Tidak bisa. Dia melakukan ini semua secara tidak sadar. Karena ... dia juga pemilik kutukan darah Veldaveol," jelas X yang membuat suasana menjadi tegang. Setelah itu semuanya kembali fokus pada pekerjaan mereka, tanpa ada yang bertanya ataupun bersuara lagi.


Sejarah keluarga Veldaveol, adalah sejarah kelam yang tidak bisa disentuh sembarang orang. Sebuah rahasia yang terkubur dalam di bawah tanah.


Mungkin jauh lebih dalam dari Underworld School? Tidak ada yang tahu. Seperti buku usang di dalam gudang, dengan tulisan kuno yang tak bisa diterjemahkan.


Sesulit itu pula sejarah keluarga ini digali.

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa like dan komennya ya guys!


__ADS_2