Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Si Rubah Putih?


__ADS_3

..."Jadi, apa kau yang bernama Seas? Atau harus kusebut ... Si Rubah Putih?"...


POV: Seas


Apa-apaan pria ini? Tiba-tiba menghadang jalanku dan sekarang bicara omong kosong? Apa itu rubah putih? Memangnya aku peduli?


"Ayo pergi, Sky." Aku langsung menarik lengan Sky, mengabaikan pria yang menghadang jalanku tadi. Tapi pria itu malah menodongkan sebuah shotgun dari belakang kepalaku.


"Apa kau tidak tau bahwa menghormati orang yang lebih tua itu disebut dengan sopan santun?" tanyanya dengan nada yang dingin. Aku memutar bola mataku dengan malas lalu menoleh ke arahnya.


"Apa kau tidak tau bahwa menodongkan senjata ke kepala orang itu tidak sopan?" balasku dengan nada yang tak kalah dingin.


Cring.


Sky langsung mengarahkan jarum beracun ke arah leher pria itu, tatapan matanya sangat tajam. Sepertinya Sky sedang dalam mood yang buruk.


"Kau berani menodongkan senjata ke temanku? Apa kau siap menanggung akibatnya?" tanya Sky dengan racun yang menetes dari jarumnya. Tidak ada yang bersuara maupun bergerak. Kami hanya diam mematung sambil menatap satu sama lain.


"Tch!" Pria itu akhirnya memasukkan shotgunnya kembali ke belakang punggungnya. Sky juga memasukkan kembali jarum beracun ke dalam jubahnya.


"Kukira kau hebat, ternyata kau malah berlindung dibalik rekanmu, dasar payah," ucap pria itu lalu berjalan pergi.


Aku tidak tau kenapa ... biasanya aku akan mengabaikan hal seperti ini. Tapi rasanya hari ini aku sangat kesal. Aku tidak ingin membiarkannya lolos begitu saja.


JREB!


Aku melemparkan daggerku dan itu langsung menancap di dinding.


Tes.


Tentu saja, mana mungkin aku membidik dinding? Aku ingin menggoreskan sebuah luka kecil di wajahnya. Aku tersenyum miring saat melihatnya melirik ke arahku dengan sorot mata penuh amarah.


"Kukira kau sehebat apa sampai bisa mengejekku, menghindari satu pisau saja tidak mampu," balasku dengan nada yang kubuat sangat menjengkelkan. Pria itu langsung kembali lagi ke arahku dengan shotgun yang sudah dipenuhi peluru.


"Mati kau!"


DUAR!


Saat peluru pria itu hendak mengenaiku, aku langsung menggunakan teknik milikku.

__ADS_1


...[Teknik nomor 5: Bayangan Pohon.]...


WUSH!


Kurang dari satu detik, aku sudah berada di belakang pria itu sambil menggenggam logam panas dari shotgunnya. Aku menatap tengkuk pria itu dengan dingin, ingin rasanya kupotong jadi dua.


"Seingatku, tidak ada larangan untuk membunuh antarsiswa kok?" bisikku dari belakang wajahnya. Tapi saat aku hendak melakukan sesuatu lebih jauh. Pria di depanku tiba-tiba menghilang.


"Teknik petir nomor 2: Jejak halilintar."


Aku menoleh ke atas sebuah gedung dengan 5 tingkat. Ternyata dia sudah ada di sana, diselamatkan oleh seorang wanita. Wanita itu punya warna rambut yang sama dengan Sky, tapi warna matanya berbeda. Wanita itu tersenyum ke arahku sambil mengangkat pria tadi seperti mengangkat karung beras.


Dia cepat. Aku bahkan tidak bisa melihat gerakannya. Apa itu seni petir? Tapi seni yang bagaimana?


"Wah~ tidak kusangka kita akan bertemu di sini~ Seas Veldaveol~," ucapnya dengan nada yang sangat menjijikkan.


"Sayang sekali ya~ sebenarnya aku berniat untuk bergabung dengan keributan ini! Tapi aku tidak bisa melakukannya karena sedang fokus untuk persiapan ujian! Oh iya, apa kau akan ikut ujiannya, Seas?" tanya wanita itu dengan senyuman. Aku mengernyitkan keningku, mencoba mencerna perkataannya. Ada begitu banyak hal yang tidak aku pahami.


Ujian apa? Siapa yang mengadakan ujian? Apakah menjadi pembunuh masih perlu ujian?


Aku langsung melirik ke arah Sky yang terlihat gelagapan. Sepertinya dia tau sesuatu tentang ujian ini. Aku menghela nafas kecil lalu langsung menggenggam lengan Sky. Setelah itu aku langsung mengajak Sky pergi, meninggalkan wanita gila yang tersenyum seperti psikopat itu.


Wanita itu sudah tidak ada.


"Nah jadi, apa yang dimaksud dengan ujian?" Aku berhenti melangkah lalu melepaskan genggaman tangan Sky. Aku menatapnya dengan tatapan tajam seperti menginterogasi.


Tinn!


"Aku akan menjelaskannya padamu di asrama nanti, sekarang naiklah," ucap Venom dari dalam mobil. Aku melongo saat tau bahwa yang akan menjemput kami adalah Venom. Di sebelah Venom, ada X yang duduk sambil menahan kantuk. Sementara di kursi penumpang, ada Valeria yang diam sambil melihat ke luar jendela.


"Aku duduk di kursi penumpang?" tanyaku sambil menunjukkan wajah cemberut.


"Tentu saja, memangnya kau mau duduk dimana?" tanya Venom dengan ekspresi datarnya.


Ptas.


Sepertinya ini suara tali kesabaranku yang putus. Kadang aku heran dengan Venom, bagaimana dia jadi sangat tidak peka? Apakah dia tidak sadar aku ingin duduk di sampingnya?! Padahal biasanya aku yang duduk di sana, sekarang malah ditempati oleh X. Kukira itu adalah kursi istimewaku.


Venom sialan!

__ADS_1


Brak!


Aku langsung menutup pintu dengan keras karena aku yang terakhir masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, aku memasang wajah yang masam dan cemberut. Tapi bukannya malah sadar, Venom malah hanya berbincang dengan X saja!


Aish sudahlah! Aku malas!


***


"Nah kita sudah sampai, turunlah," ucap Venom sambil turun dari mobil.


BRAK!


Aku membuka pintu mobil dengan kasar lalu berjalan masuk ke dalam asrama. Aku tidak peduli dengan tatapan yang lainnya, moodku sedang benar-benar buruk sekarang!


"Wah wah~ ada pasangan yang bertengkar?" tanya X yang sudah tiba-tiba di sampingku. Aku yang terkejut jadi tidak sengaja langsung menusuk tangan X dengan pisau.


JREB!


"Astaga X! Maafkan aku! Aku kaget!" ucapku panik lalu segera mencabut pisaunya. Bukannya malah membaik, hal ini malah membuat lukanya semakin terbuka dan mengeluarkan banyak darah.


"Aku ... tidak apa-apa. Ini salahku karena mengangetkanmu," ucap X dengan ekspresi datar. Aku yakin wajahnya seperti berkata 'aku yang salah karena malah mengageti Seas, sudah tau dia titisan monster'.


Aku langsung berlari ke kamarku dan mengambil beberapa perban serta obat untuk luka luar yang kusimpan di lemari. Tak lupa melihat tanggal kadaluarsanya, setelah itu aku langsung kembali ke X.


"Berikan tanganmu! Sini kuobati!" Aku menarik paksa tangan X yang tadi aku tusuk. Aku mulai membersihkan lukanya dengan alkohol yang aku bawa di dalam perban, lalu mulai membalutnya dengan perlahan.


Terlintas kejadian saat Venom memberi alkohol pada jari-jariku dulu. Itu adalah ingatan hari pertama saat aku bertemu Venom.


Tunggu- kalau kuingat-ingat, hari itu aku hanya kagum pada Venom saja kan? Kenapa sekarang jadi begini ya?


"Kau sangat telaten ya? Kenapa kau bisa sepandai ini?" Pertanyaan X membuyarkan lamunanku.


"Karena aku sering terluka, jadi aku harus bisa memakainya sendiri agar tidak merepotkan yang lain, sangat memalukan bukan? Jika kau terluka karena dirimu sendiri, malah orang lain yang bertanggung jawab merawatmu," jelasku sambil mengikat bagian terakhir dari perban. Saat mengikat perban pada X, aku teringat saat kakiku terluka dulu, atau saat tulang rusukku yang patah juga saat itu.


..."Hmmm, kau anak yang baik. Baiklah! Aku ke sini karena ingin menjelaskan soal ujian padamu!"...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!

__ADS_1


__ADS_2