
..."Apakah kalian dari Underworld School?"...
POV: Seas
Aku menoleh dengan cepat ke arah suara itu. Di sana berdiri seorang laki-laki dengan tudung panjang hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Valeria langsung mengeluarkan pistol dan bersiap menembak pria itu. Sky sudah bersiap melemparkan bom kimia ke arahnya.
Aku bahkan tidak merasakan hawa kehadirannya, dia adalah pembunuh yang hebat. Aku melirik ke arah X, matanya menandakan bahwa dia mewaspadai pria di depan kita ini.
"Siapa kau? Aku tau kau sudah mengikuti kami sejak 3 kilometer tadi. Aku hanya tak menyangka kau akan menunjukkan dirimu terang-terangan seperti ini," ucap X dengan dingin. X mengeluarkan sniper panjang yang terbungkus oleh perban di punggungnya.
"Maafkan aku jika sudah membuat kalian kaget, wajar jika kalian merasa curiga." Pria itu membuka tudungnya, memperlihatkan seorang laki-laki dengan rambut pendek dengan bekas luka sayatan di hidungnya. Dia terlihat sudah lumayan berumur, mungkin umurnya sekitar 30 tahun?
"Kalian bisa memanggilku Dev. Aku adalah salah satu pembunuh yang dilatih khusus oleh Kaisar Evagiria. Aku diperintahkan untuk bekerja sama dengan kalian dalam pengawalan putra mahkota," ucapnya dengan sopan. Dia menundukkan kepalanya pada kami.
X mengangguk lalu menaruh kembali snipernya di punggung, begitu juga dengan Valeria dan Sky yang memasukkan kembali senjata mereka.
"Maafkan kami karena sudah mencurigaimu, kami dari Underworld School. Mohon kerja samanya," ucap X dengan senyuman lalu mengulurkan tangan pada Dev. Pria itu menjabat tangan X lalu menunjuk sebuah jalan setapak.
"Silahkan lewat sini, kita akan beristirahat dahulu sebelum pergi ke ibukota," ucap Dev lalu berjalan mendahului kami. X melirikku dan memberi isyarat untuk mengikutinya.
"Ayo!" ucapku pada Sky dan Valeria. Mereka mengangguk dan kita mulai mengikuti Dev. X masih berdiam di tempat itu sambil menatap beberapa pohon. Entah apa yang dia pikirkan.
Kami berjalan mengikuti Dev melewati semak-semak. Hingga kami sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Rumah ini terbuat dari kayu, terlihat sederhana tapi cukup bagus.
Nuansanya tradisional dan membawa ketenangan tersendiri di hati. Kami kemudian masuk ke dalam rumah bertingkat 2 ini. Dev mulai menyalakan lampu, interior rumah ini juga terlihat sederhana.
__ADS_1
"Kita akan berangkat nanti sore, karena sekarang masih dini hari. Silahkan kalian beristirahat dahulu. Kalian pasti lelah karena perjalanan panjang," ucap Dev sambil menunjukkan arah kamar kami. Valeria dan Sky langsung masuk ke kamar yang mereka pilih dan tertidur.
Sebenarnya aku tidak cukup lelah. Aku lebih khawatir pada X, dia benar-benar jarang tidur. Karena yang bisa menyetir hanya X saja, jadi tidak ada yang bisa bergantian dengannya.
"Terimakasih Dev, bisakah kau menunjukkan padaku kamar yang mempunyai balkon?" tanyaku pada Dev. Dia mengangguk lalu berjalan pergi. Aku mengikutinya sambil melihat beberapa lukisan di dinding.
"Lukisan siapa ini?" tanyaku saat melihat sebuah lukisan istana yang megah. Dev berhenti dan menatap lukisan yang kubilang.
"Ini adalah duplikat dari lukisan keturunan pertama kerajaan Evagiria," jawabnya dengan singkat. Dia berjalan lagi lalu berhenti di sebuah pintu yang berwana hitam.
"Ini adalah kamar yang memiliki balkon, apakah kau ingin kamar ini?" tanya Dev padaku. Aku mengangguk sambil tersenyum. Dia kemudian membukakan pintunya.
"Terimakasih Dev! Selamat beristirahat!" ucapku pada Dev sebelum masuk kamar. Dev mengangguk lalu berjalan pergi. Aku segera menutup kamarku dan berjalan ke arah balkon.
"Masih dini hari ya ...," ucapku sambil melihat langit gelap. Ada beberapa bintang di sana, berkelap-kelip seolah dia tau bahwa aku sedang menatapnya.
"Katanya orang yang sudah mati akan jadi bintang di langit. Apakah bintang itu adalah kalian? Ayah? Ibu?" tanyaku di gelapnya malam. Tentu saja, tidak mungkin akan dijawab, kan? Aku hanya sedikit merindukan kehadiran orang tuaku.
Aku mendengar suara X dari atas. Saat aku melihat ke arah genteng, ternyata X sedang duduk di sana. Aku memanjat pagar lalu melompat, tanganku berpegangan pada tepi genteng.
"Hup!" Aku akhirnya berhasil naik lalu duduk di sebelah X. Keheningan menjadi teman kami kali ini, entah kenapa X terlihat lebih pendiam hari ini. Padahal biasanya mulutnya tidak akan berhenti bicara, seolah tidak ada rem di lidahnya.
"Apa yang kau pikirkan X?" tanyaku padanya, X melirik ke arahku sambil tersenyum. Tangannya mengusap pucuk kepalaku dengan pelan.
"Kalian sangat mirip dengab adik-adikku. Mungkin karena itu aku jadi merindukan mereka," ucapnya. Aku ingat dia pernah bilang bahwa dia punya adik.
"Benarkah? Berapa umur mereka? Sekarang mereka dimana?" tanyaku pada X dengan antusias. Kupikir ini bisa menyenangkan hatinya.
__ADS_1
"Mereka sudah tidak ada. Harusnya sejak awal aku tidak bersama dengan mereka, karena itu mereka tidak harus menanggung karmaku," ucapnya dengan nada yang sedikit pilu. Aku langsung terdiam seketika, dasar mulut sialan. Harusnya aku tidak bertanya!
"Um, kau tau X? Katanya arwah orang yang sudah mati akan menjadi bintang! Jadi aku berbicara dengan mereka ... seolah mereka adalah orang tuaku yang sudah pergi lebih dulu!" ucapku sambil tersenyum padanya. X tertawa kecil dan mengacak-acak rambutku.
"Aku mendengarmu berbicara sendiri tadi, ternyata itu yang kau lakukan?" tanya X diiringi tawa, aku sedikit malu mendengarnya. Rasanya seperti aku ketauan melakukan sesuatu yang memalukan.
"A-aku hanya rindu pada mereka! Jadi kupikir aku bisa melepaskan rasa rinduku jika aku berbuat begitu!" ucapku membela diri sendiri. X menopang dagunya lalu menatapku dengan intens.
"Wajahmu benar-benar mirip dengan kakakmu saat seusiamu, tapi sifat kalian benar-benar berkebalikan," ucap X. Aku menatap X dengan tidak suka lalu membuang wajahku. Aku benar-benar benci mengingat wajah orang itu.
"Tapi kalian juga mirip dalam bakat membunuh orang," ucapnya sambil tersenyum jahil. Dia menyentil dahiku lalu tertawa.
"Kau menikmati ini, kan?!" tanyaku tak terima. Dia mengangguk dengan senyum cerah di wajahnya. Aku hendak membalasnya dengan memukul wajahnya, tapi X terlalu cepat untuk dipukul ... seranganku selalu mengenai angin.
"Aku berpikir bahwa misi pertamaku benar-benar buruk, karena tidak ada Venom di sisiku," ucapku sambil menatap langit. X memperhatikanku lalu ikut menatap langit.
"Tapi sekarang aku bersyukur bahwa kau adalah orang yang menemaniku di misi kali ini, X." Aku tersenyum padanya, X menatapku datar. Matanya seolah melihat orang lain dalam diriku.
"Kau benar-benar tau bagaiman cara membuat seseorang terharu," ucap X lalu dia berdiri. Aku merasakan sebuah sinar yang menerpa mataku.
"Lihatlah, matahari sudah terbit." X menunjuk cahaya yang perlahan muncul dari balik hutan.
"Perjalanan kita di misi ini baru dimulai, Seas!" ucapnya dengan senyum cerah. Aku mengangguk lalu ikut berdiri.
Dari atas aku bisa melihat bahwa Sky dan Valeria juga membuka jendela mereka. Mereka melihat indahnya matahari yang terbit dari kamar mereka.
Kami saling bertatapan lalu tertawa bersama.
__ADS_1
..."Hari yang melelahkan, baru saja dimulai!"...
TBC.