Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Pertunjukan di mansion lelang!


__ADS_3

..."Tidak akan ada yang bisa keluar dari ruangan ini."...


POV: Author


"YAK! KITA MULAI DARI PRIA MUDA INI! LIHATLAH BADANNYA YANG KEKAR DAN BEROTOT! PENAWARAN DIMULAI DARI 3000 KOIN EMAS!" Sang pembawa acara dengan semangat menunjukkan pria yang tanpa baju itu. Para bangsawa sibuk berdiskusi kemudian mulai mengangkat papan nomor mereka.


"NOMOR 137, 3500 KOIN EMAS!"


"NOMOR 342, 4000 KOIN EMAS!"


"NOMOR 128, 8000 KOIN EMAS!"


"SATU DUA TIGA! TERJUAL!"


Seorang wanita muda yang membeli pria itu, dia segera diarahkan ke ruang tunggu.


"Permisi nyonya, silahkan ikuti saya," ucap pelayan dengan topeng kucing. Sang Nyonya mengangguk lalu mengikutinya.


Prang! Pet!


Lampu tiba-tiba pecah dan mati. Semua tamu jadi bertanya-tanya apakah ada kesalahan di dekorasinya. Sang pembawa acara jadi marah karena acara yang sudah dibuka dengan meriah menjadi terganggu.


"Hei! Ada apa?! Kenapa bisa lampunya pecah?!" tanya sang pembawa acara pada gadis dengan pakaian maid. Gadis itu membungkuk sambil gemetaran.


"S-saya tidak tau Tuan. Akan kami segera perbaiki!" ucap sang gadis. Sang pembawa acara menghela nafasnya dengan frustasi.


"Padahal barang hari ini banyak yang berkualitas bagus!" kesal si pembawa acara, dia melemparkan mic-nya ke lantai.


"T-TUAN! ADA BERITA GAWAT!" Seorang butler berlari dengan nafas tersengal-sengal, keringat bercucuran dari wajahnya. Dia berlutut seperti meminta pengampunan.


"Ada kejadian di aula, Tuan! Para bangsawan jadi panik dan mereka berteriak!" ucap si butler. Sang pembawa acara jadi heran dan dia langsung pergi ke aula.


Tinggal si butler dan sang maid di sana.


"???" Sang maid memperhatikan butler dengan seksama. Matanya menatap si butler dengan aneh.


"Apa kau pekerja baru? Aku belum pernah melihatmu," ucap si maid dengan tersenyum. Sang butler segera berdiri lalu menyentuh kepala sang maid sambil tersenyum.


Crash!


Dalam hitungan detik, kepala si maid sudah putus. Si butler melepaskan topeng kucingnya, yang ternyata adalah Seas. Dia sedang menyamar agar mempermudah rencananya.


"Waktunya pertunjukkan."


Seas melepaskan pakaian butlernya, menyisakan kaos hitam panjang serta celana hitam. Dia berlari menyusuri lorong dan masuk ke dalam sebuah lubang, ternyata itu adalah jalan rahasia yang menghubungkan lorong rumah dengan area pengurungan manusia.


Jadi para manusia yang ditangkap akan dimasukkan ke dalam sini untuk dijual esok harinya.


Benar-benar negeri yang busuk.


Tap!

__ADS_1


Seas mendarat dengan sempurna. Matanya langsung melihat ke arah penjara di depannya, begitu banyak orang yang bahkan sudah lemas. Seas segera menutup hidung, dia benci bau ini. Seperti tempat konstitusi.


"TOLONG KAMI!"


"TOLONG!"


"SELAMATKAN KAMI!"


"BUKA PENJARA KAMI!"


Seas mengangguk, dia mengeluarkan dagger dari dalam kaosnya. Seas bersiap untuk menancapkan dagger itu ke gembok, hingga tiba-tiba ada yang memukul pinggangnya.


DUAGH!


Seas terjatuh dan terseret. Dia memegang pinggang kirinya yang rasanya remuk. Mulutnya mengeluarkan darah, matanya memicing tajam ke arah orang yang memukulnya.


"Aku tidak tau ada tikus yang menyelinap masuk. Yah, tidak masalah. Aku juga sudah cukup bosan." Seorang pria kekar dengan badan besar yang membawa tongkat kayu. Lebih seperti gada daripada tongkat.


Seas segera berdiri, dia bersiap untuk menyerang.


"Yah, sayangnya aku bukan tikus. Kata kakakku, aku adalah kecoa," ucap Seas sambil tersenyum bengis. Dia melesat maju dengan cepat, pria kekar itu sedikit terkejut dengan pergerakan Seas yang tiba-tiba.


Dia mencoba memukul Seas, tapi selalu hanya angin yang dipukulnya.


"Kau benar-benar mirip kecoa!" Pria itu geram dan langsung menghantam tubuh Seas dari depan. Dia tersenyum saat melihat Seas yang melayang di udara.


"Tapi cepat saja tidak berguna."


...[Teknik nomor 3, langkah bayangan.]...


Jreb!


Ternyata yang dipukul oleh pria tadi hanyalah bayangan Seas. Dia yang asli sudah berada di samping pria tadi dan menusukkan sebuah dagger.


Pria itu menatap Seas dengan tajam, dia menggerakkan tangannya dengan cepat untuk memukul Seas.


SRET! BUGH!


"ARGHH!"


Tapi dia malah memukul dagger yang menancap di pinggangnya, membuatnya masuk semakin dalam. Seas menghindar sambil melompat, lalu berdiri di atas penjara. Matanya menatap pria kekar itu dengan dingin.


Seolah menunjukkan siapa predatornya di sini.


"Kau mirip kudanil ya? Mulutmu sangat besar." Seas menatap pria itu dengan remeh. Merasa diprovokasi, pria kekar itu mencabut dagger Seas dan membuangnya ke lantai.


Tang! Tang!


Dia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, sambil menekan luka di pinggangnya. Seas menatap darah yang mengucur deras dari sana, pasti organ dalamnya kena.


"Ini hanya masalah waktu, ayo cepat. Waktuku sangat berharga," ucap Seas sambil mengeluarkan dagger keduanya. Sang pria mulai melepaskan bajunya, terlihat banyak bekas luka di tubuh.

__ADS_1


"Selama aku hidup, aku sudah mengalami banyak kejadian yang menyakitkan."


"Jangan kau pikir ... seorang kecoa sepertimu bisa menang dariku!" Pria kekar itu maju, dia bersiap memukul Seas dengan gadanya.


Seas yang melihatnya mendekat, masih diam. Dia tak berpindah sedikitpun dari tempatnya.


"Kau mungkin sudah merasakan banyak penderitaan di dunia," ucap Seas lalu menundukkan kepala.


"Aku juga tidak pernah bilang bahwa aku hanya bahagia."


Seas menatap pria itu dengan dingin, dia menempatkan daggernya di depan dadanya, menghadap ke arah pria kekar. Matanya menatap lurus ke arah leher si pria.


Detik demi detik berjalan, entah kenapa, Seas merasa waktu sangat lambat. Dia bahkan bisa melihat tetesan keringat yang jatuh dari rahang si pria.


Seas menutup matanya. Mengambil kuda-kuda yang berbeda.


...[Teknik nomor 5, bayangan pohon.]...


Dalam sekejap mata, Seas sudah berada di belakang pria itu.


Brak!


Brak!


Leher si pria menggelinding di lantai. Berbeda dengan teknik yang sebelumnya dia pakai. Teknik ini tidak meninggalkan bayangan apapun, hanya bergerak lurus secepat kilat.


Seas segera mengambil dagger yang jatuh ke lantai dan membuka gembok para tahanan. Satu demi satu, dia membuka seluruh penjara yang ada.


Orang yang keluar langsung berterimakasih ke Seas, dia hanya tersenyum dan membalasnya dengan anggukan kepala.


"K-KAU?!"


Seas menoleh, tempat ini sudah kosong sekarang. Jika ada yang ke sini, sudah pasti ... dia ingin mengambil orang untuk dijual.


"Oh? Kau nyonya yang menculikku bukan?" tanya Seas dengan senyuman. Nyonya itu langsung gemetaran, noda darah yang menyelimuti tubuh Seas, ditambah mata ungunya yang menatap penuh nafsu. Rambut putihnya memberi kesan misterius serta mengerikan.


"Jangan bergerak.


Aku butuh kepalamu, nyonya." Seas tersenyum seperti iblis.


"TIDAKK!" Nyonya itu berteriak.


***


Si pembawa acara kembali dengan tergesa-gesa. Dia melihat ke arah bangsawan yang panik, bahkan ada yang pingsan.


"I-itu ... kepala Nyonya?" Pembawa acara terduduk lemas, melihat kepala nyonya digantung sambil disorot lampu panggung.


Dari balik tirai. Seas menunggu sambil tersenyum, dia menikmati semua jeritan bangsawan sampah ini.


..."Selanjutnya, sang pembawa acara?"...

__ADS_1


TBC.


__ADS_2