
POV: Sky
Setelah aku bertemu dengan X hari itu, malamnya X membawaku ke markas tempat Seas diobati. Aku langsung merasa lega karena mendengar Seas masih hidup, sudah kuduga, Razeks tidak akan bisa membunuh Seas semudah itu. Atau justru Seas yang susah mati ya? Entahlah, menurutku sendiri, Seas itu sudah seperti kecoa, susah dibunuh kecuali kalau dia mau mati sendiri.
"Seas! Aku pulang!" Aku membuka pintu dengan semangat dan senyuman yang lebar, mataku melihat ke kiri dan kanan, mencari keberadaannya.
"Oh, halo Sky! Bagaimana kabarmu?"
Hah? Suaranya ada ... tapi orangnya tidak ada ...
"Seas? Kau dimana? Aku mendengarmu tapi aku tidak bisa melihatmu," ucapku sambil terus mencari.
"Aku di atas, Sky."
Aku diam di tempat. Beberapa detik kemudian aku mendongak ke atas. Dan ya, benar Seas ada di atas. Dia sedang digantung terbalik dengan kepalanya yang ada di bawah.
"... Katanya kau sedang diobati, kenapa malah akrobat?" tanyaku heran. Seas malah tertawa kecil.
"Aku juga bingung, Nera bilang aku harus digantung terbalik supaya darah lebih cepat turun ke otakku," ucapnya masih dengan badan yang terbalik.
Nera? Berarti dokter yang kata X adalah teman C. Selain Nera, katanya ada satu lagi ... siapa ya namanya ...
"Oh? X. Kau sudah pulang ya?" Seorang wanita masuk dari jendela, rambut hitam pendek yang tampak baru saja dipotong serta bibirnya yang diberi lipstik hitam.
"Mores, kau habis dari salon?" tanya X ramah.
Oh benar, Mores. Akhirnya aku ingat namanya.
"Salam kenal! Aku Sky, rekan Seas dan Valeria!" Aku menundukkan sedikit kepalaku pada wanita itu. Tak lama kemudian, aku mendengar suara tawa dari depan.
"Hahahaha! Kau anak yang sopan, berbeda dengan Seas dan Valeria yang sudah seperti babi hutan," ucap Mores dengan tawa renyahnya.
"Jangan percaya, bohong dia huuu!" Seas menyahuti dari atas atap.
"Kau belum tau saja, Sky pernah memaksa mengambil darahku satu ember hanya karena ingin menelitinya. Belum lagi kalau dia berkelahi, wuih, bukan hanya darah musuhnya yang mendidih, darah rekannya juga ikut panas," ucap Seas lagi. Aku sangat ingin memukulnya, tapi aku ingat bahwa pasien tidak boleh dipukul.
"Oh, benarkah? Berarti kalian adalah tim babi hutan, karena semuanya tidak tau sopan santun," ucap wanita itu sambil menghela nafas.
Memangnya jadi pembunuh harus sopan?
Apa kalian pernah bertemu pembunuh yang bilang 'permisi pak/bu, saya mau membunuh kalian'.
Agak sinting.
BRAK!
__ADS_1
"SKY! KUDENGAR KAU SUDAH KEMBALI!"
Aku terkejut setengah mati mendengar suara seseorang menggebrak pintu kayu di belakangku. Ya tentu saja pelakunya Valeria, yang punya kebiasaan seperti itu kan hanya dia.
"... Ya, aku sudah kembali. Apa kau baik-baik saja? Val?" Aku menoleh ke arahnya sambil mengusap dadaku beberapa kali. Meskipun aku agak kesal, tapi di sudut hati aku merasa lega dia baik-baik saja.
Loh tunggu, dia benar-benar baik-baik saja?!
Yang bonyok hanya aku dan Seas!
"Wah kau tidak terluka sama sekali ya! Aku dan Seas hampir mati gara-gara orang bernama Razeks itu!" ucapku tidak terima. Seas dan X langsung kaget bersamaan.
"Loh ... kau juga diserang oleh Razeks?" tanya Seas dengan wajah yang kaget.
"Kenapa kau baru bilang?! Kukira kau hanya main ke rumahmu tanpa bertarung dengan siapapun!" ucap X ikut ngegas. Aku memang belum menceritakan ini padanya karena lupa.
"Aku lupa bilang, lagipula lukanya sudah mau sembuh kok," ucapku sambil menunjukkan dadaku yang diperban. Mungkin karena aku mendapat sel tumbuhan dari Ron, regenerasi tubuhku jadi lebih cepat daripada orang pada umumnya.
"Oh benar! Aku harus menganalisa senjata orang itu!" Aku menepuk telapak tanganku satu kali saat mengingat tujuan yang baru saja aku buat tadi. Aku sudah bertekad akan menghabisi dengan tanganku dipertemuan selanjutnya.
"Ya, senjatanya aneh ... padahal tidak ada kandungan racun, tapi lukanya tidak bisa ditutup dan justru membuat pendarahan semakin lebar," ujar Seas menimpali. Aku tersenyum tipis sambil melihat Seas.
"Jangan khawatir, aku akan memecahkan triknya. Meskipun dia pintar, tapi aku jenius. Dia pikir otaknya bisa menang melawanku?" ucapku percaya diri. Seas yang masih tergantung di atap bengong sebentar lalu dia tertawa.
.
.
.
POV: Seas
"Hm ... bagus. Lukamu sudah tertutup sempurna, kecuali mata kirimu. Aku tidak bisa mengobatinya karena Maya berhubungan langsung dengan otak. Jadi untuk sementara kau harus bertarung dengan satu mata," ucap Nera yang sekarang sedang memeriksa kondisi tubuhku untuk yang terakhir. Tatapan mata Nera entah kenapa, rasanya mirip dengan sorot mata agen C.
Mereka adalah seorang pembunuh, tapi kadang aku merasakan sebuah kelembutan di dalam mata mereka. Jika kelembutan itu muncul, aku berpikir mereka harusnya tidak menjadi pembunuh.
"Terimakasih, Nera. Tapi ini tidak masalah, walaupun dengan atau tanpa mata, aku akan tetap bertarung melawan Razeks lalu menang," ucapku yakin. Nera tersenyum simpul dan memberi mataku sebuah obat tetes cair.
"Dengarkan aku, Seas. Kehilangan satu mata saat bertarung itu sangat merugikan. Jika kau kehilangan satu mata, maka artinya kau kehilangan kemampuan untuk mengukur kedalaman. Kehilangan satu mata, artinya mempersempit jarak pandangmu. Kau sendiri tahu kan, seberapa penting jarak pandang pada seorang pembunuh yang sedang menghadapi momen krusial?
Lebih daripada itu ... kehilangan satu mata, artinya kau memberi beban pada indramu yang lain untuk bekerja dua kali lebih baik," ucap Nera menjelaskan.
Ya, aku tau ... karena aku sudah merasakannya sendiri. Aku sering menabrak tembok meskipun aku sudah melihat bahwa di depanku ada tembok, karena aku tidak sadar bahwa temboknya ternyata sudah sangat dekat.
Jarak pandangku yang sebelah kiri juga menjadi lebih sempit. Dan aku jadi harus ekstra hati-hati dengan menggunakan semua indraku yang masih normal.
__ADS_1
Tapi, Venom bilang ...
Ini adalah kesempatan yang bagus untuk meningkatkan kemampuanku dalam merasakan dan menggunakan indra. Bahkan saat di pertarungan, pasti ada saatnya dimana mata tidak bisa mengikuti gerakan lawan.
Jika itu terjadi, maka pendengaran dan alat peraba yang harus diandalkan.
"Aku tau ini adalah pertaruhan yang bodoh ... tapi ... aku tidak akan bertambah kuat jika hanya mengandalkan mataku saja! Aku akan memaksa seluruh indraku supaya berkembang ke titik dimana aku tidak membutuhkan mata untuk bertarung!" ucapku yakin. Nera tersenyum dan mengusap rambutku dengan hati-hati.
"Kau keras kepala, tapi kurasa inilah daya tarikmu. Pantas saja C dan X terlihat begitu peduli padamu," ucapnya sambil menutup mata. Setelah itu dia membantuku untuk berdiri, mengarahkanku ke pintu.
"Sekarang pengobatanmu sudah selesai. Setelah ini, kau mungkin akan terjun ke pertarungan lagi."
"Ya, aku tau."
BRAK!
Aku dan Nera keluar dari ruangan itu, dan sekarang berjalan ke ruangan tengah, dimana semua orang sedang duduk melingkar di sana.
Sky.
Valeria.
X.
C.
Mores.
Mereka menungguku dan Nera untuk bergabung bersama mereka di meja itu.
"Halo tuan mata satu, kuharap kau tidak menyusahkanku nanti," ucap Sky dengan seringai yang tersungging di bibirnya.
"Kalau dia merepotkan, buat pingsan saja lalu tinggalkan di pinggir sungai," timpal Valeria dengan kaki yang dia naikkan ke atas meja.
"Dasar bocah tidak sopan!" ucap Mores sambil menatap Valeria tidak suka.
"Hahahaha!" X hanya tertawa renyah melihat Mores yang selalu emosi jika bersama Valeria.
"Sudahlah ... lagipula keputusan Seas tidak akan berubah. Bantu saja jika dia kesulitan," ucap C disertai helaan nafas di akhir kalimat.
"Hohoho~ kalian sudah sangat bersemangat ya, padahal matahari belum terbenam," ucap Nera yang ada di sampingku.
"Ayo kita mulai, rencana pembasmian serangga."
TBC.
__ADS_1