
"Pergilah ke ruang sebelah, dan jangan buat keributan."
POV: Seas
"Baiklah~ ngomong-ngomong, ujian yang kau buat sangat merepotkan!" ucapku sebelum pergi meninggalkan ruangan itu, wanita itu terdengar hanya tertawa menanggapiku hingga akhirnya aku keluar ruangan dan menutup pintunya.
Cklek!
Aku membuka pintu ruangan sebelah sesuai perintah wanita tadi. Sesuai perkataannya, ada 4 orang yang lebih dulu dariku yang sudah ada di dalam sini. 3 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.
Perempuan itu ... Van. Gadis dengan seni petir yang waktu itu. Kekuatannya bukanlah sebuah candaan ya? Lalu 3 orang laki-laki itu ... aku tidak kenal mereka. Yang pasti, mereka bukanlah peserta top seperti aku maupun Van.
Aku menengok ke kiri dan kanan, berbeda dengan ruangan sebelah yang memiliki kursi untuk ujian, ruangan ini dibiarkan kosong melompong. Para peserta yang sudah lolos akan berada di sini sampai ... sampai kapan ya?
Loh ... memangnya nomor 7 ini ada batas waktunya? Kenapa aku tadi tidak tanya?! Bagaimana kalau Sky dan Valeria tidak bangun juga?!
...
Ah tidak mungkin, baik Sky maupun Valeria, mereka berdua masih membawa senjata mereka. Belmere dan Hades. Lumius saja bisa masuk ke alam bawah sadarku. Jadi aku yakin Belmere dan Hades bisa membimbing Sky dan Valeria.
Aku memilih untuk bersandar di dinding dekat pintu sambil menutup mataku. Efek kantuk dari obat yang wanita itu berikan sepertinya masih tersisa, mataku masih terasa sedikit berat.
"Loh? Lalu gunanya aku menjawab soal di kertas tadi apa?" Aku bergumam pelan saat mengingat kertas jawabanku yang sudah hilang entah kemana.
"Sepertinya sudah diambil oleh para pengawas saat kita tertidur, punyaku juga sudah tidak ada," ucap seorang laki-laki yang ada di pojok ruangan. Dia masih menundukkan wajahnya dan menutup matanya.
"Oh syukurlah ... kupikir aku lupa untuk mengumpulkannya," balasku sambil menghela nafas lega. Setelah itu ruangan ini kembali menjadi sunyi, tidak ada satupun dari kami yang berbicara.
Tapi ... ada satu hal yang aku yakini.
Mereka yang kulihat sekarang ini, memiliki aura berbeda dengan apa yang kulihat saat aku memasuki ruangan tadi. Soal nomor 7, sepertinya soal itu benar-benar memberi pengaruh yang hebat pada setiap orang di sini.
Dan aku juga yakin, tidak ada satupun orang di Underworld School yang punya masa lalu yang normal. Ya kalau mereka punya masa lalu yang normal, kenapa mereka mau susah-susah sekolah jadi pembunuh?
Kecuali ... mereka memang psikopat yang mau jadi pembunuh ...
Ah sudahlah, lebih baik aku tidur.
.
.
.
Entah sudah berapa lama aku setengah tertidur, tapi aku bisa merasakan saat mulai banyak orang yang masuk ke ruangan ini. Tapi diantara mereka, belum ada yang ribut dengan memanggil namaku, berarti Sky ataupun Valeria belum bangun.
__ADS_1
Kenapa mereka lama ya? Terlebih Valeria ... dari penilaianku terhadapnya, kupikir dia punya kepribadian yang kuat dan tegas. Kalau Sky memang punya kepribadian yang sedikit pemalu dan penakut.
"Ahh sial ... aku baru bangun! Dimana ya Seas?"
Ting!
Ini suara Valeria!
Aku membuka mataku perlahan, menatap sesosok perempuan berambut coklat kemerahan yang sedang menengok ke kiri dan kanan. Di sampingnya ada bocah laki-laki berambut kuning kebiruan, yang tentu saja itu adalah Sky.
"Pssst!" Aku sedikit mendesis untuk memanggil mereka, Valeria yang peka terhadap suara, langsung mengetahui keberadaanku dan menarik tangan Sky.
"Untung saja kalian bangun, kalau kalian tidak bangun, rencananya aku hendak menjatuhkan kalian dari atas gedung," ucapku sambil tersenyum pada mereka. Sky dan Valeria hanya menatapku datar.
"Kalau begitu jadinya kami tidak bangun selamanya," jawab Sky dengan wajah yang super datar. Dinding saja kalah datar. Valeria malah hanya menanggapiku dengan tertawa dan memukul pundak Sky beberapa kali.
Kasian Sky, badannya kalau dibandingkan Valeria, seperti gabus dan besi. Um ... tidak separah itu sih ... tapi diantara kami bertiga, kuakui bahwa Valeria adalah orang dengan kekuatan fisik paling bagus, sedangkan Sky adalah yang paling lemah.
"Nah, apakah kalian semua sudah bangun?"
DEG DEG!
Aku dan Valeria langsung menoleh ke asal suara, lagi-lagi wanita yang tadi! Aku tidak merasakan kapan dia masuk ruangan ini, tidak ada bunyi, tidak ada hawa, tidak ada pergerakan angin. Seolah-olah ... seolah-olah dirinya sendiri adalah ketiadaan.
Seluruh ruangan ini seketika hening, semuanya memperhatikan wanita itu.
Tidak ada yang tertawa dari gurauan jelek wanita itu. Hey ayolah, apakah kalian aja tertawa jika kalian diberi obat untuk menggali alam bawah sadar dan bisa membuat kalian gila jika gagal?
"Baiklah aku tau itu tidak lucu. Tapi bukankah hasilnya terlihat sekarang?
Kalian sudah melepaskan diri kalian yang ada di dalam bayangan. Dan kalian menyambut diri kalian yang kini ada di dalam kegelapan. Aku tidak peduli apa yang telah kalian alami, dan aku tidak peduli apa yang kalian rasakan.
Aku hanya peduli pada satu hal, jangan lupakan tujuan kalian masuk ke sini. Dan bagaimana kalian memandang tempat ini.
Kegelapan itu pekat hingga kau tidak akan bisa membedakan hitam atau putih di dalam sana. Ini hanya sebuah kata-kata motivasi saja ...
Jangan mati kalau kau tidak mau mati, dan jangan hidup kalau kau merasa tidak mau hidup."
...
Motivasinya darimana? Dipikir seperti apapun, rasanya itu bukan kalimat motivasi ... rasanya seperti ... makanlah kalau kau lapar dan tidurlah kalau kau mengantuk bukan?
Motivasinya dimana?!
"Nah sekarang aku akan mengumumkan untuk ujian ke 5."
__ADS_1
Ini dia yang kutunggu!
Wanita itu membuka sebuah lembaran dari bawah lengannya, lembaran yang kotor dan terlihat sedikit lusuh.
"Ini adalah perintah baru dari Rex.
Isinya adalah ...
Ujian ke 5, 6, dan 7 akan langsung diumumkan dalam satu waktu.
[Ujian ke 5, permainan hitam dan hijau.]
[Ujian ke 6, perebutan kemenangannya kristal.]
[Ujian ke 7, pertarungan satu lawan satu.]
DEG DEG!
Pertarungan satu lawan satu?!
"Ujian ini akan dilaksanakan mulai besok, dan daftar namanya akan dibagikan besok juga, jadi ... selamat beristirahat.
Oh, karena yang tersisa masih 10 tim, maka untuk ujian ke 5 dan 6, masing masing akan ada 2 tim yang tereliminasi dan hanya akan menyisakan 6 tim."
WHUS!
Wanita itu langsung menghilang begitu cepat. Menyisakan kami dengan hati yang berdebar-debar.
***
Aku, Sky serta Valeria memilih untuk kembali ke asrama. Kami bertiga tidak banyak bicara selama perjalanan pulang dan memilih untuk diam. Walaupun begitu, aku bisa menebak apa yang mereka pikirkan.
'Apakah kita bisa melawan satu sama lain?'
Yah pasti begitu. Karena itu juga yang aku pikirkan. Aku ingin melawan Sky ataupun Valeria dengan segenap kekuatanku. Begitu juga dengan mereka!
Meskipun begitu, harusnya aku fokus untuk ujian ke 5 besok!
"Sky, Valeria. Di ujian besok kita akan lolos hingga ujian ke 7. Saat itu ... ah aku tidak ingin memikirkannya sekarang.
Yang pasti, besok yang paling tidak berguna harus memasakkan makanan yang enak untuk makan malam!" Aku menunjuk ke arah Valeria dan Sky bergantian. Mereka yang awalnya termenung langsung menatapku dengan tatapan heran dan semangat.
"BAIKLAH! AYO KITA LAKUKAN!" ucap mereka bersamaan.
Haha, mereka harus fokus untuk ujian besok.
__ADS_1
TBC.