Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Helling Town - [0]


__ADS_3

POV: ???


Tidak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya ... bisa berubah sekejap mata bahkan saat aku berkedip. Tidak ada cara untuk menghentikan perubahan ini ... bahkan jika aku ingin, aku ... tidak bisa mencegahnya.


Ting tong.


"Pesanan dari Helling Town. Tolong buka pintunya."


***


POV: Seas


"Ugh ... ADUH!"


"SEAS! BUKANKAH SUDAH KUBILANG KAU TIDAK BOLEH TURUN DARI RANJANG?!"


Aku berlutut di lantai dengan menahan rasa sakit di perutku. Luka yang terakhir kali aku terima benar-benar berbahaya. Bahkan sekarang salah satu mataku masih diperban dan tidak boleh dibuka.


"Kau ini! Kadang aku benar-benar kesal karena sikap keras kepalamu!" X mengangkat tubuhku dengan sigap, menaruhku di atas ranjang sekali lagi.


"... Aku benar-benar hampir mati ya," gumamku sembari menatap langit-langit yang gelap. Cahaya di kamarku begitu redup, karena hanya bermodalkan sebuah obor kecil yang menyala di pojok ruangan.


X menarik nafasnya perlahan. "Itu adalah kejadian yang tidak bisa dihindari. Meskipun begitu, untung saja kau tidak benar-benar mokad," geram X yang terlihat ingin sekali memukulku, tapi sepertinya dia takut aku benar-benar mokad kalau kena bogemnya.


Aku terkekeh pelan. "Bagaimana dengan Valeria dan Sky?" tanyaku. X terdiam sejenak, matanya terpancar bayangan dari api kuning yang berdiri tegap.


"... Valeria masih dalam proses pengobatan, tapi dia sudah sadarkan diri. Sky ... untuk sementara mungkin kalian tidak bisa bertemu dengannya."


Aku agak terkejut. "Kenapa? Apa lukanya separah itu?". X menggelengkan kepala.


"Bukan ... ini bukan masalah luka. Ada hal lain yang harus diurus." X agak mengernyitkan keningnya, dia terlihat bingung menjelaskannya. Aku tidak lanjut bertanya, dan memutuskan untuk menutup mataku lagi.


.


.


.


Hari demi hari terlewati, minggu demi minggu sudah berganti. Mungkin ini adalah waktu istirahat terlama yang pernah aku jalani. Sekitar 2 bulan lebih, aku hanya bisa diam di dalam ruangan gelap ini untuk pemulihan diri.


"Seas, kau sudah boleh keluar." X datang dari luar pintu, sambil membawa sebuah koper kecil yang entah isinya apa.


"Keluar?" tanyaku heran. X mengangguk dengan senyuman kecil di bibirnya. "Kau sudah dinyatakan sembuh, ayo keluar. Valeria sudah menunggumu," ujar X. Aku turun dari ranjang lalu mengikutinya keluar dari ruangan yang gelap ini. Lorong demi lorong aku lewati, hingga aku baru menyadari bahwa tempat pengobatanku sebenarnya ada di bawah tanah.


Tapi hal yang lebih membuatku kaget adalah, setelah aku keluar dari sini, aku melihat cahaya matahari.

__ADS_1


"... Kita tidak di Underworld School?" tanyaku heran.


X yang sudah ada di depanku menoleh ke belakang. "Ya, tanah di Underworld School tidak terlalu bagus untuk pengobatan, justru tempatnya malah bagus untuk pemakaman. Dan juga ... menyembunyikanmu di sini jauh lebih mudah." X kembali berjalan maju, namun ada sebuah kata yang membuatku merasa tidak nyaman.


Menyembunyikanku? Untuk apa? Dari apa?


.


.


.


Semuanya membuatku bertanya-tanya hingga aku baru sadar ketika sudah masuk kembali ke tanah mati tanpa cahaya matahari ini.


Bahwa mereka melihatku sebagai salah satu monster seperti saudaraku.


"X, aku tidak menyangka selama ini kau mengkhianati kami dengan menyembunyikan anak itu," ucap seorang pria bertubuh kekar dan tato pedang dari dahi sampai pipinya.


"Padahal kupikir anak itu sudah mati, tapi ternyata dia susah mati ya seperti kecoa," ujar yang lainnya.


Kini, di depanku ada puluhan pembunuh Underworld School yang tampaknya memang tidak menyukaiku. Mereka menunggu kesempatan untuk memastikanku benar-benar mati. Aku menggeram tertahan, aku memang tidak berpikir bahwa semua orang di sini akan menerimaku, tapi aku tidak menyangka bahwa mereka akan menunjukannya terang-terangan begini.


"Kalian tidak punya hak apapun untuk membunuh Seas. Bahkan Rex saja memberi perintah untuk mengobatinya dan menganggap Seas adalah bagian dari Underworld School. Beraninya kalian yang hanya seorang agen tingkat atas bertindak begini?" ujar X dengan sorot mata yang tajam.


Aku kadang masih belum terbiasa pada ... aura membunuh para agen tingkat atas. Entah karena mereka sudah banyak membunuh orang, atau karena hal lain, tapi ... aura mereka benar-benar membuatku merasa ciut.


"Dengar, X. Meskipun kau berada di peringkat atas. Bukan berarti kau bisa mengalahkan kami semua, bukan?" Seorang pria bertudung hitam mengeluarkan senjatanya yang berupa sabit, lalu diiringi dengan rombongan lain yang mulai mengeluarkan senjata.


Gawat ... apa mereka benar-benar berniat membunuhku?


Aku hendak mengeluarkan dagger milikku tapi X menghentikan tindakanku. "Apa kalian serius?" tanya X lagi.


Mereka semuanya menyeringai, menatap kami seolah kami adalah mangsa yang enak. "Seorang bibit pengkhianat, harus diberantas sejak dini." Mereka mulai mendekat, dengan berbagai senjata yang mereka bawa.


Aku bersiap untuk kabur, begitu juga dengan X yang mulai mengeluarkan snipernya. Hingga semuanya berhenti bergerak ketika sebuah suara terdengar.


"... Kukira ada apa bergerombol seperti ini. Kalian terlihat seperti gerombolan heyna yang menjijikkan."


Sebuah suara yang terdengar jelas di telinga setiap orang. Dan juga ... suara yang tidak asing di telingaku, namun sangat jarang kudengar selama 2 bulan ini. Suara yang dingin namun juga begitu anggun, rasanya seperti sebilah pisau yang digoreskan ke pipimu.


Di atas sebuah pohon tanpa daun, gadis itu duduk dengan tatapan matanya yang datar seperti biasa. Rambut hijau lurusnya dia biarkan tergerai seolah tak terganggu, mata merah keruhnya seolah membuat jiwa orang yang melihatnya akan menjadi gila.


Venom.


Semua orang yang ada di sana terhenyak, mereka melangkah mundur dan bersiaga pada Venom. "I-itu Venom? K-kenapa dia ada di sini? Bukankah dia ada misi?" gumam seseorang yang terdengar jelas bahwa dia sedang panik. Tampaknya rasa panik tadi menyebar ke semua gerombolan tersebut.

__ADS_1


Venom turun dari atas pohon, lalu berjalan pelan mendekatiku.


"Lucu sekali ya ... padahal sekarang, kalian tidak berani mengacungkan senjata kalian padaku. Tapi kalian berani sekali mengacungkannya pada Seas?" Venom bertanya lagi dengan langkah kaki yang terus mendekat. Gerombolan itu semakin melangkah mundur.


"Kalian pikir ... kalian siapa? Menghakimi tanpa bukti, terlebih pada seorang siswa Underworld School. Apakah kalian tau, jika aku bisa membunuh kalian semua sekarang berdasarkan aturan dari Rex?" Venom mengambil sesuatu dari saku celananya, sebuah senjata baru, senjata yang belum pernah kuliah dia menggunakannya.


Itu adalah sebuah cakram.


"Seas, apa kamu tau bahwa Venom sekarang ... masuk dalam 10 pembunuh terkuat di Underworld School?" X bertanya padaku dengan senyuman di bibirnya. Aku terkejut, aku tidak menyangka bahwa Venom telah masuk sebagai 10 kandidat terkuat di Underworld School.


Jadi itu sebabnya ... mereka tampak ketakutan melihat Venom.


"Aku juga tidak menyangka, akan ada orang yang berani mengabaikan perintahku. Sepertinya nyawa kalian ada 1000 ya?".


Aku menoleh ke samping kanan, melihat seorang pria berbadan kekar keluar dari dalam kegelapan. Dia memiliki bekas luka di matanya, dengan warna rambut coklat kemerahan. Sosok pemimpin Underworld School.


Rex.


Pria itu mengeluarkan sebuah koin dari saku jaket hitamnya, lalu melemparkannya ke atas.


TANG!


Suaranya sangat keras, dia menyentil koin itu hingga terbang tak terlihat. Setelah melemparkannya, Rex melihat ke arah gerombolan tersebut.


"Aku sudah mengingat wajah kalian. Sebelum koinnya jatuh ke tanah, aku harap kalian pergi dari hadapanku. Jika tidak, aku tidak menjamin kalian akan bisa menginjak tanah Underworld School ini lagi ...


Dalam keadaan hidup." Senyum Rex dengan menampakkan gigi taringnya. Semua gerombolan itu langsung berhamburan menghilang. Namun, ada satu perempuan yang hanya tersenyum lebar sambil menatapku.


Dia tiba-tiba berlari ke arahku dengan cepat, sangat cepat.


"HEH! VAL! TUNGGU! JANGAN KERAS-KERAS SAAT MEMELUK SEAS! NANTI LUKANYA-" teriak X mengingatkan.


Tapi dia terlambat.


BRUK!


GRASAK!


Valeria sudah lebih dulu berlari dan menabrakku hingga masuk ke ranting berduri.


"AAAAA!"


Gini amat nasibku. Perasaan baru saja aku keluar dari pusat perawatan.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2