Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Kakak dan Adik?


__ADS_3

..."Apa yang kau lakukan, pada adikku?"...


POV: Valeria


Seorang laki-laki berdiri di belakangku, dengan tangan kanannya yang memegang ujung rantainya yang mengikatku. Warna rambut kecoklatan serta mata emeraldnya, sangat mirip dengan anak yang kuhajar saat ini.


Loh? Mereka saudara kembar? Wah! Ini sangat menarik!


Tapi dia ... punya kesan yang sangat berbeda dengan Revan. Jika Revan adalah anak yang pendiam dan menatap dengan datar, seperti ular. Maka dia seperti Revan hanya saja dengan versi yang lebih ekspresif. Bahkan senjata yang mereka gunakan saja berbeda.


Satunya ahli dalam pisau, dan satunya ahli menggunakan rantai. Sedangkan satu anggota lainnya pintar menggunakan obat.


Cring!


SRAK!


Anak laki-laki itu tiba-tiba menarik rantainya, membuatku tersentak dan terlempar ke arahnya. Tenaganya sangat kuat, bahkan dia menarik rantainya seperti memainkan yoyo.


"Mampus kau, sialan!" Dia mengepalkan tangannya, bersiap untuk meninju wajahku. Aku memindahkan posisi kakiku agar berada di depan, mana mungkin akan kubiarkan dia meninjuku dengan mudah bukan?


BUAGH!


Aku beradu tendangan dengannya, kakiku mengenai kepalan tangannya. Wajahnya terlihat sangat marah, sepertinya dia sangat membenciku karena melukai adiknya.


Sial! Tapi bagaimana caraku lepas dari rantai ini?! Kenapa ini malah seperti lem yang menempel terus?!


"Teknik gravitasi nomor 6: inti bumi."


Grep!


"AHHHGG!" Rantai ini tiba-tiba menjepitku dengan kuat, rasanya seperti ditekan oleh benda yang berat.


Jadi begitu ya, mereka berdua menguasai jenist eknik yang sama? Tck, sama-sama merepotkan saja. Tapi aku harus lepas lebih dulu dari rantai ini!


Bagaimana?


***


POV: Seas


"Aduh ... kepalaku! Kayaknya tadi aku bermimpi kalau ada Sky deh di sini?" gumamku pelan. Mataku melihat ke sekeliling, awalnya aku biasa-biasa saja terhadap apa yang kulihat. Tapi aku langsung sadar kalau jendela kamarku pecah.


DRAK!


Aku melompat turun dari kasur dan berlari ke arah laci, tempatku menyimpan amplopnya.


Srak srak!

__ADS_1


Hilang! Amplopnya tidak ada! Sial, jadi yang tadi bukan mimpi?! Lalu kemana Sky?!


Aku hendak keluar dari kamarku dan menuju ke kamar Sky, tapi langkahku terhenti saat aku melihat kepulan gas aneh yang berada di luar kamar. Ada dua gas dengan warna yang berbeda, seolah gas-gas ini sedang beradu kekuatan.


Loh? Dua gas? Tidak mungkin ini hanya diciptakan oleh satu orang saja ... kalau begitu, Sky?


"Kuserahkan yang di sini padamu, Sky! Aku akan mengambil amplopnya untuk kita!" Aku langsung memakai seragamku dan melompat keluar jendela. Mataku masih mengamati asrama kami yang kini dipenuhi oleh gas kimia.


Semoga kau berhasil, Sky.


Aku segera berlari pergi dan mulai mencari petunjuk. Di saat malam hari seperti ini, tentu saja para murid lainnya akan bergerak. Ini adalah waktu paling manis untuk melancarkan serangan.


Saat aku sibuk berlari untuk mencari orang yang membawa amplop kami kabur, ada seorang pria dengan topeng rubah kecil yang ditaruh di atas kepalanya. Dia hanya tersenyum sambil menatapku.


"Kalau kau mencari anak yang sedang berkelahi, mereka ada di sebelah sana," ucapnya sambil menunjuk ke tempat gedung-gedung tinggi yang kosong.


"Darimana kau tau-," ucapanku terpotong karena laki-laki itu sudah menghilang. Aku tidak mendengar ataupun merasakan dimana dia berada. Bisa dipastikan bahwa dia berasal dari salah satu kelas profesional.


"Topeng rubah kecil yang imut, aku akan mengingatnya," ucapku pelan lalu lanjut berlari seperti petunjuk yang diberikan oleh orang tadi.


DUAR!


Dan benar saja, beberapa meter setelah aku memasuki kawasan ini. Aku langsung disambut oleh pemandangan Valeria sedang dibanting dengan rantai.


...


"VAL?!" teriakku panik dan berlari ke arahnya tanpa rencana.


DZING!


Aku merasakan hawa angin yang mencekam, seperti ada pisau yang akan segera menebas leherku. Dengan cepat aku langsung menundukkan kepala, sambil melihat ke asal hawa mencekam itu.


DUAR!


Itu adalah pisau yang dilemparkan. Telat satu detik saja, aku yakin kepalaku akan menggelinding di aspal. Tapi anehnya, dinding yang terkena pisau itu malah hancur, pisaunya tidak menancap, tapi malah menghancurkan dindingnya.


Gila. Seberapa berat pisau itu?


"Se ... as?" Valeria menyadari keberadaanku, matanya terlihat lelah. Bahkan ada noda darah yang merembes keluar dari bajunya. Rantai itu bukan hanya mengikatnya, tapi juga meremasnya seperti santan.


"Wah, tidak kusangka kau bisa bangun juga?" ucap seseorang di belakangku, aku melihat ke arahnya dengan tajam, mengamati setiap inci tubuhnya.


Mata hijau emerald yang indah, dan rambut coklat lurusnya. Mataku melihat lagi ke arah orang yang mengikat Valeria dengan rantai. Perawakan yang sangat mirip.


Mereka kembar ternyata.


"Bangun? Tentu saja aku bisa. Sepertinya rekan kalian yang akan kembali dengan mulut berbusa setelah ini," ucapku sambil mengeluarkan belati lamaku. Karena tergesa-gesa, aku lupa membawa senjata baruku. Sepertinya Valeria juga sama.

__ADS_1


"Wah kau berani juga ya? Baru datang sudah bermulut besar," ucap orang yang mengikat Valeria. Mataku menatapnya dengan tajam, sambil sesekali menatap ke arah Valeria.


Yah ... sepertinya aku harus serius.


Membunuh mereka 'kan diperbolehkan.


***


POV: Author


Atmosfer di kawasan ini sangat mencekam. Revan dan Evan yang sudah mendominasi pertarungan sejak awal, memberi tekanan yang sangat besar. Ditambah dengan Valeria yang terluka parah, dan Seas yang hanya datang seorang diri.


Sudah jelas siapa yang diuntungkan di sini.


Klik.


Seas mulai mengambil kedua belatinya, tangannya memainkan belati itu sebentar lalu segera menatap Revan dan Evan bergantian.


"Nah, aku tidak suka basa-basi. Kenapa kalian tidak segera melepaskan rekanku?" tanya Seas dengan senyuman iblis miliknya. Suasananya berubah, sebuah keraguan muncul di hati Revan. Rasa ragu untuk menyerang binatang buas di depannya.


"Aku tidak akan mengatakan hal yang sama, cepat lepaskan dia." Seas mengulang kalimatnya. Revan yang awalnya berniat untuk menyerang Seas, tapi dia mengurungkan niatnya. Sedangkan Evan malah tidak punya takut, justru dia semakin memprovokasimu Seas.


"Kenapa kami harus takut? Kau bukanlah si rubah putih, kau hanya dokter gadungan di tim mereka bukan?" ucap Evan sambil tersenyum meremehkan. Tangan Evan menarik rantai yang mengikat Valeria, membuat perempuan itu semakin merintih kesakitan.


"Kalian hanya tau sebutanku, tapi tidak tau wajahku ya?" ucap Seas sambil menundukkan wajahnya. Tubuhnya bergetar pelan, seperti sedang menahan sesuatu.


"Apa? Sekarang kau baru takut?" tanya Evan dengan seringainya. Karena lengah, rantai Evan mulai mengendor dan itu memberi kesempatan pada Valeria untuk lepas.


CRANG!


DOR!


Begitu lepas dari jeratan rantai, Valeria langsung berlari sambil menembak ke arah Evan.


Trang!


Evan hanya menangkis peluru Valeria dengan santai. Akhirnya Valeria berhasil sampai di sisi Seas.


"Sudah cukup bodoh! Kalau mau tertawa ya tertawa saja!" ucap Valeria sambil menepuk pundak Seas.


"HAHAHAHHA! Maaf, tapi mereka lucu sekali!" ucap Seas pada akhirnya. Dia mengangkat kepalanya dan mengusap air mata yang hendak menetes.


..."Nah, bagaimana kalau aku buktikan. Apakah aku ini asli atau bukan?". ...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!

__ADS_1


__ADS_2