
POV: Author
Cring.
SYUUTT!
Seas muncul dari balik punggung Aran, mengarahkan mata tajam daggernya ke arah nadi hangat milik pria pendek itu. "Jawab aku, bangs*t!" Aran langsung merinding, besi dingin dagger Seas, membuat seluruh tubuhnya kaku.
"[Teknik petir: nomor 2, telapak lebah.]"
BZZZZTTT!
Seas melirik ke arah kilatan cahaya yang datang, tepat di arah kirinya, sebuah telapak tangan yang bersinar hendak menyentuh wajah Seas. "Memang benar, bahwa cahaya dan bayangan itu tidak pernah akrab ya."
"[Teknik bayangan: nomor 3, langkah bayangan.]"
WUSH!
Seas menghilang dari punggung Aran. Van yang tau bahwa Seas sudah tidak di sana, berusaha menghentikan gerakannya supaya tidak melukai rekannya. Van melihat ke kiri dan kanan, mencari keberadaan rubah putih itu. "Cassio!" teriak Van dengan mata yang menyorot tajam. Pria besar itu mengangguk, paham rencana Van.
"[Teknik mata putih: nomor 1, kebutaan.]"
"Teknik aneh yang membuat Valeria buta ya? Sayang sekali, padahal aku berharap kau tidak menggunakan teknik itu."
CRAAATT!
"AAARGGHH!" Cassio langsung jatuh tertunduk, lututnya bersimpuh di tanah. Mata kanannya berlubang. Tentu saja itu adalah ulah Seas. "Kau pikir aku akan diam saja? Teknik aneh milikmu itu, akan kupatahkan lebih dulu." Seas muncul dari atas, dia berjongkok di atas punggung Cassio yang berlutut. Tangan kanannya terangkat tinggi dengan mata dagger yang diarahkan pada Cassio.
"Lehermu terbuka lebar loh."
WHUSS!
CRRAANGGG!
Dagger Seas berhasil di tahan oleh pisau milik Van. Terlihat perempuan bermata merah itu terlihat begitu kewalahan melawan pergerakan Seas yang tidak bisa ditebak. Seas melirik ke arah sebuah pisau yang menahan daggernya, lalu melirik ke arah Van. "Daggerku ... ada dua loh."
JREB!
Sebuah dagger tiba-tiba jatuh dari langit dan menusuk bahu kiri Van. Lebih tepatnya, Seas sudah melemparkan dagger itu ke atas lebih dulu, dan dia memperkirakan jatuh di kepala Van, namun sayangnya meleset dan malah kena bahu. "Ukh!" rintih Van tertahan.
SRAT!
Seas menarik dagger di tangan kanannya, dalam satu hitungan dia sudah mengarahkan dagger itu ke leher Van.
Syut!
__ADS_1
Gerakan Seas tertahan lagi, tangan kanan Cassio yang dia duduki, tiba-tiba bergerak dan mendorong Seas mundur dengan sikunya. "Bahaya! Van!" ucap Cassio sambil memegangi mata kanannya.
Greb!
Seas memeluk tangan kanan Cassio, mata ungunya menatap nyalang pria besar itu. "Untung saja kau berbalik badan."
WHUNG!
CRAAT!
Seas mengayunkan daggernya lagi, kini daggernya kena. Tepat di bagian bawah leher Cassio, pita suara. "Kkhh!" Darah mulai mengucur deras dari sana, bahkan dari mulut Cassio.
Van dan Aran terhenyak, mereka menatap Seas dengan pandangan yang takut, seolah baru saja melihat iblis yang turun ke Bumi. Seas mencabut daggernya dari leher Cassio, membiarkan darah segar terus mengucur tanpa lelah. Bahkan beberapa cipratan darahnya mengenai pipi Seas.
Seas melompat turun dari badan Cassio yang ambruk, mata ungunya kini melirik tajam lagi ke arah Van dan Aran. "Ayo. Kenapa diam saja? Kemari. Bocah sombong."
Van menggertakkan giginya, urat kemarahan terlihat menonjol di kening serta rahangnya. "Kau akan menyesal!"
"[Teknik petir: nomor 1, langkah petir.]"
BZZZZTT! WHUSSS!
Sebuah cahaya melesat bagaikan kilat ke arah Seas.
"[Teknik bayangan: nomor 3, langkah bayangan.]"
Seas ikut menghilang. Aksi kejar-kejaran antara kilatan dan bayangan hitam itu terus berlanjut. Rasanya seperti melihat komet hitam dan kuning yang meliuk-liuk. "Gi ... la, apakah ini masih di level yang sama denganku?" Di bawah sana, Aran hanya bisa diam dan melihat. Pertarungan antar Seas dan Van sudah melebihi batas pemula.
TRANG!
TRANG!
TRANG!
TRANG!
Suara dentingan besi selalu terdengar setiap dua komet itu bertubrukan dan bersimpangan. *Kalau begini terus, hanya masalah waktu sampai agen tingkat atas mengendus perkelahian kami*!, batin Aran yang mulai panik. Pria pendek itu mulai berlari ke arah rekannya, Cassio. Dia menggendong tubuh besar itu di punggungnya, membiarkan darah segar temannya membuat merah bajunya.
"Sial sial sial!" Van mengumpat berkali-kali. Walaupun dia telah menguasai seni tercepat, tapi dia tidak bisa menjangkau langkah bayangan milik Seas. Ini tidak masuk akal! Dia hanyalah bayangan! Aku adalah cahaya! Kenapa dia bisa lebih cepat dariku!, batin Van yang mulai frustasi. Di depannya, Seas berlari tenang sambil sesekali menangkis pisau Van.
"Kenapa? Mana rasa percaya dirimu tadi?" Mata ungu itu menatap mata merah Van, membuat gadis itu terlahap kegelapan dari diri Seas.
"Diam kau! Ini tidak mungkin! Akulah yang tercepat! Akulah yang terbaik!" geram Van sambil terus berusaha mempercepat langkahnya. Seas tak menjawab, dia malah justru memelankan langkah, dan membiarkan Van mengejarnya.
"Begitu? Kalau iya, cobalah. Katamu kau yang terbaik."
__ADS_1
Provokasi Seas membuat Van semakin marah. Seas tak sengaja membangunkan teknik baru di dalam diri Van.
"[Teknik petir: nomor 3, titisan halilintar.]"
Petir di tubuh Van berubah warna. Kilat kuning yang indah itu berganti jadi merah gelap yang mengerikan. Van mengalirkan petirnya ke pisau. Tatapan matanya melotot, dia berniat membunuh Seas. Sedangkan anak laki-laki bermata ungu itu, bukannya takut. Dia malah tersenyum.
"Pantas saja rasanya, ada sesuatu yang unik saat aku melihatmu.
Ternyata kita sama.
Sama-sama mempunyai niat membunuh yang tidak murni." Seas memutar dagger yang tersisa di tangan kanan. Dia tengah bersiap ketika pisau Van mulai meluncur. Andai saat itu, aku tidak bertemu dengan Valeria ataupun Sky. Mungkin aku juga jadi monster sepertinya, batin Seas. Dia menatap datar Van.
Aku akan jadi orang yang pertama kali membunuhmu, Van. Seas memantapkan hatinya, mengingat teknik baru, teknik tercepat yang dia miliki. Teknik baru yang menargetkan pembuluh darah di leher musuh. Ini bukanlah teknik istimewa, jadi bisa digunakan kapanpun tanpa syarat.
"[Teknik bayangan: nomor 7, taring vampir.]"
SYUTT!
CRAAATT!
Dagger Seas melesat tak terlihat, detik selanjutnya, dagger itu kini menancap di leher Van, bagian samping agak bawah.
Ada alasan teknik ini dinamakan taring vampir.
Selain menargetkan pembuluh darah, teknik ini juga mengenai jaringan syaraf. Seperti orang yang digigit oleh vampir, biasanya mereka akan lemas dan tidak bisa bergerak.
Ini juga sama.
Dagger yang Seas tancapkan memotong dan menekan syaraf Van, gadis itu langsung hilang keseimbangan. Langkah kakinya yang super cepat mulai melamban, sorot matanya mulai meredup. "A-apa?" ucapnya pelan. Dia tak lama lagi bisa mempertahankan teknik langkah petir.
Gadis itu jatuh dari atas gedung dan rumah-rumah di Underworld School. Membuat keributan yang menyebabkan banyak rumah dan dinding roboh. Seas berhenti di atas atap, menatap sosok gadis yang tergeletak dengan dagger di leher. Seas melompat turun, dia menghampiri Van dengan langkah yang tenang.
"Van, di atas langit masih ada langit. Kau terlalu sering memandang ke bawah, jadi kau terbentur atap. Dulu aku terlalu sering memandang ke atas, jadi aku kehilangan pijakan.
Setelah melawanmu, aku jadi paham. Di dunia ini ... memang ada manusia dengan jenis sepertimu." Seas berjongkok, mengambil daggernya yang menancap di leher Van. Setelah itu Seas berdiri kembali, matanya melihat bibir Van yang bergerak-gerak.
"Apa? Kau bilang apa?" Seas berjongkok lagi, mendekatkan telinganya ke mulut Van. "La ... ri."
"Hah?"
DUUUAARR!
Sebuah ledakan keras muncul, ledakan itu membuat rumah-rumah dan bangunan di sini hancur lebur. Seas yang masih sempat bereaksi, berhasil menghindari reruntuhan. Tapi tidak dengan Van.
"Van!" Seas melihat ke arah Van yang terkubur oleh reruntuhan. Seluruh tubuhnya sudah tidak terlihat. Mata Seas segera melihat asal ledakan itu. Dia terkejut bukan main, saat melihat siapa pelakunya.
__ADS_1
"... Kau!"
TBC.