Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Tersesat


__ADS_3

POV: Seas


Aku berjalan santai setelah keluar dari ruangan Ron. Pintunya segera menutup setelah aku sampai di depan.


"Hah ...," Aku menepuk dahiku dengan keras. Bisa-bisanya aku melupakan sesuatu yang penting.


"AKU LUPA TIDAK TANYA KITA AKAN MENGINAP DI MANAAAAAA!" teriakku tepat di depan ruangan Ron.


"Jangan berisik bocah!" Dev tiba-tiba muncul lalu memukul kepalaku.


DUAGH!


"Aduh!" Aku mengusap kepalaku, dasar Dev! Dia memukulnya terlalu keras. Bahkan sampai keluar asap dari rambutku!


"Ayo, aku akan mengantarmu!" ucap Dev lalu berjalan mendahuluiku. Aku berlari kecil menyusulnya sambil melihat-lihat kastil ini sebelum keluar.


"Oiya! Ada yang harus kukatakan padamu," ucap Dev yang tiba-tiba berhenti. Hampir saja hidungku menjadi korbannya.


"Setelah sampai penginapan, segera ganti baju. Identitas kita tidak boleh ketauan." Dev berbicara dengan penuh penekanan. Aku mengangguk dengan wajah serius.


Sesampainya di luar kastil. Dev segera berlari masuk ke dalam gang kecil. Aku mengikutinya dengan cara lari yang baru saja kupelajari. Ternyata ini sangat menyenangkan.


Melewati celah-celah bangunan, menari di tempat berkuasanya para bayangan. Sambil terus mengikuti Dev, sesekali mataku melihat kucing dengan bulu berwarna merah menyala.


"Dev, kenapa kucing itu berwarna merah?" tanyaku pada Dev. Dia melihatku sekilas lalu fokus ke depan.


"Kucing itu sudah berevolusi setelah memakan buah musim panas. Jika kau memeluknya, kau akan merasa hangat. Jumlahnya sangat banyak di negara ini, dan dia disebut sebagai 'penghangat alami'," jelas Dev. Aku mengangguk sambil terkagum-kagum.


Sial ... kucing itu sangat lucu! Aku ingin membawanya pulang! Asramaku sangat dingin dan suram! Oh ... tapi AC nya beracun. Ah sial, bagaimana kalau kucingnya langsung mati?


Buagh!


"Aw!" Aku terjatuh saat merasakan bahwa aku menabrak sesuatu. Sesuatu yang sangat keras.


"... Dev?" Aku segera berdiri, di depanku ... ada dinding. Tapi aku tidak menemukan dimana Dev! Sial, apa aku tertinggal?! Atau aku tersesat?!


"Dev, kau dimana?" ucapku sambil berputar ke kanan dan kiri. Aku menghela nafasku pasrah saat sadar bahwa aku benar-benar sendirian.


"Mungkin aku akan jalan-jalan dulu," ucapku sambil berjalan kembali. Aku menyusuri tempat yang tadi kulalui. Mataku terpaku pada kucing merah sekali lagi.


"Uuuu, kemari anak manis~," ucapku mencoba agar kucing itu mendekat padaku.


"HISSS!"

__ADS_1


"ADUH! YA SANTAI DONG! CIH!" Tapi kucing itu malah mendesis lalu mencakarku. Dasar! Kalau tidak mau yaudah! Jangan nyakar-nyakar!


"Hmph!" Aku berbalik dengan kesal lalu melangkahkan kakiku menjauhinya. Aku merasakan sedikit perih di tempat yang terkena cakaran kucing.


"Berdarah?" tanyaku pada diri sendiri saat melihat ada darah yang menetes. Aku mencari obat di salah satu kantungku.


"Oh ketemu, untung saja aku bawa ini!" Aku mulai meneteskan obat itu ke tanganku. Ini adalah obat untuk menghentikan pendarahan, sebagai murid jurusan pertarungan jarak dekat. Terluka itu sudah seperti makanan pokok.


"Sial ... Dev kemana sih? Aku sudah menyusuri daerah sini, tapi tidak menemukan petunjuk apapun!" keluhku saat sudah setengah jam lebih berputar-putar. Mataku melihat sebuah apartemen tinggi di sebelahku.


"Apa aku coba naik saja? Sepertinya lebih mudah kalau mencari dari atas kan?" Setelah itu aku segera melompat dan menaiki gedung itu. Dari satu jendela ke jendela lain, dari satu pipa ke pipa lainnya.


Apartemen ini sangat tinggi ... sudah lebih dari 25 lantai aku lewati, dan ujungnya masih jauh! Aku menarik nafasku dengan kuat.


"UOOO!" Dengan cepat aku segera melompat dan terus melompat. Sepertinya ada seseorang yang membuka jendelanya! Ah biarlah, sebentar lagi sampai!


"Hupla!" Akhirnya aku sudah sampai di atas. Aku berjalan ke arah sisi lainnya dan duduk di tepi gedung.


Brrr! Di sini sangat dingin! Terpaan angin begitu kuat dan terasa menusuk tulang!


"Bahkan syal yang kupakai sudah tidak hangat lagi," ucapku lalu melepaskan syal di leherku. Mungkin hidungku sekarang sudah sangat merah, aku sudah merasa sulit bernafas sekarang.


"Negara ini ... sangat indah!" ucapku sambil tersenyum. Pemandangannya memang indah, salju yang turun membuat negara ini dipenuhi warna putih. Orang-orang yang berpergian lebih memilih menaiki kereta yang ditarik oleh serigala. Kita biasa menyebutnya kereta salju.


Aku teringat sesuatu, ponselku! Kuraba seluruh kantung di rompiku, untung saja aku menemukannya!


"Hah? Mati? Seingatku baterainya masih full kok?!" ucapku sambil menekan terus tombol power. Tapi ini tidak kunjung menyala.


Sepertinya hawa dingin ini yang sudah merusak ponselku. Dan sepertinya aku juga akan segera tumbang jika tidak segera menemukan tempat hangat hahaha.


"Untung aku masih membawa buah musim panas, meskipun hanya satu." Aku memakan buah itu lalu segera berdiri. Tubuhku mulai menghangat dan akhirnya aku bisa bergerak bebas.


"Sebelum efek buat ini berkurang, aku hanya punya waktu 10 jam!" Aku melompat turun dari lantai 79. Terjun bebas dari tempat setinggi ini sangat asik! Rasanya seperti aku bisa terbang!


"Yak! Tapi jika aku tidak mendarat dengan baik, aku akan mati!" ucapku lalu mengeluarkan dua buah dagger. Aku menancapkan dagger itu ke tembok di apartemen sebelahku.


TRANGG!!


Suara gesekan antara besi dan batu bata ini terdengar memilukan. Secara perlahan, kecepatan jatuhku menurun.


Tep.


Aku menghembuskan nafasku lega sambil menatap bekas daggerku di tembok.

__ADS_1


"Tanganku sakit ... Sudahlah, lebih baik aku mencari tempat hangat!" ucapku lalu berlari pergi. Sebelum aku ketauan oleh petugas keamanan!


Aku terus berlari kecil sambil melihat-lihat pemandangan kota ini. Hingga mataku bertatapan dengan seorang pria paruh baya yang menaiki kereta salju.


"Hei nak! Apa kau tidak lelah?" tanyanya padaku. Aku menggelengkan kepalaku lalu berniat kembali berlari.


"Jangan begitu, darahmu akan membeku nanti! Ikutlah denganku!" ucapnya dengan nada khawatir. Aku terdiam, nafasku yang tak beraturan terlihat seperti uap yang keluar dari kereta api.


"Wajahmu terlalu asing untuk orang daerah sini, kau pasti pendatang, kan? Tidak apa-apa, menginaplah dulu di tempatku!" ucap pria itu dengan senyuman. Aku tersenyum simpul lalu mengangguk. Pria itu membuka pintu kereta saljunya, aku bergegas naik dan duduk di sampingnya.


Yah, memangnya apa yang dia bisa lakukan padaku? Kalau dia benar-benar baik, maka aku beruntung! Kalau dia berniat buruk, itu dia yang tidak beruntung!


Nyawanya akan melayang di tanganku.


***


POV: Sky


"Jadi maksudmu ... Seas menghilang di tengah jalan?" tanya X tidak percaya, dia memijit dahinya sambil menutup mata.


"Yah ... saat sudah sampai sini. Aku baru sadar dia tidak ada di belakangku." Dev menghela nafasnya dengan lemas. Aku juga ikut heran, Seas bukanlah tipe orang yang akan hilang begitu saja. Apalagi dalam misi.


Kecuali ... dia sedang tidak fokus atau perhatiannya teralihkan oleh sesuatu.


TAPI DIA 'KAN BUKAN VALERIA YANG MUDAH TERALIHKAN SEPERTI ANAK KECIL!


"Sebenarnya aku juga sedikit khawatir ...," ucap Dev sambil menatap kami. Aku mendekat ke arah Dev lalu memberinya secangkir teh.


"Khawatir kenapa?" tanya Valeria lalu duduk di depan televisi.


"Ada organisasi yang cukup merepotkan ... mereka menangkap turis asing dan menjualnya. Baik itu dalam keadaan hidup atau termutilasi," ucap Dev. Aku melotot tidak percaya ... di negara ini ada kasus seperti ini?


"Wah, ini kabar buruk ... aku turut berduka cita," ucap Valeria masih tetap fokus pada televisi.


"Benar, kan? Ayo kita segera cari Seas!" Dev sudah berdiri dan memakai mantelnya. Tapi Valeria dan X malah duduk tenang sambil menonton acara anak-anak.


"Aku bukan kasihan pada Seas, tapi pada orang yang menculiknya," ucap Valeria tanpa menoleh ke arah Dev.


"Meskipun begitu, dia masih murid baru! Dia belum pernah berhadapan dengan organisasi kriminal!" tegas Dev. Tapi X tidak panik lalu menjelaskan pada Dev.


"Dengarkan aku Dev. Seas adalah peringkat 1 di kelasnya. Dia berhasil lolos dari tes yang diberikan oleh Rex, dia bahkan berhasil menang melawan Agen kelas atas yang sudah melanggar kontrak. Dia sudah pernah membunuh teman sekelasnya, dan kau tau? Dia sudah melewati salah satu masa tersuram dalam hidupnya. Keluarganya dibantai oleh kakaknya," jelas X.


Dev terdiam, tatapannya sulit diartikan.

__ADS_1


..."Jadi, yang kasihan itu bukan Seas. Tapi penculiknya."...


TBC.


__ADS_2