
..."Siapa orang gila yang berani mengganggu istirahat kami?!"...
POV: Seas
Sepertinya aku tidak perlu turun tangan kali ini ... mereka terlihat sangat marah sekarang, maksudku Valeria dan Sky.
"Um ... jadi aku dan X akan mengevakuasi para pengunjung. Kalian urusalah ikan-ikan itu," ucapku sambil tersenyum, setelah itu aku berlari dan membantu kakek-kakek yang kesusahan berjalan.
"Dan sepertinya aku akan membantu Seas," ucap X dengan senyum kamu di wajahnya. Setelah itu X berlari menyusulku.
Yah ... mereka berdua pasti akan baik-baik saja, kan?
***
POV: Valeria
Seas dan X sudah pergi, sekarang tinggal aku dan Sky di sini. Kami bergegas ke lantai 3 untuk mencari dimana tikus itu berada.
"Apa kau sudah tau mereka dimana?" tanyaku pada Sky.
Sky masih melihat ke arah bawah dengan seksama, matanya tak berkedip sekalipun.
"Belum ... tapi sepertinya jumlah mereka agak banyak," ucap Sky sambil menatapku. Aku menahan tawaku saat melihat mata Sky yang berair.
Sky yang sadar bahwa aku sedang menahan tawa, menatapku dengan cemberut lalu berkata, "Ketawa saja gapapa! Sana ketawa!". Sky mengalihkan pandangannya dariku dan kembali fokus ke bawah.
"Maaf, maaf! Jadi? Dimana saja mereka? Hahaha!" ucapku masih diselingi tawa.
"Di lantai 1 ada tiga orang yang membawa bom. Di lantai 2 ada satu orang yang membawa pistol. Dan di lantai 3 ada dua orang yang membawa bom," ucap Sky dengan serius. Aku mengangguk lalu mengeluarkan pistol dan stun gun dari balik jaketku.
"Aku akan mengatasi lantai ini, tolong atasi lantai 1 ya~" Aku tersenyum ke arah Sky. Dia mengangguk lalu melompat turun ke bawah.
Aku mengisi pistolku dengan 10 peluru, mataku melihat bayangan yang mencurigakan.
"Dua orang ya ... mari kita berburu tikus~" Aku menjilat bibirku sendiri. Aku berlari pelan ke arah toilet, karena aku melihat orang yang masuk ke sini.
Tentu saja bukan hanya karena alasan itu, dia memakai pakaian serba hitam. Dan jaketnya terlihat tebal, itu adalah dugaan yang sangat mungkin bahwa dia membawa bom bersamanya.
Aku ingat pelatihku mengajarkan cara berjalan tanpa suara. Jangan bertumpu pada telapak kaki, tapi bertumpu pada jari-jari. Jangan berjingkat karena akan menyusahkan untuk berlari, jadi aku harus melatih pergelangan kakiku agar kuat menahan badanku.
Mataku memeriksa toilet yang sepi ini.
"Aneh ... padahal tadi kulihat ada orang yang ke sini," gumamku dengan pelan. Saat aku hendak berbalik, seseorang menarikku dari belakang lalu membekap mulutku.
__ADS_1
"Ssst~ kukira siapa, ternyata hanya seorang gadis mungil xixixi!" Pria itu berbicara dengan pelan di telingaku.
Suaranya sangat menjijikkan! Oh? Apakah aku harus mengikuti permainannya? Bukankah ini akan sangat seru?!
Aku tertawa kecil, bahkan tenaganya saja tak sebesar punyaku. Tak apalah~ aku akan berpura-pura sebagai gadis penakut~
"Hmph! Hmphh!" Aku memberontak padanya dengan tatapan ketakutan, seringaian pria itu jadi semakin jelas. Apakah dia penikmat wajah yang ketakutan?
Seleranya sungguh aneh. Tak masalah karena sepertinya aku juga menikmati wajah orang yang putus asa.
"Hushh~ tidak apa-apa xixixi, setelah ini kau akan meledak bersamaku~," ucap pria itu sambil tersenyum.
Tenaga pria itu melonggar, dia membiarkanku terdiam sambil menikmati ekspresiku. Air liurnya menetes hingga mengenai bahuku.
"Hei ... paman. Kurasa kita harus menyudahi permainan ini," ucapku dengan dingin. Senyuman pria itu memudar, digantikan dengan ekspresi yang penuh amarah.
Pria itu mendorongku hingga aku terbentur pintu toilet. Ini tidak sakit, tapi rasanya aku kesal saja.
Aku segera berbalik, tapi pria itu sudah melepas jaketnya. Ternyata benar ... banyak bom yang terpasang di tubuhnya.
Tunggu ... AKU TIDAK PERNAH DIAJARI CARA MENJINAKKAN BOM! SUNGGUH! YANG KUTAU HANYA CARA MELEDAKKANNYA!
Oh, kan Seas dan X sudah mengevakuasi. Yasudah tidak apa-apa~
Dor! DUAR!
"Satu selesai, selanjutnya~"
***
POV: Sky
"Hah? Dia meledakkannya? Apakah dia bodoh? Iya ... dia memang bodoh," ucapku sambil menepuk dahiku sendiri. Bisa-bisanya aku lupa kalau dia punya gangguan jiwa.
"Tapi X tidak melakukan apapun, jadi kupikir ini akan baik-baik saja ... mungkin kita hanya akan dimarahi." Aku berjalan ke arah orang yang membawa bom. Mataku ini sedikit unik, aku bisa melihat hal yang sulit dilihat orang lain.
Ini kemampuan yang sudah kudapatkan sejak lahir, selama itu benda fisik, tak ada yang mampu mereka sembunyikan dariku.
Aku mengeluarkan jarum beracunku dan bersiap melemparkannya ke arah mereka.
"SI-SIAPA KAU?!" Mereka menatapku dengan tatapan takut. Kenapa mereka takut? Bukankah mereka juga akan bunuh diri? Apa bedanya kalau aku membunuh mereka di sini?
"Selamat tidur," ucapku sambil berlari ke arah mereka. Dalam kelasku, aku diajari cara untuk melakukan gerakan yang efisien. Tidak boros tenaga, tidak berlebihan, dan tidak mudah ditebak.
__ADS_1
Bukan hal sulit bagiku menjangkau lehernya. Aku segera menancapkan jarum beracunku di lehernya dan pergi mencari orang yang selanjutnya.
"Hm? Kenapa tidak meledak ya?" Aku menghentikan langkahku dan berbalik menatap mayat tadi.
Harusnya kalau ini bom waktu ... ini akan meledak tak peduli inangnya hidup atau mati. Tapi bom ini tidak meledak, apa masih belum waktunya?
"Maafkan aku paman, aku harus membuka bajumu," ucapku sambil mulai membuka jaketnya. Aku mulai melihat struktur dari bom ini.
"Luar biasa ... bom ini terhubung dengan saraf manusia? Siapa orang yang menciptakan teknologi gila seperti ini?" ucapku kagum sambil mengotak-atik bomnya. Bom ini akan meledak jika inangnya merasa terancam, dan mungkin karena racunku membuat orang rileks. Jadi bomnya tidak meledak.
DUAR!
Dan sepertinya Valeria selalu membuat bomnya aktif.
"Baiklah, aku akan cepat menyelesaikan dua sisanya," gumamku pelan lalu berlari menuju ke dua orang yang tersisa.
Yah, setelah ini tugasku selesai. Tinggal apakah Valeria bisa membereskan orang di lantai 2.
***
POV: Valeria
"Lumayan juga~ aku jadi sedikit terhibur! Ugh! Ini sangat menyenangkan setelah terkurung lama di mobil!" ucapku sambil keluar dari reruntuhan. Aku sudah membereskan kedua orang yang membawa bom di lantai ini. Jadi sekarang waktunya pergi ke lantai 2!
Aku melompat lalu berpegangan di pagar lantai 2.
"Whops!" Aku menarik badanku agar bisa melompati pagar kaca itu dengan satu tangan.
"Nah~ dimana orang itu?" tanyaku pelan sambil mengamati keadaan.
Dor!
Aku merasakan pipiku perih. Oh? Dia lumayan? Mataku melirik seseorang yang bersembunyi di balik tiang.
"Tapi aku tak bisa bermain lebih lama lagi. Perjalananku masih panjang, jadi ... selamat tinggal." Aku mengeluarkan pistolku dan menembaknya.
Dor!
"Yak! Sudah selesai! X dan Seas pasti sudah menungguku! Ugh ... selamat tinggal mall yang keren!" ucapku sambil menatap mall ini dengan sedih, aku sedikit menyesal kenapa mematahkan lolipopku...
Aku melompat keluar dari jendela lantai 2, aku bisa melihat bahwa Seas sudah bertemu dengan Sky, dan X yang melambai ke arahku.
...[Ayo kita pergi dari sini. Tidak ada tempat untuk penjahat seperti kita.]...
__ADS_1
TBC.