
POV: Author
Whung! Whuss! Syung!
"... Hah ... hah ... hah. Sudah ... Leonax, aku lelah ..." Sky terlihat ngos-ngosan dengan keringat yang mengalir deras dari keningnya. Baju khusus latihan pedang yang dia pakai juga terlihat sudah sangat basah. Sky meletakkan pedang kayu yang dia ayunkan dari tadi, terlihat telapak tangannya sudah memerah dan agak lecet.
"... Anda sudah berusaha dengan baik, anda bisa mengayunkan pedang kayunya sebanyak 200 kali dengan benar, dan 150 kali salah," ucap Leonax sembari memberi sebotol air minum pada Sky. Ya, pagi ini Leonax melatih Sky untuk belajar seni berpedang. Sky harusnya sadar, hal yang dimaksud menyenangkan untuk Leonax memang sejak dulu adalah pedang, kalau tidak pedang, ya berhubungan dengan pedang.
"Ugh ... sepertinya aku tidak punya bakat dalam berpedang," ucap Sky dengan agak merintih, dia melihat kedua tangannya yang masih gemetar dan sedikit perih. Leonax tersenyum simpul mendengar ucapan Sky, pria itu berjongkok, dan mulai memegang kedua tangan Sky.
Sky agak terperanjat, selama ini, Leonax selalu mengenakan sarung tangan ketika dia hendak menyentuh Sky, jadi Sky tidak mengetahui rahasia di balik sarung tangannya itu. Sekarang ketika tangan Leonax menyentuh tangan Sky tanpa sarung tangan, Sky baru bisa merasakannya.
Telapak tangannya yang terasa begitu kasar dan keras, seperti kayu kokoh yang dipahat dengan sempurna namun tidak rata.
"... Apa anda tau, Tuan Muda? Bakat hanya menyumbang 5% dalam kesuksesan hidup." Suara Leonax menjadi lebih halus, dia mendekatkan kedua tangan Sky ke wajahnya, lalu meniupi kedua tangan itu dengan lembut.
"Lalu, 95 sisanya? Apa?" tanya Sky sembari memiringkan kepalanya. Padahal luka di tangannya belum diobati, tapi entah kenapa, hanya dengan ditiupi oleh Leonax, semua rasa sakitnya seolah menghilang.
Mendengar pertanyaan dari Sky, Leonax tidak langsung menjawabnya, dia diam sejenak, melihat Sky dengan senyuman, lalu baru dia menjawab. "Usaha ... usaha yang sangat keras," ucap Leonax.
Sky hanya bisa terdiam mendengar ucapan itu, bagi Sky yang selama ini dididik dengan mengutamakan bakat, ucapan Leonax adalah sebuah hal yang tidak pernah masuk dalam pilihan Sky. Karena itu, saat ini perkataan Leonax itu bagai sebuah tombak yang menghancurkan kepingan puzzle yang mengurung pola pikir Sky.
"... Jadi ... ada jalan lain, ya?" tanya Sky tanpa sadar. Leonax mengangguk dengan mantap.
"Untuk mencapai angka 10, tidak harus 5 tambah 5, kan? 1 tambah 9, 2 tambah 8, atau 4 tambah 6. Ada jalan lain, Tuan Muda."
Ada jalan lain ... aku tidak harus mengikuti jalan yang Bu guru berikan!
Sky menarik kedua tangannya yang masih dipegang oleh Leonax, hal ini membuat Leonax terkejut karena Sky menarik tangannya dengan cepat. Sky segera memegang gagang pedang kayunya sekali lagi, matanya yang dulu dipenuhi keputusasaan, kini dipenuhi oleh harapan dan percaya diri.
__ADS_1
"Ayo, berlatih lagi! Leonax!" ucap Sky semangat. Leonax yang mendengar ucapan Sky, tentunya merasa senang. Dia menatap Sky dengan penuh rasa bangga dan haru.
"Baiklah! Ayunkan lagi pedangnya 350 kali! Perbaiki postur tubuh anda!" ujar Leonax tegas. Sky menjawab dengan lantang, dan mulai berlatih pedang. Begitulah mereka menghabiskan hari sejak pagi hingga siang. Disaat semua anggota keluarga Sky tengah berlibur, Sky tidak merasa iri kali ini. Karena dia juga mendapatkan hal yang menyenangkan berlatih dengan Leonax.
.
.
.
Seusai berlatih pedang, Sky segera mandi terlebih dahulu kemudian segera berbaring di kasurnya. Tubuhnya terasa sakit dan tenaganya terkuras habis. Baru kali ini Sky melakukan aktifitas fisik yang sangat membebani tubuhnya. Tapi walaupun begitu, Sky merasakan pikirannya yang begitu damai dan hatinya terasa senang.
"Ugh ... aku mengantuk," ucap Sky dengan mata yang mulai sayu-sayu, menyipit hingga menutup seluruhnya. Tapi matanya segera kembali terbuka saat mendengar suara pintunya diketuk dengan keras.
TOK TOK TOK!
TOK TOK TOK!
".... Siapa?" tanya Sky dengan suara yang lelah. Pintu itu terbuka, menampakkan sosok wanita yang ia kenal sebagai gurunya. Wanita itu datang ke kamar Sky dengan membawa kayu rotan kecil yang cukup panjang. Mata Sky langsung terbuka lebar, dia merasa waspada, terancam pada senjata yang kini dipegang oleh wanita itu.
"Bu? A-ada apa? B-bukankah hari i-ini kita tidak ada kelas?" tanya Sky dengan nada suara yang gugup. Wanita itu tersenyum, dia berjalan ke arah Sky dan langsung menarik tangan anak itu dengan kasar. Tangan Sky yang masih terasa nyeri, membuat rasa sakitnya bertambah beberapa kali lipat hingga membuat Sky menjerit.
"AAAA! S-SAKIT!" teriak Sky nyaring, yang sayangnya malah langsung diberi tamparan di pipinya.
PLAK!
Tamparan itu membuat Sky terdiam, matanya mulai berkaca-kaca dengan seluruh tubuhnya yang gemetaran.
"Tuan Muda Sky. Bukankah Anda harus belajar supaya bisa menyamai nilai Tuan Muda Dira? Berani-beraninya anda malah bermain pedang-pedangan!" bentak wanita itu. Sky langsung menciut di sana, dia bahkan tidak mampu menjawab satu katapun ketika dia terus ditampar oleh kata-kata dari gurunya.
__ADS_1
Greb!
Sebuah tangan yang besar tiba-tiba memegang pundak wanita yang tengah marah-marah itu, membuat sang wanita menoleh dengan ekspresi terkejut.
"Komandan Leon?!" kaget wanita itu. Pria itu, Leonax, masih diam dengan tatapan super tajam. Tangan yang awalnya hanya menyentuh pundak wanita itu, kini mulai berubah menjadi erat, sangat erat sampai membuat wanita itu menjerit kesakitan.
"KYAAA! TO-TOLONG LEPASKAN! I-INI SAKIT!" teriaknya.
Tapi Leonax tidak mempedulikannya, dia terus mencengkram pundak wanita itu, hingga sang wanita kini berlutut di hadapan Sky.
"Cepat minta maaf. Lancang sekali kau berani menampar pipi Tuanku?" ucap Leonax dengan tenang, namun suaranya sedingin balok es. Aura membunuh yang kuat, membuat wanita itu mulai bergidik ngeri sambil menangis.
Tak terkecuali untuk Sky, hari ini, untuk pertama kalinya dia merasakan hawa membunuh. Seluruh tubuhnya menggigil ketakutan, tapi entah kenapa, Sky merasa bahwa aura membunuh ini sangatlah keren. Dia takut, tapi dia juga ingin mempunyai aura seperti itu.
BRAK!
Leonax mendorong wanita itu hingga tersungkur di lantai. Dengan tubuh yang gemetar, wanita itu berusaha untuk berdiri, dia masih merinding setiap kali melihat Leonax marah.
"Jika aku melihatmu menindas Sky sekali lagi, maka selanjutnya tidak akan berakhir seperti ini," ucap Leonax tegas. Wanita itu segera berlari keluar dari kamar Sky, meninggalkan Sky berdua dengan Leonax saja.
Suasana begitu canggung ketika wanita itu pergi, cukup lama kedua manusia itu hanya diam dan tak saling bicara. Hingga akhirnya Leonax duluan yang menghela nafasnya dengan kasar, lalu berjalan menghampiri Sky.
"Tolong perlihatkan pergelangan tangan anda kepada saya, Tuan Muda," pinta Leonax dengan raut muka yang sendu. Sky terlihat sedikit ragu, tapi dia mulai memberikan tangannya yang tadi ditarik paksa oleh guru wanita itu.
Perasaan Leonax menjadi semakin emosi ketika melihat kondisi tangan Sky sekarang. Luka memarnya buru kehitaman yang melingkar, serta pipi Sky yang terlihat merah bengkak. Tubuh Leonax sampai gemetar menahan amarahnya, dia berusaha tidak menunjukkan sosok ganasnya dihadapan makhluk kecil kesayangannya.
"Maaf ... maafkan saya, Tuan Muda. Harusnya saya tidak meninggalkan anda sendiri tadi," ujar Leonax. Pria itu mulai mengeluarkan satu botol kecil yang berbentuk tabung kecil, yang ternyata adalah salep luka luar. Leonax membuka salepnya, dan mulai mengolesi luka Sky, mulai dari telapak tangan, pergelangan, hingga pipinya.
"... Kenapa Leonax meminta maaf? Ini bukan salahmu," ucap Sky dengan senyuman kecilnya ketika Leonax mulai mengolesi pipi Sky.
__ADS_1
TBC.