Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Ujian ke-dua!


__ADS_3

"Ujian ke-dua, telah siap, Rex."


POV: Seas


"Dingin ... Seas ... ada jaket tidak?" tanya Sky yang daritadi menempel padaku.


"Lalu sekarang kita tinggal dimana?" tanya Valeria yang masih terjaga bersamaku.


"Ini karena Rex bodoh itu!" ucapku kesal dengan mata yang mengantuk. Surat kelulusan ujian tahap pertama itu meledak dalam radius 500 meter, tentu saja asrama Valeria jadi ikut hancur berkeping-keping. Ya karena itu juga kami jadi gelandangan di Underworld School.


Sial, aku akan memasukkan granat ke celana Rex jika aku bertemu dengannya nanti!


Tap ... tap ... tap.


"Hm? Langkah kaki?" gumam Valeria sambil bersiap mengeluarkan pistolnya. Aku masih duduk bersila dengan Sky yang bersandar di bahuku, mataku menatap tajam ke arah langkah kaki yang kian mendekat.


"Siapa?" tanyaku dengan suara yang dingin.


"Selamat, kepada tim ..." Pria itu menunjukkan wujudnya, dia memakai jubah hitam panjang yang bahkan menutupi wajahnya.


"Siapa ketua tim kalian?" tanya pria itu dengan nada yang bingung.


"Siapa ya enaknya? Kami belum pernah memikirkan ini," ucapku yang ikut bingung sambil menatap pria itu.


"Apa? Bagaimana selama ini tim kalian berjalan?" tanya si pria tidak percaya.


"Ya tinggal berjalan, apa susahnya?" jawab Valeria dengan ekspresi yang cuek. Pria itu tampak shock dengan jawaban Valeria, salah tapi tidak salah, benar tapi juga tidak benar.


"Oh begini saja! Karena aku dan Valeria masih bangun, sedangkan Sky tertidur, berarti ketuanya Sky!" usulku pada Valeria dengan wajah yang berseri-seri. Valeria mengangguk setuju dengan cepat lalu menunjuk ke arah Sky.


"Anak berambut kuning itu ketua tim kami, namanya Sky Latrix!" ucap Valeria. Pria dengan jubah itu makin shock dibuatnya, sepertinya dia tidak mengira kami menentukan ketua tim semudah ini.


"Baik ... lah ... selamat kepada tim Sky, kalian telah lolos ujian tahap pertama. Kalian menduduki peringkat ke-tiga sebagai tim yang melakukan pembunuhan terbanyak," ucap pria itu sambil menundukkan wajahnya. Aku dan Valeria hanya ber-oh saja sambil menatap pria itu.


Tapi aku sedikit kaget, ke-tiga? Berarti ada tim lain yang membunuh lebih banyak dari kami? Yah aku tidak peduli juga, mungkin mereka membunuh lebih banyak untuk mendapatkan surat kelulusan, berbeda dengan kami yang bertujuan untuk menjaga surat kelulusan.


"Lalu, untuk ujian ke-dua, akan dilaksanakan sebentar lagi. Mari ikuti saya," ucap si pria lalu mulai berjalan menjauh. Aku segera bangun dan membiarkan Sky terjatuh ke tanah.

__ADS_1


Brug!


"Aduh! Kenapa?" Sky terbangun dengan pipi kanan yang tertempeli tanah serta debu. Valeria langsung mengangkat Sky seperti guling dan membawanya berjalan bersama kami.


"Hah? Kita jadi gelandangan yang digusur?".


***


Setelah 30 menit berjalan, kami disuruh masuk ke sebuah terowongan yang gelap dan sempit. Semakin lama berjalan, rasanya terowongan ini semakin panas. Tangga yang mengarah ke bawah, membuatku semakin yakin bahwa ini menuju ke ruang bawah tanah.


Ada cahaya? Apakah sebentar lagi sampai?


Semakin dekat, aku bisa merasakan hawa kehadiran manusia lain. Suara gelak tawa, dan suara gelas kaca yang berdentingan.


Dan benar saja, saat kami sudah melewati tangga, kami disuguhkan oleh sebuah pemandangan yang ... mengasyikkan? Aku tidak tahu ada apa dengan hal ini, tapi ... semua orang di sini bebas melakukan apapun yang mereka suka.


Berjudi, bergurau, dan menari, ini mirip seperti yang namanya klub malam jika di dunia normal.


Greb!


Eh?


Bruk!


"Nah duduklah di sini~ mau main kartu?" tanya pria itu sambil mengocok segenggam kartu poker di tangannya. Aku masih diam dan bertanya-tanya kenapa aku di sini, bukankah katanya kita akan ujian?


***


POV: Sky


"Ugh ... berisik sekali ... hah? LOH INI DIMANA?!" Aku sedikit berteriak karena terkejut dengan pemandangan yang kulihat. Semuanya sedang menari dengan gembira, seperti orang yang mabuk minuman keras.


Kenapa aku tertidur di pojokan? Kapan aku ada di sini? Bukankah seingatku tadi aku sedang digendong oleh Valeria?


Aku segera berdiri dan mulai masuk ke dalam kerumunan. Beberapa orang kadang menarik jubah laboratoriumku dan bahkan ada yang menempelkan tubuh mereka ke arahku.


Tapi aku tetap berjalan, bersikap seolah mereka tidak ada. Tapi ... semakin lama aku berjalan, rasanya ruangan ini tidak punya batas. Orang-orang masih dimana-mana, mereka menari dan bermain game seolah waktu mereka tidak terbatas.

__ADS_1


"Valeria! Seas!" Aku memanggil nama mereka di tengah kerumunan ini. Tapi jangankan mereka tau, suaraku bahkan kalah dengan suara dari keramaian. Ingin sekali rasanya aku langsung membekukan mereka semua, tapi aku juga tidak bisa membunuh tanpa alasan.


Tep!


"Hei nak! Apa kau mencari temanmu?" tanya seorang pria dengan janggut yang tumbuh lebat. Aku mengangguk pelan, pria itu langsung menatapku dengan iba.


"Dengarkan aku, di malam yang gelap tanpa cahaya, kau tidak bisa melihat yang di depan mata. Pada siang yang terik serta penuh kaca, kau tidak bisa melihat tanpa membuka mata." Pria itu memberiku sebuah kalimat yang sangat aneh. Siapapun tau bahwa kita tidak bisa melihat tanpa cahaya, siapapun juga tau bahwa kita tidak bisa melihat tanpa membuka mata.


"Temanmu mungkin belum terlalu jauh, carilah mereka," ucap pria tadi sambil menepuk pundakku tiga kali. Setelah pria itu pergi, aku masih diam di tempat. Rasanya aku melewatkan sesuatu yang penting.


Aku mulai menutup mata dan merasakan sekelilingku. Keadaan yang ramai ini perlahan-lahan menjadi hening, rasanya hanya tinggal aku sendiri di sini. Aku mencoba untuk bernafas perlahan, merasakan dengan baik udara yang kuhirup sekarang.


Ini ... bukan karbondioksida. Berbeda, baunya lain, tapi apa? Apa aku pernah meneliti obat ini sebelumnya? Kenapa rasanya tidak asing?


Suasana ramai yang menjadi hening, ruangan yang gemerlap tanpa cahaya. Hembusan angin yang aneh menerpa.


Tunggu? Hembusan angin?


...


MANA ADA HEMBUSAN ANGIN DI RUANG BAWAH TANAH!


Aku langsung membuka mataku, suasana yang hening langsung kembali ramai, tapi kali ini aku tidak mempercayai apa yang kulihat. Aku mulai menjilat tanganku dan mengikuti arah angin berasal.


Walaupun sangat lemah, tapi aku masih bisa merasakannya! Aku yakin jawabannya ada di pusat arah angin ini!


***


POV: Author


"Hahahaha! Lihatlah! Ada anak yang menyadarinya!" ucap Rex saat menatap CCTV. Mata coklatnya menatap ke arah Sky yang berjalan membelah kerumunan.


Rex terlihat begitu menikmati saat ini, saat dia melihat murid-muridnya hanyut dengan apa yang disebut kenikmatan duniawi.


"Bisakah kalian keluar dari ruangan itu?"


[Ujian tahap ke-dua, ruang kepercayaan.]

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!


__ADS_2