
POV: Author
Di atas atap yang retak, langit gelap serta kepulan asap dan kobaran api di sekelilingnya, dua pria terlihat saling berdiri di ujung gedung. Sky membawa sebilah pedang yang tentunya sangat tidak sesuai dengan cara bertarungnya, sedangkan Razeks sudah siap dengan jarum kacanya yang menyebalkan di celah jarinya.
"Kau sendirian?" tanya Razeks sembari menjilat bibir bawahnya.
"Siapa bilang?"
"Oh jadi ini orang pitak yang kalian bilang? Jelek banget, dia manusia apa kotoran?" ujar Valeria sambil menatap jijik ke arah Razeks. Dari gedung yang lain, terlihat Seas dan Valeria yang datang dengan seringai di wajah mereka.
"Valeria, tolong jangan terlalu jujur," ucap Sky mencoba menenangkan. Razeks menoleh ke arah mereka berdua, matanya menyipit tajam menata Valeria.
"Ada wajah baru ternyata," ujarnya yang langsung diberi tatapan jijik oleh Valeria kedua kalinya.
"Jangan melihatku, wajahmu membuatku ingin menaruh granat di pipimu," ujar Valeria. Tapi perkataan sarkasnya justru membuat Razeks tertawa lepas.
"Hanya satu perempuan yang aku akui sebagai pembunuh yang hebat di dunia ini, selain dirinya, kalian hanyalah sampah." Razeks menatap Valeria dengan tatapan tajam. Sedangkan Sky dan Seas sudah menggigit bibir mereka sambil melirik penuh rasa khawatir ke arah Valeria.
'Mampus, meledak deh amarahnya setelah ini' batin Sky dan Seas. Valeria langsung tersenyum simpul, dia mengeluarkan dua buah pistol dari sakunya.
"Bacot."
DOR DOR!
TRANG!
Dalam satu gerakan tangan, Razeks menangkis kedua peluru Valeria. Razeks hendak mengejek Valeria lagi, namun jantungnya langsung berpacu cepat saat dia tahu bahwa Seas sudah tidak ada di samping Valeria. Razeks mungkin belum sadar bahwa sebenarnya dia sudah trauma bertarung melawan Seas yang asal muncul seperti setan.
"Ba, awas telinga."
TRAANGG!
Razeks berhasil menahan tusukan Seas yang muncul di sisi kanannya, Seas hendak menusuk gendang telinga Razeks. Mata Razeks dipenuhi rasa waspada, di hadapannya, mata ungu Seas terlihat semakin mengerikan dari waktu ke waktu. Seas yang masih bertatapan dengan Razeks pun berbicara.
"Jangan terlalu lama menatap wajahku, aku tau aku tampan. Tapi kalau kamu tidak segera menoleh, peluru Valeria bisa menembus jantungmu loh, itu peluru cinta."
DOR!
CRAAAT!
Razeks masih terkena peluru Valeria meskipun dia sudah berusaha menghindar, beruntung tidak terkena jantungnya, peluru Valeria hanya bersarang di pinggangnya saja. Razeks hendak mengeluarkan emosinya, tapi gerakannya tertahan karena Sky muncul dari depan dengan membawa pedang tipis di tangannya.
__ADS_1
WUUUSHH!
Diayunkannya degan kuat perang itu, dan Razeks juga langsung menangkisnya karena dia merasa bahaya. Pedang super tipis itu tampak bisa membelah apapun.
Tapi disitulah jebakan yang sudah disiapkan oleh Sky.
PRANGG!
Pedang itu langsung hancur begitu menyentuh jarum Razeks. Laki-laki berambut pitak itu kaget, padahal dia hanya menangkis pedang Sky, dia tidak menyangka bahwa pedangnya akan pecah. Dari belakang Razeks, Seas muncul dan siap untuk menikam lehernya lagi. Razeks menyadari hal itu dan dia langsung menghindar ke samping.
Baru satu langkah dia bergerak, peluru Valeria lewat tepat di depan matanya. Jika dia bergerak lebih cepat saat itu, maka peluru Valeria pasti mengenai pelipisnya. Setelah peluru Valeria meleset, Razeks bergerak secara zig-zag untuk menghindari serangan kejutan selanjutnya.
Nafasnya terengah-engah, mata hitamnya yang lebar menatap tim Seas dengan pandangan yang waspada. "... Kalian benar-benar masih pemula?" gumam Razeks.
'Ini tidak masuk akal ... aku dipojokkan lagi? Oleh para pemula? Bocah bernama Sky itu sangat merepotkan dengan senjata berat dan ramuannya. Sedangkan gadis yang baru pertama kali kulihat, kupikir dia hanya asal menembak. Tapi dia bahkan bisa memprediksi pergerakanku yang selanjutnya. Tapi yang paling merepotkan adalah bocah iblis itu, Seas Veldaveol. Apakah tidak ada cara untuk mencegahnya bertarung dengan tekniknya?' batin Razeks yang tampaknya sedang berpikir keras bagaimana cara agar dia bisa mengatasi pergerakan tim Seas.
Sebenarnya jika diukur secara kekuatan, Razeks bahkan lebih kuat daripada ketiga remaja itu. Namun, pergerakannya dibatasi oleh Seas dan Sky, sehingga Razeks tidak leluasa dalam menggunakan gaya bertarungnya. Satu muncul lalu menghilang, digantikan oleh satu yang lainnya.
Itu adalah cara yang dipikirkan oleh Sky dan Seas semalaman dalam menghadapi Razeks.
Tarik ulur dan juga ...
Memberi tekanan secara mental.
Tapi karena sekarang Valeria masuk ke dalam tim, maka cara bertaruh tim ini kembali berubah. Sekarang bukan lagi tarik ulur.
Tapi tekan sampai hancur.
"Ayo mulai, Lumius/Belmere/Hades."
BBBZZZTT!
BLAARR!!
SWOOSHH!
Razeks berdecak kesal, meskipun memang tim Seas belum bisa menggunakan bloody weapon secara benar, tapi tetap saja senjata mereka merepotkan.
"Belmere, bentuk pertama, Sniper."
Cklik.
__ADS_1
Valeria membidik ke arah Razeks, satu sniper dengan lengan panjang serta satu lubang besar sebagai keluarnya peluru. Melihat hal itu, Razeks hendak berlari untuk mencegah dirinya terkena peluru sniper.
Baru saja dia hendak mengangkat kakinya, matanya harus melotot ketika melihat sabit Sky yang sudah ada di depan perutnya, hendak membelah tubuh Razeks menjadi dua.
Razeks mengeluarkan 3 jarum kaca dengan cepat, menyatukan ketiga jarum itu dan menangkis sabit Sky.
TRAANG!
"Ayo kita bertarung sampai mati." Razeks mengeluarkan jarum lagi.
"[Teknik embun jarum: getaran jarum.]"
WWRRRRR!
Sky yang sudah mengetahui seperti apa tekniknya, langsung melangkah mundur ke belakang. Razeks mengetahui hal itu, dengan sigap dia melangkahkan kakinya ke samping, hendak menggapai Sky. Dua langkah kakinya bergerak, ujung mata Razeks melihat sekelebat sosok putih yang melewati sisi kirinya.
"Bocah iblis!"
TRANG!
Razeks tahu bahwa itu adalah Seas yang sedang mengincar titik butanya. "Bodoh sekali kau menahan teknik ini dengan tubuh-" ucapan Razeks terpotong, dia tidak menyangka bahwa Seas malah melemparkan daggernya pada Razeks.
'Dia membuang senjatanya? Apa rencana mereka?' Razeks berusaha menerka-nerka. Tapi dia tidak dibiarkan berpikir oleh Valeria. Sebuah peluru sniper melesat cepat ke arahnya, jika telat sedikit saja, tengkorak Razeks sekarang pasti sudah berlubang.
Razeks kembali melirik ke arah Seas, melihat bahwa dagger Seas sekarang tinggal satu karena Seas melempar satu daggernya tadi. Sedangkan di sisi lainnya, Razeks juga mewaspadai Sky yang sudah bersiap dengan sabit Hades miliknya.
"Kau terlalu lama berpikir.
[Teknik Sabit Hades: Lorong Neraka.]"
BLAARR! SWOOOSHHH!
Sebuah tornado api menyembur muncul dan melesat menuju Razeks. Pria itu kaget, dia mengalami kebimbangan. Maju dan menjadi incaran Seas, atau bergerak ke samping dan ditarget oleh Valeria. Tapi jika dia diam di tempat maka akan hangus terbakar.
"Kelihatannya kamu butuh bantuan ya? Razeks."
Seorang pria muncul di belakang Valeria, kesempatan beberapa detik itu Razeks manfaatkan untuk kabur karena fokus Valeria dialihkan oleh pria tadi. Begitu juga dengan Seas yang sekarang kaget, dia bimbang harus menyerang Razeks atau menyelamatkan Valeria terlebih dahulu.
Mata Seas pun melirik Sky. "SKY! PERGILAH KE VALERIA!" teriak Seas. Sky langsung melompat dari gedung itu dan beranjak ke tempat Valeria berada. Hal ini membuat di gedung tadi hanya tersisa Razeks dan Seas saja.
"Khekhekhe ... sebelum kedua temanmu itu kembali, aku akan membunuhmu lebih dulu, Seas." Razeks menjulurkan lidahnya keluar, seolah akan menikmati waktu-waktunya untuk menyiksa Seas.
__ADS_1
TBC.