Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Mundur?


__ADS_3

..."Jadi ada apa kau kemari? Apa kau akan menemaniku bermain?"...


POV: Seas


Aku menatap Ron dengan tatapan datar. Meskipun sekarang wajah Ron hanya berada 5 sentimeter di depanku.


"Apa kau tidak waras karena bosan?" tanyaku. Ron menjauhkan wajahnya lalu tertawa. Dia segera memakai pakaiannya lalu duduk di sampingku.


Aku menarik nafas dalam dan mengeluarkan secarik kertas.


"Bacalah."


Ron menerima kertas yang kuberikan lalu membacanya. Ekspresi wajahnya berubah-ubah, mulai dari terkejut hingga marah. Dia merobek kertas itu dengan cepat dan membakarnya di perapian.


"HEI! AKU BELUM MEMBERIKANNYA PADA X LOH?!" ucapku panik. Tentu saja! Aku belum bertemu dengan X! Kertas itu harusnya sebagai bukti agar X percaya padaku! Argh!


Ron memicing tajam ke arahku. Dia berjalan mendekat lalu berkata, "Apakah ini sungguhan?". Aku mengangguk.


"Dua hari yang lalu, aku diculik. Dan mereka berniat menjualku, tentu saja aku bisa kabur," ucapku dengan tenang. Ron masih diam dan mendengarkan.


"Setelah itu, aku mengikuti mereka. Dan berhasil menemukan tempat pelaksanaannya. Tapi ...," ucapku dengan ragu di akhir kalimat.


"Tapi?"


"Tapi sepertinya aku terlalu gegabah ... jadi mereka pindah tempat ... ehe!" Aku tersenyum sambil menjulurkan lidahku. Aku bisa melihat urat Ron yang mencuat dari pelipisnya, dia mengepalkan tangannya bersiap memukulku.


"Meskipun begitu, aku juga tidak bisa apa-apa jika lawanku adalah kaisar."


"Meskipun lawanmu bukan kaisar, harusnya kau- TUNGGU?! KAU BILANG KAISAR?!" Ron berteriak terkejut. Aku mengangguk dengan cepat berkali-kali. Dia memegang kepalanya dan terhuyung.


"Hei! Kau baik-baik saja?" Aku segera berdiri dan menangkap Ron yang hampir terjatuh. Dia memegang kepalanya, wajahnya terlihat pucat.


"Pantas saja ekonomi negara ini membaik dengan cepat. Tak kusangka mereka melakukan perdagangan manusia." Ron menghela nafasnya lalu mengambil sebuah peluit.


Fuut.


Peluit itu tidak berbunyi, setelah meniupnya. Ron mengambil sebuah pedang dan memasangkannya ke pinggang.


"Seas, dengarkan aku. Kau pergilah pada X, dan cepat beritau tentang yang kau lihat."


Aku mengangguk, Ron membuka jendela lebar di ruangan itu lalu melompat keluar. Aku segera melepaskan pakaian penari ini dan menggantinya dengan seragam milikku.


"... Sial."


"AKU LUPA TIDAK TANYA DI MANA ALAMATNYA LAGI!"


Aku terduduk lemas di ruangan itu. Kenapa aku jadi pelupa seperti ini? Aku menarik nafas dalam-dalam dan mencoba mengingat-ingat.

__ADS_1


"Ponsel ... Oh iya! Ponsel!" ucapku sambil menepuk tanganku. Aku segera berdiri dan melompat keluar dari jendela. Anak itu bilang dia akan menginap di sebuah ... hotal, kan?


Aku tidak memberinya uang yang cukup banyak, jadi dia hanya bisa menyewa hotal yang sederhana. Di negara ini, hotal yang sederhana bisa di hitung dengan jari.


Dan daerah terdekat tempat aku menurunkan anak itu ... hotel ini! Hotel salju merah!.


Aku berdiri sambil menunggu di depan pintu hotel. Aku tidak bisa masuk, mengingat statusku sebagai pengunjung ilegal negara. Jika aku membocorkan identitasku, sudah pasti akan ketauan. Tidak ada pilihan lagi selain menunggunya keluar.


Ini sudah siang hari, dia pasti akan keluar bukan?


4 jam kemudian.


"Sial ... dia benar-benar tidak keluar."


Aku berjongkok sambil menatap salju. Rasanya sangat membosankan di sini, duduk diam dan menunggu entah kapan bocah itu datang. Apa aku pergi saja? Lagipula percuma juga. Aku bahkan tidak tau apakah dia benar-benar di hotel ini.


Aku berdiri dan hendak melangkah pergi.


Tap!


Aku merasakan tanganku yang dipegang oleh seseorang, mataku melirik ke arahnya.


"Kau ... kakak yang kemarin?"


Aku tersenyum lebar. Dia benar-benar di sini!


"Ya! Benar! Bagaimana kabarmu?"


"Terimakasih kak, ini ... aku kembalikan padamu!" Anak itu memberikan ponselku dengan senyuman. Akhirnya! Ponsel pemberian Venom!


"Aku akan meninggalkan negara ini besok, aku harap kakak menjaga diri. Selamat tinggal!" Anak itu membungkukkan badannya padaku. Dia berlari masuk ke dalam hotel dan segera naik lift.


Aku tersenyum simpul, syukurlah jika dia segera meninggalkan negara ini. Aku membalikkan badanku dan mencoba menyalakan ponselku. Terakhir kali aku menyalakannya ternyata malah mati. Kuharap ini masih bekerja sekarang.


"Berhasil!"


Dengan cepat aku mencari kontak X.


"Halo? X! Dimana kalian sekarang?!"


"Halo? Seas! Kau darimana saja bodoh! Kami ada di alamat xxxx di daerah xxxx! Kami menunggumu, cepat kemari!"


"Baiklah! Tunggu aku!"


Tuut.


Aku menutup telefon dan segera berlari. Daerah xxxx, itu sekitar 20 menit dari sini. Aku berbelok masuk ke celah bangunan. Daripada berlarian dan menarik perhatian, lebih baik aku menggunakan teknik langkah bayangan agar cepat sampai.

__ADS_1


...[Teknik nomor 3, langkah bayangan.]...


Aku melesat dengan cepat, salju tebal di kakiku seperti tidak tersentuh. Bahkan jejak kakiku tidak ada. Waktu perjalanan yang harusnya memakan waktu 20 menit, bisa kucapai dalam waktu 10 menit.


Aku berdiri di depan sebuah rumah kecil. Sambil mengatur nafasku, aku mengetuk pintunya tiga kali.


Tok tok tok!


Cklek!


"SEAS!"


GREB! BRUK!


Ternyata Sky yang membuka pintunya. Dia segera melompat lalu memelukku. Aku bisa merasakan bahuku yang hangat, sepertinya dia menangis. Kulihat Valeria dan X juga muncul dari dalam rumah.


"Untung kau baik-baik saja," ucap Valeria sambil menghela nafas.


"Kalau kau tidak kemari dalam 3 hari, kami berniat mencarimu," ucap X sambil tersenyum. Aku tertawa kecil sambil mengusap punggung Sky.


"Maaf-maaf! Masalahnya lebih besar dari dugaanku," ucapku sambil tertawa di akhir.


"Bolehkah aku masuk?"


"Tentu saja, dasar bodoh!" Valeria menarik kaos Sky dan menyeretnya masuk rumah, sedangkan X membantuku berdiri dan membersihkan salju yang menempel di bajuku.


"Jadi ... bagaimana jika kau menceritakannya pada kami?" tanya X begitu aku masuk rumah.


***


Setelah aku menceritakan semuanya, X tampak terkejut. Dia berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.


"Aku malah terkejut kau bisa hidup setelah kejadian itu," ucap Valeria sambil menatapku dengan heran dan kagum. Sementara Sky ... dia masih menangis.


"Huee! Untung-saja kau baik-baik saj-ja Seas!" ucap Sky dengan ingus yang menetes. Aku tertawa kecil lalu mengusap ingusnya dengan sapu tangan.


"Yah ... aku juga sedikit kaget. Tapi sepertinya masih ada yang janggal di sini." Aku menatap sapu tangan dengan serius. Valeria mengangguk setuju.


"Mereka tidak mungkin bertransaksi dengan orang dalam negeri saja, pasti ada beberapa pihak luar yang terkait," ucap Valeria.


Benar. Tidak mungkin hanya dengan orang dalam negeri saja. Kalau begitu ... pasti ada pihak luar yang terkait dengan hal ini!


"Aku sudah menghubungi pihak Underworld School. Kita akan keluar dari misi ini." X muncul dengan ekspresi dingin.


Aku, Valeria dan Sky terdiam.


..."APA?!"...

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa likenya! ^^


__ADS_2