
POV: Seas
"Sky ... apa kau masih marah?" tanyaku sambil melihat Sky yang sibuk berkutat dengan alat kimianya.
Ya, sekarang aku sedang ada di kamar Sky. Sepertinya dia masih marah karena kejahilanku tadi, dan sekarang aku sedang mencoba untuk membujuknya. Valeria bilang ingin berlatih sendiri, jadi dia mungkin sedang ada di kamarnya dan melakukan beberapa olahraga berat.
"Sky~," panggilku lagi. Tapi dia masih tetap cuek dan diam, tangannya sibuk menggoyangkan beberapa larutan kimia dan tak lupa untuk menutup botolnya.
"Aku akan membuatkanmu kue labu, apa kau suka?" tanyaku dengan nada penuh harap pada Sky. Jangankan menjawabku, melirikku saja tidak dia lakukan. Aku menggembung pipiku karena kesal, lalu berjalan ke arahnya.
"Sky! Kau mau apa?" tanyaku akhirnya menyerah. Setelah begitu banyak usaha, akhirnya Sky melirikku sekarang.
"Aku minta darahmu," ucap Sky tiba-tiba.
"Oh tentu- LOH?! UNTUK APA DARAHKU?!" tanyaku saat baru sadar bahwa Sky meminta darahku. Sky meletakkan botol kimia yang dia bawa, lalu mengambil sebuah jarum suntik.
"Pokoknya ada, berikan darahmu," titah Sky lagi, dia berusaha untuk menangkan lenganku, tapi aku langsung berjalan mundur untuk menghindarinya.
"Buat apa dulu?!" teriakku panik, Sky menatapku dengan datar lalu memutar bola matanya dengan malas. Dia menaruh jarum suntik di tangannya dan mulai menunjuk ke arah sel daun yang dia teliti.
"Aku ingin membuat bom jenis baru," ucap Sky sambil merunduk dan menatap daun itu dengan lekat.
"Apakah kau pernah dengar ada bom yang hanya meledak saat disentuh orang tertentu?" tanya Sky dengan seringaian yang lebar. Aku menggelengkan kepala sambil mengernyitkan dahiku, memangnya bisa ya membuat bom seperti itu?
"Karena itu, aku ingin membuatnya. Dan karena kau sudah membuatku kesal, aku ingin kau jadi bahan percobaanku kali ini."
JLEB!
Sky tersenyum puas saat jarum suntik itu menancap di lenganku. Aku langsung menatap Sky horor dan hendak berteriak
Grep!
"Sssst, jangan berteriak. Kau mau Valeria ikut bergabung dengan kita?" bisik Sky sambil menarik ujung suntiknya, membuat darahku terhisap ke dalam.
Sial ... INI SANGAT SAKIT SIALAN!
SKY! AWAS SAJA KAU NANTI!
__ADS_1
ARGHHH!
***
POV: Valeria
"Hm? Kenapa aku merasakan firasat buruk ya? Sepertinya Seas dalam bahaya? Ah tidak apa-apa~ anak iblis sepertinya mana mungkin mati dengan mudah," ucapku lalu kembali berolahraga. Dengan kedua barbel di tanganku, aku berusaha meningkatkan otot lenganku agar kuat membawa bazoka dalam waktu yang lama.
Kan jadinya tidak berguna jika aku punya bazokanya tapi tidak kuat untuk mengangkatnya.
Setelah kejadian terakhir kali, asrama ini menjadi lebih tenang. Bahkan ini sudah hari ke 4. Berarti tersisa 3 hari lagi, yah ... aku juga tidak yakin apakah ini bisa tetap tenang hingga batas waktunya berakhir atau tidak.
Tapi mungkin juga akan tenang ... tim kami sudah memberi pertunjukkan yang cukup mengesankan. Sial ... ini membosankan.
Tidak akan ada yang selamat jika mereka mencari masalah dengan kami. Yah, kecuali jika memamg mereka punya sedikit nyali.
Tok tok tok!
"Val! Apa kau di dalam?" Suara Sky memecah lamunanku, tanpa sengaja barbel di tanganku langsung jatuh dan mengenai kakiku.
BUAGH! BRAK!
BRAK!
"VAL! KAU TIDAK APA-APA?!"
Aku meringkuk kesakitan sambil memegang telapak kakiku. Wajah Sky langsung panik saat melihat kakiku yang berubah menjadi ungu kebiruan.
"K-kau ... tertimpa barbel?" tanya Sky saat melihat barbel yang menggelinding ke arah kaki Sky. Aku mengangguk pelan sambil menahan rasa sakit.
"Valeria kenapa lama sekali- Hah? HAHAHAHHAA!" Seas malah langsung tertawa terbahak-bahak saat melihatku sedang meringis kesakitan. Sky langsung mengambil beberapa perban dari loker di kamar yang kutempati, dan mulai membantuku berdiri.
"Val-pfft! M-maaf hahaha! Apakah kau baik-baik saja?" tanya Seas sambil mendekat ke arahku. Aku hanya meliriknya dengan kesal sambil sesekali mengelus kakiku yang membiru. Ini sangat sakit, saking sakitnya aku sampai bingung harus bereaksi seperti apa.
"Lagian kenapa kau bisa kejatuhan barbell dengan berat 20kg itu?" tanya Sky dengan nada heran. Tangannya begitu telaten memberi minyak di kakiku, serta obat lain dengan bau menyengat di perbannya. Bisa kupastikan bahwa perban yang awalnya berwarna putih bersih, sekarang jadi berwarna coklat karamel.
"Tadi aku sedang me-melamun! Aw! Pelan-pelan Sky!" ucapku sambil merintih kesakitan saat Sky mulai memijat bagian yang paling parah. Mata kuningnya terlihat begitu fokus dan lembut, terkadang aku iri kenapa aku punya sikap barbar seperti ini. Sedangkan Sky maupun Seas, mereka lebih tenang dibandingkan aku yang berapi-api.
__ADS_1
Tapi hanya kadang-kadang. Untuk apa aku iri? Aku adalah yang tercantik di tim ini!
Ya karena aku sendiri yang perempuan.
"Nah, sudah selesai!" ucap Sky bangga sambil mengelap keringat yang menetes dari dahinya. Seas berjongkok dan melihat perban di kakiku dengan seksama.
"Wah, aku baru sadar bahwa Sky bisa memasang perban dengan sangat rapi," ucap Seas kagum sambil beberapa kali hendak menyentuh kakiku.
"Itu adalah obat khusus yang aku buat, kau akan sembuh dalam beberapa jam," jelas Sky lalu duduk di pinggir kasurku. Aku menganga tak percaya, Sky benar-benar seorang jenius. Mungkin itu tidak terlalu terlihat, bahkan Seas juga seorang jenius.
Aku belum pernah bertemu anak di angkatanku yang punya kepintaran dalam hal bertarung sehebat Seas. Seas dan Sky, mereka berdua adalah anak genius dalam bidang mereka masing-masing.
"Ah, ngomong-ngomong ... kenapa kalian ke sini?" tanyaku saat baru ingat kenapa mereka datang ke kamarku, padahal tadi mereka masih sibuk untuk meneliti bom.
"Jadi ... kita akan mengajakmu bersenang-senang!" ucap Seas dengan senyuman lebarnya. Aku melirik ke arah Sky yang menghela nafas sambil menggelengkan kepala.
"Bersenang-senang?" tanyaku bingung.
"Iya! Jadi-," ucap Seas terpotong.
"Kita barusan dapat surat ancaman." Sky memotong perkataan Seas yang belum selesai. Aku tersenyum tipis saat mendengar kabar ini, karena aku juga penasaran.
"Siapa?" tanyaku.
"Tidak tau, tapi dia menulis ... dia akan menghancurkan asrama ini dan membunuh kita. Jika kita tidak memberikan amplop itu padanya," jelas Sky sambil menunjukkan sepucuk surat dengan noda darah di ujungnya ... serta entah tulang hewan apa yang dia gunakan sebagai pemberat suratnya.
Surat ancaman? OH AYOLAH, BUKANKAH INI SERU?!
BARU SAJA AKU BERPIKIR BAHWA KETENANGAN ITU MEMBOSANKAN! AKHIRNYA ADA HIBURAN LAGI!
"JADI KAPAN KITA BERGERAK?" tanyaku antusias. Seas menepuk pundakku pelan, lalu menatapku dengan dalam.
"Kita tidak akan bergerak lebih dulu, kita tunggu saja," ucap Seas yang membuatku bingung. Mata ungu Seas menyipit hingga hanya terlihat segaris, dan senyum di bibirnya yang terlihat panjang dan lebar.
..."Bukankah kalian lebih suka melihat orang putus asa?"....
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa likenya ya guys!
Anw, maaf ini update terakhir. Dan akan update lagi tanggal 23 Juni! Sampai jumpa!