
POV: Author
Anting Valeria kini berubah menjadi senjata api dengan jenis Riffle, sebuah senapan yang bisa mengeluarkan banyak peluru berturut-turut. Maria hanya tersenyum sinis, dia menganggap bahwa tidak akan ada perubahan besar biarpun Valeria sekarang menggunakan senjata. Sedangkan dari kejauhan, Mores nampak begitu shock dengan senjata yang baru dikeluarkan Valeria.
'Itu ... blood weapon?! Valeria punya senjata seperti itu?! Agen C, sebenarnya siapa anak didikmu ini?!' batin Mores sembari menelan ludahnya gugup.
"Mores, aku bisa mengatasi gadis ini sendirian. Pergilah dan bantu yang lain," ucap Valeria pada Mores. Wanita itu tampak kaget, dia menatap Valeria dengan sorot mata yang menolak.
"Tidak bisa! Aku tidak akan membiarkan-"
"Aku akan baik-baik saja. Gadis ini sudah sangat menguji kesabaranku, tidak mungkin aku kalah dari jangkrik sepertinya," ucap Valeria dengan sorot mata yang tajam. Mores menundukkan wajah dan menutup mata, dia berpikir sejenak.
"... Baiklah, aku percayakan yang di sini kepadamu."
Sraaat!
Mores menarik bonekanya untuk menjauhi tempat Valeria, dia juga segera berlari ke tempat lain.
"Heh, kau bisa dalam bahaya loh," ucap Maria dengan senyumnya. Valeria balik tersenyum lalu menutup mata.
"Tidak akan, justru kau yang dalam bahaya jika aku serius sekarang." Valeria benar-benar menutup matanya, dia mengarahkan senjatanya ke arah Maria sekarang berada.
"Ppfft! Dengan mata terbuka saja kau tidak bisa mengejarku! Sekarang kau malah menutup mata?! HAHAHAHAHA!" Maria tertawa keras. Namun kali ini Valeria benar-benar serius. Dia tidak membalas perkataan gadis itu, dan memilih untuk membuat dirinya lebih fokus.
'Jangan gunakan mata fisikmu ... gunakan mata nalurimu, Valeria ... kau sudah berlatih menggunakan Riffle untuk waktu yang cukup lama' batin Valeria pada dirinya sendiri.
Maria berhenti tertawa melihat Valeria yang tidak merespon ucapannya. Sorot mata gadis itu berubah menjadi tajam dan serius.
"Akan aku patahkan kesombonganmu itu!"
Fyut.
Maria menghilang dari hadapan Valeria. Suasana langsung berubah senyap, yang terdengar hanyalah semilir angin malam yang menerpa telinga.
'Aku mungkin bukanlah orang yang berbakat dalam membunuh seperti Seas.
Aku juga bukan orang yang pintar seperti Sky.
Karena itu, satu-satunya hal yang bisa aku asah ... adalah instingku.'
Fyuushh.
Angin berhembus sekali lagi, menerpa bagian belakang Valeria hingga membuat rambut ekor kuda ya bergoyang ke kanan dan kiri.
SRAAAT!
Maria muncul dari atas, dia langsung menusukkan pedangnya ke Valeria tanpa ragu.
TRAANGG!
"?!" Mata Maria melebar, dia tidak percaya bahwa Valeria bisa menangkis serangan kejutannya dengan Riffle yang dia bawa. Yang lebih mencengangkan, Valeria masih menutup matanya, dia bahkan tidak mendongak ke atas sama sekali.
Fyut.
__ADS_1
Maria kembali menghilang dari sana, menyisakan Valeria yang masih berdiri tegap dengan mata tertutup.
'Aku mulai mendengarnya.
Langkah kakinya yang terasa berat, seperti air hujan yang menetes ke jalan raya.'
Tes.
SRAAT!
Maria kini muncul dari bawah lengan Valeria, hendak menikam jantungnya dalam sekali serangan.
Syut!
"?!" Tapi lagi-lagi Valeria membuat Maria terkejut, gadis itu berhasil menghindar ke samping kanan, membuat tikaman Maria meleset dari jantungnya.
"M-mustahil," gumam Maria dengan mata yang terbuka lebar-lebar. Dia tidak bisa mempercayai bahwa Valeria benar-benar bisa melihat dengan mata tertutup.
"Apanya yang mustahil?"
WHUUNG!
Setelah menghindari tikaman Maria, Val langsung memukul wajah gadis itu menggunakan punggung Riffle yang dia pegang.
PRAAK!
GUSRAK!
Suara besi keras menghantam wajah Maria, bahkan membuat gadis itu terpingkal dan tersungkur. Maria menatap Valeria yang masih menutup mata.
WHUUNGG!
TRANG!
Tapi lagi-lagi Valeria berhasil menepisnya.
"Tidak ... tidak tidak tidak!"
TRANG TRANG TRANG TRANG TRANG!
Maria yang mulai putus asa akhirnya menyerang membabi buta, meskipun pada akhirnya semua serangannya ditepis dengan mudah oleh Valeria. Gadis itu sudah kelelahan, lututnya bahkan gemetar karena tidak sanggup berdiri.
"... Sial!" Maria berbalik badan, dia berlari menjauh dari Valeria. Dia sudah kehabisan semua kartu rahasia yang dia punya.
"Langsung kabur? Kau pikir aku akan membiarkanmu semudah itu?"
Bretbretbretbret!
Crat crat crat crat!
Valeria menembakkan 4 peluru beruntun dengan cepat. Keempat peluru itu bersarang di punggung Maria, membuat sosok yang ingin kabur itu mulai tersungkur ke depan dengan punggung yang bercucuran darah.
Valeria perlahan membuka mata, dia melihat lurus ke arah Maria yang masih berusaha merangkak untuk kabur.
__ADS_1
BZZZTT.
Senjata Valeria berubah bentuk sekali lagi.
"Belmere, bentuk kedua, shotgun."
BZZZTT!
Senjata Rifflenya kini berubah menjadi senapan jarak pendek yang mempunyai daya hancur yang tinggi. Jika Riffle adalah senapan dengan daya hancur beruntun sedikit demi sedikit, maka shotgun adalah daya hancur brutal dalam sekali serang namun dengan jarak tembak yang pendek.
"Dulu ... aku pernah kalah satu kali dalam menghadapi seorang ahli ilusi, sepertimu. Aku hampir mati dibuatnya," ucap Valeria saat sudah sampai di depan tangan Maria yang sedang merangkak. Maria mendongak ke atas, dia menatap mata Valeria yang tampak tenang dan damai.
"Aku benar-benar membenci kekalahan, namun fakta bahwa aku lemah juga membuatku kesal. Apalagi kalau aku harus kalah lagi oleh ahli ilusi," ujar Valeria yang sekarang menodongkan shotgunnya ke kepala Maria.
"A- aku ... aku ingin hidup, jangan bunuh aku," ucap Maria dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"... Kau lemah, bahkan jika aku membiarkanmu hidup, kau tidak akan berguna bagi kami."
DOR!
CRAATT!
Dalam satu tarikan pelatuk, kepala gadis itu hancur tak berbentuk. Valeria menarik nafas panjang, dia melihat langit yang mulai berubah menjadi biru di bagian timur.
"Kalau kau takut mati, jangan jadi pembunuh. Harusnya kau hidup dengan baik dan normal-normal saja," gumam Valeria sambil melihat matahari yang terbit.
BZZZTT!
Shotgun Valeria lenyap, kembali berubah menjadi sebuah anting yang kemudian Valeria pasang lagi di telinga kirinya. Di samping mayat tanpa kepala, Valeria duduk tenang memandang matahari.
"Sudah pagi ... apakah yang lainnya baik-baik saja?" gumam Valeria pada dirinya sendiri. Valeria melihat beberapa senjata yang gadis itu bawa di pakaiannya. Ada satu senjata yang menarik perhatian Valeria, yaitu kipas dengan bilah yang tajam seperti pisau. Valeria mengambil kipas itu dan dia simpan untuk dirinya sendiri.
"Aku pakai senjatamu ya, ini adalah kipas yang unik. Bagaimana menggunakannya ya?" ucap Valeria sambil membuka tutup kipas besi itu.
Jauh di belakang Valeria, di sebuah gedung tinggi yang menjulang. Terlihat seorang bertudung hitam yang menatap tajam ke arahnya.
"... Aku terlambat melindungi Maria karena harus menyelamatkan Razeks tadi, sial," umpatnya lalu dia terjun dari atas gedung, menghilang seolah menyatu dengan bayangan di pagi hari.
"Underworld School, sepertinya kalian benar-benar merepotkan."
WUSH.
Tepat setelah orang itu menghilang, Valeria berdiri dan melihat ke belakang. Mungkin karena kemampuannya sudah berkembang selama melawan Maria, tapi yang jelas, Valeria sadar bahwa ada orang yang memperhatikannya.
Tapi dia sengaja tidak menoleh ke belakang sama sekali, karena Valeria juga tahu, bahwa orang yang ada di belakangnya itu sangat kuat.
"Astaga ... kupikir dia akan menyerangku tadi ... untung saja tidak," gumam Valeria dengan helaan nafas penuh rasa lega. Karena Valeria merasa sudah tidak aman di tempat itu, dia segera mengeluarkan ramuan kecil yang diberikan oleh Sky sebelum berangkat.
Dia melemparkan ramuan tadi ke jasad Maria.
BLAR!
Begitu jasadnya mulai terbakar, Valeria langsung pergi dari atap apartemen.
__ADS_1
TBC.