Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Sebuah berita yang mengejutkan!


__ADS_3

POV: Author


PRANG!


Seas terdiam menatap layar saat Remi melepaskan diri dari jaring Ned dan menghancurkan kristalnya dengan palu.


"Sepertinya Remi sudah mempersiapkan penawar racun dari jaring Ned, karena itu dia berpura-pura terkena racun lalu bisa mengambil celah," ucap Sky yang duduk di lantai sambil menatap layar lebar. Seas melirik ke arah Sky sejenak, lalu kembali menatap layar.


Dia melihat ke arah Ned yang diangkut oleh beberapa orang lain berseragam hitam yang sepertinya tim medis dari Underworld School.


Plok!


"Baiklah! Giliran pertama dimenangkan oleh Ruo, Cedrik, dan Remi." Agen C menepuk kedua tangannya dan ganti melihat ke arah peserta yang masih menunggu. Tak lama kemudian, tim Ruo kembali dari pintu yang tadi dia masuki, lalu berbaur lagi dengan peserta yang belum.


Ting! Ting! Ting!


"Hah? Bunyi apa itu?" Seas berkata sambil melihat ke arah luar gedung. Begitu juga dengan para peserta yang lainnya, mereka baru pertama kali mendengar bel yang seperti ini.


"Informasi terbaru, ujian ke 6 dan ujian ke 7 dibatalkan," ucap Agen C sambil melihat ke arah gelang hitam yang bersinar hijau redup di tangannya. Agen C lalu mengangkat kepalanya dan menatap seluruh peserta.


"Semua warga Underworld School, berkumpul di gedung utama."


***


POV: Seas


Aku dan yang lainnya mematuhi perintah C, entah apa yang terjadi hingga ujian ini dibatalkan. Bahkan dulu saat kita dimasuki penyusup saja ujiannya tetap berlanjut, lalu kenapa sekarang dibatalkan?


"Kira-kira apa yang terjadi?" tanyaku sambil menoleh pada Sky. Tapi dia hanya mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepala.


"Sepertinya ... ini ada hubungannya dengan sistem pembunuhan," ucap Valeria dengan ragu. Aku menaikkan sebelah alisku dan menatapnya heran.


"Sistem pembunuhan? Apa itu? Aku baru pertama kali mendengarnya."


"Kau tau bukan kalau ada peringkat yang menentukan kekuatan pembunuh di dunia ini, bahkan yang berada di luar Underworld School, kau pikir siapa yang menilai rank itu?" tanya Valeria padaku. Aku hanya diam tak menjawab, menatapnya degan serius.


"Tidak ada yang melakukannya. Lebih tepatnya, tidak ada yang tau. Sistem rank pembunuh itu sudah ada bahkan sebelum Underworld School terbentuk," ucap Valeria lagi yang membuatku kaget. Sebuah sistem yang sangat tua, yang bahkan tidak diketahui siapa pembuatnya.


Dan siapa yang menjalankannya hingga sekarang.


"Padahal Underworld School sendiri sudah berumur ratusan tahun, namun sistem itu muncul lebih dulu," ucap Sky sambil menganggukkan kepalanya dan berpikir. Aku kembali tenggelam dalam pikiranku.


"Sebaiknya kita lihat saja apa yang terjadi di gedung utama."


***


Tak butuh waktu lama, kami sampai di gedung utama. Gedung ini sudah mulai penuh oleh 1500 pembunuh yang setidaknya mengisi tempat ini. Lalu dari ujung ruangan, Rex muncul dengan jubah coklat hitamnya.

__ADS_1


"Maaf karena aku memanggil kalian semua ke sini bahkan menghentikan ujiannya. Ada sesuatu yang penting, yang harus kalian lihat," ucap Rex sambil menatap tajam ke seluruh orang di sini. Tak lama kemudian, sebuah televisi yang cukup lebar mulai menyala, dan memunculkan ranking 10 besar.


Dan di sana muncul nama-nama asing bagiku.


Memangnya kenapa dengan nama-nama itu?


"TUNGGU! NAMA ITU! CODENAME ITU!" Seseorang mulai berteriak sambil menunjuk satu nama di peringkat 7.


"Ya. Greek Of Death, Codename khusus milik Arma Veldaveol." Rex berbicara dengan nada yang dingin.


DEG!


Apa? Codename milik Arma?


"Arma telah memunculkan jejaknya lagi, sebagai salah satu pembunuh terkuat di dunia." Rex menggertakkan giginya sambil menahan amarah, sorot matanya begitu berapi-api penuh dendam.


"Lalu berita yang kedua, bersama dengan naiknya nama Arma di top rank. Terjadi sebuah tragedi yang mengerikan di banyak negara dan kerajaan," ucap Rex saat tampilan layar berganti dengan kobaran api dan hancurnya bangunan-bangunan.


"Karena Arma dulunya adalah pembunuh didikan Underworld School, maka kita mendapat ancaman. Yaitu kita harus bertanggung jawab atas apa yang Arma perbuat," ucap Rex lagi.


"Tunggu! Semua kejadian ini bersamaan? Bukankah itu artinya ... harusnya Arma bergerak dalam sebuah kelompok?" tanyaku saat menatap banyaknya lokasi kekacauan.


Ada lebih dari 50 kekacauan yang terjadi di banyak negara atau bahkan kerajaan. Bukan hanya di satu benua, tapi ada sekitar 6 benua yang terlibat jadi korban kekacauan ini.


Arma seorang diri tidak akan bisa melakukannya sendiri, meskipun dia adalah top 10.


"Ujian akan dinilai hingga ujian ke 5 saja, aku akan langsung memberikan semua orang di sini misi. Redakan kekacauan ini secepat mungkin dan buru Arma," ucap Rex serius. Aku menggeram kesal dan mengeluarkan daggerku.


"JANGAN MACAM-MACAM. ARMA ITU BURUANKU. KALAU KALIAN BERANI MENYENTUHNYA, AKU TIDAK AKAN TINGGAL DIAM!" Aku berteriak pada Rex dan seluruh orang di sini. Hening, tak ada satupun yang bersuara.


Tak ... tak ... tak ...


Aku menoleh saat mendengar suara langkah kaki yang mendekatiku. "Venom?".


BUAGH!


DUUUAARR!


Tanpa basi-basi Venom langsung meninju perutku hingga aku terpental dan menabrak tembok. Bahkan tembok yang aku hantam sampai hancur.


Sial ... apa-apaan pukulannya? Ini sangat sakit!


"Ukh ..." Aku mencoba berdiri sambil memegang perutku yang sudah membiru. Bukan hanya kulitku, bahkan bajuku sudah setengahnya terkoyak. Aku menatap ke arah Venom yang berjalan ke arahku.


"Apa katamu? Kau tidak akan tinggal diam? Lalu kau mau apa?".


SRAK!

__ADS_1


"AXK!" Venom menarik rambutku dan menatapku mataku dengan tajam. Ini pertama kalinya, aku melihat niat membunuh dari mata merah milik Venom.


"Kau tidak lebih dari sekedar murid di sini. Kau pikir kau bisa menyaingi Arma yang merupakan peringkat matahari?" tanya Venom lagi. Aku hanya bisa merintih sambil terus menatapnya.


"Aku akan jadi kuat!" ucapku balik.


"Kapan?".


Deg.


"1 tahun? 2 tahun? 3 tahun? Kau mau membuat kami menunggu kehancuran?".


BRAK!


"Arghh!" Venom menginjak pahaku dengan hak sepatunya sambil terus menarik rambutku ke atas.


"Yang punya dendam dengan Arma bukan hanya kau. Tapi seluruh Underworld School," ucap Venom lagi.


"Kau bilang tidak akan membiarkan kami? Kau bahkan tidak lebih dari seekor semut yang berjuang mengangkat gula," ucap Venom sambil menekan hak sepatunya lebih kuat. Aku menggertakkan gigiku menahan amarah.


Yang dia katakan benar, tapi aku tidak ingin dendamku ini diambil orang lain.


"Aturan bertahan hidup di Underworld School tidak berubah.


Yang kuatlah yang akan menang.


Dan yang kalah, adalah pecundang."


Bruk!


Venom melepaskan rambutku dan langsung menendangku hingga aku jatuh ke belakang.


"Hei hei hei~ ayolah jangan begitu~ ya? Ya?" X datang dan berdiri di tengah-tengah diriku dan Venom. Aku melihat punggungnya yang ada di depanku.


"Kita yang paling tahu kondisinya bukan?" ucap X dengan nada yang ramah.


"Jangan terlalu memanjakannya X, dia akan jadi anak tidak tahu diri," ucap Venom lalu berbalik badan dan berjalan pergi.


"Hei! Meskipun begitu dia tetaplah seorang remaja! Bukankah wajar jika dia masih bereaksi begini? Dia juga baru di Underworld School beberapa bulan," ucap X yang masih membelaku. Venom berhenti melangkah, lalu dia berbalik dan menatap X lagi.


"Remaja? Mati itu tidak mengenal tua atau muda. Underworld School bukan untuk pangeran yang terobsesi dengan kakaknya," ucap Venom tajam. Setelah itu dia berjalan pergi lagi. Aku menunduk, lalu melihat sepatu X yang kini menghadap ke arahku.


"Hei, apa kau baik-baik saja? Seas?" tanya X dengan raut wajah yang agak khawatir. X hendak menyentuh pundakku, tapi aku segera menepisnya.


"Aku ... akan membuktikannya. Dendam milikku ini, selamanya adalah milikku," ucapku sebelum akhirnya Venom menghilang di tengah kerumunan.


***

__ADS_1


TBC.


__ADS_2