
POV: Sky
Perasaanku rasanya aneh ... setelah bertemu dengan Dira, rasa nyeri ini kembali muncul. Aku tidak menyukainya, tapi aku juga tidak membencinya. Yang aku harapkan sekarang, hanyalah bisa menjauh darinya.
Aku berhenti berlari, menatap tanah berumput yang entah sejak kapan aku pijak. Rupanya, aku sudah berlari cukup jauh. Bahkan mungkin sekarang aku sudah tidak di pusat negara lagi.
"Seas ... Valeria ..." Aku kembali menguatkan tekadku, berlari lurus membelah padang rumput yang amat luas. Aku tau tempat ini, padang rumput sebelum aku sampai ke istana kerajaan.
CRING!
DEG!
Aku berhenti berlari dan langsung melompat berguling ke arah samping.
JREB JREB JREB!
Tiga buah jarum yang bening menancap diantara rerumputan, dan yang jelas ... jarum itu terlihat berbahaya. Aku segera bersiap dalam posisi tempur, aku mengeluarkan dua jarum yang sudah aku lumuri dengan racun pelumpuh. Mataku langsung memicing tajam melihat pria yang berjalan pelan mendekatiku.
"Khekhekhekhe, target kedua ... ditemukan," ucapnya dengan suara yang ... sangat jelek. Rasanya telingaku bisa iritasi jika terus mendengarnya. Pria itu berhenti melangkah saat jarak diantara kita hanya tersisa 10 meter. Dia membuka tudung hitamnya, menunjukkan rambutnya yang pitak dan mata hitamnya yang terlihat seperti mata ikan.
Kosong.
"Biar kutebak khekhekhe! Kau adalah rekan Seas, bukan?" tanya pria itu dengan suara buruknya.
DEG!
Aku tersentak kaget tapi berusaha menutupinya. Tidak bisa kusangkal bahwa perasaan buruk kini menguasai hati dan pikiranku dengan cepat. Kedua rahangku mengeras, aku menatap pria itu dengan tatapan penuh waspada.
"Jangan khawatir, setelah ini aku akan membuatmu menemuinya, di akhirat. KHEKHEKHEKHE!"
DEG DEG!
SYAT!
Aku langsung melemparkan kedua jarum beracun yang aku pegang ke arahnya, setelah itu aku langsung berlari maju di belakang kedua jarum tadi. Pria itu mengeluarkan jarum beningnya lagu dan menangkis jarumku tadi dengan mudah.
TRANG!
Yah tentu saja, toh bukan itu rencana utamaku.
Aku terus berlari ke arahnya, hingga jarak kami sudah sangat dekat. Kini, aku bisa melihat wajahnya yang mengerikan. Aku memutar badanku di udara, mengalihkan tumpuan berat badanku di kaki.
BUGH!
Aku menendang pria itu dari atas dengan cukup kuat, tapi dia bisa menahannya dengan baik.
"Oho? Pertarungan fisik? Kukira kau akan memilih bertarung dengan senjata. Dasar dokter lemah." Pria itu mengeluarkan jarum beningnya di saat salah satu tangannya menahan kakiku di udara.
JREB!
__ADS_1
Dia menusukku tepat di pergelangan kaki. Saat merasakan jarumnya menembus tubuhku, aku menyadari bahwa senjatanya itu adalah senjata unik. Senjata yang membuat musuhnya perlahan mati kehabisan darah karena luka yang tidak bisa ditutup.
"Khekhekhe! Kau lebih lemah dari Seas." Pria itu menjulurkan lidahnya ke arahku, lalu melempar tubuhku hingga aku berguling-guling di padang rumput ini.
Srak srak srak!
Rasa ngilu dan pedih segera merayap ke sekujur kakiku. Perkataanya memang tidak salah, aku lebih lemah daripada Seas ataupun Valeria. Fisikku tidak sekuat Valeria yang bahkan main bisa berdiri setelah dihantam besi. Staminaku tidak sebanyak Seas yang masih bisa bergerak bahkan disaat paru-parunya sudah mau meledak.
Yang kupunya saat ini hanyalah otak yang cerdas.
"Ha ... hahahaha." Aku tertawa pelan sambil berusaha untuk duduk. Rasanya tubuhku sudah seperti mau pecah sekarang, bukan hanya tubuhku, tapi hatiku juga. Aku benar-benar membenci misi kali ini.
BUGH.
Sebuah tendangan mendarat tepat di daguku, membuatku terpental sekali lagi hingga jatuh menuruni bukit. Meskipun begitu, aku harus tetap terjaga, aku tidak boleh pingsan.
Karena ...
Karena aku harus melihat kematian pria itu dengan mata kepalaku sendiri.
"Tck tck tck, kau sangat mengecewakan," ujar pria itu dari atas bukit. Aku yang berada di bawah bukit, jangan bisa melihat bayangannya yang pudar karena sinar rembulan yang tak terang.
Mengecewakan?
Aku tersenyum menanggapi ucapannya.
Yah, karena racunnya sudah berhasil.
"Aktivasi racun. Bloody Blooming."
CRATT!
"AAKHH!"
Setelah aku melihat kepala pitaknya dari dekat, bukan berarti tidak ada luka di sana. Kalau dia bertemu dengan Seas, tidak mungkin dia tidak terluka sedikitpun. Karena itu, yang harus aku lakukan dengan otakku hanya ada satu.
Berpikir.
Aku melihat ke arah pria yang bahkan tidak kuketahui namanya itu, mulai berteriak kesakitan karena banyak bunga yang tumbuh di tubuhnya.
"Memangnya kenapa kalau aku tidak tau kau punya luka atau tidak? Memangnya aku perlu membuatmu terluka lebih dulu?
Kau sudah bertemu Seas, orang yang paling gigih yang pernah aku tau. Tidak mungkin kau bisa ke sini tampa luka sedikitpun di tubuhmu.
Jadi yang kulakukan, hanya menyemprotkan racun itu ke seluruh tubuhmu kan?" Aku tersenyum licik, lalu mencabut jarum yang menusuk pergelangan kakiku dengan cepat. Untung saja dia tidak menyerangku dengan jarum lagi, aku bisa mati kehabisan darah.
"Kau! SIALAN! KAPAN KAU MENYEMPROTKANNYA?!" teriak pria itu yang mulai ditumbuhi lebih banyak bunga penghisap darah.
"Sepatuku itu banyak gunanya," ucapku sambil menunjukkan bagian belakang sepatuku. Selama aku berlari ke arahnya, aku sudah mengoleskan beberapa racun di setiap benda yang aku pakai. Jarum, sepatu, celana, jas laboratorium. Dan kebetulan yang paling pas adalah di sepatu.
__ADS_1
Jadi ketika aku menghantamnya dengan sepatu, getaran yang kuat membuat racunnya terciprat ke sembarang arah. Dia tidak akan sadar karena jumlah racunnya sangat kecil.
"Tapi, racun ini cukup untuk membunuh agen tingkat atas-"
JREB!
CRATT!
"UHUK!" Aku terdiam, merasakan dada kiriku yang mulai ngilu. Perlahan aku melirik ke bawah, melihat dadaku yang tertusuk oleh dua buah jarum.
Sial, ini menggores jantungku!
Aku menatap pria itu lagi, kini dia melihatku dengan seringai.
"Ayo kita lihat, siapa yang lebih dulu mati kehabisan darah."
SRAT!
Sebuah punggung yang cukup lebar tiba-tiba menghalangi pandanganku. Aku tidak tau dia siapa, tapi ... aku tau dia ada di pihakku. Karena sebelum aku pingsan, aku mendengarnya mengatakan sesuatu.
"LINDUNGI TUAN MUDA SKY! BUNUH PENJAHAT YANG SUDAH SEKARAT ITU!"
Ah ... Leonax. Kau menemukanku kali ini.
.
.
.
POV: Seas
"AARRGHHHH! OBAT APA INI SIALAN! AAAAA SAKIT SEKALI! OBAT BUATAN SKY SAJA TIDAK SESAKIT INI! AAAAA!" Iya, itu aku. Aku yang berteriak kesakitan bahkan hingga dipegangi oleh X dan Valeria. Aku tidak tau obat apa yang Nera pakai, tapi setiap kali dia mengobati luka luar dan aku minum obat. Tubuhku rasanya seperti dikuliti hidup-hidup.
Dan bangsatnya lagi, rasa sakit ini akan kurasakan selama satu jam penuh. Ayolah! Ini baru dua hari dan rasanya tenggorokanku sudah seperti disobek karena terlalu banyak berteriak!
"Nah sudah selesai, silahkan kau teriak sepuasmu. Tapi jangan banyak bergerak, teriak saja," ucap Nera dengan senyuman yang tulus. Ya tentu saja aku teriak, SIAPA YANG TIDAK TERIAK KALAU SESAKIT INI WOYY!
"AAARRRGHHHH! AAAARRRGHHHH!"
"Untung saja Nera punya rumah di pinggir pusat kota. Jadi kita tidak menarik perhatian karena teriakan bocah ini," ujar X dengan nafas yang terlihat lega, tapi dia masih memegang kedua tanganku supaya tidak meronta.
"Setuju, Bu Dokter, sepertinya aku butuh obat telinga," ujar Valeria yang memegangi kedua kakiku. Aku tidak peduli, aku hanya akan berteriak selama satu jam penuh!
"AAARRRGHHHH!"
Bayangkan aku harus terus begini selama 4 hari. Oh astaga, bisa tolong di skip saja?
TBC.
__ADS_1