Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Istirahat di pantai!


__ADS_3

POV: Sky


Tanah kelahiranku, ya? Entahlah ... rasanya sangat sakit jika aku harus mengingatnya kembali. Aku tidak masalah dengan tempatnya, tapi aku membenci orang-orang di dalamnya.


Aku benci mata mereka yang melihatku.


Aku benci mulut mereka yang hendak berbicara.


Aku benci alis mereka yang tertekuk saat melihatku.


Aku ... bukannya tidak pernah menduga bahwa akan melaksanakan misi di sana. Hanya saja, tidak secepat ini. Baru 6 tahun yang lalu aku meninggalkan semuanya, mengabdikan diriku sebagai pembunuh tanpa perasaan.


Padahal nyatanya aku hanya berlindung dibalik kata pembunuh saja.


"... Sky!"


Deg!


"Ha, hah? A-ada apa?" tanyaku gelagapan, kulihat Valeria yang memanggilku kini wajahnya bingung. Dia menggerakkan tangan kirinya, menyentuh dahiku dengan telapak tangan.


"Apa kau sakit? Tapi kau tidak demam tuh?" ucapnya sambil membandingkan suhu tubuhku dengan suhunya. Segera setelah itu aku menurunkan tangan Valeria dari dahiku, melihat ke arahnya yang masih terlihat bingung dan khawatir.


"Aku baik-baik saja, mungkin aku harus tidur sebentar," jawabku asal.


SRAK!


"Hah?!" Aku merasakan tubuhku diangkat, kemudian aku dilemparkan ke bangku paling belakang. Saat aku melihat siapa pelakunya, ternyata itu adalah Agen C.


"Istirahatlah di sana, kau punya waktu yang banyak," ucapnya lalu kembali menghadap ke depan. Aku diam, melihat atap mobil hitam di atasku. Ternyata ada bangku ketiga di mobil ini, harusnya aku tidak usah berdempetan di bangku kedua tadi. Bangku belakang ini cukup panjang, jadi ini cukup untukku tidur tanpa menekuk kaki.


Gawat ... jantungku tetap tidak mau tenang.


***


POV: Seas


Tuh kan.


Apa kubilang.


Sky jadi aneh! Anehh! Kenapa dia setakut itu? Ah tidak, dia memang penakut. Tapi maksudku, kenapa dia sangat takut untuk kembali ke tanah kelahirannya?


"... Setiap orang yang datang ke Underworld School, tidak punya masa lalu yang baik, Seas," ucap X yang sedang menyetir. Aku, Valeria dan C langsung melirik ke arahnya.


"Baik itu kau maupun aku, Valeria ataupun Agen C, kita semua tidak punya masa lalu yang baik," ucapnya lagi. Aku melihat mata hitamnya yang masih fokus ke jalanan.

__ADS_1


"... Benar juga sih, mana ada orang yang punya masa lalu normal lalu mau jadi pembunuh?" Valeria berbicara dari bangku belakang X.


"Ada kok, dia memang psikopat," ucap C yang menyahut.


"Tunggu, lalu jika memang masa lalu Sky buruk, kenapa dia diberi misi ini? Bukankah lebih baik mengirim orang lain?" tanyaku lagi pada X. Dia masih diam, tak menjawab untuk beberapa menit.


"... Aku tidak tau tujuan Rex. Aku juga tidak paham. Apa kau tau sesuatu? C?" Agen X mengalihkan pertanyaanku pada C. Agen itu melihatku dari spion, begitupun denganku yang melihatnya.


"Kau akan mengetahui hasilnya nanti, masalah ini biarlah Sky sendiri yang mengurusnya," ucap C seraya menutup matanya.


"Tapi bukankah ... ini bisa mempengaruhi misi?" tanya Valeria.


"Hehehe! Kau pikir kenapa Agen C ikut? Selain berperan sebagai penanggungjawab, dia juga berperan sebagai pengganti Sky jika anak itu sedang sibuk nanti," jawab agen X dengan wajah yang senang. Aku langsung menghela nafas lega, jadi Rex sudah memperkirakan semuanya. Kalau begitu, aku juga hanya bisa mengikutinya, tapi jika Sky butuh bantuan, dengan senang hati aku akan mengotori tanganku untuknya.


.


.


.


Perjalanan sudah berlangsung selama 16 jam lebih, terhitung kami sudah keluar dari Underworld School sekitar 14 jam yang lalu. Jadi sekarang kita sudah ada di wilayah para manusia normal hidup.


"Hm~ apakah kita harus beristirahat? Kalian kelihatannya lelah!" X berbicara dengan riang. Sedangkan aku dan Valeria sudah seperti nasi yang difermentasi. AKU SUDAH BOSAN SETENGAH MATI DUDUK DI SINI!!


"Iya ... tolong ayo istirahat, rasanya jiwaku akan berubah jadi kursi," ucap Valeria sambil mencengkram kursi X yang ada di depannya. Mendengar ucapan Valeria, X tertawa renyah. Kemudian dia berkata, "Baiklah baiklah! Aku ingat di sekitar sini ada wisata pantai! Kalian mau ke sana?" tanya X.


"Ada kok! Kita kan orang bodohnya!" ucap Valeria semangat. Aku tau sebenarnya dia tidak berniat bilang begitu, pasti dia sudah tidak tahan ingin berdiri.


Serius, sepertinya lebih baik kita berpergian dengan mobil tanpa atap. Atap ini sangat menyiksaku.


"Pffftt! Hahahaha! Baiklah! Sudah diputuskan! Ayo kita menyusup ke pantai!"


Kalian tau? Rasanya aku benar-benar jadi seperti orang bodoh. Mau ke pantai saja aku harus menyusup.


.


.


.


"Wah! Ternyata benar-benar sudah tutup ya? Enak sekali di sini hanya ada kita!" Valeria berseru senang, menikmati angin laut malam yang kencang.


"... Sepertinya ... mereka benar-benar bodoh," ucap Sky sambil meringkuk di bawah pohon denganku.


Tidak Sky, bukan hanya mereka yang bodoh. Kita juga bodoh, kenapa kita ikut mereka?

__ADS_1


"Seas! Sky! Kemarilah! Sayang sekali jika kalian tidak menikmati pantainya!" Dari tepi laut yang mulai pasang, X berteriak pada kami. Aku mengerutkan keningku seraya melihatnya.


Apanya yang dinikmati? Di sini sangat gelap! Tidak ada yang bisa dipandang!


"Ayo Sky! Seaass!" Dari sisi X, Valeria ikut-ikutan berteriak. Aku melirik ke arah Sky yang tampaknya mulai berdiri. "Apa kau akan ikut?" tanyaku. Dia mengangguk. Terpaksa aku juga ikut berdiri.


Aku melepaskan sepatuku, membiarkan bagian bawah celana serta telapak kakiku basah oleh air asin yang dingin. Laut yang sangat hitam, mungkin karena gelap, jadi aku tidak bisa melihat dengan benar.


"Seas, jangan terlalu ke tengah! Kau bisa terseret arus!" peringat X yang mendampingi Seas dan Sky yang membuat istana pasir. Yah, karena aku berjalan sendirian ke tengah, membiarkan air laut ini membasahi kaki hingga lututku.


Yah, rasanya tidak terlalu buruk kok.


Tuk.


Eng?


Aku menoleh ke arah kakiku yang rasanya tersentuh sesuatu. Jangan-jangan binatang beracun?! Aku melihatnya dengan saksama, karena gelap, aku memberanikan diri mengangkat benda itu.


"..."


Aku terdiam, melihat potongan tangan manusia yang terbawa arus. Setelah itu aku kembali melihat ke depan, mataku memicing tajam, mencoba mengamati lebih baik lagi. Jika dilihat seperti ini, ternyata memang ada lebih banyak lagi potongan tubuhnya. Bukan hanya tangan, bagian lainnya juga ada.


"... X, kenapa kau selalu mengantarkan kita ke objek wisata yang aneh sih?" tanyaku sambil membalikkan badan, berjalan ke arahnya. X mendengar perkataanku, kini melihatku dengan tatapan bingung.


"Maksudmu?" tanya X. Aku mengangkat potongan tangan yang kutemukan. Valeria dan Sky langsung berhenti bermain, muka mereka menatapku dengan pucat.


"Tangan siapa yang kau potong?" tanya Sky panik.


"Aku menemukannya bodoh!" ucapku sambil melempar potongan tangan itu ke arah Sky. Spontan dia langsung berdiri, menghindari benda itu supaya tidak jatuh ke arahnya.


"Ini yang ketiga kalinya, X. Pertama! Dulu kau membawa kami ke mall yang ada terorisnya! Kedua! Kau membawa kami ke desa tempat para manusia kanibal!


Sekarang?! Kau membawa kami ke laut pembuangan jasad mutilasi?!" ujarku yang disambut gelak tawa oleh X. Dia tertawa lepas hingga bisa kulihat dia mengusap matanya beberapa kali.


"Aku juga tidak tau bahwa jadinya akan begini hahaha! Mungkin mobilku punya radar yang mendeteksi hal-hal buruk?" ucap X dengan nada bercanda.


"Gila ... bukankah sebaiknya kita tidak perlu mengurus hal ini? Maksudku, ini bukan urusan yang harus kita pertanggungjawabkan. Lagipula kita juga sama-sama pembunuh, hanya saja aku tidak punya hobi memutilasi," ucap Sky yang kudukung dengan anggukan kepala. Aku berjalan mendekati pesisir, lalu ke arah sepatu yang kutinggalkan di bawah pohon.


"Benar kata Sky, ini bukan urusan kita. Kenapa kita harus repot-repot?" ucapku sambil memakai sepatu. Valeria membasuh tangannya yang berlumpur di laut, setelah itu dia menoleh ke arah kami.


"... Memangnya, darimana asal potongan itu? Bukankah tadi berasal dari tengah laut?" tanya Valeria. Aku dan Sky diam, kami tidak tau. Melihat X yang tidak berkata apapun, sepertinya dia juga tidak tau.


"Ada sesuatu di tengah laut.


Pertambangan minyak." Agen C muncul, turun dari atas pohon.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2