
POV: Seas
SRAK!
"APA KAU BILANG?! MEREKA HANYA MAJU BERDUA SAJA?!" Aku menarik kerah baju Cedrik, dan berteriak padanya. Dia menutup mata, lalu menganggukkan kepala.
Tidak boleh! Aku harus membantu mereka!
Srkk!
Bruk!
Aku mencoba berdiri, lagi dan lagi. Tapi hal itu sia-sia, kakiku tidak punya tenaga bahkan hanya untuk berdiri saja.
Greb!
"Kau mau berdiri bukan? Aku akan membantumu." Ruo memegang lengan kananku, dan mulai memapahku secara perlahan.
Greb!
"Aku juga akan membantumu, apa kau punya rencana?" Remi memegang lengan kiriku, membantuku untuk berdiri. Aku menggelengkan kepala pasrah, dengan kondisi kaki seperti ini, aku hanya akan menjadi beban untuk mereka saja.
[Apa kau butuh bantuan? Kondisi tubuhmu sangat mengerikan sekarang.]
Tunggu, suara ini ... LUMIUS?! KAU BERBICARA LAGI DENGANKU?!
[Ya, kurang dari setengah jam kau akan mati. Karena itu aku bicara padamu sekarang.]
Tunggu?! Setengah jam?! Sesingkat itu?! Tapi aku masih bisa bernafas dengan baik kok?!
[Karena racun ini adalah tipe racun yang baru bereaksi setelah sampai di semua titik. Jika kau berdiri, itu akan mempercepat penyebaran racunnya bodoh!]
Lalu ... apa yang harus kulakukan?
[Apakah aku pernah bilang padamu, bahwa ada sisi gelap yang berasal dari darahmu?]
Sisi gelap?
"Seas!"
Deg!
"A-ada apa?" Aku merasa jantungku hendak melompat dari tempatnya. Karena terlalu fokus berbicara dengan Lumius, aku jadi tidak memperhatikan sekitarku. Aku menatap Ruo yang wajahnya menjadi semakin khawatir.
"Kenapa?! Apa ada yang sakit?! Atau kau merasa seperti ada sesuatu yang aneh?!" tanya Ruo bertubi-tubi. Aku menggelengkan kepala dengan cepat, sambil tersenyum kikuk.
Ah ... benar juga. Kita masih bisa menggunakan rencana itu.
"Hei ... apakah kalian tidak keberatan mendengarkan rencanaku?" tanyaku pada tim Ruo.
***
POV: Author
BUAGH!
BLARR!
DUUUAAARR!
Pertarungan sengit yang terjadi hampir lebih dari 1 jam ini, memporak-porandakan seluruh arena gladiator. Api yang berkobar di seluruh tempat, puing-puing bangunan yang hancur berserakan. Di tengah pemandangan itu, ada 3 orang yang tengah saling memandang.
__ADS_1
Sky yang terluka di kepalanya, dan Valeria yang terluka di pergelangan tangan serta mata kirinya.
Dan ada satu orang pria ... yang terlihat segar bugar tanpa cedera sedikitpun.
Mustahil! Aku ... yakin bahwa aku dan Valeria cukup kuat! Tapi kenapa orang ini tidak terluka sedikitpun?! Apakah dia selevel dengan para agen tingkat atas? Sepertinya dia malah lebih hebat.
Apakah dia sudah masuk di ranking 1000 bintang?,-batin Sky.
Anak berambut kuning itu sesekali melirik ke arah Valeria, dia tau, mata kiri Valeria yang terluka, akan membuat Valeria kesulitan untuk membidik.
Karena senjata utama dari sebuah tembakan adalah mata.
Terlebih, mata kiri adalah organ penting yang digunakan dalam memfokuskan target. Karena dibanding mata kanan, mata kiri mempunyai otot yang lebih mudah dan cepat untuk difokuskan.
Pertarungan ini tidak bagus jika dilanjutkan. Sky tidak pernah bertarung jangka panjang, dan dia juga kehilangan terlalu banyak darah. Tapi ... jika kami mundur, maka Seas yang akan mati.
Kami harus mendapatkan penawarnya bagaimanapun caranya!,-batin Valeria.
Anak perempuan berambut coklat gelombang itu menatap ke arah Sky, mata kanannya terus melihat darah yang menetes dari dagu Sky.
"Ay ay ay ay~ apa kalian menyerah? Sisa waktu teman kalian hanya setengah jam loh?~ Apa kalian sudah lelah?" Pria itu bertanya tanpa melepaskan tudung di kepalanya, bahkan selama bertarung, baik Sky maupun Valeria, tidak ada yang mengetahui wajah di dalamnya.
Satu-satunya yang mereka tau, adalah pria itu memiliki mata kanan yang berwarna ungu, dan mata kiri yang berwarna biru.
Mata ungu pria itu mirip seperti milik Seas.
Warna ungu yang begitu jernih hingga terasa menakutkan.
"Ini ... hah hah, tidak masuk akal. Dia bahkan melawan kita hanya menggunakan tangan kosong, tapi ... kenapa kita yang malah terluka parah?" tanya Sky sambil tersenyum pasrah. Sky mengusap darah yang mengalir di pelipisnya, lalu membuang darah yang berada di rongga hidungnya.
"Mungkin dia memang berada di peringkat 1000 bintang, mungkin bahkan ... lebih kuat dari Siol," ucap Valeria sambil mengangkat bazokanya.
Sniper dan bazoka tidak akan berguna di saat mataku terluka. Ini akan jadi sia-sia jika aku menembak tapi tidak kena.
"Belmere, wujud ke 3. Shotgun."
BZZZZTTT!
CKLAK!
Bazoka yang besar itu berubah menjadi shotgun dengan 7 lubang peluru. Valeria menghirup nafas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan cepat.
"Ayo mulai, SKY!"
DASH!
WHUSS!
Valeria dan Sky langsung maju ke arah pria itu, Sky menaruh kepala schytenya di belakang, bersiap untuk mengayunkannya jika kepala pria itu sudah masuk ke dalam jangkauan.
Klik.
DOR!
Valeria menembakkan shotgunnya dari jarak 10 meter di depan pria itu, sedangkan Sky masih terus maju.
Pria itu tersenyum lagi saat melihat kedua remaja di depannya mulai berusaha untuk bertarung dengan semangat.
"Bagus~ bagus~."
Bahkan pria itu bisa bertepuk tangan saat peluru Valeria sudah ada di depan wajahnya. Sky juga sudah bersiap untuk mengayunkan schytenya.
__ADS_1
"Menyerah? Apa itu kosakata baru?" tanya Sky sambil tersenyum miring.
WHUNGG!
Sky langsung mengayunkan schyte panjangnya tanpa ragu, sisi tajam dari schyte Sky hendak mengenai wajah pria itu.
"Ckckck~."
TANGG!
Apa?,-batin Sky.
Schyte Sky terpental mundur bersamaan dengan Sky. Dan yang membuat Sky lebih terkejut adalah, pria itu hanya menangkis senjata Sky dengan cincin di jari manisnya.
"Kalian mencoba dengan baik~ ayo sekali lagi~," ucap pria itu sambil tertawa kecil.
Grrt!
Sky mengeraskan rahangnya menahan amarah, andai saja dia membawa peralatan obatnya, dia yakin bisa melukai pria ini.
Whus.
"Hm? Sejak kapan ... kau ada di belakang?" Pria itu langsung terdiam saat merasakan keberadaan Valeria di belakangnya.
Itu benar, Valeria kini mengacungkan ujung shotgunnya ke arah tengkuk di pria.
Baru saja Valeria hendak menarik pelatuknya, tapi pria di depannya itu tiba-tiba menghilang.
"Hmmm, teknik menghilangkan hawa keberadaan ya? Aku juga bisa kok~."
DEG!
"SIAL!" Valeria langsung merinding saat merasakan cengkraman di leher belakangnya.
GREP!
"AKH!" Leher Valeria langsung ditahan dari belakang oleh pria itu, Valeria yang merasa kesakitan, tidak bisa memberi perlawanan.
WHUNG!
BUAGH!
KRAK!
Pria itu mengayunkan lututnya ke arah pinggang Valeria, hingga menimbulkan bunyi yang luar biasa kerasnya. Sky yakin ... bahwa tulang punggung Valeria pasti patah sekarang.
"VALERIA!" Sky mencoba untuk berdiri sambil membawa schytenya, tanpa aba-aba dia langsung berlari menerjang ke arah pria itu dengan kemarahan.
Whus whus NGING!
Sky mengayunkan schytenya ke atas dan bawah sambil berlari, bersiap untuk membelah pria di depannya menjadi dua bagian.
"Kalian masih terlalu lambat untukku."
BUAGHH!
KREK.
Kali ini, pria itu menyikut leher Sky dengan siku kanannya. Sky yang tidak bisa bersuara, bisa tahu bahwa tulang lehernya pasti retak sekarang.
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya guys! Biar aku makin semangat nulisnya:3