
"... Kau!"
POV: Author
Seas terdiam, matanya melotot tak percaya. Di depan reruntuhan bangunan dan rumah-rumah kosong di Underworld School, pria itu berdiri di sana, seolah lukanya bukanlah sesuatu yang fatal.
Dia adalah Cassio.
"Sayang sekali, padahal kukira aku bisa memanfaatkannya sampai akhir," ucapnya sambil merenggangkan tubuh, melemaskan ototnya. Luka yang Seas buat kini perlahan sembuh. Padahal luka itu cukup dalam, tapi itu bisa langsung sembuh? Apakah dia pengguna obat dan racun? batin Seas menerka.
Cassio yang selesai melakukan peregangan otot, kini menatap Seas. "Kau benar-benar hebat ya, aku tidak menyangka bahwa kau bisa mengalahkan Van. Yah, ini salahku karena tidak melakukan antisipasi, padahal kau adalah adik dari Arma," ucapnya lagi yang membuat Seas semakin bingung. Pria bertubuh besar itu melompat, dia mendarat di depan Seas dengan jarak 3 meter.
"Kau terlihat cukup tampan memang." Cassio melangkah mendekat, tubuhnya seolah mengecil setiap kali dia melangkahkan kakinya. Hingga saat sampai tepat di depan Seas, tubuh Cassio kini seukuran dengannya. Wujud yang Cassio gunakan saat ini sangat berbeda dengan wujud yang sebelumnya.
Badan ramping namun berotot, tubuh yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu besar. Rambut perak yang cukup panjang hingga melebihi dahi, serta mata merah muda yang terlihat dingin.
"... Sebenarnya siapa kau?" tanya Seas seraya mengernyitkan keningnya. Cassio terkekeh pelan, gigi taringnya sedikit mencuat dari tepi bibirnya.
"... Apa pentingnya itu, hari ini tujuanku adalah membunuhmu."
WUSSHHH!
"Hah?"
BUGH!
Seas terbanting secara sepihak, kepalanya mendarat duluan di tanah. Bisa dia rasakan lehernya yang sedikit terkilir. "Akh," rintih Seas pelan. Cassio masih mencengkram baju Seas, dia hendak membanting Seas sekali lagi. Namun Seas yang sadar dengan rencana pria itu, segera Seas menahan tangannya.
Dengan satu gerakan, tangan Cassio yang hendak membanting Seas, kini berubah menjadi Seas yang memelintir tangan Cassio. "Serangan kejutan yang bagus, tapi aku juga tidak berniat untuk mati hari ini. Tidak sebelum aku membunuh kakakku!"
WHUNG!
BUAGH!
Seas ganti membanting Cassio, membuat anak jatuh persis seperti Seas sebelumnya. Dengan posisi kepala yang masih tertempel di tanah, Cassio tertawa. "Kau benar-benar sesuatu, tapi justru karena itu kau harus mati. Keluarga Veldaveol dari dulu sangat merepotkan."
Greb!
Kedua kaki Cassio mencekik leher Seas dengan lututnya. Seas langsung menahan napasnya, dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak banyak bergerak supaya tidak kekurangan oksigen. Dia hendak mencekikku? Tapi bodohnya dia menggunakan kaki, perutnya terbuka lebar. Seas melepaskan cengkramannya di tangan Cassio, hal selanjutnya yang dia lakukan adalah menekuk tubuh Cassio dengan sangat keras.
"Heh! Jika ... kau tidak melepaskan ini! Aku akan ... patahkan tulang punggungmu!" ancam Seas. Raut wajah Cassio terlihat sedikit kesakitan, sesaat kemudian dia melonggarkan cekikan kakinya, lalu menendang perut Seas agar bocah itu menjauh darinya. Seas terdorong mundur, nafasnya terengah-engah dengan leher yang terlihat sedikit memerah.
"Ha ... HAHAHAHAHAHAHA! INI MENYENANGKAN! SEAS! AYO KITA LIHAT LAGI! SIAPA YANG AKAN MATI!"
__ADS_1
Sring.
Cassio mengeluarkan dua buah celurit yang ternyata dia simpang di punggungnya. Celurit merah yang tajam. Detik itu, aura di sekitar mereka langsung berubah. Seas merasakan perasaan menekan yang kuat. Ini sama seperti saat dia menghadapi agen kelas atas.
Kalau memang benar bahwa dia setingkat dengan para agen tingkat atas, maka aku tidak punya kemungkinan untuk menang. Sial! Aku juga kehilangan lokasi Valeria serta Sky! Kemana tubuh mereka berdua?! batin Seas agak panik. Sebulir keringat mulai tampak menetes di pelipisnya, mata ungunya menyorot tajam pada Cassio.
"[Teknik mata putih: nomor 3, ahli prediksi.]"
Syush.
Seas merasakan bulu kuduknya meremang, hawa dingin seolah kini dia tidak memakai sehelai pakaian. Seas sadar, di depan teknik mata putih milik Cassio, semua pergerakannya akan terlihat. Kakinya terasa begitu berat untuk melangkah, kedua tangannya begitu lelah untuk mengangkat dagger.
Sadarlah! Seas! Sekarang bukan waktunya kau melemah! Tetap ulur waktu! Tunggu sampai para agen tingkat atas datang! batin Seas berusaha menyemangati dirinya sendiri.
"Ayo kita mulai~ wahai rubah putih."
SRAAAT!
Cassio langsung menerjang maju. Seas memasang posisi bertahan, matanya berusaha untuk tetap fokus saat ini. "Hmm~" Cassio mengarahkan kedua sabitnya ke belakang tubuh, membuat Seas tidak bisa melihat sabit mana yang akan dia pakai. Aku hanya bisa mengandalkan refleks! Ayo Seas! Tetap fokuslah! Mata Seas tak berkedip sedetikpun.
Cassio datang, dia menggerakkan tangan kirinya, bersiap untuk menebas perut bagian kanan Seas. Karena melihat gerakannya, Seas secara spontan langsung mengarahkan kedua daggernya untuk menghalangi arah tebasan Cassio.
Sayangnya hal itu terbaca oleh Cassio.
SRASSSHH!
CRAATT!
Seas tak bisa mengelak dari tebasan tangan kanan Cassio. Dia yang terlalu kelabakan oleh tangan kiri Cassio, jadi terlalu mengabaikan tangan kanannya. Hal ini berujung pada perut Seas yang kini tersayat dalam di sebelah kiri.
"UAKH!" Seas melangkahkan kakinya mundur, tanpa sadar Seas melepaskan kedua dagger di tangannya, dia lebih mengutamakan agar isi perutnya tidak keluar. Bangs*t! Aku lengah! Seas menggertakkan giginya pelan, dengan kondisi perut yang seperti ini, sudah mustahil bagi Seas untuk bertarung.
Apa kau butuh bantuan? Aku bisa memberimu kekuatan.
Tiba-tiba sebuah suara mulai muncul di kepala Seas. Suara yang terdengar dingin dan persuasif, suara yang dia kenali di dalam mimpi.
Perwujudan dari kutukan darah Veldaveol.
"... Aku tidak butuh bantuanmu!" ucap Seas sendirian. Cassio yang melihat Seas bicara sendiri, justru malah tersenyum lebar. "Apa apa ini?~ apa kau mulai gila karena hendak mati?~" tanya Cassio. Dia berjalan mendekati Seas.
Seas melihat hal itu, tapi tubuhnya sudah sulit digerakkan. Aku tidak mau mati di sini! Sialan! Seas terus mengumpat dalam hatinya. Matanya tidak berhenti menatap sosok Cassio dengan tajam.
Di depannya, Cassio berdiri. Dia menarik rambut putih Seas dan menatap mata bocah itu. "Sayang sekali~ tapi hanya sampai di sini saja perjalananmu, Seas. Selamat tinggal!" Cassio mengangkat sabitnya tinggi-tinggi. Dia hendak mengayunkan sabit itu.
__ADS_1
Dor!
TRANGG!
Pruk!
Sabit yang dia angkat ke udara terhempas dari tangannya. Dia langsung terdiam, matanya menoleh ke sumber tembakan. "Siapa kau! Berani-beraninya menggangguku!" teriak Cassio.
Di sana, berdiri seorang wanita dengan wajah yang setengah hancur berlumuran darah. Rambut merahnya masih dikuncir. Dia adalah Valeria.
"Wah wah~ kau ingin membunuh Seas, ya? Hmm sayang sekali~ aku tidak berniat membiarkan rekanku mati, tuh? Iya kan, Sky?" ucap Valeria dengan senyuman yang mengerikan.
"Benar, aku juga tidak berniat membiarkan Seas mati. Jadi, kau saja yang mati, ya?" Dari belakang tubuh Cassio, Sky muncul dengan jarum tajam yang terselip di setiap celah jarinya. Jarum-jarum itu diarahkan ke leher Cassio.
"... Kalian masih hidup? Haaahhh, memang harusnya aku membunuh kalian tadi. Dasar kecoa pengganggu."
TRANGG!
Cassio menyerang Sky yang ada di belakangnya. Dengan sigap Sky langsung menahan serangan sabit itu dengan jarum-jarumnya.
Dor!
TRANG!
Dari kejauhan, Valeria masih bisa menembakkan pelurunya, menganggu konsentrasi Cassio dan membantu Sky.
Aku sudah tidak bisa menggunakan teknik mata-mata! Seluruh tubuhku terlalu sakit! Ah anjing! Kapan para agen kelas atas akan datang membantu?! batin Valeria.
Gawat, seluruh tubuhku masih panas dan perih. Setiap kali aku bergerak dan menahan serangannya, rasanya tubuhku seperti hendak hancur. Para agen tingkat atas, kumohon segeralah datang! batin Sky yang juga tersiksa akan lukanya.
"Kalian akan benar-benar mati sekarang!" Cassio menyerang Sky bertubi-tubi hingga remaja berambut kuning itu mulai kehilangan jarumnya. Saat seluruh jarum Sky sudah jatuh, Cassio hendak melancarkan serangan terakhir.
Dor!
TRANG!
Valeria kembali menembak, perempuan itu masih gigih berdiri di medan perang ini. Cassio tersenyum setelah menangkis peluru Valeria, sabitnya yang tinggal satu, langsung dia lemparkan ke arah wanita itu.
Sky kaget, dia panik karena dia tahu bahwa kondisi Valeria tidak memungkinkan untuk menghindar. "VAL!"
CRAAT!
TBC.
__ADS_1