Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Sky si Siput (7)


__ADS_3

POV: Sky


...


Kapan?


Kapan aku mati?


Tolong, kumohon. Tuhan, iblis, malaikat, siapapun.


Cabut saja nyawaku. Aku sudah tidak tahan, tubuhku rasanya semakin sakit dari waktu ke waktu. Aku bahkan tidak tahu berapa ratus hari yang sudah terlewati di sini.


"Hei, anak kecil ... apa kau pingsan?"


Siapa?


Aku melihat sekelilingku, namun tidak ada siapapun.


"Bertahanlah sebentar lagi."


Sampai kapan? Memangnya kau itu siapa?


"... Kau tidak bisa melihat kami ya? Tidak apa-apa, kami selalu di sini menemanimu sejak kau datang."


'Kami'? Kau lebih dari satu? Siapa?


"BUNUH! BUNUH PRIA ITU! DIA SUDAH MEMBUNUHKU DAN PUTRAKU!"


Suara yang berbeda? Siapa? Siapa lagi?


Bisakah kau mencabut nyawaku?


"KAU TIDAK BOLEH MATI! KAU HARUS MEMBALASKAN DENDAM KAMI! BUNUH PRIA ITU!"


Suara-suara itu mulai menyerang telingaku. Mereka berteriak tanpa henti, meminta supaya aku membunuh pria yang menyiksaku ratusan hari ini. Tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun, dengan tangan yang terikat begini, memangnya apa yang bisa terjadi?


"... Aku ... tidak bisa bergerak," gumamku pelan, berusaha menjawab suara-suara itu. Seketika suara itu menjadi hening, ruangan di pabrik terbengkalai ini kembali sepi.


Hingga terdengar suara benda yang terjatuh.


BRAK!


Itu adalah pipa besi. Pipa besi itu jatuh di depan pintu.


Klang!


Rantai yang mengikat salah satu tanganku terlepas. Aku sedikit kaget, lalu melihat sekeliling lagi. "Kalian yang ... melakukannya?" ucapku lirih.


"Kami akan melepaskanmu dengan kekuatan kami yang tersisa. Berjanjilah bahwa kau akan membunuh pria itu!"


Suara itu terdengar seperti kemarahan puluhan orang. Sepertinya aku bisa menerka suara siapa itu. Ini terdengar, seperti suara para korban percobaan yang mati sebelum diriku.


KLANG!


Rantai yang mengikat tanganku yang tersisa kini terlepas.


KLANG!


Setelah itu kedua kakiku juga sudah bebas. Aku menatap kedua tanganku yang memiliki bekas merah kehitaman di pergelangannya, bahkan warna kulitku juga sudah menjadi sangat putih karena lama tidak terkena sinar matahari. Aku mencoba untuk melangkahkan kakiku, tapi rasanya cukup sulit.

__ADS_1


Mungkin karena aku sudah lama juga tidak menggunakan otot tubuhku. Aku tetap berjalan ke sembarang arah, berusaha membiasakan diri lagi saat berjalan. Hingga aku akhirnya berhenti di depan sebuah genangan air yang cukup jernih. Aku mengintip ke dalam genangan tersebut, dan melihat penampilanku saat ini.


Rambut yang sudah menutupi mataku, mulai berubah warna menjadi kuning mulai dari pangkal rambutnya.


"Woah ... ke-keren. Jadi seperti aku mewarnainya secara alami," ucapku senang sambil melihat rambutku lebih lama lagi. Tapi kegiatanku terhenti karena mendengar suara pintu yang dipaksa untuk terbuka.


BRAK BRAK!


"SIALAN! KENAPA TIDAK BISA DIBUKA?!"


Ah ... suara ini ... pria itu sudah datang ya?


Aku melihat pintu itu berusaha dibuka, tapi tampaknya mustahil karena pipa besi raksasa itu menghalangi pintunya. Aku berjalan ke arah meja yang di atasnya terdapat banyak bahan kimia, yang tentunya dia masukkan ke dalam tubuhku setiap hari.


Eh?


Aku terdiam sejenak, aku terkejut dengan pemandangan yang aku lihat.


Bahan-bahan kimia itu, seperti susunan puzzle di dalam otakku. Mereka rumit, tapi tidak serumit yang dibayangkan. Aku bahkan bisa mengetahui fungsi bahan kimia itu hanya dengan melihatnya.


Luar biasa ... kemampuan apa ini?


Aku mulai mendekati bahan kimia itu dan mulai memeriksanya satu persatu.


"Ini untuk merusak sel tubuh, dan yang ini untuk mempercepat regenerasi sel." Aku melihat beberapa serum yang tampaknya hampir jadi. Aku diam sejenak, memikirkan apa yang harus aku lakukan.


Rasa sakit yang kuterima selama ini ...


Tidak akan bisa hilang jika langsung membunuhnya begitu saja.


Aku mulai membuat beberapa ramuan lagi dengan versiku sendiri. Karena kemampuan mataku, aku bisa menciptakan ramuan yang aku mau dengan mudah, dan mengidentifikasi struktur kimianya supaya lebih mudah aku rombak.


Pintu besi itu diledakkan hingga asap hitam mengepul masuk. Di dalam kepulan asap itu, aku bisa melihat bayangan pria itu.


"BUNUH DIA!"


"BUNUH! BUNUHH!"


"BALASKAN DENDAM KAMI!"


Aku mendengarnya, dasar kalian cerewet.


Aku mengambil satu ramuan berwarna abu-abu yang baru saja jadi, lalu aku lemparkan ke tengah kepulan asap itu.


DUARR! WHUSSHH!


Itu adalah bom angin kimia. Bom itu meledak dan menciptakan arus angin yang kuat sehingga mengusir semua kepulan asap tadi. Pria keji itu kembali terlihat, dia tampak terkejut karena melihatku terlepas.


Aku tersenyum tipis untuk menyambutnya. "Selamat datang, paman."


Pria itu melotot. "KENAPA KAU BISA LEPAS?! SINI KAU!" Dengan tergesa-gesa, dia berlari kecil ke arahku.


Ahhh ... lucunya. Dia pikir aku akan menurutinya?


Whung.


Prang.


Aku melemparkan sebuah botol kaca yang cukup besar dengan ramuan berwarna biru muda di dalamnya. Botol itu pecah di depan pria itu sehingga cairannya muncrat kemana-mana.

__ADS_1


"Apa ini?!" Pria itu tampak kaget dan berusaha membersihkan cairan yang menempel di bajunya. Aku ersenyum lebar.


"Lebih baik jangan disentuh loh, cairan itu akan aktif dalam 5 detik setelah terkena oksigen," ujarku dengan senyumannya yang polos. Pria yang tengah sibuk membersihkan bajunya itu langsung terdiam, dia menatapku dengan pandangan ketakutan.


Gawat, wajahnya sangat menarik untuk dinikmati.


"C-cairan apa ini?"


CRAANGG!


"AARGHHH!" Cairan itu mulai aktif dan langsung berubah menjadi bunga-bunga es yang tajam. Tentu saja es itu tidak menembus tubuh pria tadi dan hanya mengurung pria itu di dalam lingkaran es.


Tapi, dari sinilah siksaan pria itu dimulai.


"A-apa apaan es ini?! Kau mendapatkan cairan ini dari siapa?!" tanya pria itu dari dalam lingkaran es. Aku mengendikkan bahu, lalu lanjut memilih ramuan.


"Aku membuatnya sendiri. Serum pendingin tubuh ditambah dengan ekstrim hydrocalculate kemudian dicampur dengan reaksi air.


Maka akan muncul bunga es yang indah dan setajam pisau," ucapku sambil meliriknya dan tersenyum miring.


"Nah selanjutnya, bagaimana jika dengan ramuan ini?" Aku mengambil salah satu ramuan yang berwarna putih silver dan langsung aku lemparkan ke dalam lingkaran es.


PRANG!


"Aahh! Apa ini?!" Pria itu sedikit merunduk saat merasakan cairan itu mulai mengenai tubuhnya. Aku tersenyum lalu menatapnya penuh antusias.


"Itu cairan mempercepat penuaan."


"A-apa?"


Perlahan-lahan pria itu mulai meringkuk. Kulitnya menjadi keriput hingga seperti kulit buaya. Rambutnya mulai berubah menjadi putih dan banyak yang rontok.


"Ti-tidakk!" ucapnya shock sambil melihat tubuhnya yang perlahan menjadi kakek-kakek.


"HAHAHAHAHAHAHA!" Aku tertawa keras, dia segera memilih ramuan yang berwarna hijau lalu melemparkannya ke dalam lingkaran es.


PRANG!


Itu adalah ramuan penyembuhan yang bisa membuatnya kembali ke kondisi normal.


Pria itu perlahan terlihat mulai kembali ke bentuk tubuhnya yang semula, kecuali beberapa rambutnya yang pitak karena kebotakan saat menjadi tua tadi. Aku tersenyum puas, lalu lanjut memilih ramuan yang berwarna merah.


Whung!


PRANG!


"Ramuan apa lagi ini?!"


Pria itu heran dengan warna darah yang mulai mengotori tubuhnya. Aku berhenti tersenyum dan mulai menatapnya serius. Tanganku mengambil palu yang cukup besar lalu berjalan mendekatinya.


"Itu ramuan untuk membakar sampah."


BLAARR!


"AARRRGHHH! PADAMKAN! PADAMKAN APINYAA!" Pria itu kelabakan di dalam lingkaran es. Dia menggulingkan dirinya ke sana kemari, tapi apinya tidak akan padam kecuali ramuannya habis. Yang dia lakukan justru membuat kulitnya sobek karena terkena bunga es yang tajam.


Aku melihatnya dari luar bunga es dengan tenang. Menikmati siksaan yang kuberikan padanya.


Tapi ini baru permulaan, aku tidak akan membiarkannya mati dengan mudah sebelum semua dendam mereka terbalaskan.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2