
..."Haruskah kita menemani mereka bermain?"....
POV: Seas
Aku terkejut saat Sky yang biasanya diam tiba-tiba berinisiatif lebih dulu. Jika yang berkata seperti itu adalah Valeria, aku bisa mewajarkannya. Tapi ini Sky loh?!
"Berapa lama tembok itu bertahan?" tanya X sambil melirik ke arah belakang. Sky menatap X dengan tatapan datar.
"Selama hawanya masih dingin, es itu tidak akan mencair," ucap Sky datar. Aku sedikit terkejut saat mendengar perkataan Sky, bukankah ini sama saja seperti penyumbang es gratis?
"Hmmm, baiklah. Sky saja yang mengurus mereka bersama dengan Valeria-," ucap X terpotong karena Valeria tiba-tiba menyela.
"Hei! Aku ingin lihat cara bertarung Seas! Kenapa kita tidak berhenti dan melihat bagaimana Seas membereskan mereka?!" geram Valeria dengan nada mengeluh. Aku menatap Valeria dengan malas, sejujurnya aku agak lelah karena mengurus beberapa baj*ngan merepotkan di rumah tadi.
"Jangan begitu, Seas sudah membereskan beberapa pembunuh yang masuk ke dalam rumah tadi, sekarang giliran kalian, kan?" tanya X dengan senyum kecil. Aku mengangguk setuju dengan perkataan X. Akhirnya Valeria hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Baiklah~ ayo selesaikan dengan cepat, Sky." Valeria langsung berbelok masuk ke dalam hutan. Bersatu dengan remang-remang cahaya bulan. Sedangkan Sky langsung berbalik dan melemparkan beberapa botol kimia.
Aku dan X berhenti di salah satu pohon yang cukup tinggi, mengamati pergerakan Sky dan Valeria.
Prang!
BLAR!
"ARGHHH!" Botol kimia yang Sky lemparkan, langsung meledak yang menyulut api. Bahkan salju yang dingin ini tidak memadamkan apinya!
"Pernahkah kalian mencoba kegiatan sains? Api dalam es, itu bukan hal yang mustahil kok~," ucap Sky dengan seringai di wajahnya. Salah satu pembunuh itu sudah terkapar hangus di sana, aku bahkan tidak yakin wajahnya bisa dikenali atau tidak nanti.
"Tunggu, sejak kapan Sky jadi psikopat begini?" tanyaku pelan. X tertawa kecil, dia mendekat padaku dan merangkulku. Aku bisa merasakan deru nafasnya di sebelah kepalaku.
"Bukan hanya kau yang sibuk selama beberapa hari ini," ucap X. Matanya menatap ke arah Sky yang bertarung dengan botol kimia dan jarum.
"Kami juga menyelesaikan beberapa pekerjaan yang cukup merepotkan." X menatap yakin pada Sky.
***
__ADS_1
POV: Author
Sky mulai mengeluarkan jarum beracun yang dia simpan di balik jubah seragamnya. Malam yang gelap dan dingin ini seketika menjadi panas dan terang karena api yang diciptakan oleh Sky.
"Kepar*t ini! Bagaimana caranya membuat api tidak padam bahkan dihadapan salju setebal ini?!" ucap seorang laki-laki dengan masker hitam. Sky menatap mereka dengan dingin, dia melemparkan beberapa jarumnya, tapi tidak ada yang kena.
SRING! SRING! SRING!
"Amatir itu tetap amatir ya?" ucap seorang pembunuh dengan remeh. Sky tersenyum simpul, dia menarik benang yang terhubung dari jarum ke jarinya.
"Ini adalah teknik yang kupelajari beberapa hari ini," ucap Sky pelan. Dia mengambil botol kimia, lalu memecahkannya di tangannya. Seketika tangan Sky membara, api menguar dari sana.
Api itu kemudian menyambar benang Sky dan bergerak lurus ke arah jarum. Dengan Sky sebagai pusatnya, dia bagai orang yang mengontrol api dengan benang.
"Nah ini nama tekniknya."
...[Area neraka.]...
Benang-benang Sky menciptakan jarak dan celah diantara formasi para pembunuh bayaran. Mereka tidak bisa mendekat sembarangan jika tidak mau tersambar api milik Sky juga.
"Kalau kalian terlalu berhati-hati dengan benang. Kalian akan lupa dengan lebahnya," gumam Sky. Dari dalam hutan yang tidak terjamah oleh api, muncul sebuah kilauan cahaya.
DOR!
CRAT!
Satu pembunuh langsung tertembak di kepala. Hal ini, memicu sebuah perang mental diantara pembunuh bayaran itu.
Bayangan ketakutan akan kematian.
Sky yang berdiri di tengah benang yang berkobar oleh api. Dan Valeria yang membunuh dari dalam bayang-bayang. Sebuah kombinasi yang tidak disangka dari mereka berdua.
Valeria yang selalu menjadi pusat perhatian, kini berperan sebagai bayangan. Sedangkan Sky yang berperan sebagai pendukung, kini muncul sebagai tokoh utama. Dari atas pohon, Seas menatap kagum kepada teman-temannya.
"Nah, kalau seperti ini ... bukankah lebih baik kita menghancurkan mental mereka sedikit lagi?" tanya X dengan senyuman yang mengerikan. X mengarahkan snipernya ke tepat ke arah jarum yang menancap di pohon. Dalam hitungan detik, jarum itu langsung meledak.
__ADS_1
DUAR!
Tanpa suara, tanpa bayangan. Sniper milik X masih sama saja menakutkannya. Sedangkan Seas masih berjongkok sambil mengamati di atas pohon.
"Sudah cukup, aku sudah bosan." Sky mengeratkan genggamannya. Benang-benang itu seketika mengetat, dalam satu hentakan tangan Sky. Benang itu langsung berputar seperti kincir, melahab habis semua yang ada di dalamnya.
Suara teriakan ampun dari para pembunuh yang merasakan kulitnya menjadi matang. Memberi kesan tersendiri pada Sky yang jadi tokoh utama. Sedangkan Valeria kembali muncul saat api sudah mulai padam. Dia membersihkan pistolnya yang masih mengeluarkan asap.
"Kerja bagus, Sky!" ucap Valeria sambil tersenyum lebar. Sky tertawa kecil lalu mulai menyusun kembali benangnya. X dan Seas juga turun untuk membantu membereskan alat milik Sky.
"Woah! Kau keren banget tadi! Sial!" Seas langsung merangkul dan meninju pelan pipi Sky.
"Benar! Kau tadi sangat keren Sky!" puji X pada Sky. Sang tokoh utama hari ini jadi tersenyum malu-malu karena ini pertama kalinya dia dipuji secara langsung oleh rekan timnya.
"Kau juga kerja bagus, Valeria!" ucap Seas dan kini ganti merangkul Valeria. Perempuan itu hanya menghela nafas cuek lalu segera memasukkan pistol ke dalam seragamnya.
"Jika sudah, ayo kita berangkat!" ucap Valeria dengan semangat. Seas, Sky dan X mengangguk. Mereka berlari lagi untuk menuju ke tempat perjanjian dengan Ron dan Dev.
Selama 40 menit mereka berlari melewati salju yang begitu lebat, akhirnya mereka melihat Ron dan Dev yang sudah siap dengan pakaiannya.
"Wah Ron! Kupikir kau pergi kemana kemarin!" ucap Seas sambil tersenyum pada Ron.
"Aku hanya menemui Dev, sudahlah. Ayo kita berangkat!" ucap Ron.
"Kita akan berlari sampai ke perbatasan saja. Karena dari sini kita tidak bisa memakai mobil," ucap Dev memberi arahan pada X. Mereka kemudian mulai berlari menuju tempat tujuan mereka.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Tak jarang mata Seas melihat ke arah Ron.
"Kupikir kau hanya seorang pangeran biasa, ternyata kau bisa mengikuti kami," ucap Seas terus terang. Ron yang merasa dirinya disebut, segera menoleh ke arah Seas. Dia tersenyum kecil, matanya menatap lurus ke arah mata ungu milik Seas.
"Kehidupan pangeran tidak semudah itu," ucap Ron.
"Sebenarnya ..." X membuka suara. Kami semua jadi fokus ke arah X.
..."Nah sampai kapan mereka akan mengikuti kita, sialan?!" ...
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!