Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Penculik!


__ADS_3

..."Jadi, yang kasihan itu bukan Seas. Tapi penculiknya."...


POV: Sky


Dev melepaskan kembali mantelnya lalu duduk di samping Valeria. Sepertinya dia juga sudah mulai tenang.


"Tapi Dev, kenapa kau bisa kehilangan Seas?" tanyaku pada Dev, dia menoleh ke arahku sambil berpikir sejenak.


"Kalian tau ... 'seni' yang Seas gunakan itu cukup berbahaya. Normalnya sebagai pembunuh, kita sudah pasti tau bagaimana menyembunyikan kehadiran kita, tapi dengan 'seni' milik Seas. Dia seolah menyatu dengan udara. Tidak ada bunyi, tidak ada suhu tubuh, bahkan tidak ada hembusan angin," ucap Dev lalu kembali menonton televisi. Aku menatap Dev dengan tatapan bingung.


Yah, aku tau bahwa Seas itu berbakat. Tapi aku tidak menyangka bahwa ternyata kemampuannya sekeren itu.


Sudah pasti Seas akan baik-baik saja.


Kasian sekali orang yang menculik Seas.


***


POV: Seas


Aku sekarang berada di rumah orang itu. Rumah yang cukup sederhana, apalagi lokasinya di pinggir kota. Sangat mencurigakan bukan? Dan lagi ... aku tidak melihat adanya CCTV di daerah sini.


Daerah yang sangat pas untuk penculikan.


"Hangatkan tubuhmu dulu! Kau bisa memanggilku Tori," ucapnya sambil tersenyum. Tori berjalan ke arahku sambil membawa secangkir coklat panas. Ini sangat menggiurkan.


"Aku akan mencari beberapa kayu bakar, kau tunggulah di sini." Tori kemudian pergi dan mengunci pintu rumahnya. Hah? Dikunci? Jangan-jangan dugaanku benar.


Aku mengambil coklat panas itu dan mencium baunya.


"..." Ini cukup sulit ... aku tidak tau bahwa baunya memang seperti ini atau ada kandungan lain di dalamnya. Harusnya aku mempelajari bahan makanan negara ini lebih dulu.


"Yah, tidak apa-apa! Kuminum saja!" ucapku diiringi tawa di akhir. Aku sudah melalui malam dengan AC beracun. Jika di dalam coklat ini hanya racun tidur atau pembuat pingsan. Itu tidak akan berpengaruh padaku.


Gluk gluk gluk!


"Ahh, rasanya enak!" Aku membersihkan sisa coklat di bibirku dengan tangan. Aku berdiam dulu beberapa saat, menunggu efek apa yang muncul.


Kluk.


Aku tersentak ... aku mengantuk? Jadi ini efek obatnya. Di cuaca dingin seperti ini, dorongan untuk tertidur jadi lebih kuat beberapa kali lipat.


Pantas saja aku tetap sedikit mengantuk, ah sudahlah. Aku tidur saja, mungkin setelah ini aku akan berpindah tempat.


***


Ugh ... dimana ini? Berisik sekali!


Aku membuka mataku perlahan. Apa? Mereka mengikat tanganku? Bahkan mulutku juga ditutup.

__ADS_1


Ruangan ini sangat gelap, baunya seperti kayu busuk yang tercampur jamur. Dan ... di luar terdengar sangat ramai.


"Aku mendapat seorang anak laki-laki yang tampan!"


"Berapa yang bisa aku dapatkan?"


"Hanya segini?! Berikan aku satu koper lagi!"


"Kau hanya mampu membawa satu anak dan minta dua koper?!"


"Oh ayolah! Kau tidak lihat kualitas anak itu?!"


"Dia berwajah tampan, kalau dijual pada bangsawan, pasti akan laku mahal!"


"Benar juga, jadi kita tidak harus mengambil organnya."


Yah, seperti itulah pembicaraan mereka. Jadi mereka menangkap orang-orang. Jika mereka tampan atau cantik, mereka dijual hidup-hidup. Jika mereka jelek, yang dijual hanyalah organ mereka.


Untung saja aku tampan.


"Hmp! Hmmnp!"


Aku mendengar suara dari sampingku. Ada orang lain selain aku di sini. Apa dia juga diculik?


Tidak sih ... sepertinya lebih pantas dibilang menyerahkan diri. Kalau aku mau ya aku bisa saja kabur. Tapi itu tidak akan seru, aku ingin menikmati drama ini lebih lama.


"Hmp! Hmphh!" Anak di sampingku ini terus berisik. Aku tidak bisa menenangkannya, mulutku juga tidak bisa dibuka.


"BERISIK! BISAKAH KALIAN DIAM?!" Seorang pria dengan berjenggot datang sambil membawa tongkat. Dia berjalan ke arah anak di sampingku dengan ekspresi marah.


Bugh! Buagh! Bugh!


"Kau yang daritadi berisik! Apa perlu kupatahkan lehermu?!" Pria itu terus memukuli anak ini. Wah, kasar juga ya. Apa karena wajah anak itu tidak rupawan? Perlakuan kami benar-benar berbeda.


"Oh? Kau sudah bangun?" Pria itu menatapku sesudah anak itu pingsan. Kasian, seharusnya dia diam saja.


Grep!


"Hmm, wajahmu memang benar-benar tampan. Kau akan terjual mahal malam ini hahaha!" ucap pria itu tepat di depan wajahku. Aku masih menatap pria itu datar.


Dijual? Malam ini? Berarti skala organisasi ini lebih besar dari dugaanku. Dan pasti banyak orang penting yang terlibat.


"Aku tidak akan memukulmu, hargamu akan turun jika aku melakukan itu." Pria itu berdiri dan berjalan pergi. Sebelum menutup pintu, dia melihat ke arahku.


"Tapi jika kau melakukan hal yang tidak berguna, aku lebih memilih agar hargamu turun," ucapnya dengan tatapan tajam.


BLAM!


Ugh, dia menutupnya dengan keras.

__ADS_1


"Snif! Snif! Hmmpnh! Snif!" Anak itu masih bangun ternyata. Pasti sulit menyembuhkan shock mentalnya setelah kejadian ini.


Dasar manusia. Mereka tidak pernah puas terhadap apa yang mereka miliki.


Ctas!


Aku memutuskan tali yang mengikat tanganku lalu membuka selotip di mulutku. Tanganku menyentuh pucuk kepala anak itu dengan pelan, lalu mengusapnya lembut.


"Ssst, tidak apa-apa. Tahanlah sebentar, aku janji akan menolongmu," bisikku pada anak itu. Dia terlihat terkejut tapi kemudian segera tenang.


"Tapi, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku," ucapku sambil menatap anak itu. Dia terlihat bingung, tapi dia tetap mendengarkanku.


"Berpura-puralah pingsan seperti ini, aku akan memasukkan ponselku ke bajumu agar aku bisa menemukanmu nanti, jangan membuat masalah agar kau tidak dipukuli lagi." Aku segera berdiri lalu mengamati keadaan ruangan ini. Mataku melihat beberapa tong yang berjejer di pojok.


"... Ayo kita mulai." Aku tersenyum.


***


POV: Author


Brak!


"Hah? Suara apa itu?!" Pria yang tadi ternyata berjaga di depan pintu. Karena mendengar keributan di dalam, dia segera masuk untuk memeriksa.


"APA LAGI YANG KAU- oh, dia masih pingsan, kalau pasti anak rambut putih-," ucapnya terhenti, dia sadar bahwa Seas sudah tidak ada. Pria itu menggertakkan giginya keras lalu mengambil tongkat pemukulnya.


"Dimana kau? Jangan sampai aku menemukanmu! Atau kupatahkan kakimu!" Pria itu mengamuk dan mencari ke setiap pojok ruangan. Padahal ruangan ini sempit, tapi dia bahkan tidak bisa menemukan Seas.


Alasannya mudah.


Dia sudah kalah karena membiarkan Seas bermain dalam bayangan.


Duag!


Seas muncul di belakang pria itu lalu memukul tengkuknya. Mata ungunya menyala seperti iblis yang menunggu mangsanya.


Seas menatap anak yang tadi dengan senyuman.


"Kau sudah bekerja dengan baik, sekarang ikuti saja alurnya. Aku janji akan menyelamatkanmu," ucap Seas, setelah itu dia pergi.


Pintu yang terbuka lebar menarik perhatian anggota lainnya.


"APA?! KEMANA SI ANAK RAMBUT PUTIH?!" tanya seorang wanita dengan bulu rubah yang tebal. Riasan wajahnya sangat menor, sekali lihat saja kita sudah tau siapa bosnya.


"M-maaf nyonya. Sepertinya anak itu sudah kabur," ucap seorang pria dengan tubuh gendut. Tubuhnya bergetar karena ketakutan, perempuan itu menatap si pria dengan nyalang.


"Sudahlah! Jangan biarkan sisanya kabur! Atau kalian yang akan kujual nantinya!" Wanita itu pergi, meninggalkan beberapa pria berjaga di sana.


Dari kejauhan, Seas memperhatikan semuanya. Rambut putihnya bergerak seirama dengan turunnya salju. Mata ungunya menatap tajam ke arah perempuan itu.

__ADS_1


..."Nah nyonya. Kematian apa yang pantas untukmu?"...


TBC.


__ADS_2