
..."Kau benar, ternyata aku bodoh. Kenapa aku harus mengikuti cara bermainmu?"...
POV: Author
Rodea terdiam membeku sambil menatap Sky, sedangkan Sky hanya duduk dan tersenyum hampa.
"Apa ... yang kau lakukan pada sabitku?" tanya Rodea dengan nada yang dingin. Sky mendongak untuk menatap wajah Rodea, mata kuning Sky terlihat sayu tetapi penuh nafsu, senyuman Sky yang hampa entah kenapa membuat perasaan Rodea tidak enak.
"Aku tidak melakukan apapun," ucap Sky.
"Jangan bercanda! Tidak mungkin senjataku tiba-tiba putus tanpa sebab! Apa lagi yang kau rencanakan dengan otak licikmu itu?!" geram Rodea sambil berteriak, mendengar omongan Rodea, Sky hanya menghela nafas lelah lalu kembali tersenyum.
"Aku benar-benar tidak melakukan apapun, bukankah kau yang terlalu bodoh karena tidak menyadari hal seperti ini?" Aku tersenyum miring, ekspresinya membuat Rodea merasa takut.
"Menyadari apa?!" tanya Rodea lagi.
"Sabitmu mempunyai kristal yang bisa menahan panas yang bahkan membuat baja meleleh, kau pikirkan saja sendiri. Bagaimana jadinya jika sabit sepanas itu dipasangkan rantai besi pada lingkungan dengan suhu dingin yang ekstrim seperti ini. Mungkin kau tidak merasakannya karena kau menggunakan pengaman pada pegangan, tapi rantai besi yang kau gunakan itu ... tidak ikut kau modifikasi, kan?" Sky mulai menarik benangnya, seketika sabit Rodea yang putus itu terlempar ke arah Sky.
GREB!
Sky langsung menangkap sabit yang melayang ke arahnya, lalu menyentuhkan kristal panas pada sabit itu pada benang miliknya.
BLAR!
Benang Sky langsung terbakar, dan menyebar ke seluruh benang lainnya. Rodea yang awalnya terkurung oleh beberapa benang jadi ikut terkena luka bakar oleh Sky.
"ARGHH!" teriak Rodea kesakitan, Sky hanya diam dan tersenyum. Ekspresinya tidak menunjukkan belas kasihan sama sekali.
..."Selamat datang, di [Area Neraka] milikku."...
Tringg! CRANGG!
"KAU- BOCAH KUNING SIALAN!" umpat Rodea saat berhasil melepaskan diri dari lilitan benang Sky. Meskipun tentu saja dengan baju yang sudah hangus sebagian dan ada aroma daging terbakar darinya. Rodea langsung melihat ke sekelilingnya, seluruh area ini sudah dilewati oleh benang api milik Sky.
Tidak ada jalan keluar.
"Heh, kupikir kau pintar, tapi tidak juga tuh?" ucap Rodea lalu melompat ke atas pohon yang tidak terbakar. Itu adalah pohon yang tadi Sky ambil getahnya.
"Pohon ini tidak bisa terbakar, kan? Kalau aku berdiam diri di sini, bukankah kau juga tidak bisa menyentuhku?" ucap Rodea dengan nada meremehkan. Mendengar perkataan Rodea, Sky tertawa kencang hingga menghasilkan gema di hutan ini.
"HAHAHAHAHAHA!"
__ADS_1
"Apa-apaan kau?" tanya Rodea dengan nada tidak suka.
"Tidak apa-apa. Hanya menertawakan kebodohanmu," ucap Sky sambil mulai mengarahkan semua benangnya ke bawah pohon yang Rodea naiki. Memang benar bahwa pohon itu tidak bisa terbakar, tapi anehnya pohon itu bisa mengeluarkan asap.
"Hahahaha! Itu sia-sia! Pohon ini tidak akan bisa terbakar!" ucap Rodea sambil tertawa.
"HAHAHAHAHA!" Sky tertawa makin keras saat mendengar ucapan Rodea.
"Uhuk! Aduh! Perutku sakit! Hahahaha!" Sky mengeluarkan darah dari mulutnya, meskipun dia masih tertawa di akhir kalimatnya. Sepertinya organ dalamnya terluka parah.
"Biar kujelaskan satu hal. Pohon yang kau naiki itu punya nama 'Pohon yang menidurkan' atau mungkin dalam istilah ilmiahnya adalah Preorebugmetel Suamansia, kau tau apa maksudnya?
Pohon itu menghasilkan salah satu zat berbahaya berjenis depresan," ucap Sky sambil terus membakar pohon yang Rodea naiki.
"Mungkin kau tau bahwa obat jenis depresan memang sangat membantu manusia di kehidupan sehari-hari bukan? Karena efeknya yang membuat rileks dan bisa menidurkan seseorang. Tapi ... apa kau tau bagaimana jika kau menghirupnya dalam dosis tinggi?" tanya Sky sambil tersenyum miring. Rodea yang mendengar perkataan Sky, seketika merasa bahwa seluruh otot di tubuhnya mulai lemas.
"Asap yang dihasilkan oleh pohon itu, mengandung zat depresan yang aku sebutkan tadi, dan jika kau terus menghirupnya ... maka tidak mustahil jika kau mengalami kelumpuhan sementara. Tapi jika kau masih terus menghirupnya, bahkan otot jantungmu akan berhenti bekerja loh?" ucap Sky diiringi tawa di akhir kalimatnya.
Bruk!
Rodea akhirnya tumbang di atas pohon, tubuhnya tersangkut di antara ranting-ranting pohon yang tadi dia naiki. Melihat Rodea yang sudah tidak berdaya, tentu saja Sky tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan cepat Sky langsung melemparkan sabit yang dia pegang ke arah Rodea.
JLEB!
Sabit itu tidak menancap di tubuh Rodea, tapi mengenai batang pohon di sebelah kepalanya.
"Aku tidak berniat membunuhmu secara langsung, aku ingin kau mati perlahan-lahan sambil menikmati asap beracun itu," ucap Sky sambil melihat batang pohon yang ditancapk sabit itu mulai mengeluarkan asap. Karena sabit itu sendiri punya kemampuan menghasilkan panas, jadi asap akan terus keluar dari celah pohon hingga pohon itu mati karena hawa panas.
Bruk!
"Haaah, aku sangat lelah," ucap Sky sambil membaringkan tubuhnya. Api dari benang Sky juga terus berkobar, karena Sky sudah tidak punya bahan kimia untuk memadamkannya.
"Aku bahkan tidak bisa berdiri- uhuk! Ack! Sepertinya paru-paruku sobek?" gumam Sky pelan. Darah masih terus keluar dari mulutnya, hingga akhirnya mata Sky menjadi sayu perlahan-lahan.
"Aku sangat ... mengantuk."
***
POV: X
Sial! Dimana mereka?!
__ADS_1
Aku berlarian diantara pohon-pohon. Syukurlah mereka memilih untuk mundur, orang yang menyerang kami barusan. Entah siapa bos mereka, tapi kelihatannya dia tidak berniat untuk membantai kami dalam satu kali serangan. Jadi sekarang aku harus mencari dimana keberadaan Seas, Valeria, dan Sky!
BLAR!
Mataku melihat ke arah hutan yang terbakar. Dengan cepat aku berlari ke arah sana.
"X! AKU AKAN PERGI LEBIH DULU!" ucap Dev sambil melewatiku, aku mengangguk dengan cepat lalu segera pergi ke arah yang berlawanan dengannya. Ya, aku menuju ke arah hutan yang terbakar.
Kapasitas api yang sebesar ini, dalam timku hanya ada Sky yang bisa membuatnya. Apakah dia bertarung di sini?!
Whush!
"Sial ... anginnya saja sudah mulai panas," ucapku sambil memakai penutup wajah, bahkan pada hawa sedingin ini, angin yang dihasilkan oleh teknik Sky bisa membuat hawa panas yang luar biasa.
Deg.
"SKY!" Aku berlari dengan cepat ke arah Sky yang terbaring. Dadanya terlihat tidak rata, seperti sengaja dibengkokkan. Tapi kenapa di sini banyak asap-
Deg.
"Ini- bau obat?" gumamku sambil menggendong tubuh Sky di depan tubuhku. Mataku melihat seonggok tubuh yang tersangkut di ranting pohon. Tapi tubuh itu sudah tidak bergerak sedikitpun.
"Hah? Bukankah itu adalah wanita yang tadi menyerangku?" ucapku dengan nada yang sedikit terkejut.
Jadi dia menyerang Sky selama ini?! Sial! Brengs*k! Kondisi Sky sampai separah ini!
Aku menggertakkan gigiku kesal, aku mulai mengeluarkan sniperku dan kuarahkan pada wanita yang tersangkut di ranting itu.
Dor!
Aku menembak tepat di kepalanya, sejujurnya aku ingin menyiksanya lebih lama. Tapi kondisi Sky lebih utama saat ini.
"Bertahanlah Sky, aku akan membawamu ke rumah sakit!" ucapku lalu mulai berlari pergi. Mataku tidak fokus ke arah jalan, karena dari tadi aku melihat luka Sky yang terlihat parah ini.
"Ini lehermu kenapa Sky? Astaga!" ucapku kesal saat melihat leher Sky yang memerah dengan luka bakar. Bahkan beberapa rambut kuning Sky ada yang ikut terbakar.
..."Orang-orang sialan itu. Sepertinya aku harus membunuh mereka semua."...
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!
__ADS_1