Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Tempat yang asing dan remaja asing?


__ADS_3

POV: Author


Ini adalah sebuah tempat yang terkucilkan dari dunia, sebuah tempat dimana kegelapan nyaman untuk bersemayam. Tempat yang indah bagi mereka yang mencintai malam tanpa bintang.


Ini bukanlah Underworld School.


Ini adalah tempat lain yang sama tak dijamahnya oleh manusia biasa. Sebuah tempat yang tidak bisa dicari dengan kemampuan yang biasa-biasa saja.


Kini kita akan menuju ke tempat yang lebih rahasia lagi.


Ayo kita ke ruang pertemuan.


***


Di tempat yang sangat luas dan hampa ini, hanya ada beberapa kursi serta meja bundar yang ukurannya sangat besar. Di beberapa kursi tadi, ada yang kosong, dan ada juga yang telah terisi oleh orang-orang aneh.


Mereka memakai topeng dan tudung, seluruh identitas bahkan suara mereka juga telah disamarkan dengan teknologi yang aneh.


"Bagaimana? Apakah berjalan sesuai dengan yang ketua mau?" tanya seseorang yang berada di ujung meja. Orang yang dianggap sebagai ketua itu memakai topeng burung hantu serta tudung ungu kehitaman.


"Lumayan~ ini hampir memenuhi ekspektasiku. Akan lebih baik jika kita bisa membawanya ke kelompok ini. Bagaimana menurut kalian?" Orang itu bertanya dengan nada yang senang.


"Semuanya terserah keputusan anda, ketua. Tapi sepertinya akan cukup sulit untuk mengeluarkannya dari Underworld School." Seorang perempuan lain berbicara dengan nada yang serius.


"Jangan khawatir ... aku bukan hanya menginginkan Seas Veldaveol saja, tapi aku juga menginginkan kedua rekannya.


Ah ... mereka sangat menakjubkan. Sangat disayangkan kalau monster seindah mereka harus tumbuh di dalam sangkar Underworld School.


Kalau mereka masuk di kelompokku, aku akan ... memberi mereka sayap yang lebih kuat lagi!


Seas Veldaveol! Keturunan asli Veldaveol dengan kekuatan pembangkitan kutukan darah yang berpresentase 100%! Dia bahkan telah menguasai seni terlarang! 'Bayangan iblis!'. Seorang pembunuh berbakat yang sangat disayangkan jika harus berada di Underworld School saja!


Lalu Sky Latrix! Anak berbakat dengan mata yang luar biasa! Dia masih punya banyak potensi nantinya!


Lalu! Valeria Regan! Dia adalah putri Regan! Sang kemampuan Ratu!


Untuk sekarang ... ayo kita amati dulu. Kesempatan pasti akan datang." Pria itu berbicara dengan suara yang dingin dan senyuman yang aneh.


"Veldaveol ya ... bukankah dia adik orang itu?" tanya orang lain yang ada di dalam ruangan tadi.


WHUNG!


CRATT!


Pluk.

__ADS_1


Seluruh ruangan itu langsung hening. Mereka hanya diam saat melihat orang lain yang terpenggal. Orang dengan topeng burung hantu lah pelakunya. Dia melemparkan sebuah kipas besi dengan kecepatan tinggi, dan itu langsung menebas kepala pria tadi.


"Aku tidak suka ... jika ada yang membahas tentang Veldaveol yang lain. Sekarang aku ingin kita membahas tentang Seas. Apakah kalian ada rencana bagaimana untuk mengangkutnya?" tanya si topeng burung hantu lagi. Seluruh ruangan ini masih diam untuk sesaat, mereka terus berpikir tentang apa yang harus mereka lakukan.


"Ketua, jangan tergesa-gesa. Kita tunggu misi Underworld School yang selanjutnya. Dan kita ambil Seas saat melakukan misi itu. Dan jangan khawatir ... karena saya pasti akan menemukan jalannya nanti." Seorang gadis berbicara, lalu segera berdiri dan pergi dari tempat itu.


***


POV: Seas


WHUNG! WHUS! WHUS! BUGH!


Hari ini, lagi-lagi yang kulakukan hanyalah berlatih dengan keras. Aku tau bahwa X menyuruhku untuk berpikir, tapi ... aku sama sekali tidak menemukan jawabannya. Karena itu akhirnya aku menemukan sebuah solusi sementara.


Jika aku tidak bisa bertarung di tempat yang terang, maka aku akan menunggu hingga gelap yang datang.


Aku membuat keputusan ini dengan pertimbangan yang matang didasarkan pada kondisiku sekarang. Tentu saja, alasan lainnya adalah ... karena aku percaya pada timku, bahkan saat aku ada di kondisi yang merugikan, mereka akan melindungiku hingga gelap datang.


"Seas~ apa kau masih berlatih hari ini?"


Deg!


Aku terkejut mendengar suara mengesalkan yang akhir-akhir ini mengganggu keseharianku. Siapa lagi kalau bukan X?


"Kau datang lagiiii????? Apa kau benar-benar tidak ada pekerjaan?!" tanyaku dengan nada yang sedikit kesal. X malah nyengir tanpa dosa sambil bergelantungan di tepi jendela.


"Ayolah~ jangan sensi begitu dong hehehe. Aku sedang mengawasimu sekarang, karena saat ini aku adalah agen yang paling akrab denganmu setelah Venom," ucap X bersamaan dengan dia turun dari jendela. Dia berjalan ke arahku dengan langkah santai lalu duduk di sebuah kursi usang dan menontonku berlatih lagi.


Ya, singkatnya saat ini, aku sedang berlatih di halaman belakang asramaku yang baru, dan entah beruntung atau tidak, di sini ada beberapa kursi yang cocok untuk bersantai, walaupun kalian pasti tau seberapa buruk taman di Underworld School.


Tamannya seperti taman kurang gizi.


Eh tidak, jangankan kurang gizi, malah mirip seperti taman yang sudah mati.


Aku lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Hatiku memilih untuk mengabaikan X dan mulai lanjut berlatih lagi.


Pelatihan mandiri yang saat ini sedang kulakukan hanyalah pelatihan bayangan saja. Singkatnya, ini adalah cara berlatih dengan membayangkan lawan yang ada di hadapan kita.


Memprediksi gerakan, menyusun cara yang terbaik untuk menghindar, membuat gerakan yang natural dalam menyerang yang lebih efektif.


Saat ini aku sedang membandingkan Siol serta Melga. Mantan top 1000 bintang dan top 100 bulan saat ini.


Saat berhadapan dengan mereka secara langsung, tekanan yang kurasakan sangat berbeda. Jika saat melawan Siol aku merasa berhadapan dengan seekor beruang raksasa ... di hadapan Melga aku merasa hanya dijadikan mainan saja.


Melga ... tidak serius menghadapiku saat itu.

__ADS_1


Aku tidak bisa menjadikan Melga sebagai lawan bayanganku, prediksi kekuatannya adalah 10 kali lipat lebih kuat daripada Siol, atau bahkan 15 kali lipat.


Cklik.


Eng? Hawa ini ... ada orang yang mengincarku dengan sniper?


Psyu.


KLING.


Aku mengeluarkan sebilah pisau kecil sebagai ganti dagger lamaku yang rusak. Aku membalikkan badanku dengan cepat, lalu mengayunkan pisau tadi ke udara.


TRANG!


Sebuah gesekan antara pisau dan peluru membuat sebuah percikan api, di antara percikan api yang menghalangi mataku itu, aku berusaha mencari orang yang mengarahkan senjata mereka padaku.


Tidak ada ... dimana dia? Apa jaraknya lebih dari 700 meter?


"Hihi." Aku tertawa sejenak, lalu mulai melakukan ancang-ancang untuk melemparkan pisau kecilku ini.


WHUNG!


Tanpa ragu aku melemparkan pisau itu menggunakan tangan kosong.


BRUAK!


Apakah kena?


Aku berlari menghampiri sumber suara tadi, dan mendapati beberapa bercak darah yang tertinggal di dinding ... serta pisauku yang seperti dicabut dari tubuh orang tadi.


"Yah, dia masih hidup. Siapa ya? Apa dia kurang kerjaan?" Aku bergumam kecil sambil memungut pisauku yang ada di tanah. Sambil membersihkan noda darah yang menetes, aku sesekali melirik ke arah tong sampah hitam yang menarik perhatianku.


Sebuah rencana jahil tiba-tiba terpikirkan di otakku.


Aku mengambil sebuah kerikil kecil yang kemudian kulemparkan ke tong sampah.


Pruk.


"EH AKU KENAPA LEMPAR GRANAT YA?! WADUH!" ucapku dengan nada yang panik.


BRUK BRUK!


Seorang remaja laki-laki pendek langsung keluar dari tong sampah itu dan berlari kocar-kacir ke arah gang.


Tuh kan ada orangnya.

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!


__ADS_2