Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Pemilik Surat Ancaman!


__ADS_3

POV: Seas


Aku duduk termenung di samping jendela sambil memainkan dagger di tangan kiriku. Mataku menatap kosong ke luar jendela yang gelap seperti biasa. Ini adalah hari ke 4 sejak ujian dimulai, dan kemarin ... ada sebuah surat ancaman yang datang pada kami.


Tapi sampai sekarang juga tidak ada serangan, dan juga ... bukankah yang mengirim surat itu agak bodoh? Kenapa dia memberi surat ancaman tapi tidak memberi alamat dimana kami harus menyerahkannya? Mungkin yang orang katakan itu memang benar.


Jadi pembunuh juga harus punya otak. Sepertinya otak orang yang mengirim surat sudah ditukar dengan sesuatu yang lain.


Sudahlah, daripada aku tidak punya sesuatu untuk dikerjakan, sepertinya lebih baik aku berlatih dengan dagger baruku ini.


Aku menatap ke arah dagger baru yang dihadiahkan Ron padaku. Dagger ini begitu indah dan memberi kesan glamor meskipun tidak berwarna emas. Panjangnya berkisar 35 cm, dan berwarna silver keseluruhan. Kecuali pada bagian tengah pegangannya, ada permata berwarna merah yang terlihat indah di sana.


Mungkin ini bukan permata biasa ... tapi kristal darah? Di dalam kristal ini berisi darahku untuk membuat senjata bisa berevolusi.


Sebuah senjata yang hanya menuruti tuannya, ya? Ini cukup keren ... sebuah senjata tidak akan bisa mengkhianati tuannya sendiri.


DUAARRR! DRRRRK!


"Apa lagi yang Valeria lakukan?" gumamku bosan dengan gempa bumi yang terus kurasakan. Aku ingat tadi pagi sekitar jam 4, Valeria bilang akan berlatih dengan bazoka yang dia dapat. Ledakan tadi adalah buktinya, sebenarnya latihan macam apa yang dia lakukan?


Sepertinya lebih baik aku melihat Valeria latihan, dan bisa saja aku mengajaknya sparing nanti.


Aku segera berdiri dan berjalan keluar dari kamar. Sebelum keluar kamar, aku melirik ke arah laci tempatku menyimpan amplop yang berisi kunci kelulusan.


***


POV: Valeria


DUARR! DRRRKKK!


"Tck, salah tembak lagi! Bagaimana cara meluruskan pelurunya?!" ucapku geram sambil mengotak-atik bagian belakang bazokanya. Saat Valeria masih sibuk dengan senjata barunya, tiba-tiba dia berhenti karena merasakan firasat buruk.


"Oh? Sudah dimulai?" tanyaku sambil menoleh ke belakang.


JDUAARR!


Saat aku menoleh ke belakang, sebuah kilatan cahaya datang dan menyambar asrama kami. Asap-asap mulai mengumpul bersama dengan debu-debu yang terbawa angin. Pemandangan langit gelap yang tampak normal, kini indah karena dihiasi oleh petir.


Angin yang berhembus pelan mulai menerbangkan asap dan debu yang menghalangi mata, asrama kami yang harusnya utuh dan indah. Kini hanya tinggal setengah. Petir itu meratakan setengah dari bangunan asrama yang kami tempati hingga ludes.


"Untung saja kamar Seas dan Sky berada di sisi yang aman," gumamku pelan sambil menengok ke atap asrama. Pandanganku terpaku pada 3 orang yang berdiri di atas atap yang tinggal setengah itu. Wajahnya tidak terlihat jelas karena kabut yang terus berhembus, tapi ... satu hal yang pasti.


Mereka memakai jubah berwarna hitam, dan aku yakin mereka kuat. Ada kemungkinan bahwa petir tadi juga adalah ulah mereka.


Aku merasakan merinding di sekujur tubuhku. Tapi meskipun begitu, aku menyukai perasaan ini. Perasaan yang muncul saat nyawaku berada di ujung tanduk. Tanpa sadar, aku tersenyum lebar sampai menunjukkan gigi taringku.

__ADS_1


Darah di tubuhku bergejolak membuncah, ingin segera aku bertarung dengan mereka.


Cling.


DEG!


SRAT!


Aku terkesiap saat melihat kilatan kecil cahaya yang menuju ke arahku, dengan cepat tangan kiriku memutar bazoka dan membuatnya sebagai tameng.


TANG!


Suaranya begitu nyaring saat benda tadi mengenai bazokaku. Mataku segera menatap ke arah senjata yang dia gunakan.


Itu ... ujung panah? Apa ini semacam alat pelontar? Tapi ... akurasinya hebat sekali. Bahkan dalam jarak sejauh ini, dia masih bisa mengincar kepalaku.


TRING!


SRAT!


Lagi-lagi dia menyerang, kali ini bukan hanya dengan satu peluru. Serbuan kepala anak panah itu menyerangku bertubi-tubi.


TRANG TRANG TRANG TRANG!


Cukup lama aku menunggu serangan yang berikutnya, tapi tak kunjung datang. Aku memberanikan diri untuk melihat ke arah atap, dan ternyata ketiga orang itu sudah tidak ada di sana.


"Kemana kepalamu?".


DEG.


Aku mendengar suara dari samping kiri wajahku, saat aku menoleh ... sebilah pedang sudah ada di depan retinaku.


BUAGH!


"ARGH!"


Bruk!


Aku terduduk lemas, mataku melihat ke arah Seas yang datang dengan dagger aneh yang baru pertama kali kulihat. Pria dengan pedang panjang lurus itu terkatung sambil memegang pelipisnya.


Sepertinya tadi Seas menendang tepat ke pelipis orang tadi.


"Kau tidak apa-apa Val?" tanya Seas tanpa menoleh ke arahku. Aku mengangguk pelan lalu segera berdiri, tanganku segera mengangkat bazoka dan menopangnya di bahu kanan.


Trap.

__ADS_1


Kami terkepung. Ketiga orang itu sudah memutariku dan Seas, terlebih ... sepertinya aku tidak asing dengan teknik yang pria berpedang itu gunakan. Itu sedikit mirip dengan teknik mata-mata yang X ajarkan padaku.


"Dimana amplopnya?" tanya salah satu dari mereka, dari suaranya bisa aku yakini bahwa dia adalah laki-laki. Tidak ... ketiga orang di depanku ini laki-laki. Tidak ada satupun dari mereka yang punya postur tubuh perempuan.


"Terbakar," jawab Seas dengan santai.


Deg.


Hah? Seas bilang apa? Aku tidak salah dengar, kan?


"... Apa?" tanya salah satu dari mereka sambil membuka tudungnya. Tampak seorang remaja laki-laki dengan rambut hitam dan bola mata berwarna abu-abu. Wajahnya tampak ikut shock mendengar perkataan Seas.


"Aku bilang amplopnya terbakar. Kalian yang bodoh, kenapa menyerang sembarang begitu~," ucap Seas dengan nada mengejek.


Tap.


Aku melirik ke arah kelingking Seas yang menyentuh telapak tanganku. Kemudian kulirik ganti ke arah wajahnya, Seas tersenyum simpul sambil menatap wajahku.


Ahh ... sudah dimulai ya?


CKLEK.


DUUAARR!


Aku melontarkan sebuah peluru bazoka ke arah pria dengan rambut hitam itu. Sontak mereka terdorong Munduk karena kuatnya efek ledakan dari bazokaku. Asap yang mengepul mulai menutupiku dan Seas.


Yang sudah pasti membuat kami semakin diuntungkan.


Satu hal yang kupahami setelah bertarung bersama Seas dengan cukup lama ... semakin tidak terlihat dirinya, semakin menguntungkan kondisinya.


"... Kalian cukup nekat juga ya?" ucap seorang pria sambil mengeluarkan pedang panjangnya itu. Aku bisa melihat bayangan mata ungu Seas yang memburu pria dengan pedang.


TRANG!


Pertarungan pecah. Seas yang menyerang dengan brutal secara membabi buta, tapi pria dengan pedang itu berhasil bertahan dengan baik.


Tring.


"Oh?" Aku melirik ke arah pria bertudung lain yang hendak membidikkan pelontarnya. Langsung saja aku membidik ganti dengan bazoka di tanganku.


..."Waktunya pesta~."...


TBC


Jangan lupa like dan komennya guys! MAAF TELAT UPDATE! SAYA KEMBALI LAGI!

__ADS_1


__ADS_2