
..."Anda bisa menyerahkan hal ini pada kami, tolong anda keluar lebih dulu."...
POV: X
Aku sekarang duduk dengan resah di depan ruang rawat Seas. Bisa kurasakan keringat yang mengucur deras membasahi seluruh tubuhku.
Seas kenapa? Apakah ada saraf penting di tubuhnya yang terluka? Baru kali ini aku melihatnya sampai berteriak seperti itu.
Mataku kembali memandang ruangan Seas yang masih tertutup rapat. Ini adalah ruangan khusus yang disediakan oleh Ron untuk pihak kami. Karena memang tidak mungkin bagi seorang pembunuh menggunakan fasilitas umum seperti biasa.
"Sial ...," ucapku pasrah sambil menundukkan kepala. Diantara mereka bertiga, hanya Seas yang baru sadarkan diri. Meskipun yang Seas alami hanya anemia, tapi tidak ada yang tau apa yang akan terjadi jika kau kehilangan darah hampir setengahnya.
Valeria ... bahkan jika dia sadarkan diri. Aku tidak yakin apakah dia mampu memegang senjata lagi, luka di tubuhnya sangat fatal.
Sky, sejak awal dia adalah anak dengan stamina yang lemah. Kalau dia sampai mengalami luka pada paru-parunya ... dia tidak akan bisa berlari lagi selama sisa hidupnya.
"Ini semua salahku ... harusnya aku sadar bahwa kemampuanku tidak cukup untuk memimpin tim sehebat mereka," ucapku hampa. Aku menatap lantai licin di depanku dengan kosong, hingga sebuah sepatu berlapis perak berdiri di depanku.
"Kenapa kau sangat murung?"
Ini suara Ron.
"Tidak apa-apa. Hanya menyalahkan diri sendiri saja," ucapku sambil menghela nafas. Ron kemudian tertawa kecil lalu duduk di sebelahku. Bisa kulihat gemerlap pakaiannya yang bahkan bersinar di tempat redup ini. Sepertinya dia datang ke sini sebagai putra mahkota.
"Jangan bersikap seperti ini adalah akhir dunia, kau tau kan bahwa negri ini adalah surga teknologi?" tanya Ron sambil memegang ujung kepalaku. Aku membuka mataku dengan lebar, apakah ini berarti bahwa dia bisa menyembuhkan Seas dan teman-temannya?
"Aku punya janji dengan Seas. Jika dia jadi cacat, bukankah dia tidak bisa menggunakan hadiah yang akan kuberikan nanti?" tanya Ron lagi, kali ini dengan senyum lebar di wajahnya. Aku menoleh ke arahnya dengan cepat, menatap tepat ke arah matanya.
"Kau ... bisa menyembuhkan mereka?" tanyaku dengan nada yang hampir menangis. Ron mengangguk kecil, aku langsung memeluknya dengan erat. Ada perasaan lega dan bahagia yang tidak bisa kujelaskan saat ini.
"Untuk masalah Seas, aku punya beberapa darah yang cocok dengannya, dan ada juga obat yang membuat eritrositnya bertambah banyak. Lalu untuk Valeria, di sini ada tumbuhan dengan sel yang bisa beradaptasi di tubuh manusia, jadi kita bisa mengambil sel itu dan menanamnya di tubuh Valeria. Dan untuk masalah Sky, kita punya obat yang memberikan respon agresif pada pertumbuhan sel, tapi dengan cara suntik. Jadi kupikir itu bukan masalah," jelas Ron panjang lebar. Aku hanya diam sambil memeluknya erat. Berarti mereka bisa beraktifitas seperti biasa jika sudah sembuh.
__ADS_1
"Oh tunggu, tentang janji yang selalu kau sebutkan. Janji apa itu?" tanyaku sambil melepaskan pelukanku. Ron tampak terkejut lalu dia segera melepas cincin di jarinya.
"Kau ingat ini?" tanya Ron.
"Ingat, bukankah ini adalah cincin yang dipinjam oleh Sky waktu itu?" tanyaku sambil menganggukkan kepala.
"Benar. Tapi ini bukanlah cincin biasa. Di sini, ini disebut dengan 'blood weapon'," ucap Ron lalu memakai cincinnya kembali. Aku mengernyitkan keningku, 'blood weapon'?
Apa itu?
"Apakah itu ... senjata yang istimewa?" tanyaku dengan nada yang gugup.
"Biar kujelaskan.
Blood weapon adalah senjata inovasi yang diciptakan oleh keluarga kekaisaran, lebih tepatnya di generasi kakekku. Tapi karena proses pengembangannya yang 'belum' sempurna. Jadi penelitian senjata ini dihentikan.
Kemudian kakek turun takhta dan sekarang adalah generasi ayahku. Semenjak ayah menobatkanku sebagai putra mahkota, aku diberi kewenangan untuk ikut andil dalam pengembangan senjata ini. Dan tentu saja, aku menemukan caranya.
Pada dasarnya, senjata ini hanyalah senjata dengan bahan dasar besi biasa dan dicampur dengan darah pemiliknya. Mungkin ini akan terdengar aneh, tapi besi yang dicampur dengan darah pada proses pembuatannya, memiliki kekerasan dan tekstur yang berbeda.
Lalu setelah aku teliti lebih jauh lagi. Ini bukan karena darahnya yang membuat senjata menjadi rapuh, tapi karena besi yang tidak mampu menahan kapasitas kekuatan darah itu. Jadi setelah itu, aku melakukan berbagai macam eksperimen untuk menemukan jenis besi terkuat.
Itu adalah jenis besi yang ditambahi atom milik permata. Dengan beberapa perhitungan yang cukup rumit, akhirnya kita bisa menemukan besi yang kuat dan bisa diatur sesuka hati. Tidak cair dan tidak padat. Tidak lembek dan tidak kuat.
Tapi saat besi ini dicampur dengan formula blood weapon.
Besi ini akan menjadi senjata yang diinginkan tuannya.
Keras? Besi ini mampu melakukannya. Tajam? Besi ini sanggup mewujudkannya. Dan ... aku ingin tim Seas lah yang pertama kali mendapat blood weapon ciptaanku ini!" Setelah penjelasan panjang dari Ron. Aku jadi mengerti satu hal.
BESI INI SANGAT LUAR BIASA!
__ADS_1
"JADI MAKSUDMU, INI ADALAH BESI YANG BISA BEREVOLUSI?!" tanyaku dengan nada yang cukup keras. Ron mengangguk dengan semangat, dia mulai mengeluarkan sebuah hologram dari cincinnya dan menunjukkan beberapa blueprint senjata padaku.
"I-ini, adalah desain yang kau buat? Sendiri?" tanya tidak percaya.
"Kau pikir? Hm? Ron ini adalah seorang jenius! Aku akan membuatkan mereka senjata impian mereka!" ucap Ron dengan hidung yang sengaja dimancungkan. Aku tertawa kecil sambil menepuk pundak Ron.
"Apa? Kau berani menepuk pundak putra mahkota?" tanya Ron dengan nada jahil.
"Kenapa? Apa kau akan mengusirku dari negaramu?" tanyaku ganti dengan nada jahil. Setelah itu kami berdua tertawa. Hingga dokter dari ruangan Seas akhirnya keluar.
"Bagaimana dok?!"
***
POV: Author
Ini adalah akhir dari bulan ke 2 semenjak misi mereka dimulai. Sudah begitu banyak waktu yang mereka lewati, dan makin banyak misteri yang belum diungkapkan.
"X! Apakah kau sudah siap?!"
Seorang pria dengan baju serba hitam itu melirik ke arah belakangnya. Wajah yang awalnya dingin, segera menghangat setelah tau siapa yang berbicara dengannya.
"Seas! Bagaimana kau sendiri? Apa kau sudah siap?" balas X sambil berbalik ke arah anak itu.
Ya, dia adalah Seas Veldaveol. Ini adalah hari ke 20 sejak dia keluar dari rumah sakit. Alasan dia belum kembali ke Underworld School? Karena dia harus mengasah ototnya yang hilang setelah tidur panjang.
"Kami juga sudah siap, benarkan? Sky?" Muncul seorang perempuan dengan rambut gelombang coklat kemerahan. Dia adalah Valeria Regan.
"Ya, aku juga sudah siap!" ucap anak dengan rambut kuning. Matanya begitu membara dengan semangat.
..."Kita akan pulang. Ke Underworld School."...
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!!