Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Di pengeboran minyak!


__ADS_3

"Ada sesuatu di tengah laut.


Pertambangan minyak."


POV: Seas


"Hah? Pertambangan minyak? Di lepas pantai? Apakah besar?" tanyaku pada C, yang baru saja turun dari atas pohon. Dia kemudian terlihat mengeluarkan sebuah kertas dari jaketnya. Itu sebuah peta.


"Hm, harusnya benar. Jika dilihat dari posisi kita saat ini, di tengah laut, sekitar 4 kilometer dari pantai, ada pertambangan minyak negara yang cukup maju," ucap C seraya melipat kembali petanya. Aku lalu berjongkok, menyentuh air laut.


"Hm ... bukankah ini aneh? Kenapa ada yang menyerang aset negara? Apakah ini serangan dari negara lain?" gumamku pelan.


"Atau jangan-jangan ... salah satu ulah organisasi itu?" tanya Sky yang ikut menebak. Kami berlima kemudian terdiam, saling menatap ke arah laut.


X tersenyum, namun sorot matanya serius. "... Tidak ada pilihan lain, kita harus memastikannya sendiri."


.


.


.


Setelah itu, kami berlima menaiki perahu tanpa mesin yang ada di tepi pantai, agak jauh dari lokasi kami tadi. Dengan tenaga manusia, kami bergantian mendayung perahu itu ke tengah laut. Cukup sulit melihat dari sini, tidak ada satupun penerangan yang membuat hal ini lebih menakutkan.


Sekarang adalah bulan mati, fase dimana bulan tak akan terlihat sedikitpun di langit. Cahaya bintang yang tak seberapa ini jelas tidak bisa mencukupi pencahayaan. Butuh sekitar 1 jam kami mendayung, hingga kita bisa melihat adanya bangunan yang berdiri kokoh di sana.


Dengan pondasi tiang yang ditancapkan ke dasar laut, di atasnya dibangun sebuah pengeboran minyak yang besar.


Namun anehnya, tempat ini gelap. Seolah ini adalah tempat terbengkalai. Padahal seharusnya, tempat ini masih beroperasi.


"Val, coba nyalakan senter ponselmu, arahkan ke laut," perintah C yang segera dilakukan oleh Valeria. Ponsel Valeria mulai menyala, cahaya yang terang seperti membuka jalan di depan kami.


Hal selanjutnya yang kami lihat kini sungguh diluar dugaan. Air hitam yang kami kira berwarna biru, ternyata sesungguhnya adalah air merah karena darah. Warnanya memang sudah sedikit memudar, namun jejak aliran darah di dalam airnya masih bisa dilihat.


"Sudah cukup, matikan senternya," ucap C lagi. Valeria mematikan senter ponselnya.


"Apakah ini pembantaian? Kelihatannya korbannya sangat banyak," ucapku menerka-nerka. Pengeboran minyak sebesar ini, mustahil hanya dijalankan oleh beberapa orang saja, setidaknya butuh 300 orang lebih untuk membuatnya beroperasi.


"Yah, kita akan tau saat kita masuk. Hm ... sebaiknya kita masuk secara dari tempat yang terpisah, Valeria dan Sky akan ada dalam satu tim, C sendirian, dan akan bersama Seas." X memberikan sebuah pistol pada Valeria.


"Aku sudah punya juga kok?" tanya Valeria heran, kalau pistol biasa, ya tentu saja Valeria punya.


"Itu bukan pistol biasa, itu untuk memanjat naik, Seas akan naik denganku, dan C sudah punya sendiri," ucap X sambil tersenyum. Setelah itu X mengeluarkan satu pistol lagi, dan dia membidik ke langit-langit di arah Timur.


CRRTTT!


Sebuah tali terlempar cepat dan tertancap di sana. Pengeboran minyak ini punya beberapa lubang khusus, baik itu untuk membuang air, maupun bagian tengah untuk pengeborannya. Aku dan X sepertinya akan lewat saluran pembuangan air.


...


"Hah?! X! Kita lewat saluran pembuangan air?!" Aku berbisik panik, sedangkan X malah tertawa. "Iya! Seru kan! Ayo cepat naik ke punggungku!" Aku hanya bisa tersenyum pahit melihatnya.


Sial.


"Kalau begitu, aku akan masuk dari lubang pengeboran." C juga mulai membidik, setelah talinya tertancap, dia langsung tertarik untuk terbang ke atas.

__ADS_1


"Hm, kalau begitu, sepertinya lebih baik aku dan Sky lewat tepi bangunan," ucap Valeria. Dia kemudian membidik titik yang terdekat dengan tepi bangunan. Setelah talinya menancap, Valeria melirik Sky.


"Ayo, naik ke punggungku!" ucap Valeria. Sky tampak shock.


"Tidak! Lebih baik aku yang menggendongmu!" ucap Sky.


"Tidak bisa, fisikmu lebih lemah dariku," tolak Valeria mentah-mentah. Sky tampak bingung, dia melihat ke arahku yang sudah naik ke punggung X.


"... Aku setuju dengan Valeria, lebih baik kau saja yang digendong sky," ucap X.


"Benar, aku takut kalau kau menggendong Valeria, kalian berdua malah jatuh ke laut," tambahku yang membuah wajah Sky semakin murung. Aku ingin tertawa rasanya melihat Sky murung, dia ingin menolak tapi memang kenyataan bahwa fisik Valeria lebih kuat.


Yah, mereka pasti bisa mengatasinya dengan baik.


CRRRTT!


"Uwa!" Aku tersentak kaget, X tanpa aba-aba sudah menarik talinya, membuatku dan dirinya terbang melalui tali itu. Tak butuh waktu lama, kamu berdua sampai di lubang yang terdekat.


"Naiklah lebih dulu," ucap X. Aku mengulurkan tangan, menggapai pipa yang yang terlihat kokoh untuk aku jadikan pegangan. Setelah kurasa cukup, aku melepaskan diri dari gendongan X, bergelantungan ke arah lubang lalu masuk.


"... Baunya huek!"


"Seas! Jangan muntah!"


Tolong, harusnya aku tadi ikut C saja.


.


.


.


CRRTTT!


Setelah perdebatan kecil sampai Sky mengalah, aku langsung menggendongnya dan menarik tali yang membawa kami ke atas. Karena kami masuk lewat tepi, jadi tidak terlalu sulit untuk mencari pegangan.


Tap!


Aku sudah berhasil naik, selanjutnya disusul oleh Sky. Di depanku, terpampang sebuah bangunan yang besar, urat-urat mesin dan pipa yang terlihat sepanjang mata memandang.


Dan bau anyir darah.


"Ayo kita masuk," ucapku, namun tanganku ditahan oleh Sky. Aku menoleh ke arahnya dengan cepat. "Apa?"


"Pakai ini dulu." Sky memberikan sebuah kain hitam berbentuk persegi kecil padaku. Apa ini?


"Itu jubah sekali pakai, aku sudah memberikan ini pada Seas sebelumnya. C dan X tidak butuh ini, jadi mereka tidak kuberi," ucapnya yang kubalas dengan anggukan. Aku melihat kain kotak ini.


...


Bagaimana cara pakainya?


"Sobek kain itu, lalu taruh di atas kepalamu. Nanti dia akan melebar dan menjadi jubah bertudung dengan sendirinya." Sky menjelaskan padaku. Dia kemudian merobek kainnya sendiri dan menaruhnya di atas kepala. Dan benar saja, kain itu seolah meleleh bagai es, namun membentuk sebuah tudung hitam yang menutupi seluruh tubuh kecuali muka.


"Paham?" tanya Sky lagi.

__ADS_1


"Ya ya ya."


Krek.


Aku mengikuti cara Sky, dan jubah itu muncul padaku.


Baiklah, ayo kita masuk!


Aku dan Sky berlari kecil, kami berdua menuju ke tembak terlebih dahulu dan mulai berjalan dari sisi tembok. Berjalan di tengah akan jadi pusat perhatian, tapi dengan berjalan di sisi tembok, kita akan lebih sulit untuk dilihat.


Beruntung pengeboran ini tidak punya pintu masuk untuk ke area tengah. Jadi kami bisa masuk dengan leluasa walaupun dari tepi.


"Baunya semakin kuat, Val," gumam Sky pelan yang masih bisa kudengar. Aku mengeluarkan pistolku untuk berjaga-jaga, tidak lucu jika aku kena serangan kejutan.


Cplak.


Cplas.


"..."


"..."


Aku dan Sky terdiam, kami langsung saling bertatapan. Kami paham,


Bahwa akan ada orang yang datang.


Suara langkah kaki di atas genangan darah, serta suara siulan yang terus menguat. Aku dan Sky langsung bersembunyi di balik pipa besar.


Greeeekkkk.


"Hm hm hm~"


Di depan sana, aku melihatnya. Seorang gadis kecil yang menyeret puluhan kepala yang dia ikat memanjang jadi satu. Tangan kanannya membawa sebuah gergaji mesin. Kuncir dua yang diikat tidak simetris, serta jubah bertudung warna ungu gelap.


Warna ungu? Warna yang cukup mencolok sebagai seorang pembunuh ya?


"Hmmm~ aish kapan sih mereka akan menjemput kami. Aku sudah mulai bosan di sini, padahal mereka bilang bahwa kita hanya harus membunuh pekerja di sini," ucapnya dengan nada yang jenuh. Gadis itu duduk, di atas puluhan kepala yang dia seret.


"Padahal di sini tidak ada satu orangpun yang layak dilawan. Tapi mereka tetap menyuruhku melakukan tugas ini, ahh aku bosan~," ucapnya lagi. Aku dan Sky masih diam, kami berdua mengamati anak itu. Dari ukuran tubuhnya saat ini, aku yakin dia lebih muda dari kami, dia masih seperti bocah yang baru lulus sekolah dasar.


Klinting.


Apa?


GRRRNGGGG!


WHUNG!


CRAAANGG!


Aku dan Sky langsung melompat ke arah yang berlawanan. Gadis itu menyalakan gergajinya dan melempar ke arah kami tanpa ragu. Wajahnya tersenyum lebar.


"Heeehh? Apakah ada kecoa yang tersisa? Kukira aku sudah membunuh semuanya," ucapnya sambil menjilat bibir bawahnya.


...

__ADS_1


Kenapa aku hanya ketemu psikopat saja?


TBC.


__ADS_2