
..."Nah nyonya. Kematian apa yang pantas untukmu?"...
POV: Seas
Dugaanku benar. Pasti ada orang dengan jabatan tinggi yang terlibat di sini. Bagaimana mereka bisa mengosongkan satu daerah hanya untuk perdagangan manusia?
Satu-satunya yang punya kekuasaan seperti ini adalah ...
"Kaisar?" ucapku pelan sambil mengintai dari balik plafon. Aku sedang bersembunyi sekarang, sambil memperhatikan gerak-gerik orang yang dipanggil 'nyonya' itu.
Kringg!
"Halo? Oho~ kabarku baik! Bagaimana denganmu sayang?~" Perempuan itu berbicara lewat telepon. Sial, aku tidak bisa mendengar suara dari telepon itu.
"Jangan khawatir. Malam ini, di tempat biasa. Tolong siapkan panggung yang mewah ya~," ucap perempuan itu lalu memberi kecup jauh.
"Muwwah!"
Ugh ...
Tak!
Perempuan itu menaruh teleponnya dan berjalan ke arah kursi. Dia mengambil beberapa dokumen lalu memanggil seorang pria.
"Hey kau! Antarkan ini ke tempat biasa!" ucap perempuan itu. Si pria mengangguk lalu berjalan pergi sambil membawa dokumen.
Aku segera merangkak untuk mengikuti pria tadi. Kesempatan ini tidak boleh hilang! Aku akan memotong ekor mereka terlebih dahulu!
Pria itu segera masuk ke dalam mobil berwarna hitam, dia menyalakannya dan pergi melewati tebalnya salju. Aku keluar lewat sebuah ventilasi dan segera mengejarnya. Mataku melihat matahari yang segera terbenam, tanpa kusadari, sudut bibirku terangkat.
Kegelapan itu teman bagiku. Dan menurutku, kegelapan itu uang bagi kalian.
Mobil itu berhenti di depan sebuah gudang. Lokasi ini di tengah hutan, aku cukup terkejut saat sadar bahwa ada jalan sebesar ini di hutan. Mobil saja bisa lewat.
Pria itu keluar dari mobil dan berlari kecil, masuk ke dalam gudang itu.
Brak!
Setelah pintunya tertutup, aku turun dari atas pohon. Sambil berlari kecil, aku mendekat ke arah pintu, mencoba menguping apa yang mereka bicarakan.
"Benarkah? Sangat disayangkan."
"Padahal jika dia tidak kabur, dia akan terjual dengan harga mahal."
Pasti mereka membicarakanku.
"Anak satunya? Bunuh saja."
__ADS_1
"Jangan lupa ambil organ dalamnya, pasar ginjal sedang ramai saat ini."
Aku membuka mataku dengan lebar, terkejut dengan apa yang mereka katakan. Aku terlalu ceroboh, bisa-bisanya aku lupa bahwa anak itu bisa saja terbunuh.
Aku segera menjauh dari pintu, lalu berjalan ke arah mobil.
"Sial, semua jendelanya di tutup," ucapku sambil mengetuk-ngetuk kaca sambil mobil. Aku mengepalkan tanganku dengan kuat, bersiap meninjunya.
Prang!
***
POV: Author
Pria tadi berlari keluar dengan tergesa-gesa. Matanya fokus ke kaca mobil yang pecah. Dia berlari kecil lalu memperhatikan bagian dalam mobilnya.
"Apa ada hewan yang memecahkannya?" gumam si pria. Dia masih memeriksa mobilnya beberapa saat, sampai dia merasa yakin, barulah pergi meninggalkan mobil.
"Ini dokumennya, aku menunggu hasilnya malam ini."
"Baik pak."
Pria tadi segera keluar dari gudang dan masuk ke dalam mobil. Dia memutar mobilnya, kembali ke arah dia datang.
Selama perjalanan, pria itu bersenandung ria, sesekali dia bersiul.
Mobilnya tiba-tiba berhenti. Pria itu menghentikan siulannya lalu keluar untuk memeriksa mesin mobilnya.
"Tidak ada yang rusak. Lalu kenapa ini tidak mau menyala?" tanya pria itu dengan heran. Dia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, sambil menghela nafas dengan frustasi.
Psss.
Lagi-lagi ada suara aneh yang terdengar. Pria tadi berjalan ke arah bagasi mobil. Dia membuka bagasinya lalu mengecek ke dalamnya.
"Apakah ada ular?" Dia mengintip hingga ke sela-sela kursi.
Langit semakin gelap, ditambah dengan suasana hutan yang mencekam. Pria itu mulai merasa takut berada di sini. Dia segera menutup bagasinya dan masuk ke dalam mobil. Karena gugup, dia mengetuk-ngetuk setir mobilnya.
"Sepertinya aku akan bermalam di sini," ucap si pria. Dia mengambil rokok di saku lalu menyalakannya. Pria itu menatap gelapnya hutan di depannya.
Perasaannya semakin tidak enak. Rasanya seperti ... dia sedang diperhatikan. Pria itu sudah menghabiskan seluruh rokok yang dia punya, tapi rasa takutnya belum juga hilang.
Kakinya mulai merasa dingin, tangannya juga sudah berkeringat. Dia benar-benar takut sekarang.
Pria itu menoleh ke arah bangku kirinya. Dan dia melihat sesuatu ... .
"HUAAA!" Pria itu berteriak, dia membuka pintu mobil dengan paksa. Di sampingnya, Seas duduk dengan tenang. Mata ungunya bersinar sambil memperhatikan si pria. Seperti serigala yang memburu mangsanya.
__ADS_1
Brak!
Pintu mobilnya dibuka dengan paksa, pria itu berlari ke arah hutan. Dia sudah panik dan tak mampu berpikir apapun. Pria tadi menoleh ke belakang, ada perasaan lega karena Seas tidak mengikutinya.
Tapi dia salah.
Bruk!
Pria itu tersungkur di salju, matanya melihat betis Seas yang berdiri kokoh di depannya. Perlahan-lahan, pria itu mendongakkan kepalanya.
"HIIY! T-TIDAK! AA-AMPUNI AKU!" Wajahnya menjadi pucat pasi. Seas masih diam dan memandangi pria itu. Wajahnya lebih dingin dari es, tatapannya lebih tajam dari sebilah pisau. Sinar rembulan yang menembus dedaunan, membuat rambut putih Seas berkilau seperti perak.
Pria itu diam membeku dengan mulut ternganga, Seas melihat ke arah celana pria itu lalu tertawa kecil. Pria itu mengompol saking takutnya.
"Kau takut dengan karma tapi masih melakukan perbuatan dosa?"
"A-aku tidak tau apapun! A-aku hanya menjalan perintah! Aku mohon lepaskan aku!" Pria itu segera duduk lalu bersujud. Seas menatapnya dengan bingung,
"A-aku punya keluarga di rumah ... Aku ha-hanya berusaha mencari nafkah!" ucapnya dengan terbata-bata. Seas tersenyum meremehkan, tangannya sudah gatal ingin memotong leher pria ini.
"Apa kau tidak malu?"
"A-apa?" tanya pria itu sambil menatap Seas.
"Apa kau tidak malu? Kau kepala keluarga, kan? Memberi makan istri dan anakmu dengan uang dari hasil pekerjaan ini," ucap Seas ketus dan dingin. Pria itu tertegun, dia menunduk lalu menatap lututnya dengan sedih.
"A-aku minta maaf, aku mohon jangan membunuhku," ucap pria itu sambil menangis. Seas masih menatapnya dalam diam.
"Haaah." Seas menghela nafas dengan kasar, dia tersenyum miring sambil menatap pria itu dengan bengis.
"Kau berbohong, kan?" tanya Seas sambil tersenyum penuh nafsu. Seas berjongkok lalu mencengkram wajah pria itu. Mata Seas menunjukkan kemarahan yang mengerikan.
"Kupikir setidaknya aku akan membiarkanmu hidup, tapi kau terus menyia-nyiakan kesempatan yang kuberikan," ucap Seas sambil menatap lekat mata si pria. Tubuh pria itu bergetar, dia sudah tamat sekarang.
Seas mengeluarkan dagger dari belakangnya.
Crash!
Detik berikutnya, salju di sekitar Seas sudah berwarna merah. Darah dari pria itu ada yang mengenai pipi Seas, tapi dia membiarkannya.
"Aku sudah membaca dokumen kau bawa," ucap Seas sambil menunjukkan dokumen yang dia lipat. Dia tersenyum simpul lalu mengusap pelan kepala pria yang sudah tak bernyawa.
"Terimakasih, bahkan di sini ada daftar tamunya." Seas tertawa puas lalu berjalan pergi, meninggalkan mayat dan bangkai mobil di tengah hutan.
..."Jam 9 malam ini. Pertunjukkan akan dimulai."...
TBC.
__ADS_1