Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Di Asrama Valeria!


__ADS_3

..."Apakah ini benar asrama Valeria tinggal?" ...


POV: Seas


Aku menatap gedung suram di depanku dengan tatapan ragu-ragu. Aku yakin Sky pasti lebih takut dari diriku.


"Sky, ayo ... kita masuk?" ucapku pelan sambil menyenggol siku Sky.


Kenapa dia diam saja?


Aku melirik ke arah Sky. Dan benar saja, dia sudah tidak hidup. Entah kemana jiwanya pergi. Dia seperti boneka kusut yang ketakutan menatap gedung ini.


"HIAAAH!"


PRANG!


Aku dan Sky langsung tersentak saat mendengar teriakan Valeria dari dalam. Bersamaan dengan teriakan itu, ada salah satu kaca yang pecah. Sepertinya dipecahkan dari dalam.


"Kenapa Valeria?" tanyaku sambil bergumam. Sementara Sky semakin pucat hingga dia akan pingsan.


"Sudahlah, ayo kita masuk!" Aku langsung mencengkram lengan Sky dan menyeretnya masuk bersamaku.


"TIDAKK!"


***


"Di dalam sini sangat sepi ya?" gumamku saat berjalan di lorong yang gelap. Hanya berbekal sebuah obor, kami nekat mencari kamar Valeria seorang diri. Sepertinya masih Valeria sama dengan kami, seluruh penduduk asrama ini kebanyakan sudah tidak ada, atau bahkan mati.


"Val? Kau dimana?" tanyaku dengan suara yang cukup keras.


"... Sky, bukankah seharusnya sekarang sudah cukup untuk merasa takut?" tanyaku pada Sky yang memeluk lenganku seperti guling. Tapi Sky malah memelukku semakin erat.


"Sky, lepaskan! Aku tidak suka laki-laki!" ucapku sambil berusaha menjauhkan Sky dari lenganku.


"Aku juga tidak suka laki-laki!" bela Sky tapi tetap mempertahankan pelukannya.

__ADS_1


"Kalau begitu berhenti memeluk lenganku!" ucapku sambil mendorong wajah Sky.


"Tapi aku takut!" Sky berusaha mempertahankan pelukannya.


"... Sebenarnya kenapa kalian ke sini?" Valeria tiba-tiba muncul dengan keadaan setengah basah. Aku dan Sky langsung berhenti berdebat dan memperhatikan Valeria.


"Kenapa tubuhmu basah?" tanyaku sambil menaikkan sebelah alisku. Valeria melirik ke arah kirinya, setelah kulihat lagi, ternyata dia baru saja berlatih menggunakan senjata barunya.


"Woah! Kau berlatih dengan senjata yang diberikan oleh Ron?" tanya Sky dengan antusias. Sky langsung berlari ke arah senjata Valeria dan melihatnya lekat-lekat. 


"Kami datang ke sini karena khawatir padamu, kau jadi tidak secerewet biasanya," ucapku sambil mengekori Valeria yang berjalan pergi. Bulir keringat yang sebesar biji jagung itu masih berada di dahinya. Jelas dia berlatih keras untuk menguasai senjata berat pemberian Ron.


"Kita tidak punya banyak waktu, ujian akan segera dimulai," ucap Valeria sambil mengusap wajahnya dengan handuk. Yah, sepertinya yang dia ucapkan itu benar. Aku sudah jarang melihat siswa yang berkeliaran di jalanan, sepertinya semuanya fokus untuk berlatih.


"Bukankah kau juga harus berlatih, Seas?" tanya Valeria sambil melirik ke arahku. Aku menatapnya datar lalu menggaruk leherku yang tidak gatal.


"Senjata yang diberikan oleh Ron tidak jauh beda dengan senjataku yang sebelumnya, tanpa berlatih aku sudah menguasainya," ucapku sambil mengeluarkan dagger pemberian Ron.


Ya, kami bertiga mendapat senjata yang dibuat khusus oleh Ron. Dia bilang bahwa senjata ini dapat berevolusi mengikuti perkembangan kami. Karena ini memang dibuat dengan campuran darah kami sendiri.


Valeria mendapat sebuah senjata berat dengan jenis all-rounder. Harus kuakui bahwa senjata Valeria lebih keren dari milikku. Kenapa senjatanya disebut all-rounder? Karena senjatanya bisa berubah menjadi 4 bentuk, sesuai dengan keinginan Valeria. Bazoka, sniper, riffle, dan shotgun.


Sedangkan Sky mendapat dua senjata. Pertama dia mendapat selusin jarum yang dibuat dengan material khusus. Jarum itu hanya akan bergerak mematuhi perintah Sky. Dan senjata keduanya adalah Schyte, salah satu senjata berat dengan tipe panjang dan sabit besar di ujungnya.


"Kalau begitu, haruskah kita mulai berlatih bekerja sama?" tanya Sky sambil mengeluarkan salah satu jarumnya. Aku dan Valeria berpikir sejenak, kita juga bukannya belum pernah melakukan kerja sama. Tapi rata-rata kerja sama yang kita lakukan itu bersifat instan dan direncakan saat itu juga. Atau bahkan lebih sering seperti ketidaksengajaan.


"Yah tidak ada salahnya mencoba sih ... tapi menurutku, ini akan membuang-buang waktu. Sepertinya aku punya ide yang lebih bagus daripada latihan bekerja sama," ucapku sambil menopang dagu di telapak tanganku.


"Apa itu?" tanya Valeria.


"Daripada kita berlatih untuk menyinkronkan gerakan kita, bukankah lebih baik kita berlatih menghadapi tim yang ahli dalam kerja sama? Selain bisa membantu kita untuk mencari strategi, ini juga meningkatkan kemampuan individu," jelasku pada mereka berdua. Valeria mengangguk paham, sedangkan Sky sepertinya punya pemikiran lain.


"Kau benar, tapi ini juga memiliki beberapa kelemahan. Tim yang punya kekompakan, itu tidak bisa diprediksi," ucap Sky dengan ekspresi bingung.


"Benar, tapi tim yang terdiri dari anggota kuat. Adalah tim yang kuat dengan mutlak," ucap Valeria sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Tunggu-tunggu, bukankah kita terlalu serampangan dalam memutuskan hal ini?" ucapku berusaha menengahi pembicaraan yang semakin aneh ini. Walaupun ini memang ideku sendiri, tapi aku masih merasa ada yang kurang.


"Kita putuskan nanti saja setelah menemui Rex. Sky! Bukankah tujuan kita kemarin untuk mengajak Valeria ikut dengan kita?" tanyaku pada akhirnya. Sky langsung ingat tujuan kita kemari dan barulah dia menaruh senjata Valeria kembali ke tempatnya.


"Benar! Ayo ikut kami ke Rex!" ucap Sky lalu segera menarik Valeria pergi.


"Tunggu- AKU BELUM MANDI!" teriak Valeria.


***


Sekarang kami sedang naik lift untuk pergi ke kantor Rex. Karena tadi Valeria ribut bahwa dia belum mandi, Sky langsung menyiramkan sebuah larutan kimia ke tubuh Valeria. Dan ajaibnya, larutan itu berubah menjadi wangi dan menyegarkan.


Sky menyebutnya dengan 'mandi instan'. Dasar jenius kimia.


Cklek.


Pintu ruangan ini terbuka, dan seperti biasa, pemandangan pertama yang kami lihat adalah ruangan gelap tanpa cahaya sedikitpun. Ruangan ini mulai menjadi lebih terang saat beberapa lampu redupnya mulai menyala.


Di depan kami, terpampang kursi hitam yang menghadap ke jendela. Perlahan kursi itu berputar ke arah kami, menunjukkan Rex yang tersenyum dengan lembut.


"Wah ada Seas~ ada apa kau kemari?" tanyanya sambil menyangga dagunya dengan punggung tangan. Aku segera menyenggol lengan Sky, mengisyaratkan agar dia yang menjelaskan.


Setelah itu Sky mulai menjelaskan tentang apa yang dia teliti dengan rinci. Mulai dari fakta yang dia temukan, hingga beberapa hipotesa tentang kejadian masa lampau serta efek di masa depan.


"Hmm, terimakasih kau sudah memberitahu hal ini padaku. Tapi sayangnya, menjaga kedamaian dunia bukanlah tugasku," balas Rex dengan senyuman. Aku melihat sedikit ekspresi kecewa di wajah Sky. Wajar saja, dia melakukan banyak hal untuk menemukan hal ini. Bahkan aku juga sangat terkejut tentang hal yang dia teliti.


Tapi ini Underworld School, tempatnya para pembunuh. Ini bukanlah organisasi untuk menjaga kedamaian dunia. Tapi ini organisasi yang melaksanakan praktek pembunuhan secara masal.


Sekali lagi, ini adalah sekolah. Dimana semua mimpi liarmu bebas jadi kenyataan. Pembunuhan, balas dendam, mata-mata, penyusupan, data internasional, obat-obatan, teknologi mengerikan, eksperimen pada manusia.


"Tapi, informasi ini akan berharga mahal jika kita menyerahkannya pada organisasi dunia, kau sudah melakukan jasa besar. Tapi karena kau adalah seorang pembunuh, kita akan merahasiakan identitasmu. Aku yakin mereka akan mulai menyelidiki hal ini setelah datanya kukirim pada mereka." Rex memasukkan beberapa lembar kertas ke dalam sebuah map merah kehitaman. Ternyata selama Sky menjelaskan tadi, Rex sudah mencatat setiap bagian pentingnya.


..."Nah, apa lagi yang kalian butuhkan? Aku yakin kalian punya sesuatu untuk ditanyakan."...


TBC.

__ADS_1


Jangan lupa likenya ya guys!


__ADS_2