Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Coses, sang ahli aroma


__ADS_3

POV: Author


Sementara itu di distrik lain, di sebuah tempat yang cukup sederhana yang dipenuhi dengan apartemen kumuh tak berpenghuni. Terlihat bayangan dua orang yang melesat cepat di sela-sela bangunan. Kedua orang itu adalah agen C dan Nera.


Sebenarnya, agen C tidak cukup paham kenapa dia harus berpasangan dengan Nera. Para agen mata-mata sejak dulu dilatih untuk bergerak secara individu meskipun misi itu dilakukan bersama-sama. Selain itu, kemampuan agen C dan Nera juga tidak menghasilkan kombinasi yang bagus.


"C, apakah ... Sky dan Seas akan baik-baik saja?" tanya Nera dengan sorot mata yang khawatir. Sudah lebih dari 3 kali Nera mempertanyakan hal ini hari ini. Agen C tertawa ringan, lalu menjawab tanpa menoleh ke arahnya.


"Mereka pasti akan baik-baik saja, bukankah sudah aku bilang mereka itu tim monster? Di masa depan, mereka akan semakin kuat dan tidak bisa dikalahkan," jawab agen C. Nera menerima jawaban itu, meskipun hatinya masih tidak tenang.


Mereka berdua masih terus berlari, cukup jauh rasanya karena mereka tidak kunjung menemukan orang yang mereka cari.


Target mereka adalah Coses, sang ahli aroma. Ya, dia lebih susah dicari karena tim Underworld School belum pernah bersitegang secara langsung dengan pria ini. Di dalam data yang X berikan, pria ini cenderung ahli dalam menggunakan obat aroma, terlebih lagi dalam teknik ilusi.


"C, bukankah lebih baik kita berpencar untuk mempercepat pencarian?" Nera bertanya dengan ekspresi serius. C melirik Nera dengan tatapan ragu, tujuan mereka menjadi partner kali ini adalah untuk melindungi satu sama lain.


Terlebih, jika lawannya adalah ahli ilusi, berpencar sepertinya hanya akan memperkeruh keadaan.


"... Kurasa ini bukanlah ide yang bagus, Nera." C menjawab sambil menggelengkan kepala. Nera masih membantah.


"C, aku punya kemampuan yang baik dalam mendeteksi bau obat, dan aku yakin kau juga punya kemampuan yang sepadan karena menjadi agen tingkat atas dari Underworld School.


Kita akan lebih cepat jika bergerak secara individu," ucap Nera lagi. C berhenti berlari, diikuti oleh Nera yang kemudian berdiri di depan C.


"Jika kita bisa membereskan masalah ini lebih cepat, maka kita bisa membantu para pemula itu," ucap Nera. C menutup matanya dan berpikir keras, jika untuk efisiensi, maka ini adalah pilihan yang tepat.


"Baiklah, tapi jika ada salah satu yang terjebak dalam masalah, segera ledakkan bom untuk meminta bantuan," ucap C yang dibalas dengan anggukan oleh Nera. C segera berlari ke arah lain, sedangkan Nera terus berlari ke depan.


Dengan mengenakan gaun hitam panjang, serta membawa tas rotan yang berisi obat-obatan, Nera memanglah spesialis dalam racun dan obat walaupun bukan berasal dari Underworld School. Nera dulunya adalah seorang lulusan farmasi yang tanpa sengaja terlibat dengan dunia bawah. Yang sampai sekarang malah menjadi pekerjaan utamanya.


Syuushhh.

__ADS_1


Saat Nera masih terus berlari dan mencari, indra penciumannya mendeteksi bau yang tidak wajar. Dia segera berhenti, dan mulai mengamati sekitarnya. Baunya aneh, seperti bau obat yang disamarkan dengan bau parfum.


"[Teknik aroma kematian: nomor 1, kabut ungu.]"


Syuushhh!


Perlahan-lahan, banyak asap ungu mulai mengelilingi Nera. Asap ini memang tipis, tapi perlahan menjadi semakin banyak dan menutupi pandangan. Di dalam kabut, samar-samar Nera bisa mencium bau lavender.


Bau lavender! batin Nera sambil bersiap mengeluarkan obat dari dalam tasnya.


Lavender adalah bunga beraroma menenangkan, dan banyak digunakan sebagai terapi untuk insomnia. Tetapi ... jika digunakan oleh pembunuh. Dalam beberapa rumus kimia, maka lavender bisa menjadi obat tidur yang sangat mengerikan.


Nera menyobek lengan gaunnya, dan menuangkan sebuah cairan ke kain yang baru saja dia sobek. Setelah menuangkan cairan itu, Nera mengikat kain itu ke lehernya.


Cairan ini bisa menetralisir rasa kantuk, aku bisa bergerak dengan leluasa sekarang. Nera melihat ke kiri dan kanan, mencari sosok di balik kabut ungu ini.


"Wah wah wah ... kukira orang dari Underworld School yang akan duluan menyerang, tapi ternyata ... hanya seorang nona." Suara itu menggema di dalam kabut. Suara yang berat tapi dengan kesan erotis yang mengesalkan.


"Heh kurang ajar! Beraninya kau menyebutku banci!" Suara itu terlihat marah, Nera mengendikkan bahu tanda bahwa dia tidak peduli. Dengan segera dia mencampur beberapa cairan yang dia ambil dari dalam tas rotannya, dan menuangkan cairan itu ke atas tanah.


Sedikit demi sedikit, muncul asap merah muda dari cairan yang meresap ke tanah itu. Asapnya mulai bercampur dengan asap ungunya.


"Hoo, apa kau mencoba menetralkan kabutku? Usaha yang bagus," ucap suara itu terdengar meremehkan. Nera tidak menggubrisnya, dia masih terus meracik dan meracik hal yang perlu dia siapkan.


"Aku ... memang bukanlah orang yang ahli dalam bertarung, karena selama ini yang aku lakukan, hanya mengobati orang atau membunuh mereka dengan racun diam-diam." Nera bercerita di dalam kabut itu.


"Aku juga tidak punya teknik khusus, seperti C dan yang kau miliki," lanjut Nera sambil membawa lima botol besar cairan yang baru saja dia racik.


"Tapi ... bukan berarti aku tidak menemukan gaya bertarungku sendiri!"


WHUUNGG!

__ADS_1


Nera melemparkan kelima botol itu ke segala arah. Entah kemana dan akan mengenai apa, tapi begitu mendengar kelima suara botol kaca yang pecah. Nera langsung menutup mulut dan hidungnya dengan kain yang awalnya ada di lehernya.


"[Obat Nera: keahlian nomor 2, pengendalian serangga.]"


Srrrkk sssrrkkk!


Suara derik serangga yang merangkak mulai terdengar berisik. Kecoa, nyamuk, lalat, ngengat, laba-laba, apapun yang ada dalam radius 10 kilometer akan berkumpul di area ini, karena mereka dihipnotis oleh aroma yang dikeluarkan cairan Nera.


"HYAAA! APA INI?! KENAPA KAU MALAH MENJADI PAWANG KECOA?! JADI TUKANG OBAT YA JADI TUKANG OBAT SAJA!" Suara itu berteriak histeris, dia terdengar begitu jijik saat ada kecoa yang mendekatinya.


"Kau juga begitu, jadi banci ya jadi banci saja, jangan sok jadi pembunuh, tulang lunak," ujar Nera dengan mata yang muak. Nera berjongkok dan mulai mengetuk-ngetuk tanah. Ini adalah caranya memberi perintah pada serangga, karena beberapa serangga hanya bisa mendengar frekuensi tertentu.


"KYAAAA! SURUH KECOA INI MENJAUHIKU! KYAAAA!" Suara itu semakin histeris, kabut asap ungu yang tebal ini perlahan semakin menipis, hingga Nera bisa melihat ke depan meskipun hanya samar-samar.


Tapi aku masih belum menemukan dimana pria itu, batin Nera yang masih terus mencari. Nera menunggu sejenak sampai kabutnya benar-benar menipis, barulah dia mulai bergerak.


Nera berjalan maju sambil melihat ke kiri dan kanan. Sampai kakinya berhenti melangkah saat melihat seorang pria yang bergulung-gulung karena dikerubungi serangga. Bahkan celana pria itu tampak basah karena dia mengompol.


Nera berhenti di samping pria yang sedang menangis itu, dia menatapnya dengan sorot mata yang penuh emosi.


"Akhirnya ketemu," gumam Nera. Ia membuka tas rotannya lagi, mengeluarkan tali tambang yang cukup banyak.


"Berdiri, aku akan mengikatmu." Nera menarik kerah pria itu dengan satu tangan hingga dia terduduk. Tapi, Nera melalukan kesalahan, serangga yang terkena serangan kejut mudah lepas dari hipnotis. Jadi serangga yang awalnya mengerubungi pria itu, langsung bubar karena Nera membuatnya terduduk.


"Harusnya kau langsung membunuhku nona manis." Pria itu menampakkan wajahnya, dia memakai make-up tebal dengan warna yang mencolok mata. Dalam sekali hentakan, dia membanting Nera sampai tas wanita itu terlempar.


"[Teknik aroma kematian: nomor 3, ilusi bunga Lily.]" Pria itu menyemprotkan sebuah parfum ke wajah Nera.


"Menangislah dalam keabadian ilusi, nona."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2