Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 100 - Pro Player


__ADS_3

Tak terasa, hari ini kandungan Ayunda sudah menginjak usia ke lima bulan. Namun, hari ini dia di kejutkan dengan pesan yang di kirimkan oleh nomor asing yang melampirkan sebuah foto yang cukup membuat hati nya terasa sesak sekali. 


Bagaimana tidak, nomor itu mengirimkan foto suami nya yang sedang memeluk seorang wanita dengan mesra, bahkan mencium bibir nya dengan panas. Apa itu benar suami nya, atau hanya rekayasa semata karena orang itu merasa iri tentang rumah tangga nya yang harmonis. 


"Apa ini semua, Mas? Apa aku harus percaya dengan foto ini, atau aku harus percaya padamu, Mas?" Gumam Ayunda. Dia mengusap perut nya yang terasa sangat sakit. 


"Aahhsss, jangan rewel adek. Mama baik-baik saja, sayang." Gumam wanita itu lagi. Di rumah sekarang, dia sendirian karena kedua orang tua nya sedang pergi ke luar kota selama seminggu, namun Arvin juga Melisa juga sudah menitipkan menantu nya pada maid yang bertugas di mansion. 


Namun, tetap saja Ayunda tidak bisa melakukan apa-apa. Lagian, dia juga tidak merasa bebas tanpa kehadiran mertua nya. Dia terlalu canggung untuk meminta maid melayani nya padahal maid itu tidak keberatan sama sekali. 


"Adek harus kuat ya, sayang. Hidup kita yang penuh perjuangan akan segera di mulai, Nak." Gumam Ayunda, entahlah kenapa dia bisa berpikiran seperti itu. Tapi dia merasa kalau hidup nya ke depan nya takkan semulus itu mulai saat ini. Apapun itu, dia berharap semoga dia tidak menyerah begitu pun juga dengan suami nya. Dia tidak ingin anak nya kehilangan figur seorang ayah. 


Setelah perut nya terasa lebih baikan, Ayunda pun turun dari kamar. Dia melihat kalau maid itu sedang berlalu lalang seperti biasa nya di pagi hari, mereka sibuk dengan tugas nya masing-masing. 


"Selamat pagi, Nona muda." Sapa salah seorang maid sambil tersenyum ramah saat melihat Ayunda yang berjalan menuruni tangga sambil memegangi perut nya. 


"Pagi.."


"Nona ingin makan sesuatu?" Tanya nya lagi.


"Aku ingin makan rujak, boleh?"


"Sebentar, saya akan menghubungi tuan muda terlebih dulu, Nona." Ucap maid itu lalu pergi sebentar untuk menghubungi nomor Darren. Namun, setelah beberapa kali mencoba, tidak ada balasan apapun alias tidak di angkat. Bahkan sekarang nomor nya tidak aktif sama sekali.


"Tidak di angkat ya?"


"Iya, Nona."


"Tidak apa-apa, jangan di hubungi lagi. Mungkin dia sedang sibuk, tak apa-apa. Dia takkan marah kalau aku makan rujak, yang penting jangan terlalu pedas."


"Baiklah, Nona." Jawab maid itu.


"Buah nya ingin apa saja?" Tanya salah seorang maid yang lain.


"Jambu air, kayaknya enak deh ya."


"Wah, kebetulan di belakang ada dan berbuah lebat. Saya akan minta Mang Paijo untuk memetik buah nya."


"Aku akan menggoreng kacang nya."


"Aku yang akan membuat bumbu gula merah nya." Ucap maid itu, lalu sibuk dengan tugas masing-masing. 


"Petik yang banyak ya, ajakin maid yang lain buat rujakan, biar ramai rujakan nya." Ucap Ayunda sambil terkekeh pelan. 


Dia pun berjalan pelan ke dapur, dia pun keluar dari pintu belakang dan melihat kalau Paijo memang sedang memanjat pohon jambu air dan memetik nya menggunakan galah yang sudah di beri jaring di ujung nya jadi buah jambu nya takkan jatuh ke tanah, dengan begitu jambu nya tidak akan gugus juga lecet. Buah jambu yang di petik langsung dari pohon nya juga akan terasa lebih segar.


Tak lama kemudian, semua nya sudah siap. Maid itu memberitahukan kalau sambel dan semua nya sudah selesai, jambu nya juga sudah di cuci. Selain jambu air, ada juga buah mangga dan bengkuang. 


"Rujakan nya di pinggir rumah yuk? Biar ada angin sejuk gitu." Ajak Ayunda. Para maid itu pun setuju dan mereka pun langsung membawa cobek dan juga jambu nya.


"Wah, buah jambu nya keliatan enak sekali."


"Masih segar semua, Nona."


"Iya, ayo makan." Ajak Ayunda. Dia tak sabar untuk mencocol potongan jambu air itu ke dalam sambel kacang itu. Wanita hamil itu mulai memakan rujak jambu nya dengan lahap, dia memejamkan kedua mata nya menikmati air yang keluar dari buah jambu segar yang baru di petik itu, bercampur dengan rasa sambel kacang yang terasa sedikit pedas, enak sekali dan juga menyegarkan. 


"Bagaimana rasa rujak nya, Nona?"

__ADS_1


"Enak, buat yang bikin sambel sama semua nya, terimakasih ya.." Ucap Ayunda sambil tersenyum manis hingga mata nya menyipit seperti bulan sabit. 


"Sama-sama, Nona. Sudah tugas kami, Nyonya dan Tuan besar sudah menitipkan Nona pada kami."


"Kalian sudah menjaga ku dengan baik." Jawab Ayunda. 


"Terimakasih rujak nya, enak sekali. Aku menyukai nya.." 


"Sama-sama, Nona muda." Jawab maid itu sambil tersenyum manis. Mereka pun kembali memakan rujak nya dengan lahap termasuk Ayunda. Paijo juga membawa buah jambu nya ke depan untuk rujakan bersama petugas keamanan lain nya. 


Sedangkan di kantor, Narendra sedang di landa rasa pusing di kepala nya saat melihat saham yang tiba-tiba saja turun secara signifikan, sungguh itu membuat Narendra pusing. Kira-kira, ada apa dan siapa yang sudah membuat saham nya anjlok seperti ini. 


"Astaga, bagaimana ini.." Gumam Narenda, dia memijat-mijat kening nya yang terasa pusing sekali. Saat ini, Mark juga sedang berada di lokasi lain untuk meninjau pembangunan cabang perusahaan. Bertepatan dengan semua itu, Naren mengalami banyak masalah dan guncangan dari perusahaan nya. Pusing? Gak usah di tanya lagi.


"Hai, Ren.." Sapa seseorang sambil masuk dengan langkah anggun nya. Seperti biasa, ular hijau itu kembali datang mengunjungi Naren. Siapa lagi kalau bukan Trisa. 


"Pergilah, aku sedang pusing!" Usir Narendra. Kepala nya tengah kliyengan sekarang ini, eehh malah di tambah dengan kedatangan penari renggong itu kesini. Sial sekali bagi Narendra sekarang ini, sudah di tinggal Mark pergi ke luar kota untuk meninjau projek pembangunan, sekarang malah datanglah si ular keket. Sebal, tapi seperti biasa dia terlalu kenal untuk bisa pergi hanya dengan sekali Naren mengusir nya.


"Ohh, come on, sayangku."


"Cihh, pergilah. Jangan buat aku murka, Trisa!"


"Slow saja, sayang. Aku kesini untuk menawarkan bantuan padamu."


"Aku tidak tertarik." Jawab Narendra membuat Trisa tertawa. 


"Dengarkan aku dulu, Honey. Aku tahu sekarang, keadaan perusahaan mu tengah di ujung tanduk, bukan? Saham mu turun drastis bukan?" Tanya Trisa membuat Narendra mendongakan kepala nya. Kenapa Trisa bisa tahu? Sedangkan, informasi ini baru dia yang tahu. Bahkan karyawan di perusahaan ini saja belum ada yang mengetahui tentang hal ini. 


"Dari mana kau mengetahui hal itu?" Tanya Narendra membuat Trisa tersenyum licik. 


"Aku Trisa, tidak ada yang tidak aku ketahui apalagi itu tentang dirinya, Honey." Jawab Trisa masih dengan senyum memuakan yang dia tunjukkan. 


"Untuk apa aku melakukan hal serendah itu? Tidak, tentu saja tidak. Lagipun aku tidak punya waktu untuk melakukan hal semacam itu, aku wanita karir yang sibuk tidak seperti istri mu itu. Wanita rumahan alias pengangguran." Cibir Trisa sambil tersenyum jahat. 


"Kau tidak perlu mengejek istriku, dia wanita yang sempurna untuk ku!"


"Bilang saja kau suka wanita bodoh yang suka di rumah saja." Jawab Trisa. 


"Trisa!"


"Haha, ya baiklah. Aku minta maaf, tapi bagaimana dengan penawaran ku?" Tanya Trisa pada Naren.


"Penawaran semacam apa maksud mu?"


"Aku akan membantu mu untuk menaikan kembali saham mu, tapi kau harus menjadi pacar ku!"


"Ide gila dari mana itu? Tidak, aku tidak sudi untuk kembali padamu. Masalah saham, aku bisa mengatasi nya sendiri. Aku tidak memerlukan bantuan mu!" Tegas Naren membuat Trisa tertawa.


"Naren, Naren, dari dulu kau tidak berubah sama sekali ya? Kau masih terlalu percaya diri dengan hal yang belum tentu kau mampu melakukan nya."


"Setidaknya aku akan mengusahakan nya, sialan!"


"Ckk, aku tunggu keputusan mu, Honey. Jadi sebaiknya pikirkan dulu dengan baik, aku akan sabar menunggu."


"Jangan sia-siakan waktu mu, karena sampai kapan pun, aku takkan mau menerima tawaran mu itu." Jawab Narendra. Trisa tertawa menyebalkan, membuat hidung Narendra kembang kempis menahan amarah nya. 


"Baiklah, kalau kau berubah pikiran. Aku akan dengan senang hati memberi mu bantuan itu."

__ADS_1


"Pergilah, aku muak melihat mu!" Tegas Narendra membuat Trisa beranjak dari duduk nya lalu berjalan dengan langkah anggun nya. Tentu saja, dia adalah model yang memiliki tubuh yang indah namun sayang, tubuh indah nya itu di umbar kemana-mana. Itulah yang membuat Arvin dan Melisa kompak menolak menjadikan Trisa sebagai menantu, dari wajah nya saja mereka sudah tidak menyukai Trisa. 


"Ada gila-gila nya itu cewek, kenapa gak musnah aja sih itu orang?" 


"Anjir, gitu-gitu juga mantan gue. Sialan, dulu gue sebuta itu kali ya sampai cinta mati sama tuh cewek." Rutuk Narendra. Dia heran sendiri sekarang, bagaimana bisa dulu dia begitu mencintai wanita itu, tapi berbeda dengan sekarang cara memandang wanita itu saja sudah jauh berubah, tak ada lagi tatapan penuh cinta atau kehangatan, hanya tatapan kebencian yang Narendra lakukan pada Trisa. Mungkin karena perasaan nya sekarang juga sudah berubah. 


Di luar perusahaan, Trisa berjalan tapi seketika dia berbalik saat mendengar ada seseorang yang memanggil nama nya.


"Trisa.." Panggil nya dengan berteriak.


Wanita itu berbalik dan menunggu seorang pria yang berjalan ke arah nya, pria tampan itu segera menghampiri keberadaan Trisa.


"Ada apa kau memanggil ku?"


"Jangan berpura-pura tidak tahu, aku sudah mempertaruhkan pekerjaan ku demi melakukan pekerjaan dari mu, Trisa. Sekarang, aku minta bayaran ku!" Jawab pria itu sambil tersenyum kecil. 


"Oke, jadi kau ingin bayaran apa? Uang? Katakan saja nominal nya." Jawab Trisa dengan tangan yang bersedekap di dada, menunjukkan kalau dia adalah wanita yang memiliki kekuasaan. 


"Tidak, aku sudah punya banyak uang. Aku ingin yang lain, Trisa."


"Apa?" Tanya Trisa. 


"Tubuh mu." Jawab pria itu sambil tersenyum menyeringai.


"Haruskah?"


"Tentu, kalau kau tidak mau memberikan nya, aku akan membongkar semua nya pada Narendra. Dengan begitu, kau akan masuk penjara." Jawab pria itu. Dia memiliki kartu as untuk mengancam Trisa dan mengambil keuntungan dari wanita itu, kapan lagi dia bisa menikmati tubuh seorang model bukan? Ini kesempatan yang tak boleh di sia-siakan, atau bisa di bilang bahkan kesempatan sekali seumur hidup. 


"Ckk, baiklah. Kalau begitu kita ke hotel." Jawab Trisa sambil mendelik kesal. Dari pada dirinya ketahuan dan rencana nya untuk mendapatkan kembali Narendra hancur berantakan, selain itu juga bisa masuk penjara jadi sebaiknya berikan saja apa yang pria itu inginkan.


"Oke, aku yang bawa mobil nya." Jawab pria itu, dia mengambil mobil nya dan menarik tangan wanita itu. 


Pria itu mengemudikan kendaraan nya dengan wajah semringah, dia tidak sabar untuk melakukan itu bersama Trisa. Wanita yang selalu menjadi khayalan fantasi nya jika bermain solo di kamar mandi karena sering kali melihat tubuh nya dari majalah yang dia lihat. 


Perlu di ketahui kalau Trisa adalah model majalah dewasa yang sering memamerkan tubuh nya, bahkan sering kali pemotretan itu di lakukan dengan laki-laki dengan gaya yang intiim, namun Trisa sama sekali tidak pernah merasa risih saat tubuh nya di pegang-pegang oleh lawan model lain nya. Dia malah terlihat senang-senang saja, bahkan tidak menolak saat tangan mereka nakal meraba-rabaa tubuh nya, bahkan di tempat yang bukan seharusnya untuk di sentuh, atau melenceng dari tema. 


Sesampai nya mereka di hotel bintang lima, pria itu langsung memakaikan masker, kacamata hitam dan juga topi kafa Trisa agar tidak ada yang mengetahui kalau wanita itu adalah model terkenal, kalau sampai ada yang tahu hal itu, semua nya akan berantakan. Akan banyak wartawan yang meliput dan datang ke hotel itu untuk mewawancarai Trisa yang di kenal sebagai model terkenal itu. 


Disaat karir nya sedang melejit saat ini, dia harus nya bertindak dengan hati-hati, dia harus menjauhi yang nama nya skandal juga rumor. Tapi Trisa bertingkah seolah itu semua bukankah hal yang penting bagi nya. Memang tidak berpengaruh bagi Trisa, tapi akan sangat berpengaruh pada karir dan juga agensi yang menaungi nama nya selama ini.


Pria itu langsung memesan satu kamar dengan kualitas president suite untuk menghabiskan malam bersama Trisa. Di tangan nya, dia sudah menenteng paperbag berisi pakaian dinas yang memang sengaja dia beli. Sengaja, dia membeli pakaian itu jauh-jauh hari sejak dia setuju untuk meretas data-data milik perusahaan Narendra. 


Dia memiliki alasan yang cukup kuat untuk mau melakukan hal itu, pertama dia sudah bosan bekerja disana jadi dia tidak masalah kalau seandainya kelakuan nya ketahuan oleh Naren atau Mark, dia sudah siap menerima semua nya. Kedua, dia penasaran bagaimana rasa nya bercintaa dengan seorang model, apakah nikmat atau malah sebaliknya? Mengingat, tubuh seorang model adalah tubuh pajangan. Alias bisa di sentuh-sentuh sesuka hati, tapi belum tentu di nikahi.


"Minum dulu?" Tawar nya sambil mengambil beberapa botol minuman beralkohol dari sebuah laci. 


"Hmm, kau bisa minum banyak?"


"Tentu.."


"Berikan aku dua gelas." Jawab Trisa, dia duduk di sofa yang ada di kamar itu dengan menyilangkan kedua kaki nya, membuat pakaian yang dia kenakan tersibak, memperlihatkan paha nya yang mulus tanpa noda sedikit pun. 


"Pakai ini.." Pria itu melempar paperbag itu ke arah Trisa. Wanita itu memungut nya, dia tersenyum kecil saat melihat apa isinya. Tanpa ragu sedikitpun, dia segera menanggalkan pakaian nya di depan sang pria tanpa rasa malu, membuat pria itu menelan ludah nya dengan kepayahan.


'Dia sudah pro..'


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2