
"Sayang, udah baikan?" Tanya Melisa, dia melongokkan kepala nya. Dia ingin masuk langsung, tapi dia khawatir kalau pasangan suami istri itu sedang berbuat yang tidak-tidak, tapi bagaimana pun tak mungkin jika mereka melakukan hal itu karena Ayunda sedang sakit.
Keterlaluan sekali kalau semisal Naren tetap meminta jatah nya padahal Ayunda sedang tidak sehat hari ini, penyebab nya ya kehamilan nya yang masih berada di trimester awal.
"Eehh, Mami. Masuk saja, Mi." Jawab Narendra, karena Ayunda baru saja tertidur lagi setelah di pukpuk oleh Naren, wanita hamil itu benar-benar manja sekali, bahkan Naren merasa kewalahan tapi bagaimana pun dia juga yang membuat Ayunda seperti ini.
"Ayu nya tidur?"
"Iya, Ma. Dia tidur, lemes banget kayaknya. Soalnya tadi dia muntah-muntah nya parah banget, Mi." Jelas Naren dengan lirih.
"Semoga dia cepat sembuh ya, ini Mami bawain bolu pisang yang Ayunda pesen, sama teh. Nanti kalau dia udah bangun, kamu kasihin ya?"
"Oke, Mi. Buat Naren ada gak?" Tanya Narendra.
"Ada di dapur, ambil saja sendiri. Kamu kan sehat wal Afiat." Jawab Melisa sambil tersenyum, membuat Narendra mencebikan bibir nya karena kesal. Dia kesal, benar-benar kesal kalau ibu nya sudah berada di dalam mode pilih kasih seperti ini.
"Dih, Mami ini. Padahal, aku kan anak nya. Wajar gak sih kalau Naren iri sama Ayu?"
"Iri kok sama istri sendiri, harusnya kamu seneng tuh kalau Mami sayang sama istri kamu, ini kok malah iri begitu." Jawab Melisa membuat Naren menghembuskan nafas nya sedikit kasar.
Benar, bagaimana pun juga harusnya dirinya merasa senang karena ibu nya bisa menyayangi Ayunda, tapi ya tetap saja dia merasa iri karena semenjak dia menikah dengan Ayunda, ibu nya terlihat lebih menyayangi Ayunda ketimbang dirinya.
"Hmm, ya terserah Mami saja."
"Jagain istri kamu dengan baik, kalau dia muntah-muntah lagi, panggil Mami."
__ADS_1
"Oke, Mi." Jawab Narendra. Dia pun membiarkan Mami nya keluar dari kamar, Narendra tersenyum kecil. Sebenarnya bolu pisang nya sudah Mami nya bawakan juga untuk nya, hanya saja Naren penasaran jika dia menanyakan hal itu padahal sepiring kue bolu yang di bawa oleh mami nya sudah lebih dari cukup untuk mereka berdua.
"Enak banget, Mami gak pernah gagal bikin kue apapun." Gumam Naren, sambil memakan bolu pisang nya dengan lahap. Dia benar-benar suka dengan bolu pisang buatan Mami nya.
Tidak lama kemudian, Ayunda terbangun. Dia membuka kedua mata nya lalu beranjak dari duduk nya, dia melihat Naren tertidur di samping nya sambil menggenggam tangan nya. Pria itu tertidur sambil duduk di sisi ranjang, dia ketiduran seperti nya. Mungkin dia merasa cukup lelah mengurus nya yang sedang tidak sehat.
"Suami ku sangat tampan." Lirih Ayunda, dia tersenyum lalu mengusap rahang tegas sang suami yang terlihat sedikit di tumbuhi bulu-bulu halus. Tapi hal itu takkan lama, karena besok pagi juga Ayunda tidak akan bisa lagi merasakan bulu halus itu di dagu suami nya. Narendra pasti akan mencukur habis semua nya besok pagi sebelum dia berangkat bekerja.
"Kasihan sekali, dia pasti kelelahan menjaga ku seharian ini. Belum lagi dia harus bekerja, maafkan aku Mas. Tapi ini semua juga bukan keinginan ku, aku ingin sembuh tapi Baby nya masih sedikit rewel." Gumam Ayunda sambil mengusap-usap puncak kepala sang suami dengan lembut.
"Tidak, aku tidak kelelahan kok. Aku hanya ketiduran, sayang. Jangan merasa bersalah seperti itu, aku juga turut andil membuat dirimu seperti ini." Ucap Narendra lirih membuat Ayunda membulatkan mata nya. Dia menyangka suami nya masih tertidur, tapi ternyata dia sudah bangun.
Naren mendongakan kepala nya, lalu tersenyum saat melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh sang istri. Terlihat sangat terkejut seperti nya.
"Mas sudah bangun, kapan?"
"Aku juga mendengar kalau kamu memuji ketampanan ku, sayang."
"H-aahh? I-itu gak sengaja kok, Mas."
"Gak sengaja ya? Hmm, baiklah." Jawab Narendra, dia mengacak rambut sang istri dengan gemas lalu beranjak dari duduknya sambil mengusap-usap pinggang nya, dia merasa tidur nya tidak terlalu lama tapi mampu membuat pinggang nya sakit, mungkin karena dia tidur sambil duduk.
"Ini bolu pisang sama teh dari Mami, katanya waktu itu kamu ngidam bolu pisang buatan Mami ya?" Tanya Narendra sambil tersenyum kecil.
"Wahh, iya. Mas tahu dari mana?"
__ADS_1
"Dari Mami dong, katanya kamu pengen bolu pisang padahal rencana nya mau bikin bolu coklat buat aku, iya kan?" Tanya Narendra, membuat Ayunda tersenyum kecil lalu menganggukan kepala nya mengiyakan pertanyaan sang suami.
Benar, dia mengidam ingin makan bolu pisang hari itu secara tiba-tiba. Tapi saat itu, Mami mertua maupun dirinya belum menyadari kalau sebenarnya dia tengah hamil. Rasanya saat itu, dia sangat ingin makan bolu pisang. Tapi, dia menahan nya saja karena tidak mungkin dia langsung mengatakan kalau dia ingin makan bolu yang lain, karena dia tak mau merepotkan sang Mami. Tapi ternyata wanita itu sangat peka, saat dia mempunyai waktu senggang, dia membuatkan nya untuk sang menantu kesayangan.
"Ayo di makan, jangan bengong."
"Eehh, iya Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum, dia pun mengambil satu iris bolu pisang di atas piring dan memakan nya. Dia mengunyah nya dengan penuh perasaan, tapi siapa yang menyangka kalau satu iris bolu pisang saja bisa membuat Ayunda menangis. Ya, dia benar-benar bahagia, sangat bahagia memiliki mertua sebaik Melisa dan Arvin.
Mereka bahkan terlihat lebih menyayangi nya dari pada anak mereka sendiri, aneh bukan? Tapi tidak apa-apa, dia yang sebenarnya kekurangan kasih sayang, akhirnya mendapatkan semua itu dari sosok Arvin dan Melisa.
"Kenapa, kok kamu malah nangis? Bolu nya gak enak atau bagaimana, Sayang?"
"Tidak, aku terharu saja, Mas. Entahlah, perasaan ku sekarang mudah berubah. Bahkan hanya dengan satu iris bolu saja bisa membuat aku menangis seperti ini, maaf." Lirih Ayunda. Naren tersenyum kecil, dia yakin bukan karena kue nya karena kue semacam ini juga banyak di jual di pasaran. Tapi, Narendra yakin karena orang yang membuat nya. Ya, orang yang membuat nya, adalah sosok seorang ibu yang hangat dan penuh perhatian.
"Kue nya enak?"
"Enak sekali, Mas. Aku suka."
"Kamu yakin, kamu begini karena bolu pisang nya atau karena orang yang membuat nya, hingga membuat makanan yang dia buat selalu cocok di lidah kamu, sayang?"
"Hmmm, anggap saja jawaban nya iya. Aku memang suka bolu pisang, tapi aku akan berkali-kali lipat lebih suka kalau Mami yang membuatkan nya untuk ku, hehe." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Jangan seperti itu, Mami menyayangi kamu dengan tulus. Kamu harus yakin kalau orang tua aku itu juga orang tua kamu, sayang. Jika ingin mengeluh atau berbagi cerita, datanglah pada Mami. Dia akan senang mendengar keluhan mu, dengan begitu Mami akan senang karena kamu udah terbuka sama dia." Jelas Narendra panjang lebar.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻