Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 157 - Nurutin Ngidam Bumil


__ADS_3

Malam harinya, Narendra dan Ayunda pun bersiap untuk pergi ke warung seblak terdekat. Kebetulan, ada warung seblak yang masih baru buka. Tapi, katanya rasa seblak nya sangat enak, jadi masih banyak orang yang mengantri untuk bisa merasakan makanan itu. 


"Mas, ayo ihh keburu ngantri nya banyak." Ucap Ayunda. Narendra yang masih di ruang ganti pun segera keluar. Dia hanya berganti celana saja, malas rasanya jika harus mengganti pakaian nya juga, lagian tempat nya juga tidak terlalu jauh. Jadi untuk apa berganti pakaian? Toh naik mobil juga. 


"Iya, sayang. Sabar dong, ayoo kita berangkat sekarang." Ajak Narendra. Ayunda pun menganggukan kepala nya dengan antuasias, dia tak sabar ingin segera memakan makanan itu. Kuah yang pedas dan panas kini tengah menari di dalam pikiran Ayunda, itu membuat air liur nya nyaris menetes. 


Narendra menggandeng tangan sang istri, lalu keduanya pun keluar dari kamar untuk pergi. Di ruang tamu, mereka bertemu dengan Melisa dan juga Arvin. 


"Mau kemana kalian?" Tanya Arvino.


"Mau nurutin ngidam nya bumil, Pi." Jawab Narendra sambil tersenyum kecil. 


"Ohh, beli seblak? Mami sama papi ikut deh, sekalian mau makan seblak. Kayaknya enak deh, pedes." Ucap Melisa.


"Wah, ayo Mi." Jawab Ayunda antusias. 


"Mami ganti baju dulu." Putus Melisa sambil buru-buru pergi ke kamar nya untuk mengganti pakaian. Setelah selesai, Melisa pun keluar.


"Ayo, sayang. Mami udah siap." 


"Emang mami beneran mau ikut?" Tanya Narendra, dia bukan nya tidak suka saat Mami nya ikut. Tapi dia khawatir kalau sampai Mami nya kenapa-napa karena memakan makanan yang tidak sehat seperti seblak. 


"Kamu keberatan, Nak?"


"Bukan gitu, Mami. Tapi mami yakin mau makan seblak?"


"Kenapa? Mami bisa makan toping nya aja kok, di bening aja level 0." Jawab Melisa sambil tersenyum kecil.


"Ya sudah kalau begitu, ayo berangkat keburu malem banget. Soalnya warung nya baru buka, jadi pasti rame ngantri." Jawab Narendra. Ke empat nya pun segera pergi ke warung seblak yang di inginkan oleh Ayunda. Jangan tanyakan, kenapa Ayunda bisa tahu tempat seblak ini. Tempat nya tak sengaja dia lihat di sebuah vlog salah satu food blogger yang meng-upload video makan nya di warung seblak itu. 


Ayunda yang memang tengah ngidam seblak pun mengajak suaminya untuk pergi ke tempat itu dan sebagai suami yang baik, Narendra pun mengiyakan. Lagipun, tempat nya tidak terlalu jauh dari mansion. Hanya sekitar lima belas menit saja kalau tidak macet, kalau macet ya paling melar jadi setengah jam atau paling lama satu jam. 


"Ayu duduk di depan, sayang." Ucap Melisa. 


"Tapi, Ayu pengen deket sama Mami."

__ADS_1


"Nurut ya, sayang? Takutnya kamu mabuk perjalanan kalau di belakang. Nanti kan bisa deket-deketan lagi sama Mami di rumah." Ucap Melisa lagi dengan lembut, dia mengusap kepala belakang menantu nya dengan penuh kasih sayang.


"Hmmm, yaudah deh." Ayunda pun pindah ke kursi depan, di samping sang suami yang sudah siap mengemudikan kendaraan nya. Pria itu pun tersenyum lalu mengacak rambut sang istri dengan gemas, dia tahu kalau istrinya begitu manja pada Mami nya, tapi dia juga senang karena Ayunda selalu menurut pada Melisa.


Selain itu, Melisa juga selalu menasehati Ayunda dengan kelembutan, dia tidak pernah sama sekali mendengar Melisa marah, apalagi membentak istrinya. Itulah yang membuat nya semakin senang, artinya Melisa menyayangi istrinya memang tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.


Beberapa saat kemudian, akhirnya mobil yang di kemudikan oleh Narendra pun sampai di sebuah warung seblak yang sudah bisa di duga kalau tempatnya memang ramai. Bahkan, bisa di bilang ramai sekali. Mungkin karena imbas vlog seorang yutuber itu. 


"Ngantri nya lumayan panjang, Mas."


"Gapapa, kamu duduk aja biar Mas yang ngantri. Ayo, kita pilih topping nya." Ajak Narendra. Ayunda pun mengangguk dan keluar bersama sang suami, tentunya Melisa dan Arvino juga. Kedatangan keluarga kaya raya itu pun mengundang banyak perhatian, terlebih pada sosok Narendra dan juga istrinya. 


"Itu keluarga Sanjaya kan? Astaga, mimpi apa semalem bisa ketemu keluarga crazy rich." Seru salah seorang pengunjung yang duduk di kursi dekat antrian. 


"Astaga, Ayunda cantik sekali. Aku pernah melihat nya di foto, tapi saat melihat wajah asli nya aku terkejut. Wajah nya jauh lebih cantik dan bersinar." 


Wajah Ayunda memerah ketika mendengar ucapan salah satu pengunjung disana itu, tapi memang wajah Ayunda sangat cantik dan bersinar. Mungkin karena dia sedang hamil saat ini, jadi aura nya lebih terpancar. Ayunda tersenyum manis dan sopan ke arah pengunjung yang ada disana, membuat siapapun bisa menilai kalau Ayunda memang tidak gila harta atau jabatan. Dia tetap menjadi Ayunda, dia menjadi dirinya sendiri tanpa di buat-buat. Dia tetap Ayunda yang rendah hati, baik, ramah dan juga sopan pada siapapun. Tanpa melihat status atau derajat orang berdasarkan apa yang mereka miliki. 


Sama seperti Melisa dan juga Arvin, mereka langsung setuju ketika Naren membawa Ayunda ke rumah. Karena dari tatapan polos perempuan itu saja, mereka sudah bisa menilai kalau Ayunda memang wanita baik-baik. Dia tidak bermaksud memanfaatkan Narendra atau sebagainya, dia tulus. Begitu juga dengan Naren, meskipun awalnya dia ragu apakah dia akan bisa mencintai Ayunda atau tidak, karena saat itu dia masih belum bisa melupakan sosok Trisa dalam hidup nya.


Ayunda benar-benar sosok wanita yang baik, rendah hati, tulus dan juga dia sosok istri idaman. Dia merasa sangat beruntung karena bisa memiliki Ayunda di samping nya, dia sangat bahagia karena bisa memperistri wanita sebaik dan secantik Ayunda Maishika. 


"Maaf kak, ini cara pesen nya gimana ya?" 


"Ini seblak perasmanan kak, jadi kakaknya pilih topping yang kakak mau, terus nanti di tulis nama sama level pedes nya disini, terus di kasih sama yang masak." Jelas salah satu pengunjung yang juga tengah memilih topping nya. 


"Satu level berapa sendok cabe, kak?"


"Satu level sih tiga sendok cabe setahu saya, kak. Kalau kakaknya kuat pedes pesan level tiga aja, udah pedes banget. Tapi kalau mau yang pedes nikmat, mendingan level dua aja atau level satu." Jelas nya lagi sambil tersenyum. Dalam hati, dia berjingkrak-jingkrak, kapan lagi dia bisa mengobrol seperti ini bersama orang seberpengaruh Ayunda? Berpengaruh? Tentu saja, suaminya begitu bucin padanya dan dia bersedia melakukan apapun untuk istri cantiknya itu. 


"Level dua aja kali ya, Mas?"


"Terserah kamu aja, sayang. Mas sih level satu udah cukup, hehe." Jawab Naren sambil tersenyum kecil.


"Yaudah, ayo Mas mau topping apa?"

__ADS_1


"Kamu yang pilihin deh ya? Samain aja, hehe."


"Kebiasaan banget deh kamu, Mas."


"Gapapa dong, kan sama istri sendiri." Jawab Narendra sambil mengacak rambut sang istri.


'Gila, rambut dia yang di acak-acak kok hati gue yang berantakan ini, kok bisa?' Bisik-bisik para pengunjung wanita yang melihat adegan uwu di depan mereka secara live. 


'Baper banget lihat nya, keliatan banget kalau Naren cinta banget sama istrinya ya?'


'Yaiyalah, istrinya aja cantik begitu. Mereka sama-sama beruntung karena bisa saling memiliki satu sama lain.' Bisik mereka lagi, itu sampai ke telinga Narendra namun ini masih hal baik, jadi dia pikir tidak masalah. Dia fokus memperhatikan sang istri yang terlihat kebingungan saat memilih topping yang memang ada banyak sekali pilihan nya.


"Sudah, sayang?"


"Sudah kok, Mas."


"Kamu duduk aja sini, biar Mas yang nungguin seblak nya jadi." Ucap Narendra. Ayunda mengangguk dan memilih duduk di kursi yang kosong. Narendra melihat sang istri berkeringat, mungkin karena tempatnya cukup panas karena orang nya juga banyak disini.


Naren mengambil kipas kecil di dalam mobil nya dan mendekatkan nya pada sang istri, sambil mengusap-usap puncak kepala nya dengan sayang.


"Sabar ya adek bayi, seblak nya lagi di bikin. Jangan rewel dulu, nanti Mama nya sakit lho." Ucap Narendra sambil mengusap perut rata Ayunda, membuat semua orang yang ada disana merasa baper sendiri melihat betapa perhatian nya seorang Narendra pada istrinya. Narendra memang benar-benar definisi suami idaman.


Sudah tampan, tajir melintir, berasal dari keluarga terpandang, baik dan juga tidak sombong. Lagi, dia memiliki sifat lembut. Dia juga pria yang perhatian dan juga pengertian, pokoknya Narendra adalah sosok suami idaman. Tak salah kalau semua wanita mengharapkan kalau kelak yang akan menjadi suami mereka adalah Narendra Asta Sanjaya, namun harapan mereka harus pupus ketika mereka mengetahui kalau pria sempurna itu telah menikah dan memperistri seorang gadis sederhana.


Selang hampir satu jam, akhirnya seblak pesanan mereka pun datang. Ayunda memakan nya dengan lahap, namanya juga orang ngidam ya kan. Dia benar-benar menikmati makanan pedas itu, Naren yang memesan level satu saja sudah banjir keringat, berbeda dengan Ayunda yang terlihat santai saja padahal dia memakan seblak level dua. Dia tidak terlihat kepedasan sama sekali.


"Gak pedes kah, sayang?" Tanya Naren. 


"Enggak kok, Mas. Enak banget ini, kamu mau nyobain?" Tawar Ayunda. Namun, ketika melihat kuah yang merah merona di mangkuk nya, Naren seketika bergidik. Bagaimana bisa Ayunda mengatakan kalau itu tidak pedas? Padahal, dari kuahnya saja sudah terlihat kalau itu memang sangat pedas, terlebih di sajikan dalam keadaan panas pasti akan membuat perut bergejolak. Tapi, seperti nya Ayunda tidak mengalami hal apapun. Dia terlihat sangat menikmati makanan nya saat ini.


"Ngidam nya udah keturutan, jadi adek bayi nya jangan rewel lagi ya dek? Kasian Mama." Nasehat Narendra sambil mengusap perut Ayunda. Wanita itu hanya tersenyum, karena suaminya terlihat sangat menggemaskan sekali sekarang.


........


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2