
"Sayang, makan malam dulu." Ucap Ayunda, membuat ketiga pria yang sedang duduk di sofa ruang tamu pun seketika beranjak dari duduk mereka dan pergi ke ruang makan.
Ayunda langsung melayani suami, mertua dan kakek nya dengan senyum yang terkembang manis di sudut bibir nya. Darren tersenyum kecil melihat cucu menantu nya itu melayani nya tanpa harus di minta.
"Selamat makan semua nya.."
"Berdoa dulu." Ucap Arvin. Semua nya pun menengadahkan tangan mereka untuk berdoa. Malam ini, Arvin lah yang memimpin doa. Setelah selesai berdoa, mereka pun langsung makan dengan lahap. Beberapa kali, Darren terlihat tersenyum saat menyuapkan makanan yang ada di piring nya.
"Ini sangat enak, siapa yang memasak nya?" Tanya Darren sambil menunjuk udang balado yang ada di piring nya.
"Ayunda, Pa." Jawab Melisa.
"Maaf, kek. Apa masakan nya tidak enak atau.."
"Ini sangat enak, kakek suka." Jawab Darren sambil tersenyum hingga mata nya menyipit.
"Aaahh syukurlah kalau kakek menyukai nya, Ayu udah takut tadi." Celetuk Ayunda sambil terkekeh pelan.
"Sudah, lanjutkan makan nya." Perintah Arvin, semua nya pun langsung menganggukan kepala dan melanjutkan makan nya dengan lahap. Naren juga sampai dua kali menambah nasi nya, benar apa yang di katakan Darren, masakan Ayunda memang selalu enak.
Setelah selesai makan malam, Ayunda menyediakan cemilan dan menyimpan nya di ruang tamu, tempat semua orang berkumpul untuk sekedar berbincang-bincang sebelum tidur.
"Ini cemilan nya.."
"Kamu yang membuat nya?" Tanya Darren lagi saat melihat dua piring kue kering coklat yang tersaji di atas meja. Terlihat sangat menggugah selera, tapi sayang sekali Darren tidak bisa mencicipi nya karena kue itu pasti sangat manis dan itu akan membuat kadar gula di tubuh nya meningkat pesat.
"Iya, Kek. Ayu membuat nya dengan gula jagung rendah glukosa, jadi kakek bisa memakan nya."
"Benarkah?"
"Iya, Kek. Silahkan di cicip, Ayu mau ke dapur dulu nyuci piring." Ucap Ayunda, dia pun pergi dari ruang tamu menuju dapur untuk beres-beres.
Darren mengambil satu keping kue itu dan memakan nya. Dia tersenyum sambil melihat kue itu, rasa nya sangat enak dan yang terpenting tidak kemanisan. Lagi pula, Ayu membuat nya dengan menggunakan gula jagung yang kadar glukosa nya lebih rendah, jadi itu tidak akan masalah kalau dia memakan nya beberapa keping saja.
"Kue nya enak.."
"Iya, aku setuju dengan Papa. Kue buatan menantu ku sangat enak." Jawab Arvin, dia setuju dengan apa yang di katakan oleh papa nya, kue buatan Ayunda memang sangat enak. Bahkan kue yang ada di toko-toko pun kalah, kue buatan rumah memang jauh lebih enak.
__ADS_1
"Istri Naren pandai membuat aneka jenis makanan ya."
"Hmm, beruntung sekali kau. Papi pastikan, dalam beberapa bulan saja berat badan mu akan bertambah, Ren." Ucap Arvin sambil tersenyum.
"Lho, kok gitu? Memang nya kenapa?"
"Iya lah, orang istri ku pandai memasak, bisa bikin kue juga." Jawab Darren sambil tertawa.
"Gapapa lah, nanti Arvin kan bisa olahraga. Kalo Naren gendut, nanti gak ada lagi roti sobek yang bisa Naren pamerin sama Ayu."
"Hahaha.." Ketiga pria itu pun kompak tertawa, membuat Melisa yang melihat hal itu tersenyum kecil. Sudah sangat lama dia tidak melihat kedekatan ketiga pria itu, mereka jarang mengobrol karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Terlebih, Naren memilih tinggal di apartemen di bandingkan di rumah nya sendiri. Alasan nya, di apartemen suasana nya lebih sunyi dan hening.
"Mi, kenapa berdiri disini?" Tanya Ayunda.
"Aahh tidak, sayang. Kamu sudah selesai?"
"Sudah kok, Mi." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil.
"Ya sudah, sekarang kamu pergi ke kamar beristirahat ya. Pasti kamu capek kan?"
"Baik, Mami. Kalau begitu, Ayu dulua ya."
"Lho, mau kemana?" Tanya Naren saat melihat Ayunda lewat di depan nya.
"Ke kamar, Mas." Jawab Ayunda, membuat Naren membulatkan mata nya. Bukan masalah kemana Ayunda akan pergi, tapi mendengar panggilan yang terdengar sangat..
"Mas?"
"Iya, aku duluan ya. Mau mandi lagi, gerah." Jawab Ayunda, dia pun langsung pergi meniti tangga satu persatu dengan wajah yang memerah. Jujur saja, dia malu memanggil Naren dengan sebutan Mas. Tapi karena dia sudah menikah, jadi rasa nya tidak ada yang salah dengan panggilan itu kan?
"Tunggu apa lagi, susulin sana." Celetuk Arvin sambil terkekeh pelan.
"Ngapain?"
"Lah, ini kan malam pertama kalian."
"Malam pertama nya udah waktu itu kok, Pi." Jawab Naren sambil kembali mencomot kue dari piring.
__ADS_1
"H-ahh? Maksud mu?" Tanya Darren.
"Cucu mu ini sangat nakal, Pa. Dia menodai Ayunda, makanya pernikahan nya di percepat." Jawab Arvin membuat Darren mendelik, dia menatap wajah cucu nya dengan tajam. Lalu memukul lengan besar cucu nya itu hingga membuat Naren meringis.
"Aawwhhss, kakek ini apa-apaan sih. Sakit tahu!" Rengek Narendra.
"Rasakan itu, siapa yang mengajari mu menjadi pria brengseek hmm? Apa Papi mu?" Tanya Darren, membuat Arvin yang sedang minum seketika tersedak.
Uhuukk.. uhuk..
"Minum dulu, Pi." Ucap Naren sambil mengulurkan teh yang di buatkan Ayunda tadi. Setelah batuk nya mereda, pria itu menatap wajah sang ayah dengan sinis.
"Kok Arvin sih? Mana ada Arvin brengseek!"
"Dih, gak sadar diri kamu?"
"Ckkk, iya iya. Tapi Arvin mendidik Naren dengan baik kok, Arvin gak mau dia mengikuti jejak Arvin dulu. Tapi ya mana Arvin tahu kalau dia kebelet kayak gini." Jawab Arvin sambil menyedekapkan kedua tangan nya di dada.
"Maksud nya apa sih? Kalian berdua bahas apaan?" Tanya Naren dengan wajah cengo nya. Dia heran sendiri, apa yang di bicarakan oleh kedua pria itu sebenar nya?
"Tidak apa-apa, jangan di bahas lagi. Kakek ke kamar duluan."
"Iya, selamat beristirahat." Ucap Naren dan Arvin bersamaan. Kedua nya menatap punggung Darren hingga dia masuk ke kamar dan menutup nya dengan perlahan. Arvin memalingkan wajah nya saat tak sengaja tatapan mata sang putra menatap nya.
"Apa Papi dulu juga melakukan sebuah kesalahan?"
"Tidak, mana ada." Jawab Arvin, tapi dia tetap menatap ke arah lain tanpa mau menatap wajah putra nya sama sekali. Jelas terlihat kalau Arvin tengah menyembunyikan sesuatu dari Naren. Tapi apa? Entahlah, hanya Arvin yang mengetahui nya.
"Papi.."
"Apa?" Tanya Arvin lagi. Naren memicingkan tatapan nya, dia menatap Papi nya dengan tatapan seolah meminta penjelasan.
"Kenapa menatap Papi seperti itu, hmm?"
"Karena aku butuh penjelasan dari Papi." Jawab Naren, pria itu terlihat menghembuskan nafas nya dengan kasar.
"Ya, dulu Papi membuat sebuah kesalahan."
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻