Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 24 - Keputusan Naren


__ADS_3

"Aku sangat yakin, Mark." 


"Tapi, kalian baru saling mengenal bukan? Bagaimana kalau ternyata gadis itu.."


"Jangan mempengaruhi aku, Mark. Aku ingin bertanggung jawab pada Ayu karena aku sudah merusak masa depan nya." Lirih Naren, membuat Mark terdiam. Dia menangkap ada raut wajah bersalah pada Naren. 


"Hmm, baiklah. Apapun keputusan anda, saya akan mendukung dengan baik. Lagi pula, saya lebih setuju kalau anda bersama Ayunda dari pada dengan yang ono." 


"Hmmm, maksud mu Trisa?"


"Hehe, iya.." Jawab Mark sambil menggaruk tengkuk nya padahal tak gatal sama sekali. 


"Iya, aku juga merasa kalau Ayunda lebih baik dari pada wanita itu. Lihat lah, dia membuatkan aku bekal dengan menu yang luar biasa enak nya." Puji Naren sambil menunjuk kotak bekal di atas meja. 


"Baguslah kalau anda sudah mulai bisa melupaka Nona Trisa, saya senang mendengar nya."


"Ya, kalau begitu mulailah bekerja, Mark." Ucap Naren. Pria itu pun tersenyum kecil lalu mengangguk pelan. Dia keluar dari ruangan besar milik Narendra dan masuk ke ruangan nya sendiri. 


Siang hari nya, Naren membuka kotak bekal nya dan langsung memakan nya. Dia tersenyum sesaat setelah suapan pertama masuk ke dalam mulut nya. 

__ADS_1


"Enak, Ayunda sangat pandai memasak." Gumam Naren. Cumi tepung yang di siram saus asam manis buatan Ayunda ini benar-benar enak sekali, dia menyukai nya. Masakan Ayunda benar-benar cocok di lidah nya. 


"Tak salah rasa nya aku ingin menjadikan gadis itu sebagai istri, dia memang memenuhi kriteria Mami dan Papi." Gumam Naren lagi. Dia pun kembali menyuap, membuat nya terus merasa lapar setiap kali menyuap nasi dan potongan cumi nya. Enak sekali, takkan pernah bosan dia memuji kalau masakan Ayunda ini memang sangat enak.


Sore harinya, Naren datang berkunjung ke rumah orang tua nya. Dengan membawa tas kerja yang dia tentang, pemuda tampan itu masuk ke dalam rumah dan langsung di sambut oleh Melisa dan juga Arvin.


Sebelum datang kesini, tentu nya Naren sudah mengabari terlebih dulu dan dia mengatakan kalau ada hal penting yang harus di bicarakan. Jadi mereka menunggu kedatangan sang putra.


"Sore Mami, Papi." Sapa Naren dengan senyum manis nya. Dia memutuskan untuk duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan kedua orang tua nya.


"Sore, Boy. Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan itu?" Tanya Arvin.


"Ada apa sebenarnya, Boy?" Tanya Melisa. Dia melihat ada raut bersalah dari wajah putra semata wayang nya.


"Maaf, Narendra tak sengaja merenggut mahkota seorang gadis."


"A-apa?" Kedua nya nampak terkejut dengan apa yang di katakan oleh putra mereka, ini benar-benar tiba bagi kedua nya.


"Maaf, tapi.."

__ADS_1


Plak..


Wajah Naren terhuyung ke samping, Arvin melayangkan tamparan keras di wajah putra nya. Pemuda itu mengusap nya, rasa sakit dan perih bercampur menjadi satu. Tapi tentu nya ini tidak sebanding dengan ke kecewaan yang di rasakan oleh kedua orang tua nya sekarang ini. Ya, kesalahan nya ini memang sangat fatal.


"Kapan Papi mengajari mu menjadi pria bajingaan, Naren?" Tanya Arvin dengan nada tinggi.


"Maaf, Pi. Sumpah demi apapun, Naren tidak sengaja, Pi."


"Tidak sengaja kau bilang? Jangan bersembunyi di balik kata tidak sengaja, Naren. Sekali brengseek tetap brengseek! Papi malu mempunyai anak seperti mu, Naren." Ucap Arvin, dia benar-benar marah saat ini. Bagaimana bisa, putra yang selama ini dia bangga-banggakan ternyata melakukan hal serendah ini? Dia tidak pernah mengajarkan putra nya untuk menjadi pria brengseek seperti ini.


"Mas, sudah.." Ucap Melisa, dia berusaha melerai kemarahan suami nya.


"Bawa gadis itu kemari malam ini." Tegas Arvin lalu tanpa kata lagi, dia pergi menjauh dari ruangan yang menjadi saksi bisu kemarahan seorang Arvino Sanjaya.


"Boy.." Lirih Melisa. Naren mendongak, lalu tersenyum kecil untuk mengatakan kalau dia baik-baik saja sekarang. Masalah kemarahan sang ayah, wajar saja karena dia salah.


......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2