
Seorang pria menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, angin berhembus cukup kencang. Suasana yang sangat dingin, namun tidak menyurutkan niat Narendra untuk tetap berada di balkon sendirian di temani angin malam yang terasa dingin menusuk kulit.
Narendra menyedekapkan kedua tangan nya di dada, dia menengadahkan kepala nya menatap langit malam yang terlihat sangat mendung, seperti nya alam pun tahu seperti apa suasana hati seorang Narendra.
"Kenapa rasa nya sangat menyakitkan? Bahkan sakit nya begitu terasa, sesak sekali." Gumam Narendra. Dia meremaas dada nya sendiri, kembali air mata nya kembali menetes tanpa bisa di cegah oleh sang pemilik tubuh. Pria itu kembali menangis, hari ini Narendra banyak menangis. Dia menangisi keadaan sang kakek yang sampai saat ini belum terbangun juga. Dia berharap sekali kalau malam ini, Kakek nya akan terbangun dan mengomel seperti biasa nya. Namun ternyata saat dia menanyakan pada Samuel, keadaan nya masih sama. Kakek Darren masih belum sadarkan diri juga.
"Kenapa kau harus mengalami semua ini? Aku tau, aku salah, tapi jangan hukum aku seperti ini." Gumam pria itu lagi, dia kembali menangis tergugu. Terasa sangat menyakitkan sekali, Narendra terus saja menyalahkan diri nya sendiri. Padahal ini, bukanlah kesalahan nya kan? Namun semua ini memang sudah takdir nya. Tapi, kecelakaan itu terjadi disaat hubungan Narendra dan sang kakek tengah bersitegang karena Narendra tak terima saat sang kakek menegur nya.
Narendra mengusap kedua mata nya dengan kasar, lalu kembali mendongakan kepala nya, menatap langit hitam yang terlihat sangat mendung, awan hitam menghiasi langit malam di Amerika, di kediaman paman Samuel. Suasana yang sangat dia rindukan, namun bukan dengan keadaan seperti saat ini.
"Aku tahu, aku salah, Tuhan. Tapi jangan hukum aku sekeras ini, bukan ini yang aku inginkan."
Disaat Narendra tengah menyalahkan dirinya sendiri, pintu terbuka menampakan sosok Samuel yang melongokkan kepala nya. Dia berniat untuk mengajak Narendra untuk makan malam, namun ternyata pria itu tidak ada di ranjang, kamar itu terlihat kosong, sunyi dan sepi. Bahkan semua lampu mati, di kamar itu terlihat sangat temaram, hanya lampu kecil yang di hidupkan, suasana nya benar-benar tidak enak bagi Samuel.
"Ren.." Panggil Sam. Tentu saja pria itu mendengar suara Samuel, dia segera mengusap air mata nya dan membalikan badan nya, dia tersenyum kecil ke arah sang paman. Namun, Samuel tahu kalau senyuman itu hanyalah kedok semata. Senyuman yang tidak menunjukkan kebahagiaan, namun Samuel hanya melihat kebohongan disana.
"Lagi ngapain?"
"Ini, lagi liatin langit aja sih, kenapa?"
"Makan malam dulu, dari tadi kamu gak keluar kamar. Kamu baik-baik saja, kan?" Tanya Samuel.
"Apa harus Paman bertanya seperti ini, sedangkan adik mu sedang koma di rumah sakit sekarang?" Balik tanya Narendra membuat Samuel terdiam.
Kalau boleh jujur, dia juga ingin menangis, meraung, berteriak sekeras mungkin untuk meluapkan rasa sakit di hatinya. Namun, dia menahan nya sekuat tenaga. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan Narendra maupun Arvin, dan sudah jelas bukan rasa sakit yang di pendam akan selalu terasa lebih sesak dan sakit nya akan terasa berkali-kali lipat lebih menyakitkan.
Rasa sesak, marah, benci diri sendiri, kecewa bercampur menjadi satu dan memenuhi hatinya. Kalau di tanya apakah dia baik-baik saja, jawaban nya sudah jelas tidak. Dia tidak baik-baik saja sekarang, bahkan hati nya terasa sakit seperti akan meledak. Siapa yang tidak sakit saat kakak satu-satunya mengalami kemalangan, hanya berselang beberapa jam saja setelah kedua nya berbincang.
Masih terbayang jelas senyuman sang kakak saat berpamitan padanya kalau dia akan pulang ke negara nya, dia mengatakan kalau dia tak sabar untuk bertemu dengan cucu menantu nya yaitu Ayunda. Dia bahkan membelikan banyak sekali oleh-oleh untuk Ayunda, saking sayang nya pria itu pada Ayunda, hingga saat bicara nama wanita itu selalu dia bawa-bawa.
Darren terlihat sangat bahagia saat itu, namun hanya berselang beberapa jam saja kebahagiaan itu lenyap, mobil yang membawa Darren menabrak pembatas jalan, di duga rem mobil itu tidak berfungsi hingga membuat supir itu oleng ke kanan dan menabrak pembatas jalan karena tidak bisa menguasai laju kendaraan yang dia kendarai itu.
"Apa aku harus menunjukkan nya, Ren? Aku malu, aku tidak ingin terlihat lemah hanya karena aku menangis." Lirih Samuel membuat Narendra mengerutkan kening nya.
"Kau takkan terlihat lemah hanya karena menangis, Paman. Itu wajar saja, itu salah satu cara untuk mu meluapkan perasaan sakit mu, bukan artinya kau lemah hanya karena kau menangis." Jawab Narendra. Sam terlihat menatap Narendra, lalu dia menundukan kepala nya.
Tak terasa, air mata yang sedari tadi pagi begitu dia mendengar kabar kalau mobil yang membawa sang kakak kecelakaan, jantung nya terasa berhenti berdetak seketika. Tapi, sekarang Sam terlihat sama rapuh nya seperti Narendra, padahal tadi dia terlihat biasa saja. Sam meneteskan air mata, namun dengan cepat dia mengusap nya dengan jemari nya.
"Aku juga tidak sebaik-baik itu sekarang, Ren. Aku juga rapuh, aku kecewa, aku marah dengan diriku sendiri karena gagal membuat kakak ku mengurungkan niat nya untuk pulang hari ini." Jawab Samuel lirih dengan suara serak nya.
"Apa maksud mu?" Tanya Narendra pelan. Melihat paman nya yang terlihat sedikit emosional, membuat Narendra tidak tahan untuk bertanya dengan nada tinggi pada Sam.
"Jam tujuh pagi, kakek mu pamitan sama paman untuk pulang. Tapi, feeling paman sangat buruk. Paman melarang kakek mu untuk pulang hari ini, tapi kau tahu sendiri seperti apa kakek mu bukan? Dia keras kepala."
"Dia mengatakan, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ayunda, istrimu. Kau tahu? Dia membelikan banyak sekali oleh-oleh untuk nya. Kakek mu sangat menyayangi Ayunda, bahkan disaat kita sedang mengobrol, kakek mu selalu membawa-bawa nama istri mu dalam setiap pembicaraan." Jelas Samuel membuat Narendra terhenyak, apa semua ini benar? Tapi Samuel tidak mungkin berbohong bukan?
Narendra menatap wajah sang paman, raut wajah nya terlihat sangat serius, bahkan dari sorot mata nya tidak bisa berbohong, dia mengatakan hal yang sebenarnya, dia jujur. Tanpa kebohongan sedikit pun.
"Ayunda, Ayunda, kakek mu selalu memuja muji nama istrimu, Ren. Dia sangat menyayangi nya."
"Apa itu benar, paman?"
"Iya, dia juga mengatakan nya sendiri kalau Ayunda adalah cucu menantu yang sangat baik. Di tambah lagi sekarang dia sedang hamil, kakek mu terus saja mengatakan dia sudah tidak sabar untuk bertemu dan bermain dengan cicit nya." Samuel mendongak menatap langit malam, air mata nya menetes tanpa bisa di cegah. Sungguh demi apapun dia tidak bisa menahan nya lagi, biarlah Narendra melihat sisi dirinya yang rapuh seperti ini.
__ADS_1
Tidak masalah, memang suasana nya sekarang sangat memungkinkan semua orang untuk bersedih. Rasanya sangat menyakitkan sekali memang.
"Bisa di bayangkan bukan seperti apa sakit, marah, kecewa nya paman sekarang? Kalau saja, paman bisa menahan Kakek mu agar tidak pulang, mungkin sekarang dia masih berbincang dengan paman disini. Andai saja, waktu bisa di putar kembali, pasti paman akan menahan Kakek mu sekuat tenaga." Jelas Samuel panjang lebar.
Narendra terdiam, ternyata Sam juga sama hancur nya seperti dirinya. Memang kejadian ini begitu menyakitkan, sangat menyakitkan sekali. Sungguh demi apapun, ini sangat menyakitkan.
"Aku lebih hancur dari mu saat mendengar kabar itu, Ren. Namun, paman tidak ingin terlihat lemah di depan mu atau ayah mu, paman berusaha menguatkan diri paman sendiri agar tidak rapuh dan menunjukkan sisi lemah paman di depan mu."
"Tapi sekarang, paman merasa sedikit lebih lega setelah menceritakan semua nya padamu, Ren."
"Paman.."
"Maaf, paman gagal menjaga kakek mu. Harusnya, tidak peduli sekeras kepala apapun kakek mu, Paman tetap menahan nya agar tidak pergi."
"Tidak apa-apa, ini sudah takdir yang memang harus terjadi. Jangan menyalahkan diri paman sendiri karena itu bukan salah paman."
"Hmm, kau juga begitu. Berhenti menyalahkan diri sendiri, jangan terus menerus menyalahkan dirimu sendiri. Ini bukan hukuman, kau tidak bersalah apapun disini." Jawab Sam membuat Naren mengangguk, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia masih merasa paling bersalah pada sang kakek. Tapi benar apa yang di katakan oleh Samuel, ini juga bukan salah nya.
"Baik, paman."
"Kabari istrimu, ini memang berat tapi istrimu juga berhak tau, Nak."
"Aku khawatir kalau kabar ini akan membuat kandungan Ayu mengalami masalah lagi seperti yang sudah-sudah."
"Hmm, paman mendengar semua nya dari kakek mu. Wanita itu berulah?"
"Iya, tapi sekarang dia dan antek-anteknya sudah di hukum setimpal sesuai dengan perbuatan nya." Jawab Narendra.
"Rasanya, hukuman penjara seumur hidup pun takkan setimpal dengan apa yang sudah di perbuat oleh wanita itu, Ren."
"Selain itu, perbuatan seperti itu juga dosa, Ren." Ucap Sam. Benar, perbuatan itu dosa nya sangat besar. Tapi Trisa tidak memikirkan semua itu dan sekarang, dia telah memetik buah dari semua perbuatan nya di masa lalu. Dia harus mendekam di balik jeruji besi selama 15 tahun karena di dakwa melakukan percobaan pembunuhan.
"Benar, paman. Tapi wanita itu tidak berpikir kesana seperti nya, dia tidak ragu melakukan hal sekeji itu pada janin yang sama sekali tidak bersalah hanya demi ambisi nya. Padahal, kalau pun Narendra tidak menikah dengan Ayu sekalipun, Naren akan berpikir dua kali untuk mau kembali pada wanita itu."
"Sekarang, kau tahu apa alasan kedua orang tua mu tidak suka pada wanita itu, bukan?"
"Iya, paman. Dulu, aku saja yang bodooh karena tidak mengetahui kebusukan wanita itu." Jawab Narendra sambil terkekeh pelan, dia menertawai kebodohan nya sendiri karena bisa-bisa nya dulu di galau selama berbulan-bulan hanya karena di putuskan oleh wanita itu. Kalau berpikir sekarang, amit-amit deh ya.
"Haha, kau baru sadar."
"Iya, dulu aku pingsan, Paman."
"Ya sudah, turunlah dan makan. Bibi Selin memasak makanan kesukaan mu, dia pasti sudah menunggu di bawah." Jawab Samuel. Narendra pun mengangguk kecil ke arah sang paman, Sam menepuk pelan pundak pria itu lalu pergi dari ruangan itu lebih dulu.
Kamar luas dengan di dominasi warna hitam dan abu-abu ini adalah kamar khusus untuk Narendra jika berkunjung kesini, sedari kecil dia selalu tidur disini jika datang kemari. Termasuk sekarang, bahkan interior, suasana bahkan cat nya juga masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah sama sekali dengan tempat ini.
Narendra mengganti pakaian nya, lalu mengambil ponsel dan berniat untuk menghubungi sang istri. Di sini malam, berarti disana masih siang bukan? Narendra pun segera menghubungi nomor sang istri, hanya butuh beberapa menit saja hingga akhirnya panggilan itu pun di angkat oleh sang pemilik nomor.
'Hallo, Mas..'
"Hallo, Mom. Lagi apa, sayang?" Tanya Narendra, dia mendudukan tubuh nya di pinggir kasur.
'Baru aja habis makan siang, kamu lagi ngapain?'
__ADS_1
"Ini baru mau makan malam, baby gak rewel?" Tanya Narendra lagi.
'Enggak, baby nya anteng-anteng aja kok. Tadi sempet ngidam Bika Ambon, untung aja ada maid yang bisa bikin, hehe.' Jawab Ayunda.
"Yaudah, kamu baik-baik saja kan?"
'Iya, aku baik kok. Gimana kabar kakek, Mas?' Tanya Ayunda membuat Narendra seketika terdiam, dia bingung harus menjawab apa pada istrinya.
'Mas, hallo.. Kamu masih disana kan?'
"Iya, Mas masih disini."
'Gimana keadaan kakek, baik-baik saja kan? Mami dari tadi juga nanyain terus.'
"Sayang, kalau Mas bilang kamu jangan shock ya? Mas takut kalau kehamilan kamu bermasalah nanti nya."
'Memang nya ada apa dengan kakek, Mas?' Tanya Ayunda. Terdengar, suara nya mulai terdengar seperti bergetar penuh ke khawatiran.
"Kakek koma, sayang."
'A-apa, Mas? Tolong jangan bercanda, Mas!'
"Tidak, Mas serius. Kakek di nyatakan koma, karena benturan di kepala nya sangat kuat." Jelas Narendra, terdengar isakan kecil di seberang sana.
"Jangan menangis, sayang. Ini bukan waktunya kita menangis, doakan kakek agar cepat siuman ya?"
'Tentu saja, aku akan mendoakan nya dari sini, Mas.'
"Jangan bersedih ya? Kakek adalah pria yang kuat, dia pasti akan baik-baik saja. Kita harus percaya akan ada kebahagiaan setelah kesedihan, sayang."
'Iya, Mas..' Jawab Ayunda lirih.
"Mas akan pulang lusa, sendiri. Untuk sementara waktu, Papi akan disini dulu sampai situasi nya membaik. Mas tidak bisa membebankan semua nya pada Mark, kasihan dia."
'Iya, Mas. Hari ini dia bolak balik kesini karena aku pesen makanan, hehe.'
"Kamu minta Mark nurutin ngidam kamu, yang?"
'Maaf, Mas. Aku juga gak tau, tapi bawaan nya pengen banget makanan yang di beliin sama om Mark.' Jelas Ayunda, membuat Narendra menggelengkan kepala nya. Ada-ada saja tingkah laku bumil cantik nya ini, tapi nama nya juga bumil ya kan? Terkadang memang tingkah nya sangat ajaib. Di turutin susah, gak di turutin ngerengek, marah, nangis kejer kayak orang tersakiti. Padahal cuma ngidam nya gak keturutan, tapi ya lagi-lagi perlu di tekankan, namanya juga ibu hamil.
"Yaudah, gapapa. Udah dulu ya? Mas mau makan dulu, laper."
'Iya, Mas. Hati-hati disana, jangan genit, jangan nakal. Inget disini udah punya anak bini.' Peringat Ayunda, inilah yang di sukai Narendra. Istrinya mode cemburu dan mode posesif.
"Oke istriku, sayang. Nanti Mas telepon lagi kalau gak ketiduran ya?"
'Tidur aja, Mas. Ayu gapapa kok, besok lagi aja kabar-kabaran nya. Kalau kamu baik-baik saja, aku tenang mendengar nya.'
"Iya, sayang. Bye, muachh. Love you.."
'Love you too, muaachh..' Balas Ayunda. Agak menggelikan ya, tapi sudahlah anggap saja itu romantis. Hehe.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻