
Beberapa bulan berlalu, hingga akhirnya saat ini adalah hari yang paling di tunggu-tunggu oleh Narendra dan Ayunda. Pasangan suami istri sudah berada di rumah sakit saat ini, tadi pagi ketika Narendra akan berangkat bekerja, dia melihat ada yang aneh dengan istrinya.
Dia terlihat meringis sambil memegangi perutnya yang katanya sih agak keram. Ayunda maupun Narendra menyangka karena belakangan ini Ayunda sering melakukan senam bersama ibu-ibu di komplek perumahan bersama Melisa. Mungkin itu efek dari senam ibu hamil, tapi semakin lama Ayunda semakin merasakan nyeri di perut bagian bawahnya.
Setelah beberapa menit berlalu, Narendra melihat kalau pakaian sang istri sudah basah di sertai lendir yang bercampur darah. Saat itulah Narendra panik dan langsung berlari memanggil Mami di luar kamar.
Melisa sendiri tak kalah paniknya ketika melihat menantu nya terus meringis kesakitan, di sertai dengan pakaian yang basah. Cairan itu mengotori lantai, membuat wanita itu yakin kalau Ayunda akan melahirkan sekarang. Narendra pun batal pergi ke perusahaan dan mengantar sang istri ke rumah sakit.
Narendra merasa tidak percaya kalau hari ini adalah hari yang dia tunggu-tunggu sejak sembilan bulan, menurut prediksi dokter masih ada beberapa hari lagi, tapi tentunya tak ada yang mengetahui kapan bayi itu akan lahir kan. Bisa saja lebih cepat atau lebih lambat dari perkiraan. Manusia tidak bisa melebihi kehendak Tuhan.
"M-mas.." Panggil Ayunda pada sang suami yang sedang duduk di sampingnya, sambil menggenggam tangan nya lalu mengusap-usap nya dengan lembut.
"Iya, sayang. Mas disini, kenapa?"
"Haus, Mas." Lirih Ayunda.
"Sebentar, Mas ambilkan dulu airnya ya.."
"Tapi mau minum yang manis, Mas. Ada?" Tanya Ayunda. Entahlah, bawaan nya dia malah ingin minum yang manis-manis.
"Apa ya? Gak ada, sayang. Cuma ada air putih, gimana? Mas gak mungkin keluar dulu buat beli teh manis."
"Yaudah gapapa, Mas." Jawab Ayunda dengan lemah. Tak lama, pintu terbuka menunjukkan wajah panik Melisa sambil membawa cangkir.
"Sayang, ini di minum teh manis hangat. Ini pakai gula merah, biar nanti pas ngeden kamu ada tenaga." Ucap Melisa sambil meletakan cangkir berisi teh manis hangat itu ke tangan Narendra agar memberikan istrinya minum secara perlahan.
"Kebetulan Ayunda pengen yang manis-manis."
"Iya, di minum ya. Habisin.."
"Mami mau kemana?"
"Mau keluar, kan disini ada kamu yang nungguin istrimu."
"Aduh, Mi. Tungguin Ayu bentar ya? Tiba-tiba aja ini perut kok mules, pengen pup."
"Yaudah sana, jangan berisik tapi ya.." Ucap Melisa membuat Narendra terkekeh pelan. Namanya orang panik ya kan gak ada yang tahu, gejala kegugupan menghadapi istri yang akan melahirkan itu berbeda-beda, bahkan ada yang sampai ngompol di celana saking gugup nya. Tapi berbeda dengan Narendra, sejak dari rumah tadi pagi, pria itu terus saja kentut bahkan di mobil sekalipun. Masih mending kalau kentut nya tidak beraroma, lah ini aroma nya benar-benar tak sedap bahkan ibu hamil yang sedang merasakan nikmatnya kontraksi pun di buat mabok oleh aroma tak sedap itu.
"Mami.."
"Iya, sayang. Kenapa?"
"Mami, Ayu takut.." Cicit Ayunda dengan lirih, dia menatap takut-takut ke arah mami mertuanya yang juga tengah menatapnya.
"Jangan takut, sayang. Percayalah, rasa sakit mu saat ini akan tergantikan ketika kamu melihat buah hati kalian lahir dengan sehat dan baik, sayang." Ucap Melisa sambil tersenyum.
"Mami, Mas Naren gak bakalan ninggalin Ayu kan?"
"Tidak akan, kalau dia ingin meninggalkan kamu, maka Mami yang akan berdiri di depan nya untuk membela mu, sayang." Melisa tersenyum sambil mengusap surai panjang menantu kesayangan nya itu.
"Jangan terlalu banyak berpikiran yang tidak perlu, sayang. Percayalah, Mami, Naren, ada kakek sama Papi diluar, sama Paman juga. Mereka senantiasa berada di samping kamu, mendoakan yang terbaik buat kamu."
"Terimakasih, Mami. Ayu lega mendengarnya." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Mami sayang sekali sama kamu, sayang."
__ADS_1
"Ayu juga sayang banget sama Mami, Ayu minta maaf kalau selama ini Ayu sering ngerepotin Mami, minta di buatin ini itu sama Mami."
"Tidak, sayang. Kamu tidak pernah ngerepotin Mami kok, semua yang mami berikan sama kamu semuanya tulus Mami lakukan untuk kamu, karena kamu adalah menantu kesayangan Mami." Balas Melisa sambil mengusap-usap punggung tangan Ayunda dengan lembut.
"M-mami.."
"Lagi kontraksi ya? Remass saja tangan Mami, sayang. Sungguh, mami tidak keberatan sama sekali." Melisa membiarkan Ayunda menggenggam tangan nya. Dia merasakan remasaan kuat di tangan nya, dia kesakitan namun rasa sakit itu belumlah sebanding dengan apa yang di rasakan oleh Ayunda.
Melisa tersenyum menahan sakit, karena kuku Ayunda menembus kulitnya. Meskipun kuku nya pendek, tapi kalau dia melakukan nya dengan kuat, maka hasilnya akan tetap sama, menghasilkan luka.
"Mami, Ayu minta maaf sama Mami.."
"Mami sudah memaafkan semua kesalahan kamu, sayang. Jangan pernah berpikir kalau selama ini kamu punya salah sama Mami, kamu tidak memiliki kesalahan apapun sama Mami." Ucap Melisa. Hingga Ayunda melonggarkan remasaan tangan nya di tangan Melisa. Wanita paruh baya itu bisa melihat ada bekas kuku yang menimbulkan luka hingga berdarah.
"Mami, maafin Ayu udah bikin tangan Mami luka begitu."
"Tidak apa-apa, sayang. Hanya luka kecil, jangan terlalu sering meminta maaf, sayang. Ini bukan kesalahan kamu, toh Mami yang menawarkan diri Mami sendiri."
Beberapa saat kemudian, seorang perawat masuk ke dalam ruangan untuk mengecek pembukaan. Melisa beranjak dari duduknya, tapi meskipun begitu dia tetap berdiri di samping sang menantu, sambil terus menggenggam tangan wanita itu dengan erat.
"Mari kita cek pembukaan nya dulu ya.." Ucap perawat itu sambil mengeluarkan alat-alat untuk mengecek pembukaan Ayunda.
Dia memakai sarung tangan karet dan tanpa ragu memasukkan tangan nya ke dalam area sensitif milik Ayunda dan hal itu di lihat oleh Narendra yang baru saja keluar dari kamar mandi, wajah pria itu seketika memerah ketika melihat bagaimana cara perawat itu mengecek pembukaan.
"Tangan? Masuk ke dalam aset gue? Astaga.." Gumam Narendra sambil melihat-lihat tangan nya, dia heran sendiri bagaimana kepalan tangan sebesar itu bisa masuk ke dalam lubang sekecil itu? Bahkan saat pertama kali dirinya dan ayunda melakukan hal itu, dia kesakitan bukan main. Lalu sekarang bisa masuk kepalan tangan? Astaga, nanti senjatanya akan tidak berguna dong.
"Naren, ngapain bengong disitu. Ayo kesini temenin istrimu." Ucap Melisa sambil meminta Narendra mendekat. Pria itu pun mendekat dan mengambil alih tangan sang istri dari sang ibu lalu menggenggam nya dengan erat.
Ayunda beberapa kali meringis ketika merasakan ada benda asing yang mengobok-obok sesuatu di bagian bawahnya.
"Nona, pembukaan nya masih tujuh. Tunggu sebentar lagi, hingga pembukaan nya lengkap ya.." Lirih perawat itu sambil membuka sarung tangan karetnya dan meletakan benda itu di atas benda berbahan aluminium.
"Sampai pembukaan sepuluh, Tuan."
"Tapi istri saya sudah kesakitan, kalau begini nanti dia lemas duluan sebelum melahirkan."
"Tapi kami juga tidak bisa melakukan tindakan apapun jika pembukaan nya belum sempurna." Jelas perawat itu sambil tersenyum kecil.
"Tapi sus.."
"Tuan, kami memiliki beberapa peraturan yang harus di ikuti untuk memenuhi sumpah kami saat akan menjadi tenaga medis, maafkan saya tapi hal semacam ini bisa di katakan wajar. Tidak terjadi pendarahan apapun pada Nona Ayunda."
"Baiklah, terimakasih suster." Ucap Melisa sambil menutup mulut putranya karena pria itu sudah bersiap untuk kembali menjawab ucapan perawat itu, dia tidak ingin terjadi perdebatan karena memang dokter maupun perawat memiliki sumpah dan peraturan untuk menangani pasien, khususnya pasien yang akan melahirkan seperti Ayunda.
Perawat itu pun pergi ke luar ruangan, pria itu menatap kesal ke arah sang ibu, dia belum puas dengan jawaban perawat itu.
"Kenapa menatap Mami kayak gitu?"
"Mami kenapa biarin itu perawat pergi sih? Narendra masih punya pertanyaan."
"Nanti aja, istrimu lagi kesakitan menahan kontraksi itu jangan kamu tambahin dengan keributan disini." Jawab Melisa membuat Narendra terdiam, tapi ketika melihat wajah sang istri yang sudah pucat membuatnya takut sekaligus khawatir dengan keadaan istrinya.
"Tapi Mi, lihat tuh Ayu nya udah pucat. Aku takut, Mi.."
"Tidak akan terjadi apa-apa, Naren. Kamu harus percaya sama istri kamu. Hanya tinggal dua pembukaan lagi, lalu istri kamu bisa di bawa ke ruang bersalin." Ucap Melisa membuat Narendra terdiam.
__ADS_1
"Memang nya tidak bisa gitu melahirkan tapi pembukaan nya gak sepuluh gitu?"
"Bisa aja, tapi nanti barang kesukaan istrimu itu di gunting terus di jahit banyak, mau kamu bikin istri mu kesakitan lagi hmm?" Tanya Melisa. Lahiran dengan pembukaan sempurna pun tidak menjamin kalau Ayunda tidak akan mendapatkan luka yang harus di jahit, tapi tetap saja jika di paksakan nanti Ayunda juga yang menanggung semua rasa sakitnya.
"Enggak mau, Mi. Lihat Ayu gini aja rasanya sakit banget."
"Ini masih wajar, semua wanita yang menginginkan anak pasti mengalami yang namanya kontraksi. Tapi di jahit? Hanya beberapa wanita saja yang mengalami nya, Naren. Kamu bisa bayangkan saja rasa sakit nya seperti apa, di jahit hidup-hidup dengan jarum melengkung seperti pancing. Bisa kamu bayangkan?" Tanya Melisa membuat wajah Narendra berubah menjadi pucat pasi, dia tidak bisa membayangkan kalau semua itu akan terjadi pada istrinya.
"Tapi Mi, nanti itunya gak longgar kah?" Tanya Narendra. Sebenarnya ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal semacam ini, tapi Naren benar-benar penasaran. Bayangkan saja, kepala bayi bisa keluar dari lubang sekecil itu, bahkan tadi kepalan tangan bisa masuk kesana kan?
"Tidak, malahan kalau melahirkan normal rasanya bakalan sama seperti pertama kali." Ucap Melisa membuat Ayunda membulatkan kedua matanya.
"Sakit dong, Mi?"
"Kalau suami kamu pandai pemanasan nya ya gak bakalan sakit, tapi sebaliknya kalau suami kamu gak bisa bikin kamu panas, bakalan sakit. Malahan sakitnya jauh lebih sakit dari pada saat pertama kali." Jelas Melisa yang membuat Ayunda membulatkan kedua matanya.
"Pokoknya setelah melahirkan, gak ada jatah-jatahan lagi, Mas!" Ucap Ayunda pada suaminya.
"Lho kok gitu sih, belum juga lahiran udah bahas jatah aja. Untung semalem udah di tengokin dulu, jadi masih punya bekal buat beberapa hari ke depan."
"Beberapa hari? Maksudmu?"
"Ya puasa nya, Mami." Jawab Narendra membuat Melisa kesal sendiri dengan putranya. Dia menimpuk kepala Narendra dengan gemas, sudah mau jadi ayah dua anak, tapi kenapa kelakuan nya malah seperti ini? Apa dia tidak mencari tahu terlebih dulu sebelum mencetak bayi? Atau membaca dari buku KIA yang di berikan oleh dokter kandungan? Padahal, semuanya lengkap disana.
"Puasa setelah melahirkan itu selama 40 hari."
"H-ahh? 40 hari? Lama bener, Mi." Tanya Narendra.
"Istrimu nifas ya segitu lamanya, kadang ada yang lebih." Jawab Melisa membuat Narendra menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. Artinya jatah yang tadi malam harus cukup hingga 40 hari ke depan. Buseett, lama bener dah. Padahal, Naren tuh nanti malam juga sudah kepengen lagi, lalu bayangkan saja selama 40 hari tidak bisa melakukan kegiatan kesukaan nya itu. Bisa-bisa air miliknya membeku.
"Aduh, jadi jatah yang semalem harus di kuat-kuat sampe 40 hari ke depan ya, Mas." Goda Ayunda sambil tersenyum.
"Sayang.."
"Maaf ya, Mas. Aku pensiun dulu mumpung ada alasan aku libur layanin kamu." Jawab Ayunda membuat Narendra mengerucutkan bibirnya karena kesal. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak mungkin meminta jatah saat istrinya belum bersih dari nifas yang katanya terjadi selama 40 hari itu.
Ayunda kembali merasakan kontraksi, dia meringis kesakitan membuat Narendra tak tahan untuk memanggil dokter untuk kembali memeriksa keadaan istrinya. Tak membutuhkan waktu lama, seorang dokter wanita pun datang untuk mengecek pembukaan Ayunda. Lagi-lagi, dokter itu melakukan pengecekkan pembukaan dengan metode yang sama, artinya memang ini sudah caranya seperti itu ya? Tidak perawat maupun dokter, mereka mengecek pembukaan dengan cara yang sama.
"Pembukaan nya sudah lengkap, mari kita pindahkan ke ruang bersalin. Siapkan satu orang yang akan menemani pasien selama proses melahirkan." Ucap dokter itu memberikan intruksi.
"Kamu bersiap ya, hati-hati disana. Temani istrimu, jangan lengah. Semangati dia, oke?"
"Pasti, Mami." Jawab Narendra. Semua orang yang ada di luar pun turut mengikuti Ayunda yang di pindahkan ke ruang bersalin untuk melahirkan karena pembukaan nya sudah lengkap.
Ruangan itu tertutup, di dalam ruangan yang terasa sangat mencekam itu hanya ada Ayunda, Narendra, seorang dokter dan ada beberapa perawat yang selalu siap siaga menemani dokter kandungan itu.
"Sudah siap, Nona? Kalau mau ngeden, tinggal ngeden saja sekarang." Ucap dokter itu sambil tersenyum kecil. Ayunda pun menganggukan kepala nya, jujur saja dia merasa lemas tapi dia harus berjuang untuk bisa bertemu dengan buah hati yang telah di nanti-nantikan kehadiran nya di antara mereka.
"Iya, dokter." Jawab Ayunda lirih. Prosesi melahirkan itu pun di mulai, Ayunda benar-benar berjuang untuk bisa bertemu dengan buah hatinya. Pria itu juga terus berada di samping Ayunda, dia membisikkan kata-kata cinta yang membuat Ayunda merasa bersemangat untuk bisa bertemu dengan buah hati mereka.
"Sayang, semangat. Aku mencintaimu.." Bisik Narendra, kata-kata seperti itu saja mampu membakar semangat Airyn. Hingga akhirnya suara tangisan bayi terdengar sangat nyaring, membuat Narendra tersenyum lega. Anak pertama nya telah lahir.
"Bayi pertama laki-laki, Tuan. Lahir dengan sempurna, tiada cacat sedikitpun." Ucap seorang perawat dengan senyum kecilnya.
"Terimakasih, sayang. Masih ada satu lagi buah hati kita yang harus kamu perjuangkan." Bisik Narendra lagi. Hingga akhirnya Ayunda merasakan kembali kontraksi yang luar biasa dan akhirnya dia bisa melahirkan kedua bayi kembar nya dengan selamat. Lelah? Benar sekali, dia merasa sangat lelah namun ternyata perjuangan nya masih belum usai.
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻🌻🌻