
Setelah hati nya merasa lebih lega, akhirnya Ayunda pun memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan, dia hanya terdiam melamun dengan tatapan lurus yang kosong. Namun tangan nya tetap mengusap lembut perut nya yang membuncit.
"Nona, mau mampir dulu untuk makan siang? Anda belum makan."
"Aku makan di rumah saja, Pak." Jawab Ayunda lirih. Pak supir pun mengangguk mengiyakan, dia pun fokus mengemudikan kendaraan roda empat nya dengan kecepatan rata-rata. Di jam seperti ini, dia tidak bisa mengemudi cepat-cepat, karena jalanan masih sangat padat. Mungkin karena masih jam makan siang.
Satu jam kemudian, akhirnya mobil itu pun sampai di rumah. Ayunda pun turun dari mobil dengan perlahan, entah kenapa perut nya terasa tidak enak sekarang. Apa mungkin karena dia belum makan?
"Nona.." Panggil salah satu petugas keamanan yang terlihat berjaga di halaman rumah.
"Iya, Pak. Ada apa?" Tanya Ayunda dengan ramah.
"Maaf, Nona. Tapi di pakaian anda ada noda darah, maaf kalau saya tidak sopan." Ucap nya, Ayunda pun melirik ke samping dan benar saja, ada noda merah disana. Mana pakaian yang di kenakan nya berwarna putih, jadi terlihat jelas kalau ada darah disana.
"Astaga, Nona. Kita ke rumah sakit sekarang.."
"Tidak perlu, saya baik-baik saja. Saya masuk dulu ya, mau ganti pakaian." Pamit Ayunda. Perut nya tidak sakit sama sekali, tapi kenapa terjadi pendarahan? Apa hanya karena pikiran nya yang sedang kacau sekarang? Benar-benar kandungan nya sangat lemah hingga punya masalah dan pemikiran sedikit saja langsung pendarahan seperti ini.
Supir yang melihat itu, dia langsung menghubungi nomor Narendra. Dia harus melaporkan keadaan Ayunda, dia khawatir kalau dia menyembunyikan sesuatu tentang kehamilan nya. Apalagi wajah Ayunda terlihat pucat saat masuk tadi.
Hanya butuh waktu beberapa detik saja sampai akhirnya Narendra mengangkat panggilan dari nya. Pria itu baru saja selesai makan bersama Mark, kedua nya sedang mengobrol tentang langkah selanjutnya untuk mereka menangani penghianat yang telah meretas data-data perusahaan nya.
"Hallo, Tuan.."
'Ya, hallo. Ada apa? Istriku sudah pulang ke rumah atau masih di taman?' Tanya Narendra. Suara nya terdengar sedikit bergetar, mungkin karena dirinya masih di liputi rasa bersalah pada Ayunda. Wanita cantik yang kini menjadi istrinya.
"Tuan, maaf. Tapi Nona Ayunda pendarahan, kami baru saja sampai di rumah."
'H-aahh, apa maksud mu? Pendarahan, kenapa bisa?' Tanya Narendra. Dari suara nya terdengar jelas kalau dia sedang terkejut saat ini, jelas saja terkejut karena tadi Ayunda baik-baik saja, tapi sekarang dia pendarahan?
"Saya tidak tahu, Tuan. Tapi memang sedari tadi Nona Ayunda terus menangis, bahkan di taman juga. Di mobil dia hanya diam, saya tidak tahu apa penyebab Nona Ayu bisa pendarahan Tuan."
"Tapi, Nona Ayunda selalu mengusap-usap perut nya sedari tadi." Jelas supir itu membuat Narendra berdecak kesal.
'Aku pulang sekarang!'
"Baik, Tuan. Saya sudah mengajak nya untuk ke rumah sakit, tapi beliau tidak mau. Dia hanya mengatakan akan beristirahat dan berganti pakaian, Tuan."
'Itu tugasku, terimakasih informasi nya dan terimakasih sudah menjaga istriku.'
"Baik, Tuan. Sama-sama, itu sudah tugas saya." Jawab supir itu, panggilan pun selesai. Rupanya, pembicaraan itu di kuping oleh seorang maid. Dia langsung mengambil ponsel milik nya dan mengirimkan pesan pada seseorang.
'Efek obat yang anda berikan mulai bekerja, Ayunda pendarahan.' Isi pesan yang di kirimkan oleh maid itu pada seseorang.
Sedangkan di kantor, Narendra langsung mengambil kunci mobil nya dan beranjak dari duduknya dengan cepat. Mark yang melihat hal itu pun akhirnya mengeluarkan suara nya.
"Mau kemana, Tuan?" Tanya Mark.
"Pulang, Ayunda pendarahan. Aku harus memastikan keadaan nya sekarang, Mark." Jawab Narendra membuat Mark langsung ikut berdiri. Dia juga mengekor di belakang sang atasan.
"Kau mau kemana, Mark?"
"Mengantar anda, saya tahu kalau keadaan anda sedang kalut saat ini, saya khawatir anda kebut-kebutan di jalan. Jadi, biarkan saya mengantar anda." Jawab Mark tegas, dengan cepat di merebut kunci mobil dari tangan Narendra dan berjalan lebih cepat dari Naren. Jadi, yang suaminya Ayunda yang mana? Narendra atau Mark? Tentu saja Narendra, tapi Mark juga ikut khawatir karena dia takut terjadi sesuatu pada Narendra.
Dia tahu keadaan pria itu sedang kalut saat ini, pastinya dia akan melampiaskan emosi nya dengan memacu kendaraan nya dengan kecepatan tinggi agar lebih cepat sampai. Namun, Mark akan mengantisipasi hal itu lebih dulu.
"Haisshh, dia selalu saja tahu apa yang akan aku lakukan. Apa dia semacam cenayang atau apa?" Gumam Narendra lalu berjalan mengikuti Mark di belakang nya. Pria itu berjalan cepat setengah berlari mengejar Mark yang sudah lebih dulu pergi ke arah mobil nya.
"Cepatlah, Tuan." Ucap Mark membuat Narendra mendengus. Pria itu pun masuk ke dalam mobil dan Mark pun langsung mengemudikan kendaraan nya itu dengan cepat.
Tak lupa, Narendra menghubungi dokter pribadi keluarga Sanjaya agar datang ke rumah untuk memeriksa keadaan istri nya sebelum dia bisa membujuk Ayunda agar mau di ajak ke rumah sakit.
"Dokter, datang ke rumah saya sekarang!" Perintah Narendra.
'Baik, Tuan muda.' Jawab dokter itu. Panggilan pun selesai, Narendra kembali memasukkan ponsel nya ke dalam saku jas nya. Pria itu terlihat kusut, wajah nya terlihat kuyu. Dia sangat khawatir saat ini, sungguh demi apapun yang ada di pikiran nya saat ini hanya Ayunda. Dia takut terjadi sesuatu pada istri nya, dia takut. Sungguh demi apapun.
__ADS_1
Sekitar satu jam berlalu, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Mark pun sampai di rumah Narendra. Pria itu langsung keluar bahkan disaat mobil nya belum sepenuh nya berhenti, cukup berbahaya tapi untung lah tidak terjadi apapun pada Narendra.
Mark mengikuti pria itu ke dalam rumah, namun dia tidak ikut ke kamar pria itu karena hal itu bersifat privasi. Mark memberikan mereka waktu untuk bicara berdua saja, tanpa ada kecanggungan karena kehadiran dirinya.
Pria itu memilih duduk di sofa yang ada di ruang tamu sambil meneliti setiap detail rumah besar milik keluarga Sanjaya itu. Saat ini, di rumah itu hanya ada Narendra dan Ayunda juga maid dan petugas keamanan. Arvin dan Melisa belum pulang dari luar kota, katanya sih mereka akan pulang lusa. Mereka pergi untuk berlibur katanya, nama nya juga pasutri lama ya.
Mau apa lagi, mereka sudah punya banyak uang dan anak mereka sudah ada yang mengurus. Jadi mereka bisa pergi berlibur kemana pun untuk menikmati masa tua mereka bersama sebagai pasangan suami istri yang harmonis. Darren juga begitu, beda nya dia berada di rumah saudara nya di luar negeri. Tujuan nya sama, berlibur untuk menikmati masa tua nya.
"Tuan, anda mau makan atau minum sesuatu?"
"Kau siapa?" Tanya Mark, baru kali ini dia melihat maid ini. Terlihat asing, namun.. cantik!
"Saya maid baru disini, baru di rekrut Tuan Arvin satu bulan yang lalu." Jelas nya membuat Mark mengangguk-anggukan kepala nya.
"Siapa nama mu?"
"Maya, Tuan." Jawab nya, dia maid yang berusia masih cukup muda. Mungkin seumuran dengan Ayunda.
"Buatkan kopi hitam tanpa gula."
"Baik, Tuan." Jawab Maya. Dia pun pergi dari hadapan Mark untuk pergi ke dapur dan membuatkan pria itu kopi sesuai dengan apa yang dia inginkan.
'Cantik dan manis, tapi ada yang terlihat tidak asing..' Batin Mark, dia melirik ke arah punggung perempuan itu yang sudah menghilang di balik lorong yang menghubungkan ruang tamu dengan dapur.
"Maya, ada sedikit hal yang tidak asing. Tapi apa ya?" Gumam Mark. Dia berusaha mengingat-ingat, namun hasilnya nihil. Dia tidak mengingat apapun tentang wanita itu.
"Tuan, ini kopi anda."
"Terimakasih." Jawab Mark. Dia pun meminum kopi nya secara perlahan, karena kopi nya masih sangat panas.
"Enak, kau pandai membuat kopi."
"Ya." Jawab Mark dengan wajah datar nya. Maya pun pergi ke dapur dan dia bertanya pada salah satu maid senior disana.
"Mbak, itu yang di depan siapa?"
"Lah, kamu yang buatin kopi apa gak di tanya nama nya, May?" Tanya nya balik.
"Hehe, malu atuh mbak."
"Itu nama nya Tuan Mark, dia asisten nya Tuan Naren." Jawab Marni, dia adalah maid senior di mansion Sanjaya. Wanita paruh baya itu tersenyum ketika melihat ekspresi Maya.
"Ohh, nama nya Tuan Mark ya."
"Iya, kamu naksir? Dia ganteng lho, tapi masih jomblo." Jawab Marni. Dia mengetahui hal itu karena dia sering melihat pria itu datang kemari jadi sedikit demi sedikit dia mengetahui hal ini.
"Dih, apaan sih mbak. Mana mau dia sama aku yang cuma pelayan." Jawab Maya sambil terkekeh pelan.
"Pelayan nya juga bukan sembarang pelayan, kita maid nya Tuan Arvino. Sudah jelas gaji nya gak kalah sama pegawai kantoran." Ucap Marni sambil tertawa.
"Iya juga sih ya, hehe."
"Kamu cantik, masih sendiri juga. Kalau naksir, bilang aja."
"Enggak aahh, Mbak. Malu saya." Jawab Maya, dia pun langsung mengambil alih pekerjaan Marni yang sedang mencuci piring. Ternyata hal itu tak luput dari penglihatan seseorang, dia menatap tidak suka saat mendengar obrolan Maya dan Marni. Dia yang sudah lama mengincar Mark, tapi tidak pernah di lirik merasa memiliki saingan, yakni si maid baru yaitu Maya.
"Kau takkan bisa mendapatkan Mark, dia milik ku dan akan seperti itu sampai kapanpun. Dasar caper!"
Di ruang tamu, dokter baru saja masuk dengan wajah panik nya karena Narendra terus menerus meneror nya dengan menelpon beberapa kali dalam satu jam.
"Dok.."
"Aahh, Tuan Mark.."
__ADS_1
"Di kamar atas, Dok." Jawab Mark, dia paham bahkan sebelum dokter itu bertanya pada nya tentang keberadaan pasutri itu. Dia memang dokter umum, tapi dia juga lah yang menangani kehamilan Melisa dulu.
"Baiklah, kalau begitu saya ke atas dulu."
"Iya, Dok. Silahkan.."
Dokter itu pun pergi ke lantai atas untuk segera memeriksa keadaan bumil itu. Dia sangat panik karena dia pikir keadaan nya sangat darurat, karena Narendra sampai menghubungi nya lebih dari sepuluh kali dalam waktu satu jam saja.
"Permisi.."
"Dari mana saja kau hah? Lambat sekali."
"Maaf, Tuan. Macet.."
"Aku menelpon mu karena ini darurat, kau sudah bosan bekerja dengan keluarga Sanjaya?" Tanya Narendra membuat dokter itu menggeleng. Bagaimana bisa dia bosan bekerja dengan keluarga tajir melintir itu? Gaji nya di rumah sakit saja hanya seperempat dari gaji yang dia dapatkan dari Arvin.
"Tidak, Tuan. Maafkan saya, ada apa?"
"Istri ku pendarahan." Jawab Narendra, sedangkan Ayunda hanya diam saja melihat semua nya. Dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa di depan pria itu, meskipun dia sudah menegaskan pada dirinya sendiri untuk tidak egois karena dia merasakan kalau suami nya itu tidak bersalah sama sekali, tapi tetap saja melihat wajah suami nya itu membuat hati nya terasa sakit. Apalagi jika mengingat apa yang sudah dia lakukan bersama wanita itu tadi di kantor nya.
"Pendarahan? Ini sudah pendarahan yang ke berapa kali nya? Astaga.." Ucap nya, dia pun memasang stetoskop di telinga nya dan mulai memeriksa keadaan Ayunda dengan hati-hati.
"Bisakah anda menjaga istri anda dengan baik, Tuan? Ini sangat membahayakan ibu dan juga janin nya, masih berusia lima bulan. Masih bisa terjadi keguguran atau bahkan bayi nya meninggal di dalam kandungan. Ini sangat beresiko!" Tegas dokter itu.
"Maaf, tapi.."
"Jangan biarkan istri anda merasa sendirian. Dia pasti banyak pikiran yang membuat nya seperti ini, Tuan." Jelas dokter itu membuat Narendra menatap wajah cantik sang istri yang pucat. Namun, ketika Ayunda menyadari suami nya tengah menatap ke arah nya, dia langsung memalingkan wajah nya.
"Satu lagi, Nona Ayunda memakan apa hari ini?" Tanya Dokter itu, dia menatap Narendra dengan tajam. Dia berpikir karena Narendra tidak bisa menjaga pola makan istri nya, itulah yang membuat obat sekeras ini bisa masuk ke dalam tubuh Ayunda yang tengah hamil, apalagi dengan dosis tinggi.
"Aku hanya minum susu kehamilan tadi pagi, lalu makan salad sayur dan pudding. Nasi dan ayam goreng." Jelas Ayunda membuat dokter itu terlihat sedikit kaget.
"Nona, minum susu kehamilan?"
"Selalu, setiap pagi."
"Siapa yang membuat nya?" Tanya Dokter itu lagi.
"Maid yang aku tugaskan untuk menjaga Ayunda, Dok." Jawab Narendra.
"Jangan terlalu percaya padanya, mulai besok Anda sendiri yang harus menguatkan susu kehamilan untuk Nona Ayunda."
"Baik, Dok. Tapi memang nya kenapa?"
"Tidak apa-apa, untuk saat ini kandungan nya masih aman. Tapi kalau sampai terjadi hal seperti ini lagi, saya tidak bisa menjamin kalau kehamilan Nona Ayunda bisa bertahan." Jelas dokter itu membuat hati Narendra terasa di tusuk ribuan pisau saking sakit nya. Begitu juga dengan Ayunda.
Dokter itu menatap aneh pada Narendra. Dia langsung curiga, tapi untuk sekarang dia hanya akan memperingatkan Narendra. Keadaan Ayunda juga cukup baik begitu juga dengan kandungan nya. Tidak terjadi apa-apa, namun dia tidak yakin kalau semisal obat itu terus menerus di konsumsi secara tidak sengaja oleh ibu hamil. Seperti nya, ada orang yang berniat jahat pada Ayunda.
"Tuan, awasi semua maid di rumah ini. Jangan terlalu percaya pada maid mana pun."
"Kenapa, dok?"
"Tidak apa-apa, hanya saja tidak semua hati manusia itu baik, bukan?"
"Iya, dokter."
"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu." Ucap dokter itu, dia pun pergi setelah membereskan semua peralatan medis nya ke dalam tas.
"Bayaran mu aku transfer nanti."
"Baik, Tuan." Jawab nya. Dia pun pergi dengan langkah perlahan, dia juga menutup pintu nya.
........
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1