Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 131 - Wanita Spesial


__ADS_3

"Tuan besar.." Sapa Mark sambil membungkukan tubuh nya dengan sopan. Arvino tersenyum kecil, dia selalu menyukai Mark apalagi kinerja nya. Tak peduli, dia adalah anak dari teman baik nya. Dia sosok pria yang mandiri, dia ingin berdiri di atas kaki nya sendiri. 


Kenapa Mark memilih bekerja bersama Narendra, padahal orang tua nya juga sama-sama pebisnis hebat seperti Naren? Jelas alasan nya, karena dia tidak ingin bergantung pada orang tua nya terus menerus dan Arvin melihat banyak nya perubahan pada putra nya sejak dia mempekerjakan Mark di perusahaan untuk menjadi asisten sang putra. Dia membawa pengaruh yang positif untuk Narendra. 


"Mark, pagi-pagi sudah kesini." 


"Iya, Tuan. Ini ada beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan Tuan muda." Jawab Mark sambil menunjukkan beberapa berkas dari klien pada Arvino. 


"Kenapa harus ke rumah sakit? Padahal kan bisa di perusahaan nanti."


"Emm, saya pikir mungkin Nona Ayunda akan membutuhkan waktu untuk bersama Tuan muda, jadi beliau tidak akan pergi ke kantor untuk beberapa hari dulu. Jadi saya kesini saja." Jelas Mark membuat Arvin menganggukan kepala nya pelan. Penjelasan Mark masuk akal memang, Narendra pasti akan menemani istrinya dalam beberapa hari ke depan, karena keadaan Ayunda saat ini masih jauh dari kata baik-baik saja. 


Memang ada Arvin dan Melisa, namun dalam situasi ini, peran suami sangat di perlukan. Karena hanya sosok terdekat saja yang bisa menjadi teman bicara Ayunda dalam hal ini. 


"Hmm, kau sangat dewasa, Mark. Kau bisa memikirkan hal seperti ini."


"Tentu, Tuan besar. Saya paham benar bagaimana perasaan Nona Ayunda saat ini, karena saya pernah menyaksikan bagaimana terpukul nya ibu saya saat dia harus keguguran." Jelas Mark sambil tersenyum kecil. 


Ya, sebelum nya Indah memang pernah mengandung namun keguguran. Selain itu, dia juga mengalami kanker rahim yang membuat Sandi terpaksa harus mengambil keputusan yang sangat berat, yakni merelakan rahim istrinya. Saat itu, Mark sudah di adopsi oleh keluarga itu. Dia menyaksikan sendiri bagaimana frustasi nya seorang ibu saat dia kehilangan buah hati nya.


Bahkan saking sakit nya, Indah sempat mengalami depresi dan harus menjalani terapi bersama dokter dan psikiater selama beberapa bulan hingga akhirnya dia sembuh dan bisa menerima semua nya. Indah pun menumpahkan semua kasih sayang nya pada Mark sebagai balasan nya. 


Bukan hanya sakit karena kehilangan sosok seorang anak yang bahkan belum pernah dia lihat, namun dia juga harus merelakan rahim nya di angkat karena terpapar penyakit yang cukup mematikan. Sebelum penyakit itu menyebar kemana-mana, dokter menyarankan untuk melakukan pengangkatan rahim. Sandi pun harus mengambil keputusan itu agar istrinya tetap bisa hidup, meskipun dia takkan pernah bisa memiliki seorang anak yang lahir dari rahim nya. 


Tapi, masalah anak banyak solusi lain. Seperti mengadopsi anak dari panti asuhan dan mereka melakukan nya, kini Mark sudah dewasa. Dia tumbuh menjadi pria yang cerdas, dewasa, bijaksana dan tampan. 


"Saya minta kerja sama nya ya, Mark. Maaf kalau Naren akan sering tidak masuk kantor, Ayunda membutuhkan waktu untuk bersama Naren karena kejadian ini."


"Tentu, saya sangat mengerti. Urusan kantor, saya masih bisa handel kok. Fokus saja pada kesehatan Nona Ayunda agar cepat sembuh." Jelas Mark yang membuat Melisa tersenyum kagum. 


"Kamu pria yang baik, Mark. Pantas saja Maya langsung setuju untuk menikah dengan mu."


"Ee-eehh itu.." Ucap Mark terbata, wajah nya seketika memerah. Entahlah, saat membicarakan wanita itu selalu membuat wajah Mark tersipu. Dia merasa malu, namun jujur saja dia bahagia saat orang menilai nya seperti ini. 


"Udah, jangan malu-malu gitu."


"Hehe, wajah saya kan gak bisa bohong."


"Benar, wajah kamu itu terlalu jujur." Jawab Melisa sambil terkekeh. 


"Jadi, kamu mau hadiah apa dari kami?" Tanya Arvino. 


"Tidak perlu, Tuan besar. Anda hadir di pernikahan saya saja, itu sudah sangat cukup." Jawab Mark sambil tersenyum. 


"Mobil atau motor?"


"Tidak usah, Tuan. Itu terlalu besar untuk saya."


"Salah satu mobil yang ada di garasi, bagaimana?"


"Aaa, tidak tidak, Tuan besar. Tidak perlu, saya tidak mengharapkan hal itu kok. Anda hadir saja, saya sudah senang dan merasa terhormat karena pernikahan saya di hadiri oleh orang seberpengaruh anda." Jawab Mark sambil tersenyum kecil. 


"Baiklah kalau begitu. Kalian sudah memutuskan pernikahan seperti apa yang akan di lakukan?"


"Maya menolak pesta, Tuan. Dia ingin menikah secara sederhana saja, tapi ada acara syukuran kecil-kecilan saja nanti setelah selesai ijab." 


"Hmm, Maya itu satu tipe dengan Ayunda. Dia juga tidak mau mengadakan pesta resepsi, baginya itu hanya menghambur-hamburkan uang. Katanya, kalau punya uang mendingan di tabung aja. Padahal kan, uang tuh bisa di cari lagi."


"Hahaha, Maya juga mengatakan hal yang sama. Padahal, kalau Nona Ayunda mau, pesta tujuh hari tujuh malam pun pasti akan anda kabulkan? Benar? Secara, uang anda banyak sekali. Dengan semua itu, mengadakan pesta seperti itu tidak akan membuat anda jatuh bangkrut." Jawab Mark yang membuat Arvino tergelak. Ucapan Mark memang benar, namun Mark terlalu jujur baginya. 


"Kau benar, Mark. Tapi wanita-wanita seperti itu di jaman sekarang sudah langka, sulit di cari. Kebanyakan pasti matre, banyak mau nya. Bersyukur kalian dapet wanita spesies itu, jaga dengan baik." Celetuk Arvino sambil merangkul bahu sang istri. 


Dia juga memiliki Melisa yang pemikiran nya sama persis seperti Ayunda dan Maya. Dia tidak mau menikah dengan pesta meriah atau megah, sederhana saja yang penting moment nya yang sakral. Pernikahan kedua bagi Melisa yang membawa nya ke dalam kebahagiaan yang sempurna. 


Saat ini, dia memiliki semua nya. Putra yang tampan dan sukses, suami yang baik, setia juga perhatian dan pengertian. Menantu yang juga sangat baik, hidup Melisa saat ini benar-benar definisi sempurna. 


"Tentu, akan saya jaga dengan baik. Mencari wanita seperti Maya di jaman sekarang, memang sangat sulit, Tuan besar." 


"Benar, untung aku sudah memiliki nya." Ucap Arvino sambil menatap ke arah sang istri yang juga tengah menatap ke arah nya, wajah wanita paruh baya itu tersipu. Dia benar-benar selalu di buat tersanjung dengan apapun yang di katakan oleh suami nya. Pria itu tidak pernah berubah, dia tidak berubah sama sekali. Masih seperti Arvin yang dulu, dimana dia selalu memuja sosok nya dan selalu membanggakan nya di hadapan siapapun, saat ini juga dia masih melakukan nya. 


Bahkan, semakin tua usia nya maka semakin bucin juga kan? Bucin nya seorang Arvino pada istri nya itu mengalahkan bucin nya para anak muda yang tengah di mabuk asmara. Bucin nya seorang Arvin pada Melisa bukan tanpa alasan, mungkin salah satu alasan nya adalah karena dia sangat sulit menaklukan hati Melisa yang keras. 

__ADS_1


Kalau saja dia tidak sabar saat berusaha mendapatkan hati Melisa, dia pasti takkan bisa mendapatkan Melisa. Hati itu juga, kalau tidak di paksa, Melisa pasti masih bersama mantan suami nya yang tidak tau diri itu. 


"Mami, Papi, kok gak masuk?" Tanya Narendra sambil membuka pintu nya. 


"Eehh, udah bangun? Tadi Mami sama Papi udah masuk, tapi kalian masih tidur. Kita gak mau ganggu, jadinya keluar lagi." Jawab Melisa sambil tersenyum.


"Masuk, Ayu udah nanyain mami juga tuh." Pinta Narendra. Melisa dan Arvin pun masuk ke dalam ruangan, menyisakan Mark yang masih setia berdiri dengan memeluk berkas-berkas di dada nya.


"Ngapain pagi-pagi udah kesini, Mark?" Tanya Narendra pelan, sambil duduk di luar lalu di ikuti oleh Mark. Tentu nya setelah pria itu menutup pintu agar tidak mengganggu sang istri. 


"Anu, hehe."


"Anu anu, apa?" Sewot Narendra. 


"Minta tanda tangan, Tuan."


"Wah, beneran ya kamu ngefans sama saya?"


"Anggap saja begitu, Tuan." Jawab Mark sambil mencebikan bibir nya, dia sering merasa kesal sendiri saat mendengar Naren yang terlalu percaya diri seperti ini. Tapi ya benar, jauh di dalam hati nya Mark memang ngefans pada Narendra.


Tak salah kan jika asisten mengidolakan atasan nya sendiri? Tentu saja tidak. Bagaimana pun juga, Narendra memang sosok yang patut di contoh oleh siapapun. Di usia nya masih sangat muda, dia mampu memimpin perusahaan besar dan mengembangkan nya menjadi jauh lebih besar dengan beberapa cabang yang membuat nama nya semakin terkenal di kalangan para pengusaha. 


"Hmm, berkas dari siapa? Kau sudah mengecek nya terlebih dulu kan, Mark?" Tanya Narendra sambil melihat-lihat berkas yang di bawa oleh Mark. Berkas yang katanya penting, di katakan penting karena membutuhkan tanda tangan nya. 


"Ada dari beberapa klien, Tuan. Salah satu nya perusahaan World earth." Jawab Mark.


"World earth?"


"Iya, Tuan muda." Jawab Mark lagi sambil menatap wajah Naren yang terlihat keheranan sendiri. Sedangkan Mark hanya menunjukan wajah polos nya.


"Kau tak tahu itu perusahaan siapa?"


"Tidak, Tuan. Memang nya milik siapa?" Tanya Mark lagi. 


"Itu milik papa mu, Mark."


"H-aahh? Mana saya tahu, Tuan. Haha." Jawab Mark sambil tertawa pelan. Astaga, ada ya orang seperti Mark? Bisa-bisa nya dia tidak mengetahui nama perusahaan orang tua nya sendiri? 


"Ya maaf, tugas saya kan cuma baca berkas nya, tapi gak tahu siapa yang punya perusahaan nya." Jawab pria itu lagi membuat Narendra menggeleng-gelengkan kepala nya.


"Gak habis pikir saya sama kamu, Mark." 


"Hehe, gak usah di pikirin Tuan. Gak ada manfaat nya juga kok. Jadi ini gak usah di tanda tangani aja ya?"


"Kenapa? Berkas ini tidak ada hal yang mencurigakan kan?"


"Tidak ada sih, Tuan muda."


"Lalu kenapa kau mau mengambil nya lagi?"


"Hehe, gak tau sih. Kenapa ya?" Ucap Mark pelan sambil menggaruk kecil kepala nya yang padahal tidak terasa gatal sama sekali.


"Kumat dah." Gumam Narendra, dia kembali menggelengkan kepala nya karena heran dengan asisten nya. Dia bisa menjelma menjadi asisten yang sangat cerdas, bijaksana dan gesit dalam bekerja. Namun dalam sekejap, dia juga bisa menjadi seorang pria yang telat berpikir seperti kebanyakan orang lain nya. 


"Ini, semua nya udah saya tanda tangani. Kamu tinggal meeting aja."


"Siap, Tuan muda."


"Maafkan aku ya, Mark. Aku harap kau tak keberatan untuk menggantikan aku sementara waktu, Ayunda masih membutuhkan aku dan aku tak mungkin meninggalkan nya kan?"


"Saya mengerti, Tuan muda. Tidak perlu khawatir, urusan kantor serahkan saja pada saya. Saya akan bekerja sebaik mungkin, anda fokus saja pada istri anda. Agar dia cepat sembuh, Tuan." Jawab Mark sambil tersenyum kecil. 


"Terimakasih, Mark. Aku mengandalkan mu. Terimakasih juga sudah bertahan untuk tetap bekerja dengan ku."


"Sama-sama, tuan muda. Selama gaji saya besar, saya takkan berpaling ke lain hati. Hehe." Jawab Mark yang membuat Narendra mendelikan kedua mata nya dengan sebal.


"Gaji aja terus."


"Harus sesuai dengan kinerja saya kan, Tuan. Hehe."


"Iya, nanti aku akan memberikan mu tips." Ucap Narendra. 

__ADS_1


"Ini yang saya suka, terimakasih Tuan muda."


"Hmmm, ya."


"Saya lupa, ini buah untuk Nona Ayunda."


"Terimakasih, Mark. Tapi ini buah kau beli dari pinggir jalan atau.."


"Tidak tidak, saya membeli nya dari supermarket kemarin sekalian nganter mama belanja, Tuan." Jawab Mark yang membuat Narendra tertawa. Apalagi melihat ekspresi dan juga reaksi yang di tunjukan oleh Mark. Lucu sekali, belum lagi wajah nya yang tak bisa berbohong itu begitu menggelitik nya. 


"Hahaha, ya sudah. Terimakasih, Mark. Harusnya kau tak perlu repot-repot membelikan buah seperti ini untuk istriku."


"Mana ada repot, enggak kok. Ya sudah, saya rasa sudah cukup. Saya pergi dulu ya, nanti sore saya akan kemari untuk melaporkan hasil tuntutan lanjutan yang anda layangkan pada Trisa apakah di kabulkan oleh kejaksaan atau tidak." Ucap Narendra.  


"Aku? Papi kali, aku mah gak ada niatan menuntut lanjutan."


"Ohh iya, baiklah Tuan muda. Saya permisi dulu."


"Baik, Tuan." Jawab Mark. Dia pun segera undur diri dari hadapan Narendra. Pria itu tersenyum kecil saat melihat punggung Mark yang mulai menjauh secara perlahan. Dia senang memiliki asisten seperti Mark, dia bisa di andalkan. Namun, dia kasihan pada Mark.


Dia terlalu bekerja keras, sekarang saja dia sangat sibuk. Mark harus menghadiri meeting dengan klien, dia juga harus pergi ke pengadilan untuk mengajukan tuntutan lanjutan yang di layangkan oleh Arvin pada Trisa dan juga Mona. Kedua wanita itu adalah dalang dari semua kejadian menyakitkan ini. Kalau saja wanita itu tidak membuat ulah, pria itu juga takkan mengusik dan membiarkan mereka hidup dengan damai.


Namun, karena Trisa dan Mona telah mengusik ketenangan keluarga nya, apalagi sekarang Ayunda kehilangan janin yang selama ini dia pertahankan, membuat Arvin langsung bertindak. Dia tidak bisa melihat menantu nya menderita seperti ini, dia takut Ayunda terlalu kepikiran hingga membuat nya depresi nanti nya. Sedangkan Trisa enak-enak an di penjara, jadi dia berpikir kalau kedua wanita itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka!


Arvino sudah memperingatkan Trisa untuk tidak lagi mengganggu keluarga nya setelah dia memutuskan untuk berpisah dari putra nya hari itu. Dia mengiyakan dengan percaya diri dan wajah angkuh nya yang membuat Arvin gemas ingin sekali memukul nya menggunakan tabung gas elpiji. 


Tapi selang beberapa tahun saja, dia kembali dan membuat semua nya kerepotan karena kehadiran nya. Padahal, sejak awal kehadiran kembali wanita itu memang sudah tidak di harapkan karena Narendra akhirnya bisa melupakan wanita itu setelah berperang dengan perasaan nya sendiri selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya dia bisa melupakan semua tentang Trisa dan rasa sakit nya terhadap wanita. 


Narendra juga memilih untuk memulai hidup baru bersama Ayunda, wanita yang tak sengaja dia rusak karena jebakan itu. Namun siapa sangka, wanita itu malah kembali hadir dengan sikap angkuh dan sombong nya. Seolah dia tidak bersalah apapun, dia datang dan berniat untuk membuat Narendra kembali padanya. Memang wanita itu sudah gila, tapi untung saja Narendra tidak tergoda lagi karena dia tidak suka barang bekas.


Setelah Mark pergi, Narendra pun kembali masuk ke dalam ruang rawat sang istri. Pria itu tersenyum saat melihat Ayunda ternyata sedang makan dengan di suapi oleh Melisa. 


'Akur-akur selalu ya, dua wanita terhebatku.' Batin Narendra. 


"Makan dulu, Boy." Ucap Arvino sambil memberikan telur balado pada putra nya.


"Sup yang kayak Ayu gak ada, Pi?"


"Ada, tapi kata Mami buat kamu telur aja." Jawab Arvin. Akhirnya, Narendra pun makan dengan lauk telur balado. Memang rasanya tidak jauh enak dari sup, tapi tetap saja dia ingin makan menu yang sama dengan istrinya. Tapi ya sudahlah, yang penting perut kenyang aja.


"Mas.."


"Iya, sayang."


"Boleh suapin aku gak?"


"Boleh, sayang." Jawab Narendra sambil bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat ke arah sang istri yang terduduk di ranjang.


"Kenapa memang nya kalau di suapi sama Mami?"


"Mami belum makan, kasian."


"Mas juga belum, sayang." Jawab Narendra sambil terkekeh.


"Makan sambil nyuapin aku kan bisa, Mas."


"Ohh iya ya, yaudah. Biar Naren aja yang lanjut nyuapin Ayu." Jawab Narendra. Melisa pun memberikan makanan milik Ayunda yang masih tersisa cukup banyak di piring itu dengan perlahan. Melisa pun makan dengan sang suami, Narendra juga sesekali menyuapi dirinya sendiri sambil menyuapi sang istri. 


"Sayang, habisin ya?" Bujuk Narendra. Nasi nya belum habis, tapi Ayunda sudah bilang kenyang.


"Enggak ahh, aku udah kenyang. Mas aja yang habisin ya."


"Hmm, yaudah. Minum obat sama Mami ya, Mas makan dulu laper."


"Iya, Mas." Jawab Ayunda. Narendra pun beranjak dari duduknya dan memilih sofa untuk tempat dia melanjutkan makan nya. Pria itu makan dengan lahap, dia benar-benar lapar sekarang ini. 


Melisa membukakan bungkus obat dan memberikan nya pada Ayunda. Perempuan itu menatap obat dengan takut-takut, kemarin saja dia mual luar biasa. Untung saja, Narendra segera mencium bibir nya jadi obat itu lolos memasuki perut nya. Bagaimana sekarang? Tidak mungkin jika dia meminta suami nya untuk mencium nya lagi setelah minum obat kan?


"Gapapa, sayang. Pelan-pelan saja, di minum satu persatu ya?" Bujuk Melisa, karena merasa tidak enak, akhirnya Ayunda pun menurut dan meminum obat nya satu persatu secara perlahan. Wanita itu tersenyum senang saat melihat semua obat itu berhasil Ayunda telan dengan bantuan satu botol air mineral.


........

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2