Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 196 - Nenek Lampir


__ADS_3

"Sayang, bagaimana hasilnya? Pasti kamu yang membuat dia hancur kan?" Tanya Wanita bertubuh seksii itu. Tapi sayang sekali Jacob hanya menatap jengah ke arah wanita itu. 


Dia membenarkan apa yang sudah Naren katakan, tak sepantasnya dia menyakiti perasaan istrinya sendiri. Bagaimana pun juga, selama ini dialah yang menemani nya bahkan di masa-masa sulit sebelum dia mendapatkan harta yang saat ini dia miliki. 


Rosalina bergelayut manja di lengan kekar Jacob, namun sayang sekali pria itu dengan cepat menghempaskan tangan Rosalina. Bahkan seolah terlihat jijik dengan wanita itu. Jacob dan Rosalina baru berhubungan selama seminggu, hanya seminggu itu pun secara tidak kebetulan.


Jacob bertemu dengan Rosalina di jalanan saat wanita itu hampir saja tertabrak mobil, asal kalian tahu saja kalau semua itu adalah rencana licik Rosalina untuk menggaet pria tampan untuk menjadi mangsa nya. Setelah di buang oleh James, dia harus dengan cepat mencari pria kaya raya lagi untuk menunjang gaya hidupnya. 


"Sayang, kamu kenapa? Gak biasanya kamu gini sama aku?" Tanya Rosalina dengan suara manja, lembut mendayu-dayu namun sayang sekali kalau itu hanya pura-pura saja. Aslinya, Rosalina selalu berteriak. Bahkan saat masih menjadi istri James saja, Rosalina sering meninggikan suaranya dan berteriak ketika keinginan nya tidak di berikan. Padahal dia tidak tahu status nya yang sebenarnya, dia hanya istri kedua. Bukan yang pertama apalagi yang utama.


"Ros, aku ingin hubungan kita berakhir." Ucap Jacob membuat Rosalina membulatkan kedua matanya, seakan tak percaya dengan apa yang di katakan oleh pria itu. Saat ini, pria itu sedang menemuinya di apartemen wanita itu, tentunya dengan asisten nya yang dengan setia menunggu di luar pintu apartemen. 


"Tapi kenapa, Mas?"


"Tidak ada, aku hanya merasa bersalah karena sudah menduakan istriku."


"Ckkk, jangan bilang kau terpengaruh dengan bacotan si Naren itu, Mas?" Tanya Rosalina membuat Jacob menyunggingkan senyum sinis nya, akhirnya dia bisa melihat sifat asli Rosalina. Padahal, awalnya dia tidak mempercayai Naren, tapi sekarang dia melihatnya sendiri. 


"Tidak, aku hanya benar-benar merasa bersalah pada istriku. Itu saja."


"Jangan berbohong, Mas. Aku tahu seperti apa Naren itu, dia pria munafik dan banyak omong!"


"Lalu, kenapa kamu terlihat seolah sangat membenci Naren, Ros?" Tanya Jacob membuat Rosalina mengepalkan kedua tangan nya.


"Ya, aku sangat membenci nya karena dia sudah merampas semua yang aku miliki." 


"Tapi bukankah itu karena ulah mu sendiri, Ros? Kau terlalu angkuh untuk seukuran manusia tukang porot." Celetuk Jacob membuat Rosalina membulatkan kedua matanya. Dia tidak terima di katai tukang porot oleh Jacob, padahal kenyataan nya memang seperti itu. 


"Wah, kau benar-benar sudah terpengaruh ucapan pria itu, Mas."


"Begini, aku juga akan sangat marah jika kau mengatai istriku murahaan apalagi jalaang. Sebaiknya, kau jaga mulutku sebelum ada orang yang menjahitnya." Ucap Jacob membuat Rosalina semakin marah, dia tidak terima karena Naren selalu saja unggul di banding dirinya. Narendra selalu satu langkah di depan nya, sialan lagi-lagi dia kalah meskipun sudah meminta orang lain untuk membalaskan rasa sakit hatinya. 


"Mas, tapi kamu tidak serius dengan ucapan mu tadi kan, Mas?" Tanya Rosalina membuat Jacob tersenyum. 


"Ini keputusan ku yang valid, tidak bisa di ubah lagi. Maaf, aku mengakhiri hubungan dengan mu. Aku terlalu mencintai istriku hingga aku takkan sanggup menyakitinya lebih lama lagi." Ucap Jacob membuat wajah Rosalina berubah merah padam seketika.

__ADS_1


"Mas, bahkan kita belum bercintaa.."


"Itu tidak penting, aku bisa mendapatkan itu dari istriku."


"Ckkk, apa sih bagusnya istrimu itu? Udah tua juga, gak enak pasti longgar." Cetus Rosalina membuat Jacob mendelikan matanya. Dia juga tidak senang saat wanita itu mengatai istrinya seperti itu, apalagi jika dia di posisi Narendra? Yang mana istrinya disebut sebagai wanita muraaahan? Jacob bisa membayangkan semarah apa pria itu pada wanita di depan nya.


Rosalina menatap wajah Jacob dengan sinis, dia menyedekapkan kedua tangan nya di dada dengan angkuh, membuat Jacob paham akhirnya. Ternyata Rosalina benar-benar bukan wanita yang selama ini ada di pikiran nya, dia jauh dari kata baik.


"Asal kau tahu saja, istriku pandai menjaga diri. Selain itu, dia juga sering melakukan perawatan tubuhnya untuk menyenangkan aku. Lagipun, aku memberikan nya banyak uang untuk mengurus diri sendiri. Jadi di jamin milik istriku selalu memuaskan." Jawab Jacob membuat Rosalina kesal bukan main.


"Sudahlah, jangan ganggu aku lagi. Setelah ini anggap saja kita tidak pernah mengenal satu sama lain, jika sampai kau nekat melakukan hal gila, aku pastikan esok hari kau hanya tinggal nama saja. Terimakasih, aku permisi." Ucap Jacob lalu pergi meninggalkan unit apartemen milik Rosalina, meninggalkan wanita itu yang uring-uringan karena kesal dan marah pada Jacob. Tidak, bukan hanya pada Jacob tapi juga pada Narendra.


Dia yakin kalau Jacob seperti ini karena ucapan Narendra yang menurutnya hanya bacot saja. Tapi hal itu kenapa bisa ampuh bagi Jacob? Sampai-sampai dia langsung meninggalkan dirinya, memutuskan hubungan dengan nya secara langsung seperti ini. 


Dia ingin sekali marah dan mengamuk saat ini, tapi memangnya dirinya siapa? Hanya sekedar selingkuhan saja tidak lebih. Itu pun dia sudah di buang oleh ATM berjalan nya, semuanya meninggalkan dirinya disaat seperti ini. Salahnya sendiri karena mencari gara-gara dengan Narendra, harusnya dia tahu diri akan melawan siapa. 


Orang setegas dan seberkuasa Naren sangat kuat, dia takkan bisa di hancurkan begitu saja. Padahal dia sudah meminta backingan nya untuk melawan Naren tapi hasilnya sama saja. Dia tetap kalah dan saat ini dia juga kehilangan uang berjalan nya hanya karena berhasil di pengaruhi oleh Narendra. 


"Aaargghhh, sialan! Kenapa sulit sekali untuk menghancurkan mu, Narendra? Siapa memang nya backingan mu hingga bisa sekuat ini dan tak bisa di hancurkan?" Gumam Rosalina dengan frustasi. 


Sedangkan di perusahaan, Narendra dan Mark sedang makan siang bersama. Ini adalah makanan rumahan buat sang istri dan juga ibunya yang di kirimkan ke kantor melalui jasa pengantaran makanan. Mereka makan dengan lahap, bahkan Mark sampai menambah beberapa kali. Entah lapar atau doyan, tapi yang jelas melihat Mark makan pasti akan membuat orang yang melihatnya ikutan lapar. Itu juga yang terjadi pada Narendra, tadinya dia sudah ingin menyudahi acara makan siangnya, tapi ketika melihat Mark makan dengan lahap, Naren kembali mengambil nasi dan kembali memakan nya dengan lahap. 


"Hmm, aku tidak tahu seperti apa isi hati orang lain, Mark. Tapi saat melihat tatapan nya yang penuh penyesalan, mungkin saja itu terjadi dan dia menyadari benar apa kesalahan nya." Jawab Narendra sambil menatap Mark. 


Di tatap seperti itu Mark merasa takut, dia jarang sekali eye contact bersama Naren kalau bukan karena hal penting. Oleh karena itu, ketika melihat Naren menatapnya seperti itu Mark langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Tapi keterlaluan sih kalau dia gak udahin hubungan nya sama tuh nenek lampir."


"Hahaha, nenek lampir?" Tanya Naren membuat Mark terkekeh. 


"Iya, Nenek lampir. Itu lho nenek-nenek yang tinggal di kaki gunung merapi, kalau Rosalina jadi nenek lampir tuh bakalan cocok banget karakternya." Ucap Mark yang membuat Narendra tertawa pelan karena ulah asisten nya itu. 


"Aku tahu seperti apa tokoh nenek lampir kali, Mark."


"Ya itu, wajahnya mirip sama Rosalina."

__ADS_1


"Hahahah, ngawur kamu Mark. Hati-hati kalau bicara, kalo nanti ternyata dia jadi istrimu bagaimana? Kan takdir gak ada yang tau." Narendra terkekeh sendiri, kenapa bisa dia mengatakan hal itu pada Mark? Dia adalah orang pertama yang akan menjadi tembok penghalang kalau Mark malah menjadikan Rosalina sebagai istri. Mana rela dia saat pria baik-baik yang sudah kenal baik dengan nya itu menikahi nenek lampir, seperti julukan yang di berikan oleh Mark pada wanita itu. 


"Amit-amit jabang bayi, saya mendingan jomblo seumur hidup deh, Tuan. Gak mau saya, bagusan Maya kemana-mana." Ucap Mark yang membuat Naren tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Mark, lengkap dengan ekspresi dan gerak tubuh nya yang secara refleks langsung mengusapi tubuhnya sendiri.


"Sudahlah, terimakasih sudah menghiburku dengan tingkah mu itu. Kalau sudah selesai makan, kembali bekerja." Ucap Narendra sambil tersenyum kecil, pria itu pun beranjak dari duduknya lalu pergi ke kamar mandi yang ada di dalam ruangan nya untuk mencuci tangan nya. 


"Makanan nya enak bener deh, tapi kayaknya masakan Nona Ayunda gak jauh beda sama masakan istri di rumah." Gumam Mark. Setelah menghabiskan semuanya, pria itu pun membereskan bekas makannya, tak lupa dia juga menumpang untuk mencuci tangan nya di ruangan Naren. 


Setelah selesai, Mark pun kembali melanjutkan pekerjaan nya begitu juga dengan Narendra. Dia kembali fokus bekerja, hingga suara dering ponsel membuat atensi nya teralihkan. Pria itu mengambil ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas meja. 


Pria itu tersenyum ketika melihat siapa yang menghubungi nya, memang nya siapa lagi kalau bukan istrinya? Hanya wanita itu yang mampu membuat mood seorang Narendra kembali membaik bahkan setelah dia marah besar, jika mendengar saja suara lembut Ayunda, maka amarah nya itu akan menguap entah kemana. 


"Hallo, sayang.."


'Hallo, Mas. Lagi ngapain? Makanan nya udah di makan belum?' Tanya Ayunda di seberang telepon. 


"Baru aja mau mulai kerja lagi, sayang. Makanan nya udah habis, Mas makan berdua sama Mark. Kamu ngirim makanan nya banyak banget, sampai perut Mark menggembung karena kekenyangan lho." Celoteh Narendra sambil terkekeh. 


'Kalau sedikit, nanti kamu gak kenyang. Bagus kalau kamu bagi-bagi makanan nya sama yang lain.'


"Iya sayang, by the way ada apa telpon? Gak biasanya kamu nelpon siang-siang begini, biasanya suka sore nelpon nya." Tanya Narendra dengan pemasaran.


'Gak tahu nih, tiba-tiba aja aku kangen sama kamu. Mungkin karena bawaan bayi kali ya? Atau Mama nya yang lagi mode manja?'


"Hahaha, Mas tidak mempermasalahkan kok. Jadi, kamu mau Mas pulang sekarang, sayang?" Tanya Narendra membuat Ayunda terkekeh.


'Gak usah, Mas. Lanjut aja kerja nya, tapi nanti pulang bawain bakso ya? Lagi pengen bakso.' pinta Ayunda.


"Boleh, sayang. Mau sekarang aja? Biar ngidam nya keturutan? Mas gak mau anak Mas ileran nantinya." 


'Gak mau, nanti aja. Sekarang aku baru makan, barengan sama Mami Papi masih kenyang. Nanti aja kalau pulang kerja, semangat kerja nya pak suami.'


"Yaudah, iya deh. Kamu duduk aja ya, jangan banyak beraktivitas, nanti kamu kelelahan." Peringat Narendra membuat Ayunda segera mengiyakan, panggilan pun selesai setelah Narendra mengiyakan permintaan sang istri. Dia mencatat nya seperti biasa agar tidak lupa nanti saat pulang kerja, dia menyalakan alarm pengingat agar tidak lupa membelikan pesanan bumil itu. 


Kalau lupa, nanti bisa-bisa dia di marahi seperti saat sang istri menginginkan mochi stroberi. Seeffort itu Narendra untuk menyenangkan sang istri, dia tidak ingin membuat istrinya marah apalagi sampai merajuk, karena itu akan lebih menyulitkan nya lagi karena itu akan berimbas pada jatah malam kesukaan nya nanti. Bisa-bisa jatah nya di tahan oleh sang istri.

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2