
"Lho kok belum siap-siap, yang?" Tanya Narendra pada sang istri. Dia baru saja pulang dari kantor sehabis bekerja, wajah nya sedikit kuyu mungkin karena kelelahan. Pria itu menatap wajah cantik sang istri yang masih menunjukkan wajah bantal nya, seperti nya dia baru saja habis bangun tidur.
"Baru bangun, Mas."
"Yaudah, sana mandi. Terus siap-siap, katanya mau beli tas sama parfum." Ucap Narendra sambil melonggarkan dasi nya yang terasa mencekik leher nya seharian ini. Dia juga membuka beberapa kancing kemeja nya hingga membuat dada bidang nya terekspos. Dia juga membuka kancing yang ada di lengan nya, lalu menggulung nya hingga ke siku.
Pemandangan yang luar biasa bagi Ayunda, entahlah melihat hal itu membuat darah nya berdesir hebat. Aneh bukan? Padahal, Ayunda bukan lah tipe wanita yang agresif, tapi sejak hamil dia selalu ingin untuk melakukan hal itu.
"Kenapa kamu lihatin aku nya begitu banget sih, yang? Aku aneh atau gimana?"
"Enggak, kamu gak aneh, Mas. Justru kamu terlihat sangat tampan kalau penampilan nya seperti itu." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil dan Narendra paham akan senyuman sang istri.
"Mau bermain dulu sebelum pergi ke mall?"
"Boleh?" Tanya Ayunda. Narendra mengungkung tubuh sang istri dengan kedua tangan besar nya lalu mengecup lembut kening sang istri.
"Tentu saja, ayo.."
"Asik, di kamar mandi bagaimana?"
"Of course, baby." Jawab Narendra, dia merogoh saku celana nya dan menyimpan ponsel, kunci mobil dan juga dompet di atas meja. Tak lupa, Narendra juga mengunci pintu kamar agar tidak ada yang mengganggu ritual suami istri nya nanti..
"Gendong, Mas."
"Manja nya istriku." Ucap Naren, lalu segera menggendong tubuh sang istri. Memang, tubuh Ayunda sedikit terasa lebih berat dari pada biasa nya karena sekarang nafssu makan nya selalu bertambah setiap waktu. Mungkin karena bawaan bayi atau apalah itu, tapi Narendra tidak pernah mempermasalahkan nya, toh dia begini juga karena sedang mengandung buah hati nya.
"Gapapa dong, aku manja kan cuma sama kamu doang." Ucap Ayunda lalu mencuri kecupan singkat di bibir tipis Naren. Pria itu terkekeh, lalu menggesekan hidung nya dengan milik sang istri saking gemas nya. Ya, dia selalu gemas dengan apapun tingkah istrinya.
Narendra menggendong Ayunda ke kamar mandi ala bridal style. Kedua nya masih terlihat seperti pasangan pengantin baru, padahal nyata nya, hanya dalam waktu beberapa bulan lagi kedua nya akan berubah status menjadi ayah dan ibu alias orang tua.
Pria tampan itu menurunkan tubuh sang istri di pinggiran bath up, dia mengatur suhu airnya lalu mengisi bath up itu dengan air hangat juga beberapa tetes aromaterapi. Tak lupa, Naren juga menambahkan bath bomb yang membuat air nya menjadi putih.
"Masuklah duluan, sayang." Ucap Narendra, setelah di membuka semua pakaian sang istri dan melempar nya sembarangan.
Ayunda menurut dan masuk ke dalam bath up lalu berendam disana. Narendra tersenyum, melihat sang istri yang sedang mandi seperti ini selalu membuat nafssu nya terbakar. Dia suka, sangat suka saat melihat kedua mata yang di hiasi bulu mata lentik itu terpejam. Cantik sekali, inti nya jika itu Ayunda maka semua nya akan terlihat jauh lebih cantik.
"Mas, cepetan.." Pinta Ayunda, Narendra pun melucuti pakaian nya dengan cepat, lalu ikut masuk ke dalam bath up. Narendra membalik tubuh sang istri, dia pun meluruskan kaki nya, lalu mengangkat tubuh sang istri agar duduk di pangkuan nya dengan posisi saling berhadapan.
Ayunda melingkarkan kedua tangan nya di leher kokoh sang suami. Dia mengecupi leher sang suami, juga menggigit nya hingga meninggalkan bekas kemerahan yang tersebar di beberapa tempat. Namun, bukan nya mencegah atau melarang, Narendra malah membiarkan saja sang istri melakukan apapun yang dia inginkan. Dia pasrah saja, bukan pasrah juga sih ya tapi lebih ke suka. Kalau tidak suka, pasti dia akan melarang sang istri. Tapi ini, dia malah diam saja menikmati perlakuan istrinya.
"Sekarang giliran kamu, Baby.." Bisik Naren dengan suara serak-serak basah nya, sudah jelas kalau Narendra sudah mulai bernafssu karena kelakuan istrinya.
Naren memeluk erat tubuh Ayunda, dia gantian kini dia yang menyesap leher putih nan jenjang itu dengan sentuhan-sentuhan lembut yang membuat Ayunda melayang. Tubuh nya menggeliat karena geli oleh bibir Naren yang bergerilya di leher nya, sungguh ini semua membuat Ayunda gila. Dia suka, benar-benar suka dengan sentuhan sang suami. Tubuh nya seketika panas dan terasa ada aliran listrik yang mengaliri tubuh nya.
"Aaaahhh.." Ayunda mendesaah tertahan tatkala tangan besar suami nya meraup bulatan kenyal yang ada di dada nya, lalu memainkan ujung nya hingga menegang. Tak lupa, dia juga meremaas nya dengan gemas.
Satu hal yang paling Naren tunggu adalah desaahan manja yang keluar begitu saja dari mulut gemas sang istri. Sungguh demi apapun, itu membuat tubuh nya semakin terbakar. Dia tidak bisa kalau sudah berurusan dengan suara menggairaahkan itu.
Alhasil, leher Ayunda juga di penuhi oleh tanda kemerahan yang berjejer rapih disana, hingga ke dada nya. Seperti inilah Naren kalau sudah bernafssu, dia selalu melukis di tubuh sang istri dengan menggunakan mulut nya.
Sore itu, pasangan suami istri itu kembali mereguk kenikmatan duniawi dengan panas. Bahkan Ayunda selalu di buat tak berdaya oleh sentuhan-sentuhan Naren yang tepat mengenai bagian sensitif nya.
Selang beberapa jam kemudian, kedua nya keluar dari kamar mandi dengan Naren yang menggendong tubuh sang istri yang hanya di baluti handuk pendek, untung saja mereka pasutri. Naren langsung membawa istrinya ke ruang ganti untuk segera berpakaian. Mereka harus cepat, keburu mall nya tutup dan Ayunda akan gagal mendapatkan tas incaran nya nanti kalau sampai mall nya tutup.
Sebenarnya sih gak bakalan tutup, soalnya mall tutup jam dua belas malam. Tapi ya tetap saja, konon katanya wanita yang sedang hamil itu tidak boleh bepergian apalagi malam hari, kata orang-orang tua jaman dahulu di sebut pamali katanya. Tapi sekarang jaman sudah modern, entah hal itu masih di percayai atau tidak.
Namun satu hal yang Naren percayai, keluar malam hari apalagi bagi bumil memang tidak baik karena udara nya akan sangat dingin. Itu saja.
"Mas, lihat tangan aku. Keriput begini.." Ayunda menunjukkan jemari tangan nya yang terlihat keriput, mungkin karena terlalu lama kena air jadinya keriput seperti ini.
__ADS_1
"Tangan Mas juga, nih lihat.." Naren juga tak mau kalah, dia menunjukkan jemari nya yang juga terlihat keriput, sama seperti milik sang istri.
"Omong-omong, kita main berapa jam sih? Sampai keriput begini."
"Sebentar, sayang." Ucap Narendra, dia keluar dari ruang ganti dan mengecek jam di ponsel nya. Ternyata, sudah hampir jam tujuh malam, artinya dua jam mereka berada di kamar mandi karena Narendra pulang ke rumah tadi masih jam lima. Itulah, kalau sudah melakukan hal-hal yang membuat keenakan suka bikin lupa waktu.
"Sekitar dua jam, sayang."
"Wah, rekor ya Mas? Kita main selama itu di kamar mandi." Jawab Ayunda heboh sambil terkekeh pelan.
"Iya, itu kamu gak sakit kan, Bby?"
"Enggak kok, agak pedih dikit tapi gapapa kok. Aku suka permainan kita tadi." Ucap Ayunda lirih membuat Naren tersenyum senang. Siapa yang tidak senang saat istri nya mengatakan hal itu? Artinya, dia mengakui kalau permainan nya itu hebat bukan?
"Benarkah?"
"Selalu, aku selalu menyukai nya. Tapi aku lebih menyukai permainan kamu malam ini, Mas."
"Bagaimana kalau kita melakukan nya lagi nanti malam?"
"Bagaimana kalau besok, saja?"
"Begitu ya? Baiklah, ayo pakai pakaian mu cepat sebelum aku berubah pikiran dan menghajar mu disini, Bby."
"Hehe, sabar dong pak suami." Goda Ayunda sambil mencolek nakal dagu lancip sang suami. Dia juga tersenyum nakal membuat Naren terkekeh melihat tingkah sang istri, bisa-bisa nya istri nya yang polos kini berubah seperti ini. Dimana salah nya? Tidak ada, dia suka Ayunda yang polos tapi dia jauh lebih menyukai saat Ayunda berubah agresif seperti ini. Rasanya, dia tidak menyangka kalau istrinya bisa berubah seperti ini.
Agak sulit di percaya memang kalau ternyata Ayunda yang agresif sekarang adalah Ayunda yang polos disaat pertama kali dia bertemu dengan nya. Bahkan, Ayunda adalah gadis yang masih virgin dan dia adalah pria yang merusak kesucian nya.
Awalnya, Narendra tidak menyangka kalau di jaman seperti ini masih ada gadis yang masih perawan, tapi ternyata dia menemukan nya secara tidak sengaja. Ayunda adalah gadis baik-baik yang tak sengaja dia rusak.
Dia merasa bersalah, tentu saja. Tapi sekarang, dia sudah menikahi nya dan bertanggung jawab sepenuhnya pada wanita cantik yang sudah dia nodai itu.
Akhirnya, setelah kedua nya selesai bersiap-siap, Naren dan Ayunda pun keluar dari kamar dengan pakaian rapih mereka. Melisa yang melihat itu sedikit keheranan, mau kemana mereka malam-malam begini?
"Ayu pengen tas, Mi."
"H-ahh? Gak salah kamu?" Tanya Melisa. Bukan nya tidak suka, tapi dia terkejut karena biasa nya menantu nya itu tidak pernah membeli atau menyukai barang-barang apalagi tas, tapi sekarang tiba-tiba saja dia ingin membeli Tas? Wah, benar-benar luar biasa.
"Enggak, Mi. Tanyain aja sama orang nya nih."
"Beneran, sayang?" Tanya Melisa. Ayunda hanya menganggukan kepala nya dengan perlahan. Memang nya kenapa, apa ada yang salah kalau ternyata dia ingin membeli tas?
"Iya, Mami. Gak tahu, tiba-tiba aja pengen tas yang di liat di ponsel." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Ohh, begitu? Yaudah, ini mami tambahin ya." Ucap Melisa sambil mengeluarkan uang dari dompet nya.
"Lho Mi, Naren juga punya uang. Gak usah khawatir, uang Naren juga gak bakalan habis kalo cuma buat beliin istri satu tas doang." Jawab Narendra.
"Itu uang kamu, ini uang buat beli tas yang kamu mau, sayang."
"Hehe, terimakasih Mami.."
"Ini dari papi, kalau gak beli tas beli aja yang lain ya.." Ucap Arvin sambil memberikan uang ke pada menantu nya. Dia mendukung saat menantu nya ingin membeli tas, jangankan tas Ayunda kalau ingin membeli perhiasan atau bahkan pesawat pribadi juga mereka akan mendukung dan mengusahakan nya. Gila, di mana lagi kan punya mertua yang sebaik dan pengertian seperti Melisa dan Arvin. Plus, di tambah suami yang tampan dan mapan. Benar-benar beruntung sekali menjadi Ayunda.
"Tapi papi.."
"Bawa uang nya, beli apapun yang kamu suka, ya. Kalau enggak di beliin, simpen aja. Uang jajan buat kamu, Mami sama Papi jarang ngasih kamu yang jajan." Ucap Arvin sambil tersenyum.
"Yaudah, ambil aja sih, yang. Gak usah debat sama yang ngasih." Jawab Narendra sambil tersenyum.
__ADS_1
"Makasih ya, Mami, Papi. Ini gak kebanyakan?"
"Tidak, sudahlah. Ayo sana kalian pergi, biar pulang nya gak terlalu malem."
"Mau nitip apa?" Tanya Narendra pada kedua orang tua nya.
"Papi martabak aja deh."
"Mami kue cubit kayak yang suka di pesen sama Ayu."
"Hoalah, pasti ngantri nya panjang ini mah." Gumam Narendra.
"Yaudah, kita berangkat dulu ya."
"Iya, hati-hati di jalan nya. Jangan kebut-kebutan."
"Iya iya, Naren masih sayang sama nyawa." Jawab Narendra ketus, dia pun menggandeng tangan sang istri lalu kedua nya pun pergi dari rumah itu dengan tangan yang saling bergandengan. Narendra membukakan pintu mobil untuk sang istri, Ayunda pun masuk ke dalam nya dan duduk disana dengan nyaman.
Setelah memastikan sang istri duduk dengan nyaman, barulah Narendra berlari memutari mobil nya dan duduk di balik kemudi. Pria tampan itu mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang, menjauhi rumah besar keluarga Sanjaya.
Satu jam berlalu, kedua nya pun sampai di mall. Kedua nya keluar, lagi-lagi dengan Naren yang membukakan pintu untuk sang istri dan mengulurkan tangan nya. Ayunda, mendongak lalu tersenyum dengan senang hati dia menerima uluran tangan sang suami. Kedua nya pun berjalan berdampingan dengan tangan yang saling bergandengan mesra. Layaknya pasangan suami istri yang harmonis.
Singkatnya, mereka pun sampai di sebuah store tas branded yang ada di mall. Narendra tahu benar apa brand tas yang di inginkan oleh istrinya, jadi dia langsung membawa wanita itu masuk ke toko nya.
"Yang mana, sayang?" Tanya Narendra. Ayunda malah bengong saat melihat deretan tas-tas yang berjejer rapih di etalase.
"Sayang, hey.."
"Eehh, aku bingung Mas. Tas nya banyak sekali.." lirih Ayunda. Naren melihat tas yang di inginkan sang istri di etalase.
"Mbak, saya mau lihat tas yang itu." Tunjuk Narendra, staff wanita itu pun langsung menganggukan kepala nya dan mengambil tas yang di tunjukan oleh Naren.
"Ini model terbaru, Tuan."
"Yang ini kan, cantik?" Tanya Naren pada Ayunda. Wanita itu menganggukan kepala nya dengan senang hati. Ini adalah tas yang dia inginkan.
"Mau yang ini aja, atau ada yang lain?"
"Boleh lihat yang itu gak?" Ayunda menunjuk tas kecil berwarna hitam. Staff pun langsung mengambilkan tas itu dengan cepat.
"Silahkan, Nona." Staff itu memberikan tas kecil itu pada Ayunda. Wanita itu menerima nya dengan hati-hati, jelas harus hati-hati karena ini tas mahal, branded bukan tas yang 50 ribu dapet dua.
"Mau juga?"
"Boleh, sayang."
"Hehe, ini aja deh dua." Jawab Ayunda sambil cengengesan. Narendra tersenyum kecil, lalu mengacak rambut sang istri dengan gemas.
"Saya ambil dua tas ini, bungkus yang rapi."
"Baik, Tuan. Silahkan selesai kan dulu administrasi nya di bagian kasir." Jawab nya, Naren pun menarik lembut tangan sang istri dan membayar kedua tas itu dengan kartu miliknya. Dia sama sekali tidak meminta uang yang orang tua nya berikan pada Ayunda.
"Mas, kok pakai kartu kamu? Ini kan aku di kasih uang sama Mami, Papi."
"Simpen aja buat kamu, sayang. Ini tas biar Mas yang bayarin."
"Ohh, begitu ya? Makasih, Mas." Ucap Ayunda sambil menggelayut manja di lengan kekar sang suami.
"Sama-sama, istriku sayang." Jawab Narendra sambil tersenyum manis, pokoknya kemesraan pasutri itu membuat kaum jomblo meronta-ronta karena iri melihat mereka.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻